
Ternyata mata kirinya berwarna merah darah, persis seperti milikku dan Edgar.
Madam Amber pernah bercerita padaku, bahwa kasta iblis bisa dilihat dari perbedaan warna mata. Iblis bangsawan kelas atas biasanya memiliki mata berwarna merah darah. Sementara iblis bangsawan kelas bawah memiliki mata berwarna pink. Satu tingkat di bawahnya, yaitu iblis petarung yang hebat memiliki mata berwarna kuning cerah. Warna-warna lain dimiliki oleh iblis yang memiliki kekuatan yang tergolong biasa.
Beberapa iblis yang spesial akan memiliki campuran warna emas di irisnya, seperti milikku. Iblis dengan mata sepertiku memiliki darah yang dapat meningkatkan kekuatan fisik dan psikis iblis yang meminumnya. Namun hanya iblis tertentu pula yang dapat menahan kekuatan besar itu. Jika ia tidak bisa menahan kekuatan besar itu, tubuhnya akan meledak.
Terdapat tiga bekas luka cakaran di mata itu, persis seperti bekas cakaran ******. Dari mana luka itu berasal?
"Luka..."
Melihat ekspresiku yang begitu khawatir, Rekta lantas menutup kembali matanya. "Hanya bekas luka, tuan putri. Dan aku sedikit kaget karna putri malah bertanya tentang bekas luka itu, bukan bertanya kenapa aku bisa memiliki mata iblis bangsawan kelas atas."
"Matana cantik, sepeti punya papa. Napa ditutup?" (read : matanya cantik, seperti punya papa. Kenapa ditutup?)
"Aku memiliki darah campuran, tuan putri. Bagi bangsawan, memiliki darah campuran adalah suatu hal yang hina, begitupun bagi hellhound. Aku tidak diterima oleh ras manapun." Rekta diam sejenak, kemudian melanjutkan, "Namun jika aku menutup salah satunya dan menonjolkan yang lain, aku akan diterima. Karena itu aku menutupnya dan hanya memperlihatkan rahasia ini pada orang-orang spesial."
Aku menunjuk diriku sendiri. "Pelis...pesyal?" (read : Felice...spesial?)
Rekta mengangguk ringan sebagai jawabannya. Aku tidak bertanya lebih lanjut, lebih memilih untuk memainkan ekornya lembutnya yang bergerak dengan liar. Kurang lebih aku bisa menebak apa yang terjadi. Ia memiliki orang tua yang berasal dari ras yang harusnya tidak pernah bersatu. Iblis bangsawan kelas atas tidak boleh menikah dengan iblis kelas bawah karena itu akan membuat darah anak mereka tidak lagi murni. Iblis ras hellhound juga seharusnya tidak boleh memiliki anak dari iblis ras lain, walaupun itu kalangan bangsawan. Keturunan mereka akan memiliki darah yang tidak lagi murni.
Tidak lama kemudian, lemari pedang raksasa milik Edgar bergeser. Dari sana muncul Madam Amber dan dua orang lelaki yang tidak aku kenal. Dimana Edgar? Kenapa hanya mereka yang muncul?
"Papa?"
Madam Amber menghembuskan napas panjang, kemudian berkacak pinggang. "Anak ini menempel sekali pada papanya. Padahal belakangan aku yang memberinya makan, mengajarinya segala sesuatu."
"Madam Amber, kau harus cepat-cepat menikah dan memiliki anak," celetuk salah satu lelaki di belakangnya.
Madam Amber hanya tersenyum. Ia menghadiahi lelaki itu sebuah pukulan tepat di perutnya. Tidak keras memang, namun pukulan itu lebih dari cukup untuk membuat lelaki itu berhenti bicara.
Wanita itu membawaku ke gendongannya, memberikan kecupan manis di pipiku. "Papamu perlu berpikir sejenak, jadi tunggulah sebentar lagi, ya?"
Oiya, apa aku sudah menceritakan bahwa Madam Amber sudah jauh lebih hangat dari pada saat kami pertama bertemu? Kalian ingat bukan, pertama kali aku bertemu dengannya, dia mengancam akan membunuhku jika aku memang berniat mengakhiri nyawa Edgar. Ia juga selalu bicara dengan ekspresi yang begitu dingin.
Namun ia menjadi lembut seiring dengan berjalannya waktu. Ia mulai tersenyum dan mau menggendongku entah itu untuk jalan-jalan ke taman atau sekedar di dalam kamar. Ia mengajarkan berbagai pengetahuan tentang iblis. Bahkan waktu yang aku lewatkan dengan Madam Amber terbilang lebih banyak dari pada bersama Edgar.
Edgar tidak terlalu mempermasalahkan hal itu Ia berfikir bahwa ini baik untukku karna kasih sayang yang diberikan Madam Amber persis seperti kasih sayang seorang ibu.
"Ambut majam tantik." (read : Rambut madam cantik)
Aku menyentuh rambut panjangnya, memainkan rambut silver itu dengan kedua tangan. Ia tampak tidak terganggu, malah mengusap kepalaku dan berkata, "Rambutmu juga bagus, lembut sekali."
Aku tersenyum manis, kemudian memeluk leher wanita itu dengan manja. Senang sekali rasanya. Dulu aku tidak pernah bisa melakukan hal ini dengan orang tuaku. Sekarang aku bisa bebas melakukannya dengan papaku Edgar dan seorang wanita lembut yang sudah aku anggap seperti mamaku sendiri.
Dia suka tidak ya jika aku memanggilnya mama?
-~~~-