
Benar juga. Selama ini aku hanya mengenalnya sebagai anjing hitam peliharaan Edgar yang bisa bicara. Aku bahkan tidak pernah tau bahwa anjing hitam itu adalah pengawal pribadiku. Aku juga baru tau bahwa ia bisa mengubah wujudnya menjadi wujud manusia. Selama ini ia selalu menjagaku dalam wujud anjing hitam, wajar jika ia belum merasa begitu nyaman saat menjagaku dalam wujud manusia.
"Baiklah, aku paham. Kalau begitu kau harus lebih sering bicara denganku, agar kau terbiasa."
"Apa Tuan Putri tidak merasa janggal? Biasanya aku selalu menemani Putri bermain dalam wujud anjing, dan sekarang aku berada dalam wujud manusia."
"Tidak," balasku sembari memberikan gelengan singkat, kemudian melanjutkan. "Justru lebih menyenangkan karena aku memiliki teman bicara yang cukup normal."
Karena tidak seharusnya anjing bisa bicara.
"Aku tidak begitu mengerti, tapi syukurlah jika Tuan Putri merasa begitu."
Aku membalasnya dengan senyuman manis. Ia butuh pembiasaan. Aku paham dengan perasaannya. Ia tidak diterima oleh ras hellhound, juga oleh ras iblis. Hanya papa yang mau menampungnya. Ia takut aku menolak keberadaannya seperti yang lain.
"Omong-omong aku diundang oleh tuan putri Kerajaan Alasca untuk minum teh bersama. Acaranya besok, dan kau harus menemaniku."
Ia sedikit terkejut. "Apakah Yang Mulia benar-benar mengizinkanmu pergi, Putri?"
"Yap, asalkan aku membawamu."
"Yang Mulia tidak sedikitpun melarangmu?"
Aku menggeleng. "Tidak, ia bilang ia tidak ingin mengganggu lingkaran pertemananku."
"Aku kira Yang Mulia akan menahanmu, karena belakangan begitu banyak kejadian yang mengancam nyawamu."
"Aku kira juga begitu. Aku juga sudah bilang aku tidak akan marah jika ia tidak mengizinkanku pergi. Aku paham bagaimana khawatirnya ia belakangan." Aku diam sejenak, menatap Rekta. "Papa memercayakanku padamu, jadi jika besok terjadi sesuatu padaku kau harus melindungiku."
Ia tersenyum, menuentuh dada kirinya sembaru menunduk. "Sebuah kehormatan bagiku karena mendapat kepercayaan dari Yang Mulia, juga Tuan Putri."
Aku tersenyum. "Terima kasih atas kesetiaanmu," balasku, kemudian menyandarkan diri pada kursi. "Tapi kau harus memakai wujud manusia loh, ya," tambahku.
"Keinginanmu adalah perintah untukku."
Sekarang aku meliriknya dengan tatapan tajam. "Lalu kenapa saat aku ingin mengobrol denganmu kau tidak keluar dengan cepat."
"Ehehe, itu..." Ia malah tertawa kikuk, kemudian menggaruk tengkuknya.
"Baiklah, tidak usah dibahas. Yang penting kau sudah keluar sekarang."
Ia hanya tersenyum, kemudian ikut menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi. Namun ia malah kembali duduk tegak. Seperti ada yang menghalanginya untuk bersandar. Apa ada sesuatu dengan punggungnya? Ia tampak begitu ingin bersandar tadi. Bahkan ia juga menghembuskan napas panjang.
"Apa terjadi sesuatu dengan punggungmu?"
Ia menggeleng. "Tidak, putri. Kenapa putri bisa berfikir seperti itu?"
Pembohong. Aku bisa melihat kebohongan di mata makhluk ini. Pupilnya berubah...
"Kau ingin aku merobek bajumu di sini? Atau kau cerita sendiri ada apa denganmu?"
"Baiklah, akan aku robek pakaianmu."
Aku berdiri di hadapannya, mengeluarkan sebuah belati dari balik pakaianku. Ini bukan belati biasa. Edgar yang memberikannya padaku. Hampir mirip dengan kalung mawar yang diberikannya saat pesta perkenalanku. Belati ini mampu mengirimkan semacam sinyal pada Edgar saat aku berada dalam bahaya. Bedanya, belati ini bisa bergerak sendiri untuk melukai orang yang dianggap membahayakanku, mengulur waktu sampai Edgar benar-benar datang dan mengakhiri nyawa si penjahat.
Baiklah, aku sampai lupa. Kita akan menelanjangi pengawal pribadiku yang suka sekali tidak jujur.
"Baiklah, putri. Beberapa hari yang lalu aku mengambil langkah yang salah sehingga aku terjatuh dan punggungku terkena duri venus."
"DURI VENUS?!! Bodoh! Kau sudah mengobatinya?"
Ia mengangguk. "Aku beri perban, tapi lukanya belum menutup. Mungkin akan sembuh dalam lima hari lagi."
Aku segera menyimpan belatiku, menarik tangannya menuju ke kamar. Kalau tidak salah aku pernah membuat obat oles berwarna kuning yang baunya seperti air seni kuda.
Venus, semacam kaktus berukuran sebesar pohon beringin yang memiliki duri tajam bagaikan pedang. Durinya memiliki racun yang tidak begitu berbahaya, bisa membuat korbannya demam selama seminggu.
"Putri, aku benar-benar tidak apa-apa."
"Berisik, keras kepala! Kau yang akan melindungiku besok. Kau mau tanggung jawab jika anak buah kakek sialanku itu berhasil mengakhiri nyawaku? Kau itu pengawalku, biarkan aku khawatir!"
Setelah beberapa kali melawan, akhirnya sekarang makhluk itu diam. Ia patuh mengikutiku dengan wajah tertunduk. Apakah aku terlalu keras memarahinya? Ukhh aku tidak tau perasaannya selembut ini.
Sesampai kami di kamar, aku segera menutup pintu dan merapalkan mantra agar tidak ada yang bisa masuk ke sini.
"Buka pakaianmu, duduk di kursi," perintahku sembari mengutak atik lemari berisi berbagai macam ramuan percobaanku dengan Madam Amber.
Ia menurut, tidak membantah seperti tadi. Apa aku benar-benar melukai hatinya yang lembut? Astaga bagaimana bisa?!
"Ini dia."
Aku duduk di sampingnya—posisi Rekta menyerong, membelakangiku. Aku bisa melihat tiga luka tusukan yang mengeluarkan darah berwarna cokelat. Juga ada banyak sekali bekas luka lain di tubuhnya. Yah, wajar saja. Ia adalah seorang prajurit. Ia pasti melewati begitu banyak pertarungan.
Aku menekan bagian samping ketiga luka itu, memaksa agar semua darah coklat yang ada di sana keluar. Madam Amber bilang proses ini begitu menyakitkan, tapi wajah Rekta seperti tidak merasakan apa-apa.
"Apakah ini sakit?" aku bertanya, memecah suasana hening yang sedari tadi menguasai.
Ia mengangguk pelan. "Sedikit sakit, tapi rasa bahagiaku lebih besar dari rasa sakit ini."
Aku mengerutkan kening, membersihkan seluruh darah yang mengotori punggungnya dengan kain. "Bahagia?"
"Sudah lama sekali sejak seseorang memarahiku karena khawatir."
Jadi dia tidak marah, malah sebaliknya. Dia bahagia karna aku marahi. Masokis kah anda bung?
"Putri benar-benar memiliki sifat seperti sifat Ratu Brezenska."
-~~~-