
Setidaknya sudah 70% pertanyaanku terjawab. Alasan Edgar berniat membunuhku adalah ramalan Madam Amber, ditambah Brezenska mati karena melahirkanku. Ia mungkin berfikir bahwa ramalan itu nyata.
Dan sekarang ia membiarkanku hidup, dengan alasan akan melakukan "sesuatu" agar ramalan itu tidak terjadi. Mungkin ini alasannya ia tidak mengizinkanku belajar memakai senjata tajam. Agar kemungkinan aku membunuhnya semakin kecil. Uhh...ini alasan paling masuk akal menurutku.
Dan yang terpenting, Brezenska adalah iblis baik hati. Aku bahagia dengan fakta ini.
Sekarang tinggal berlaku menjadi anak baik dan penurut. Maka aku akan selamat hingga waktuku tiba nanti.
Usiaku sudah menginjak 15 tahun, artinya waktuku tinggal 48 tahun lagi. Astaga aku tidak ingin meninggalkan tempat ini. Aku sudah terlalu nyaman. Jika aku meminta untuk terus di sini, apa malaikat yang memberiku kehidupan itu akan mengabulkannya ya?
"Feliciaaaaa."
"Eh apa? Ada apa?" Mendengar panggilan dari Madam Amber, aku mendadak sadar dari lamunanku.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Ada yang mengganggumu di istana ini?"
Aku menggeleng. "Tidak, madam. Aku hanya berfikir kenapa hanya para wanita yang mengadakan pesta minum teh? Apa para laki-laki tidak tertarik dengan acara minum teh?"
Madam Amber menyentuh dagunya. "Hmm...mungkin karena mereka berpikir bahwa itu bukanlah dunianya. Dunia mereka ada di medan perang."
Aku turut mengangguk. "Benar juga."
"Kenapa? Ada laki-laki yang ingin kau undang ke sini? Kau mulai menyukai lawan jenis, hmm?"
Aku menghembuskan napas panjang. "Aku sangat tidak berniat untuk membahas ini. Tapi karena aku sangat menyayangimu, aku akan menjawabnya."
Madam Amber menatapku, menunggu jawaban menarik keluar dari bibir mungilku.
"Tidak."
Ia turut menghembuskan napas. "Tidak asik. Padahal aku sangat ingin melihat ekspresi Edgar jika ia tau putri kecilnya mulai memiliki ketertarikan dengan lawan jenis."
"Dia akan membunuh laki-laki itu. Itulah yang akan terjadi."
Aku mengerucutkan bibir, menempelkan stempel kerajaan di undangan yang akan aku kirimkan pada para putri. Madam Amber yang membantuku merangkai kata-kata agar terdengar lebih indah saat dibacakan.
"Baiklah, selesai."
Aku kembali meletakkan stempel kerajaan dan perangkat alat tulis di dalam laci meja. Aku tidak begitu suka melihat sesuatu yang tidak rapi. Mungkin ini karna sifat perfeksionis yang ditanamkan padaku sejak kecil.
"Madam, aku ingin membahas sesuatu yang sedikit sensitif."
Ia melipat kedua tangannya di atas meja, memusatkan perhatiannya kepadaku. "Bicara saja, aku akan mendengarkanmu."
"Papa melarangku menyentuh pedang dan senjata tajam lain, serta belajar cara menggunakannya. Menurut Madam apa alasannya?"
"Mungkin karena ia khawatir dengan keselamatanmu? Belajar seni berpedang bukan sesuatu yang mudah, loh. Kau bisa mendapat luka di sana sini walaupun konsepnya hanya belajar. Tanyakan pada Shinji jika kau tidak percaya."
Omong-omong Shinji Eligos adalah iblis yang memimpin pelatihan prajurit resmi.
"Apa Madam bisa menggunakan pedang?"
Ia menggeleng. "Tapi aku pintar dalam membuat ramuan dan guna-guna."
Dan itu mengerikan sekali.
"Kalau ia tidak mengizinkanmu berpedang dan belajar memakai senjata tajam, kenapa kau tidak fokus pada ilmu sihir saja?"
Aku mengangguk. "Memang itulah yang akan aku lakukan. Aku tidak bisa hanya duduk manis dan membiarkan mereka terluka karena melindungiku."
Sekarang Madam Amber tersenyum. Ia menyentuh pipiku, dan perlahan sentuhan itu berpindah hingga ke dagu. "Kau tumbuh begitu cepat."
- O w O -