
Seluruh tamu berhenti beraktivitas dan memberi hormat saat aku dan Edgar memasuki ruangan. Mereka serentak menepi, memberi ruang untukku dan Edgar. Jujur aku sangat gugup sekarang. Apa nanti aku akan membuat kesalahan lagi dengan menginjak kaki Edgar? Aku memakai sepatu hak tinggi sekarang, sungguh berbeda dengan sepatu yang aku pakai saat latihan.
Astaga...bagaimana ini?
Kami berdiri, saling berhadapan satu sama lain. Jarak antara aku dan Edgar tidak terlalu jauh, hanya sekitar 2 meter. Kami saling memberi hormat, sebelum akhirnya Edgar mengulurkan tangannya.
Uluran itu aku sambut dengan hangat. Alunan musik yang lembut mulai terdengar. Edgar mulai bergerak, membuatku reflek menunduk untuk melihat ke mana kakinya bergerak. Uhhh bodoh sekali. Padahal aku sudah bilang tidak akan menunduk. Tapi aku terlalu takut, apa yang akan terjadi saat aku tidak sengaja menginjak kakinya atau menginjak gaunku sendiri?
"Tatap kedua mataku, Felice. Jangan takut."
Aku mendongak, menatap kedua Edgar yang begitu dingin dan tanpa ekspresi. Namun tangannya hangat. Ia bahagia, aku tau itu.
Ahh, kakiku menginjak kakinya...
"Jangan khawatir, sudah aku katakan bukan bahwa itu tidak terlalu sakit untukku. Kau bisa menghancurkan kakiku jika kau mau," bisiknya pelan sembari memutar tubuhku dan menarikku kembali ke pelukannya.
"Papa berlebihan."
Rasanya tubuhku menjadi lebih rileks, walaupun beberapa kali nyaris menginjak gaunku sendiri. Hingga akhirnya musik berhenti dan kami akhirnya mengakhiri dansa itu dengan saling memberi hormat.
Sacha datang, membawa sebuah mahkota dan buku. Aku menunduk, memejamkan mata. Edgar memakaikan benda itu di kepalaku, sebisa mungkin membuatnya pas di kepala dan tidak merusak gaya rambutku yang sudah susah payah ditata oleh Brianna.
"Aku berikan buku ini untukmu, berharap semoga kau menjadi putri yang memiliki wawasan luas, cerdas, dan pandai."
Setelah menerima buku—yang sangat berat—itu, aku berdiri dengan tegap menghadap ke arah seluruh tamu yang hadir. Riuh tepuk tangan terdengar di seluruh penjuru ruangan, terdengar beberapa ucapan selamat di sela-selanya. Akhirnya, aku telah resmi dikenalkan.
- O w O -
Edgar menyuruhku untuk bicara dengan para tamu, terutama yang umurnya tidak jauh berbeda denganku. Rasanya gugup sekali. Bagaimana caraku untuk menyambut tamu dengan ramah saat aku sendiri mencoba untuk bertingkah cuek seperti Edgar?
"Rambutmu ditata dengan manis, Putri. Luna suka sekali rambut hitam milikmu."
"Benar, begitu anggun."
Mereka berdua ini adik-adik Arthur Vermillion Gregory. Kalian tentu ingat dengan laki-laki itu, bukan? Yap, dia adalah pangeran kerajaan Athelion yang juga teman dekat Madam Amber. Lelaki itu ternyata punya dua adik perempuan kembar.
Yang tua bernama Alicia Vermillion Gregory, gadis yang begitu lembut dan ramah. Bawaannya kalem dan suka sekali tersenyum. Benar-benar seperti tuan putri di dalam buku dongeng. Rambutnya lurus, panjang, dan berwarna kuning.
Yang kecil bernama Aluna Vermillion Gregory. Ia juga gadis yang ramah dan mudah senyum. Namun ia tidak memiliki sifat kalem seperti sang kakak. Ia lebih ceria dan terkesan seperti anak manja. Rambut kuningnya dipotong pendek, membuatnya tampak agak mencolok dibanding putri kerajaan lain yang biasanya dominan berambut panjang.
"Terima kasih atas pujiannya. Rambutmu juga manis sekali. Aku jarang menemukan seorang putri yang memiliki rambut pendek."
"Ohh, begitu ya. Semoga berhasil." Jujur aku sedikit kaget mendengarnya. Anak ini telah menyukai seseorang. Umurnya bahkan belum menginjak 50 tahun.
Oh, omong-omong umur mereka 43 tahun, sedikit lebih tua dari pada umurku.
"Maaf, aku harus pergi untuk menyapa yang lainnya. Aku harap kita akan jadi sahabat setelah ini."
Mereka serentak tersenyum. "Baiklah, tentu saja."
Setelah dipersilahkan, aku segera beranjak menuju Rekta yang berada di ujung ruangan. Ia memakai wujud manusianya, dengan setelan serba hitam dan penutup mata. Ia tampak berbicara dengan seseorang yang tidak aku kenal. Aku tidak terlalu peduli tentang orang itu. Aku harus berterima kasih karena ia telah mengajariku teknik berdansa yang mudah hingga aku bisa seperti tadi.
"Putri Felicia?"
Aahhhh siapa lagi ini?
"Ahh, Putri Viona. Terima kasih telah meluangkan waktumu untuk datang ke pesta ulang tahunku."
Viona Amon Bael, anak kedua Azeroth Amon Bael. Kalian ingat bukan, saat aku pertama kali menghadiri acara perkenalan resmi seorang pangeran dari kerajaan Alasca? Yap, dialah adik dari si pangeran yang saat itu resmi diperkenalkan.
"Tentu saja aku datang. Kau juga datang di acara perkenalan resmiku, aku tidak akan melewatkan ini."
Ahh, Rekta tidak berada di sana lagi. Baiklah, akan aku katakan ketika pesta ini sudah selesai.
"Aku harap kita akan menjadi sahabat setelah ini."
Viona mengangguk. "Kau juga harus masuk ke dalam kelompok pertemananku. Aku akan mengadakan acara minum teh minggu depan. Apakah kau bersedia datang?"
Aku mengangguk. "Tentu saja. Kedengarannya menyenangkan."
Alunan musik tiba-tiba berganti. Seluruh tamu di ruangan mendadak berdansa bersama dengan pasangan mereka masing-masing.
"Putri, kita akan bicara lagi nanti. Permisi."
Aku mengangguk, melihat Viona ditarik oleh seorang lelaki yang tidak aku kenal. Tampaknya mereka pacaran. Lihatlah, mereka berdansa dengan mesra seakan ini adalah pesta pernikahan mereka. Lalu aku yang tidak punya pasangan ini bisa apa?
"Maukah kau berdansa denganku, Putri Felicia?"
- O w O -