
- Felicia PoV -
Pagi ini aku terbangun dengan perut keroncongan. Maklum, entah sudah berapa lama aku tertidur. Edgar terbaring tepat di sampingku, dengan salah satu tangannya menjadi bantal dadakanku. Mata dinginnya terpejam sempurna dengan deru napas yang teratur. Ingin rasanya aku mengganggu tidur nyenyaknya. Namun niat itu urung karena mengingat betapa bahagianya wajah iblis itu saat aku bangun, yang artinya ia telah berjuang keras untuk membuatku sadar.
Aku ingin tau berapa lama aku tertidur dan apa saja yang terjadi.
Oiya, aku baru ingat. Wanita berambut silver dengan mata seperti ular yang kemarin kulihat saat pertama kali membuka mata adalah Madam Amber, si wanita ular yang dihormati baik dari kalangan iblis, vampir, bahkan manusia. Wanita itu sering mencuri dengar pembicaraan antara malaikat dan Tuhan. Karena itulah ramalannya tidak pernah diragukan oleh siapapun.
"Kau tidak menangis? Biasanya bayi akan menangis saat mereka terbangun."
Panjang umur. Orang yang barusan kupikirkan langsung datang. Dilihat dari dekat wanita ini sangat cantik. Hanya saja matanya sedikit menyeramkan.
"Ayo makan," ucapnya sembari menyelipkan tangannya di leherku. Menyadari ada pergerakan asing, Edgar seketika bangun dan menodong Madam Amber dengan pisau kecil yang diselimuti aura gelap. Matanya memicing, siap untuk menyerang jika Madam Amber melakukan hal negatif.
Madam Amber sedikit kaget dengan hal itu, namun ia tetap tenang. "Yang Mulia, aku hanya ingin memberinya makan. Jika kau curiga padaku, silahkan cicipi bubur labu yang aku buat untuknya," ucap Madam Amber sembari menyodorkan mangkuk buburnya kepada Edgar.
Lelaki itu menurunkan pisaunya, lantas kembali menyimpan benda itu di balik jubahnya. Melihat hal itu timbul pertanyaan di otakku. Apa Edgar tidak takut perutnya tertusuk jika ia tidur dengan sebuah pisau di dalam jubahnya?
Madam Amber mendudukkanku, kemudian menyuapiku dengan bubur buatannya. Rasanya manis. Teksturnya juga tidak terlalu lembut, membuatku harus mengunyah sejenak sebelum menelannya. Itu dilakukannya agar aku lebih terbiasa untuk mengunyah. Apa Madam Amber punya anak? Ia tampak telah terbiasa dengan hal ini.
"Aku terkejut kau malah merawatnya, Yang Mulia. Kau memelihara kematianmu."
Hei tunggu, apa maksudnya?
"Aku tidak akan mati, Amber. Lihat, yang dapat dilakukannya hanya duduk dan menunjukkan wajah polos seperti anjing."
Sisi menyebalkannya tetap saja tidak hilang. Padahal lelaki dingin ini sangat khawatir saat aku tidak sadar selama berhari-hari. Sekarang ia mengatakan aku seperti anjing.
"Yang Mulia, itu jahat sekali." Madam Amber memprotes sembari membersihkan bubur yang belepotan di bibirku. Padahal aku bisa menjilatnya, tapi wanita itu dengan baik hati membantuku menghapusnya. Benar-benar ibu idaman.
"Aku salah?"
Wanita itu membalasnya dengan senyuman. "Tidak, Yang Mulia. Kau adalah kebenaran yang paling mutlak." Madam Amber diam sejenak, kemudian melanjutkan, "Tapi Felice adalah anakmu. Beri ia perumpamaan yang lebih bagus," katanya dengan nada seperti seorang guru yang memberitahu anak kecil kenapa kita tidak boleh duduk di atas meja.
"Contohnya?"
"Uhmm..." Madam Amber menyentuh dagunya, berpikir sejenak. "Bagaimana dengan berlian? Begitu cantik, indah, dan sangat berharga bagimu. Felice adalah berlianmu."
Sama sekali tidak ada balasan dari Edgar. Lelaki itu beranjak dari ruangan, menuju ke suatu tempat yang tidak aku ketahui. Sepertinya ia ingin mandi. Atau sarapan?
"Baiklah, pintar sekali." Madam Amber tersenyum, menatap kedua mataku dengan kedua matanya yang tampak menyeramkan. Kami saling menatap untuk beberapa saat, hingga wanita itu mengalihkan pandangannya sembari membereskan mangkuk kotor dan botol susu yang telah kosong.
"Edgar telah memilih untuk merawatmu, padahal aku telah memberitahu laki-laki keras kepala itu bahwa kau akan menjadi penyebab kematiannya."
Apa-apaan itu? Penyebab kematian Edgar? Aku?
Madam Amber melanjutkan, "Kau mungkin tidak mengerti perkataanku, putri, tapi jika suatu hari nanti kau benar-benar berniat melukai Yang Mulia, aku akan membunuhmu lebih dulu." Wanita itu berdiri, dengan cepat beranjak dari kamar. Botol susu dan mangkuk kotor tadi juga dibawanya keluar.
Dan sekarang aku sendirian.
Haruskah aku menangis agar seseorang datang? Kenapa mereka meninggalkanku sendirian? Apa mereka tidak takut aku akan diapa-apakan lagi oleh makhluk tidak dikenal?
Baiklah, aku akan berusaha sendiri.
-~~~-