That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 54



Pada akhirnya, Edgar meninggalkan beberapa iblis yang dipercaya bisa menghentikan pembunuh bayaran Romeo.


Pagi ini para pasukan telah berkumpul di depan istana. Beberapa di antara mereka menaiki kuda hitam yang dilengkapi zirah. Mereka adalah para pemimpin pasukan. Lebihnya menggunakan pedang dan perisai, serta zirah yang tampak berat.


Edgar juga begitu. Ia menggunakan zirah dan memegang pedang yang sama dengan yang pernah ia gunakan melawan Claude. Rambut panjangnya diikat agar tidak mengganggu. Sekarang laki-laki itu berdiri tepat di depanku, melihatku dengan wajah datar nan dingin. Aku bisa melihat kekhawatiran dari matanya.


"Papa hati-hati, ya? Jangan sampai mendapat luka serius."


"Jaga dirimu baik baik. Jangan lakukan apapun yang bisa membahayakan."


Aku mengangguk. "Umm, aku membuatkan kalung untuk papa," ucapku sembari mengeluarkan sebuah kalung rantai emas putih dengan mata berlian kecil berwarna merah.


Ia mengerutkan kening. "Untuk apa?" tanyanya, tapi ia tetap berlutut agar aku bisa memasangnya.


"Madam Amber bilang dulu papa pernah mengatakan Felice itu seperti berlian," ucapku sembari memasang kalung itu di lehernya. "Felice mau papa selalu ingat kalau Felice menunggu kepulangan papa dengan selamat, jadi papa harus selalu berhati-hati."


Ia berdiri, memasukkan kalung itu ke bagian dalam baju zirahnya. Terakhir, aku memberikan senyuman manis, hingga akhirnya ia berbalik dan perlahan menjauh, diikuti seluruh pasukan yang tunduk padanya.


- O w O -


Sudah hampir sebulan sejak Edgar meninggalkanku. Aku kira perang ini tidak akan lama seperti di dunia manusia. Mereka punya kekuatan, harusnya mereka bisa menyelesaikannya dengan cepat.


"Ini pudingnya Tuan Putri."


Aku tersenyum saat Agnes meletakkan tiga potong puding cokelat di atas meja. Rasanya bosan sekali hanya berdiam diri di kamar. Jadi hari ini aku memutuskan untuk sarapan di taman penuh dengan bunga merah tempat aku dan Edgar biasa menghabiskan waktu. Di luar dugaan, sama sekali tidak ada pembunuh bayaran yang datang setelah Edgar pergi.


Yang artinya, ini aneh. Romeo pasti menyiapkan sesuatu.


Aihh sepi sekali. Tidak ada yang bisa aku ajak bicara. Haruskah aku mengundang para putri untuk datang ke sini? Oh iya, aku harus menghadiri undangan dari Putri Alleria besok. Ia akan mengadakan jamuan teh pertamanya sejak diperkenalkan secara resmi.


Tapi jika tidak ada Rekta, aku tidak akan bisa pergi ke manapun. Aku akan mengirim surat permintaan maaf saja.


- O w O -


* Author PoV *


"Apa yang ada dalam pikiran kalian? Kalian ini masokis apa bagaimana?" tanya Kevin Leviathan, yang tumben bersedia hadir.


Arthur tertawa singkat. "Ini akan sangat seru, Kevin."


Kevin memutar bola matanya, kemudian bertatapan dengan Reon. "Kau! Kau juga masokis ya?!!"


Reon tidak membalasnya, hanya berwajah datar dan beranjak pergi dari sana. Sejujurnya ia perlu berterima kasih pada naga yang telah menyemburnya. Kalau ia tidak mendapat luka bakar saat itu, ia tidak akan pernah dekat dengan Putri Felicia yang cantik.


"Maaf aku terlambat. Kalian tidak menunggu lama, bukan?"


Para pangeran (Read : Reon, Ryan, Arthur, Kevin, Daniel, Tristan, Nathan, dan Lucas) serentak menoleh, menemukan Imanuel Belphegor dengan kuda cokelatnya mendekat.


"Tidak masalah, pangeran mahkota," balas Arthur dengan senyuman yang dipaksakan. Kerajaan Agatha dan Athelion memang tidak begitu akur. Tapi Arthur harus menjaga sikapnya karena adiknya Alicia menyukai lelaki bersurai hijau itu.


"Hei hei, mudah sekali kau minta maaf dan semua masalah selesai. Kenapa kau terlambat?" tanya Kevin dengan wajah yang terlihat begitu menyebalkan.


"Aku berangkat bersamaan dengan ayahku dan beberapa pasukannya tadi. Ia lama sekali. Aku harus menunggunya."


Para pangeran mengangguk maklum, bersiap di kuda masing-masing. Namun Reon malah terdiam, mencerna kata demi kata yang diucapkan oleh Imanuel barusan. Apa katanya? Ia pergi bersama ayahnya? Dan beberapa pasukan? Kenapa ayahnya berkeliaran di wilayah Kerajaan Acacia? Tunggu, ada yang tidak beres di sini.


"Jadi kau berangkat beriringan dengan ayahmu?" tanya Reon memastikan.


Imanuel mengangguk. "Yap, kenapa?"


Wajahnya menegang. Aura hitam pekat muncul dari tubuhnya. Kurang dari satu detik tangannya telah berada di leher Imanuel, mencengkramnya dengan erat. Mata merahnya tampak bercahaya.


"Dengar, Pangeran Mahkota Imanuel. Kerajaanmu memang tidak memiliki masalah apapun dengan kerajaanku. Tapi kau harus tau jika terjadi sesuatu pada Tuan Putri Felicia, bersiaplah kerajaanmu akan dikepung ribuan pasukan dari Kerajaan Alasca," ucap Reon dengan nada yang begitu dingin dan mengerikan.


Seluruh pangeran tampak kaget. Mereka baru menyadari bahwa hutan ini berada di wilayah Kerajaan Acacia, juga cukup dekat dengan istananya. Tujuan Claude pasti ingin menculik Felicia dan membawanya ke Kerajaan Agatha, ke tempat kakeknya berada. Dan artinya, Felicia berada dalam bahaya.


- O w O -