
Perasaanku tidak enak.
Edgar dari tadi hanya diam, berpangku tangan sembari melihat ke arahku. Hidangan lezat di hadapannya sama sekali belum disentuh. Wajahnya datar. Tersirat sedikit rasa tidak nyaman di matanya. Aku bisa menebak isi fikirannya. Pasti tentang Reon yang hari ini berkunjung.
"Papa kenapa? Ada yang mengganggu pikiran papa?" Aku tetap bertanya, padahal aku sudah bisa menebak jawabannya.
"Ada perlu apa Putra Mahkota Kerajaan Alasca mengunjungimu hari ini?" Edgar balas bertanya.
Nah kan tebakanku benar. Tentang Reon.
"Ahh," aku meletakkan sendokku di dalam mangkuk, mengubah posisi duduk dan siap bercerita. "Kemaren para pangeran berburu hewan liar ke hutan. Tapi mereka malah bertemu dengan kawanan naga. Mereka diserang dan Pangeran Reon mendapat luka bakar di bahunya. Ia alergi dengan beberapa bahan di obat yang dibuat oleh dokter. Putri Viona memberitahukan ciri-ciri salaf yang biasa digunakan Pangeran Reon. Kebetulan Madam Amber pernah mengajariku cara membuatnya."
"Lalu?"
"Aku membuatkannya, juga memasukkannya ke dalam kotak agar bisa ia gunakan di istananya. Tapi kotak itu malah jatuh di perjalanan pulang. Dan entah kenapa kulitnya mendadak alergi dengan salaf yang biasa ia gunakan. Jadi dia ke sini lagi untuk memintaku membuat salaf itu lagi," jelasku.
Ekspresi Edgar tidak berubah. Tapi ia mulai menyentuh sendoknya. "Hmm, usaha pendekatan yang bagus. Dia punya perasaan padamu."
"Apa?"
"Kau punya perasaan padanya?" tanya Edgar dengan wajah penuh selidik.
"Tidak," balasku sembari memegang kembali sendok yang sempat lepas dari tanganku.
"Sama sekali tidak?" tanyanya lagi, memastikan.
Aku mengangguk. "Yap."
"Begitu ternyata. Berarti hanya dia yang memiliki perasaan suka. Ini cinta sepihak." Edgar bergumam.
"Lagipula aku baru berbincang beberapa kali dengannya, bagaimana bisa aku langsung menyukainya?"
Dan tes kecil itu pasti sangat berbahaya dan mengancam nyawa. Aku yakin akan hal itu.
"Aku paham. Papa sangat mengkhawatirkanku. Tapi aku benar-benar tidak memiliki perasaan padanya. Percayalah, sejauh ini aku hanya mencintai papa," aku tersenyum.
Aku bisa melihat wajahnya yang mulai melunak. Tampaknya kekhawatiran Edgar mulai reda. Satu sendok makanan telah masuk ke dalam mulutnya.
Jujur, Edgar membuatku sedikit khawatir. Saat ada laki-laki yang menyukaiku saja dia sampai seperti ini. Lalu saat aku keracunan jamur juga dia begitu frustasi. Tidak tidur selama seminggu, menungguku membuka mata. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukannya saat waktuku untuk pergi telah tiba. Dia pasti sangat sedih. Tapi fakta bahwa hidupku di sini hanya 63 tahun tidak bisa diubah.
Aku ingin di sini selamanya.
Haruskah aku menceritakan ini pada Edgar ya?
"Omong-omong minggu depan adalah hari ulang tahun Putri Alleria yang ke lima belas. Undangan dari Kerajaan Athelion telah datang tadi sore." Edgar membuka percakapan.
Putri Alleria itu adik Pangeran Arthur dan si kembar.
Aku mengangguk. "Apakah papa akan menghadiri undangannya?"
"Sepertinya aku tidak bisa. Kau ingin datang?"
Aku mengangguk. "Putri Alicia dan Putri Aluna adalah temanku. Tentu saja aku akan datang."
"Baiklah. Jangan lupa membawa belati dan pakai kalung mawarmu. Minta Rekta menemanimu. Jika terjadi sesuatu jangan pernah melawan. Prioritaskan untuk mengulur waktu. Aku akan datang dan menghajar makhluk yang berani macam-macam padamu," ucap Edgar dengan wajah yang terlihat mengerikan. Tapi bagiku wajahnya sangat menenangkan.
"Oke, papa. Aku mengerti."
- O w O -