That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 67



"Apakah Tuan Putri memiliki suatu masalah dengan teman Tuan Putri?"


Aku menggeleng.


Aku dapat melihat kerutan di keningnya. "Apakah ia melakukan sesuatu yang lain untuk menjebak Tuan Putri?"


Aku menggeleng. "Entahlah. Mungkin saja ada, dan aku kembali lepas dari situasi itu secara tidak sadar."


"Tuan Putri sudah tau siapa orangnya?"


Aku kembali menggeleng. "Aku tidak yakin."


"Apakah Tuan Putri akan menghadiri acara makan malam di Kerajaan Alasca?"


Aku mengangguk. "Tentu saja. Yang satu itu telah aku anggap sahabat walaupun papa tidak mengizinkanku untuk percaya pada makhluk lain selain dia."


Yang Selena maksud adalah Viona. Ia mengundangku untuk makan malam di kerajaannya. Ia mungkin ingin membicarakan tentang pernikahannya.


"Baiklah, aku rasa kita bisa melakukan eksperimen kecil."


- O w O -


Aku sengaja datang lebih awal. Tahap pertama, aku harus memastikan bahwa Viona bukan iblis yang menginginkan aku celaka. Aku tau bahwa aku tidak boleh percaya pada iblis lain, tapi entah kenapa aku begitu yakin Viona bukan pelakunya. Selain karena ia menyediakan tempat untukku bernaung saat papa pergi berperang, aku juga merasa ia tidak memiliki alasan untuk melakukan itu.


...mungkin.


"Bagaimana dengan piring kecil bergambar ekor merak ini?" tanyanya sembari menunjukkan sebuah piring kecil berwarna putih bergambar seperti ekor burung merak di bangian tengahnya.


Aku menggeleng. "Aku rasa tidak cocok dengan warna alas mejamu."


Ia diam sejenak. "Hmm, benar juga. Apakah kau akan menginap?"


Aku kembali menggeleng. "Papa menungguku, dan aku merasa tidak aman karena ada masalah ini itu."


Ia mengangguk kecil, kemudian memperlihatkan sebuah piring berwarna biru bergambar bunga lavender. "Bagaimana dengan ini?"


Aku mengacungkan jempol. "Sempurna."


Ia tersenyum. "Dan aku tau Tuan Putri. Kau tidak mungkin datang lebih cepat tanpa alasan. Kau menginginkan sesuatu, bukan?"


Aku tersenyum, kemudian mengangguk. "Aku hanya ingin meminta pendapat sebagai seorang teman. Apa yang membuatmu membenci seseorang hingga kau merasa lebih baik ia mati saja? Maksudku kira-kira apa alasanmu?"


Ia berpangku tangan, kemudian memegang dagunya. "Aku rasa aku akan sangat marah jika ada yang mengambil barang-barangku, mengambil keluargaku, mengambil Pangeran Mahkota Nathan dariku, dan merendahkan harga diriku dan keluargaku."


Putri dari keluarga bangsawan yang melambangkan dosa keserakahan memang luar biasa.


Aku mengangguk kecil. "Baiklah, aku paham."


Intinya, ia tidak suka jika "miliknya" diambil oleh yang lain.


Aku mengerutkan kening. "Kenapa kau berfikiran seperti itu?"


"Yang Mulia butuh alasan lebih kuat dari "berdansa dengan gadis kecilnya" untuk membunuh seorang Pangeran Mahkota."


Aku menghembuskan napas. "Papaku tidak akan membunuh Pangeran Mahkota, Putri Viona. Aku bahkan belum menceritakan hal itu padanya."


Viona kembali menggeser kursinya ke posisi semula. "Tapi syukurlah kau datang lebih awal. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."


"Membicarakan apa?"


Ia menautkan jari-jarinya. "Pangeran Mahkota Nathan akan diangkat menjadi raja setelah pernikahan kami."


Aku mengangguk kecil. "Lalu?"


"Ada beberapa menteri yang memihak pada Pangeran Lucas dan mereka mulai melakukan kudeta."


Mataku membesar, kaget dengan masalah yang terjadi di sana. "Benarkah?"


Viona mengangguk. "Sepertinya pernikahan kami akan dimanfaatkan Pangeran Mahkota Nathan untuk menjebak Pangeran Lucas dan pengikutnya."


"Pernikahanmu dijadikan...umpan?!"


Viona hanya menunduk. "Berjanjilah untuk tidak menceritakannya pada siapapun."


Aku mengangguk, menyodorkan jari kelingking. "Aku berjanji."


Ia melihat jariku dengan wajah bertanya-tanya. "Apa?"


Huffh sepertinya para iblis tidak paham dengan perjanjian jari kelingking.


Aku menggenggam tangannya, kemudian menautkan jari kelingkingku di jarinya. "Ini adalah simbol perjanjian, perjanjian yang tidak boleh diingkari."


Ia kelihatan bingung. "Uhm...baiklah."


Aku berpangku tangan setelahnya. "Kurangajar sekali makhluk itu. Pernikahan itu spesial, tidak bisa begitu saja dijadikan sebagai umpan. Nanti akan aku pukul makhluk itu, tepat di kepalanya."


Viona tertawa kecil. "Kau tidak perlu melakukan itu, Tuan Putri."


"Aku serius, Putri Viona."


"Aku juga serius, Tuan Putri. Aku tidak apa-apa. Ini jauh lebih baik dari pada pernikahan politik."


Aku mengangguk. "Benar juga."


- O w O -