That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 14,7



Setelah melalui tes, disimpulkan bahwa semua orang yang ada di ruangan bukanlah kaki tangan Raja Romeo, pemimpin Kerajaan Agatha.


Jari telunjuk Edgar kembali terarah ke bagian dapur. "Dapur adalah tempat yang bisa diakses siapapun di istana ini, begitu juga dengan taman belakang. Tapi tidak banyak yang tau tentang tiga jalan tikus yang menghubungkan kedua tempat ini. Yang tau hanya petinggi pasukan seperti kalian dan..."


Edgar menggantung kata-katanya, seperti berat untuk mengucapkan.


"Dan apa?" Arcy bertanya.


"Dan kepala pelayan."


Madam Amber menutup mulutnya. "Mata-mata itu kemungkinan dari kepala pelayan atau orang kepercayaan kepala pelayan!"


"Kepala pelayan di sini hanya ada tiga, yaitu Lina, Zuta, dan Agnes. Mereka dekat dengan banyak orang, aku tidak bisa menebak siapa." Edgar memijit pangkal hidungnya. "Bagaimana menurut kalian?"


Arcy memegang dagunya, menganalisa sejenak peta di atas meja. Di saat seperti ini otak encernya sangat berguna bagi Edgar. Ia pintar sekali membaca situasi. "Bagaimana Lilya bisa mati? Ahh maksudku apa yang terjadi padanya? Luka macam apa yang ia dapatkan?


"Pisau beracun, racun yang sama persis dengan yang dicampurkan ke makanan Felice di hari ulang tahunku. Ia muntah darah, perutnya lebam, dan ada luka tusukan di perut kanannya." Edgar diam sejenak, kemudian melanjutkan, "Dia ditemukan tertelungkup, dan di tangannya ada surat ini."


Sebuah kertas ia keluarkan dari balik jubahnya. Tampak seperti kertas kosong biasa. Namun saat kertas itu ia dekatkan pada api yang ia ciptakan sendiri dengan tangan kiri, perlahan muncul tulisan berisi ancaman di sana.


*Jika aku memang tidak bisa memiliki Felice, begitu juga dengan dirimu, Edgar.


Romeo*


Arthur mengerutkan dahi. "Ada kemungkinan Raja Romeo sendiri yang membunuhnya."


Arcy menggeleng singkat. "Raja Romeo tidak butuh racun untuk membunuh Lilya. Dia bahkan bisa membunuh pelayan itu tanpa menyentuhnya sama sekali."


"Tepat sekali." Edgar kembali menyimpan potongan kertas itu ke dalam jubahnya. "Kesimpulanku saat itu kaki tangan Romeo sengaja membuat janji dengan Lilya di taman belakang. Felice pernah bercerita bahwa Lilya tidak terlalu menyukai bunga. Saat di sana ia menendang perut Lilya sehingga ia muntah darah dan menusuk perutnya dengan pisau."


Arcy mengangguk pelan, kemudian menjentikkan jari. "Pelakunya kidal."


"Bagaimana kau tau itu?" Madam Amber bertanya, penasaran.


"Ia muntah darah karena perutnya ditendang, artinya ia diserang dari depan. Jika ada luka tusuk di perut kananmu, artinya yang menyerangmu memegang pisau dengan tangan kiri. Benar, bukan?" Arcy memberikan alasan yang masuk akal.


"Umm, aku paham." Madam Amber mengangguk.


"Untungnya hanya ada dua belas pelayan kidal di istana. Agnes, Sassy, Jesa, Ray, Clarissa, Brianna, Yua, Amethyst, Walter, Johnson, Mari, dan Rona." Saat menyebutkan nama-nama itu, Edgar menuliskannya di atas sebuah kertas kosong.


"Agnes, Jesa, Walter, dan Rona tidak mungkin karena saat itu aku memerintahkan mereka untuk mengirim pasokan makanan pada Shinji yang sedang melatih calon prajurit di tengah hutan kabut. Mereka pergi bersama enam pelayan lain selama empat hari. Mereka berangkat dua hari sebelum acara dan kembali sehari setelahnya." Nama Agnes, Jesa, Walter, dan Rona ia coret.


"Brianna juga tidak mungkin," tambah Arcy, membuatnya dihadiahi sebuah tatapan penuh tanya dari Edgar. "Aku melihatnya menarik dua iblis tampan masuk ke kamar dan—"


"Baiklah, tidak usah dilanjutkan." Edgar memotong, tidak ingin mendengarkan lebih lanjut. Ia mencoret nama Brianna dari kertasnya.


"Sekarang hanya ada tujuh nama. Aku akan menyuruh mereka membuat makanan untuk Felicia. Tujuh makanan berbeda. Tapi akan aku beri tau bahwa makanan itu hanya untuk diletakkan di atas meja, bukan untuk dimakan oleh Felice. Makanan yang akan ia makan adalah makanan dari pelayan lain." Edgar membuat garis-garis penghubung di setiap nama.


Madam Amber mengerutkan keningnya. "Aku tidak mengerti."


"Begini." Arcy menulis nama Sassy, Yua, dan Amethyst. "Aku akan menyuruh Sassy membuat makanan bayi, tapi bukan untuk dimakan, hanya untuk dipanjang, karena makanan yang akan dimakan oleh Putri Felice adalah buatan Yua. Aku juga akan menyuruh Yua membuat makanan, tapi bukan untuk dimakan, hanya untuk dipajang, karena makanan yang akan dimakan adalah buatan Amethyst. Begitupun Amethyst. Jadi jika makanan buatan Yua beracun, kau tau apa kesimpulannya?"


Madam Amber membesarkan matanya. "Artinya Sassy yang meracuni makanan itu, karna ia mendapat informasi bahwa Yua yang akan membuatkan makanan untuk Putri Felice! Tidak mungkin Yua akan meracuni makanan yang dibuatnya karena ia tau bahwa makanan itu hanya untuk dipajang!"


Arcy menjentikkan jari. "Pintar."


Pembicaraan mereka berlanjut hingga satu jam berlalu. Semua telah direncanakan dengan matang. Mereka bersiap untuk keluar sekarang. Namun saat pintu keluar dibuka, yang muncul hanya Madam Amber, Arthur, dan Sacha. Mereka disambut oleh Felicia yang sedang memainkan ekor Rekta dengan gemas.


"Papa?" tanyanya dengan mata polos penuh tanya.


Madam Amber mengangkatnya, membawa gadis kecil itu ke gendongannya. "Anak ini menempel sekali pada papanya. Padahal belakangan aku yang memberinya makan, mengajarinya segala sesuatu."


Yap, itu memang benar. Belakangan memang Madam Amber seakan menjadi guru privatnya.


Arthur menceletuk, "Madam Amber, kau harus cepat-cepat menikah dan memiliki anak."


Madam Amber menghadiahi anak itu sebuah pukulan tepat di perutnya. Wajahnya tetap tersenyum, seakan tidak melakukan dosa apapun. Atensinya sekarang kembali terarah pada Felice. "Papamu perlu berpikir sejenak, jadi tunggulah sebentar lagi, ya?"


Felice mengangguk, memilih untuk mengambil sejumput rambut silver milik Madam Amber.


"Ambut majam tantik." (read : Rambut madam cantik)


-~~~-


Sementara di dalam ruangan, Edgar membakar kertas berisi coretan-coretan penuh rencana bekas diskusi dengan orang-orang kepercayaannya barusan. Arcy sibuk mengunyah apel yang diberikan Edgar agar lelaki itu mau membahas sesuatu yang lebih privasi dengannya.


"Sebenarnya kita harus mencurigai satu orang lagi." Edgar kembali duduk tepat di depan Arcy.


"Hiapha?" (read : siapa?"


"Lina, ibu asuhku sejak kecil." Edgar mengatakannya dengan berat hati.


Kening Arcy mengkerut, penuh dengan tanda tanya. "Tapi dia tidak kidal, Ed."


"Dia memang tidak kidal. Dia *Ambidextrous."


-~~~-


*Ambidextrous : terampil menggunakan kedua tangan, kanan maupun kiri