
* Felicia PoV *
Aku dan Rekta pulang lewat dari jam dua belas malam. Suasana malam ini cukup mencekam, ditambah kami harus melewati hutan yang penuh dengan makhluk mitologi ganas. Kalian tidak akan menemukan makhluk semacam naga atau godzila di bumi.
"Apa tuan putri mengantuk?"
Aku menggeleng. "Tidak. Aku tidak akan bisa tidur jika kita belum sampai di istana."
Rekta mengangguk, kembali melirik ke luar melalui jendela. Tidak bisa dipastikan bahwa kejadian penyerangan beberapa waktu yang lalu tidak akan terulang. Rekta tetap tidak boleh lengah.
"Kau lengah, Rekta."
Aku dan Rekta serentak kaget. Rekta bahkan reflek menghunuskan sebilah pedang ke lehernya. Sadar bahwa itu adalah Edgar, Rekta menurunkan pedangnya kembali. Wajahnya mendadak pucat.
"Maafkan aku, Yang Mulia."
"Tidak masalah," balasnya. Sekarang ia menatapku dan menepuk bagian tempat duduk yang kosong di sebelahnya. "Duduk di sini."
Aku mengangguk, segera pindah posisi dan duduk di sampingnya.
"Bersandar padaku. Kau mengantuk, bukan?"
Aku mengangguk, tersenyum lebar sembari menyandarkan tubuhku padanya. Ia langsung mengembangkan sebelah sayapnya, mendekapku dengan sayap itu. Rasanya hangat, seperti memakai selimut.
Aku mejamkan mata. Entah sihir macam apa yang dipakainya. Getaran yang tercipta karena roda kereta yang melewati jalan berkerikil tidak lagi aku rasakan. Akhirnya aku tertidur dengan tenang tanpa tau lagi-lagi Edgar baru saja memenggal makhluk berbahaya yang nyaris menculikku.
- O w O -
* Author PoV *
Tidak ingin mengganggu tidur putrinya, Edgar memilih untuk menggendong Felice dan menidurkannya di ranjang milik Edgar. Bukan tanpa alasan. Putri kecilnya nyaris diserang sekelompok iblis vampir yang tinggal di seberang hutan di perjalanan pulang tadi. Untung saja Edgar berpapasan dengan kereta black unicorn yang membawanya dan menghentikan para iblis vampir.
Secara fisik iblis dan iblis vampir tidak memiliki begitu banyak perbedaan. Mereka sama-sama memiliki iris berwarna merah darah dan berkulit putih pucat. Bedanya, iblis memiliki sayap berbentuk seperti sayap kelelawar, sementara iblis vampir tidak memiliki sayap, tapi bisa berubah menjadi kelelawar. Mereka juga memakan darah, tidak seperti iblis yang memakan makanan biasa.
Ada satu lagi perbedaan yang menjadi alasan kenapa iblis vampir mengincar Felicia. Hanya 30% iblis bangsawan yang bisa menahan kekuatan dari darah iblis dengan iris berwarna emas. Iblis vampir? 100% dari mereka bisa menahannya. Tidak akan ada yang meledak seperti balon karena tidak mampu menahan kekuatan luar biasa yang mereka dapatkan dari darah iblis bermata emas.
"Kau begitu spesial. Jangan biarkan dirimu kelelahan."
Ia segera melangkah menuju ruang rahasia. Hanya lima panglima dan tangan kanannya yang tau lokasi ruangan itu. Pintu ruangannya selalu berpindah tempat, membuatnya sulit untuk ditemukan.
"Maaf membuat kalian menunggu," ucap Edgar saat ia memasuki ruangan.
Ruangan itu tidak jauh berbeda dengan ruangan di belakang lemari senjata Edgar. Hanya ada sebuah meja bundar yang dikelilingi delapan kursi, serta sebuah rak penuh buku tua di dalamnya.
Kelima panglima (baca : Rekta, Shinji, Arcy, Brandon, Sacha) serta Amber dan Mahessa serentak berdiri, memberi hormat saat Edgar memasuki ruangan. Mereka duduk saat Edgar mempersilahkan ia duduk.
"Pertama," Edgar menoleh pada Rekta yang duduk di sebelahnya, kemudian memberikan sebuah tamparan keras di pipi kiri Rekta.
Amber menutup mulutnya dengan kedua tangan, kaget dengan apa yang dilakukan Edgar pada Rekta. Lima laki-laki lain yang ada di sana berekspresi datar, seperti sudah terbiasa melihatnya.
"Kau tidak sadar telah diikuti sejak memasuki hutan? Apa saja yang kau lakukan? Kau bahkan tidak sadar saat aku menyelinap masuk ke dalam kereta!"
Rekta menyentuh pipi kirinya yang terasa panas. Darah mengalir keluar dari sudut bibirnya. Jujur tamparan ini tidak begitu sakit untuknya. Ia pernah merasakan hukuman yang jauh lebih menyakitkan dari ini. Rasa malunya jauh lebih besar.
"Maafkan aku, Yang Mulia. Aku sungguh minta maaf."
"Kau kira permintaan maaf cukup untuk perbuatan cerobohmu?"
Rekta terdiam, menunduk.
"Aku tidak ingin hal ini terjadi lagi. Kau harus meningkatkan kepekaanmu."
"Dimengerti, Yang Mulia."
Kini Edgar mengalihkan pandangannya, menatap satu per satu orang kepercayaannya. "Kita akan berhadapan dengan kawan lama sekarang."
Sacha mengerutkan keningnya. "Kawan lama?"
"Iblis vampir mulai berani mengincar Felicia, dan aku tidak akan tinggal diam."
Kini mereka semua serentak kaget, terutama Amber. Ia memiliki pengalaman buruk dengan iblis bertaring panjang tersebut. Ia jadi sedikit paham alasan Edgar menyuruhnya untuk hadir dalam rapat ini.
- O w O -