That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 19



"Felicia, bangun."


"Nggh..." Aku mendesah pelan, terbangun karena sebuah sentuhan yang mendarat di kepalaku. Mataku mengerjap beberapa kali, mencoba untuk menyesuaikan pengelihatanku dengan cahaya ruangan.


Tumben sekali ia membangunkanku pagi-pagi seperti ini. Biasanya ia akan membiarkanku tidur hingga nanti aku terbangun sendiri. Ada apa dengan papaku ini? Ahh lihatlah, sekarang dia tersenyum. Rambut berantakannya tidak membuat kadar ketampanannya berkurang.


"Felice masih ngantuk." Aku berbalik membelakanginya, memejamkan mata dan lanjut tidur.


"Kakak dari Pangeran Kerajaan Alasca yang minggu lalu aku ceritakan padamu berulang tahun hari ini. Kau harus menemani aku ke sana."


Aku langsung melihat ke arah Edgar dengan ekspresi kaget. "PAPAAA! Setidaknya beri tahu sejak tadi malam!" teriakku keras sembari memukul lengannya dengan brutal. Yahh, walaupun rasanya tidak sakit, ini bisa mengungkapkan betapa kesalnya aku.


- U w U -


Semua pakaian dan pernak-pernik yang aku gunakan diatur oleh Brianna. Sejak aku kecil dialah yang mengatur segala pakaian dan aksesoris yang aku gunakan. Ahh, bukannya aku tidak senang. Aku malah sangat senang. Rasanya seperti memiliki asisten pribadi.


Ia memakaikan sebuah dress berlengan pendek berwarna merah yang mengembang di bagian bawahnya di tubuhku. Oh iya, aku belum menceritakan sesuatu tentang keluarga bangsawan pada kalian. Di Neraka ada tujuh keluarga bangsawan agung, masing-masing dari mereka mewakili satu dosa besar dan memiliki warna khas. Sejauh ini aku baru tau tiga diantaranya.


Kerajaanku, Kerajaan Acacia. Dipimpin oleh keluarga bangsawan bermarga Lucifer, mewakili dosa kesombongan, dan sangat identik dengan warna merah. Kerajaan Agatha, tempat ibuku berasal. Dipimpin oleh keluarga bangsawan bermarga Belphegor, mewakili dosa kemalasan, dan identik dengan warna hijau. Karena itulah Edgar langsung tau bahwa orang yang berusaha membunuhku saat aku kecil berasal dari kerajaan Agatha. Orang itu memakai penutup mulut dengan corak awan berwarna hijau. Kerajaan Athelion, kerajaan tempat Pangeran Arthur Vermillion Gregory berasal. Dipimpin oleh keluarga bangsawan bermarga Gregory, mewakili dosa kemarahan, dan identik dengan warna coklat.


Lebihnya? Aku belum tau. Mungkin aku akan segera tau nanti.


Sebagai finishing, Brianna memakaikan sebuah tiara berlian berbingkai emas sebagai hiasan di rambutku. Rambut hitamku tidak begitu panjang, hanya sebahu. Jadi tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menghiasnya.


"Baiklah, sudah selesai Tuan Putriku yang manis."


Aku menatap pantulanku di cermin. Rasanya cukup gugup, karena ini adalah pertama kalinya Edgar memintaku untuk menemaninya ke pesta. Apakah aku harus tersenyum? Atau aku harus berlaku dingin seperti Edgar?


"Brianna, apa pendapatmu tentang papa?"


Aku mengangguk paham, beranjak keluar dari ruangan karena Edgar telah menunggu.


- U w U -


Kami berangkat menggunakan kendaraan yang ditarik oleh tenaga black unicorn. Hanya dengan mendengar namanya tentu kalian bisa membayangkan rupanya, bukan? Tubuhnya seperti kuda, diselimuti oleh bulu halus berwarna hitam pekat. Hewan itu memiliki sayap raksasa yang memungkinkannya untuk terbang. Surainya lembut dan panjang, serta ada sebuah tanduk yang keras di keningnya. Ada empat black unicorn yang menarik kereta ini, saling bekerja sama membawaku dan Edgar ke Istana Kerjaan Alasca.


Aku sibuk melihat ke luar, mengagumi pohon-pohon aneh yang tumbuh di sepanjang jalan. Bahkan ada beberapa hewan mitologi yang aku lihat.


"Papa, boleh Felice tanya sesuatu?"


Edgar yang sedang membaca sebuah buku menoleh. "Ada apa?"


"Kenapa papa tidak mau terlihat ramah kepada yang lain seperti papa pada Felice?"


Edgar tampak sedukit kaget dengan pertantaanku. "Karena itu membuatku terlihat lemah. Sebagai seorang raja, aku tidak boleh terlihat lemah di hadapan orang yang tidak aku percaya."


"Jadi papa percaya pada Felice?"


Ia mengangguk. "Tentu saja."


"Apa nanti Felice juga harus bersikap dingin seperti papa?"


Kali ini ia tidak langsung menjawab, hanya menatap kedua mataku dengan begitu dalam. Ia menghembuskan napas panjang. "Itu terserah padamu."


"Baiklah! Felice akan berusaha!"


- O w O -