That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 42



Cahaya matahari pagi telah masuk melalui kaca jendela, seakan memaksaku bangun dari kasur empuk milikku. Andai hari ini tidak ada kegiatan, aku akan lanjut tidur hingga dua atau tiga jam lagi. Namun sayangnya, hari ini akan diadakan acara minum teh di taman istana. Untuk pertama kalinya, perdana, aku mengadakan acara minum teh bersama para putri yang lain.


Pakaian yang akan aku kenakan telah disiapkan Brianna sejak dua hari yang lalu. Warnanya putih gading, dengan renda di bagian dada dan ujung bawahannya. Ada kristal merah berbingkai emas melingkar di pinggangnya, penanda bahwa aku adalah tuan putri Kerajaan Acacia. Ia juga menyiapkan pita berwarna merah polos sebagai hiasan rambutku.


"Putri, bak mandi dengan air hangat telah disiapkan."


Aku mengangguk. "Baiklah, aku segera ke sana."


Pelayan itu menunduk, kemudian beranjak pergi. Agnes namanya, memiliki wajah cantik dan rambut cokelat terang. Bibirnya tebal dan seksi. Namun sifatnya dingin, tidak ramah sama sekali. Padahal pelayan harusnya ramah.


Aku berdiri, berjalan menuju ke kamar mandi. Tempat pemandiannya berbentuk seperti kolam berbentuk lingkaran dengan kedalaman sekitar lima puluh senti meter. Air yang digunakan bersuhu hangat serta dipenuhi dengan taburan kelopak bunga mawar. Wangi bunganya memenuhi sekitar ruangan.


Tidak lupa mereka juga menyediakan masker wajah berbahan dasar bengkoang, susu, dan madu untuk menjaga kelembutan wajahku. Aku hanya tinggal mengoleskannya ke wajah dan menunggu sekitar dua puluh menit. Aku kadang suka membanding-bandingkan wajahku yang sekarang dengan wajahku yang dulu. Dulu wajahku mudah sekali berjerawat. Jika aku lupa menghapus riasan sebelum tidur, wajahku akan hancur keesokan harinya.


Jauh berbeda dengan sekarang, dimana aku hanya menggunakan masker berbahan dasar buah dan aku tetap cantik. Mungkin karena sekarang umurku masih lima belas tahun? Tidak tidak, dulu saat aku masih berada di bumi, jerawat pertamaku tumbuh saat aku berusia tiga belas tahun.


Oiya, aku tidak memakai sabun omong-omong. Di neraka, sabun hanya digunakan oleh rakyat jelata. Para bangsawan mandi menggunakan semacam lulur dengan butiran scrub yang lebih kecil dari pada lulur yang biasanya dijual di bumi. Jadi ini aman dipakai setiap hari tanpa takut kulit akan iritasi.


"Putri, handuknya saya letakkan di sini."


Aku menoleh, menatap seorang pelayan yang meletakkan handuk dan kimono mandi berwarna ungu di dekatku. Kalau tidak salah namamya Seze.


"Bisa tolong balurkan ini di punggungku?"


Ia mengangguk. "Tentu saja."


Aku memberikan lulur warna pink di dalam mangkok padanya. Lulur ini beraroma strawberry, sama seperti sabun yang sering aku gunakan saat masih hidup di bumi. Berbeda dengan iblis lain yang lebih suka aroma bunga, aku lebih suka aroma berry.


"Apa putri juga ingin dipakaikan minyak rambut?" tawarnya dengan lembut.


"Iya, tolong ya."


Sekarang ia beralih menumpahkan minyak beraroma matcha ke rambutku, kemudian memijatnya perlahan. Aku memejamkan mata, menikmati sentuhannya yang terasa begitu nyaman. Mungkin karena belakangan aku sering memikirkan hal yang tidak-tidak. Entah itu tentang masa lalu Brezenska dan Edgar, bagaimana cara agar Romeo sadar bahwa semua usahanya sia-sia, Ryan yang tampaknya menyukaiku, dan banyak lagi.


Dan pijatan Seze terasa seperti es serut di padang pasir.


"Kau tau? Pijatanmu adalah yang paling aku suka dibandingkan pelayan lain."


"Syukurlah jika tuan putri menyukainya."


Aku membuka mata, melihat pada pancuran air yang ada di sudut kolam. "Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tentu saja, putri."


"Menurutmu, papaku itu raja yang bagaimana?"


Ia tidak langsung menjawab, terlebih dulu berpikir mengenai kata-kata yang pas untuk ia ucapkan. "Yang mulia adalah raja yang bijaksana. Awalnya memang sangat mengerikan mengetahui bahwa Yang Mulia Adelt dan Putra Mahkota Brandon kembali ke sisi Lilith karena mati di tangan Yang Mulia Edgar. Semua takut padanya. Tapi setelah ia memerintah, kehidupan para pelayan dan rakyat jelata jauh lebih sejahtera dibandingkan saat dulu Yang Mulia Adelt memerintah. Pandangan kami seketika berubah."


"Jadi kalian mulai menyukainya?"


"Iya, terutama setelah kedatangan Ratu Brezenska. Kerajaan jadi semakin makmur. Tapi sayangnya Ratu Brezenska kembali ke sisi Lilith satu jam setelah tuan putri lahir."


Aku ingin menanggapi perkataannya, namun ia lebih dulu memotong.


"Tapi tuan putri tidak perlu memikirkannya. Ratu Brezenska tersenyum dengan bahagia saat putri telah lahir. Ratu memiliki fisik yang lemah, dan semakin lemah setiap harinya. Jadi aku mohon jangan bersedih."


Aku mengangguk, membiarkan ia membilas rambutku dan mengeringkannya.


- O w O -