
Tidak lama kemudian, satu per satu putri mulai datang dan memenuhi tempat duduk. Viona memang sangat kuat. Wajahnya yang tadi diselimuti oleh kesedihan seketika berubah ceria setelah kedatangan putri lain. Aku serius. Aku akan menghadiahkan sebuah pukulan di wajah si Nathan brengsek itu.
"Aku kira kau tidak akan mengundangku."
Viona tersenyum ke arah Adelline yang baru saja duduk. "Bagaimanapun juga kau tetap sepupuku, Adel."
Kehadiran Adelline membuat atmosfer ruangan sedikit tegang. Cornella masih belum memaafkannya. Dari tatapannya saja sudah terlihat jelas bahwa ia tidak menyukai kehadiran wanita itu. Tapi apa daya. Acara ini milik Viona. Sebagai teman ia harus tetap hadir.
"Kau sudah memesan pakaian dan perhiasan untuk pernikahanmu? Aku punya kenalan yang sangat ahli merancang pakaian dan perhiasan," tawar Natasya.
Viona menggeleng. "Tidak perlu. Pakaian dan perhiasannya akan dikirimkan oleh Pangeran Mahkota Nathan."
"Aku dan Pangeran Ryan akan segera menyusulmu, Viona," ucap Aluna dengan percaya diri.
Viona membalasnya dengan senyuman. "Aku tidak sabar menantikan hari itu."
Aluna mendadak melihatku. "Apakah menurutmu aku dan Pangeran Ryan serasi?"
Aku mengacungkan jempol. "Kalian akan jadi pasangan sempurna."
Itupun jika Pangeran Ryan bisa kau luluhkan.
Aluna tertawa kecil, menuangkan sesendok saus kacang ke piringnya.
"Kau suka saus kacang, Tuan Putri Felicia?" tanya Aluna.
Aku mengangguk. "Lumayan. Tapi aku lebih suka memakan daging dengan saus jamur."
"Wah, aku jadi ingat. Saat kau kecil kau mengacaukan hari ulang tahun Yang Mulia Raja Edgar karena kau memakan jamur beracun," ucap Adelline.
Aku sedikit tersinggung dengan kata-kata "mengacaukan" yang keluar dari bibirnya. Aku memakannya dengan tidak sengaja. Bukan disengaja.
"Apa maksudmu?"
Ia mengangkat bahu, tidak menjawab perkataanku.
Terserahlah, aku tidak ingin mengacau.
"Aku dengar Kerajaan Allerion baru saja membuat pertambangan berlian, benarkah itu Natasya?"
Pertanyaan Alicia dijawab Natasya dengan anggukan kecil. Ia lebih dulu menyelesaikan urusan di dalam mulutnya sebelum bicara. "Salah satu adikku menemukan berlian berharga di sana. Ia yang akan mengurusnya."
"Salah satu adikmu? Aku tidak tau kau memiliki banyak adik."
Natasya mengerlingkan matanya. "Nona Adelline, kau tau? Aku benci sekali jika ada yang bertanya tentang itu padaku. Jadi tolong hentikan itu."
Natasya balas melirik tajam. "Apa menurutmu kau pantas dipanggil Tuan Putri?"
"Setidaknya lebih pantas dari pada sepupu lemahku yang terus berlindung di belakang papa tercintanya."
...apa sepupuku ini diajarkan sopan santun oleh keluarganya?
"Nona Adelline, aku akan memaafkanmu jika kau berhenti sekarang."
Ia melirikku. "Aku tidak butuh maaf darimu, Felicia. Aku membicarakan kebenarannya."
"Apa kau diajarkan sopan santun oleh bibi Nayla?"
"Apa maksudmu bertanya seperti itu? Kau kira ibuku tidak mengajariku?" ia meninggikan suaranya.
Aku tidak menjawab. Jika tidak diladeni, ia pasti akan berhenti sendiri.
"Hmmph," ia tersenyum miring, seperti mengejek. "Aku tidak seperti dirimu. Aku punya ibu yang mengurusku dengan sangat baik."
Adelline sudah kelewatan.
"Jaga bicaramu Adelline!" teriak Viona yang mulai kesal karena acaranya kacau.
Plak!
Aku berdiri, kemudian melayangkan sebuah tamparan di pipinya. Bukan tamparan yang langsung berasal dari tanganku. Aku membentuk energi sihirku menjadi seperti tangan dan mengarahkannya tepat di pipi kiri Adelline.
Ia tampak kaget dengan responku. Bukan hanya Adelline, seluruh wanita yang ada di ruangan ini juga terkejut melihatnya. Adelline menyentuh pipi kirinya. "Kau berani menamparku?"
"Kau ingin aku melakukannya lagi?" tawarku dengan aura hitam yang mulai menyelimuti badanku.
"Lakukan saja! Aku akan mengadu—ah!!!"
Plak!
Aku kembali melayangkan sebuah tamparan di pipi kanannya. "Pada siapa kau akan mengadu? Jangan macam-macam denganku, Nona Adelline. Bagiku kau hanya lalat kecil yang bisa disingkirkan dengan mudah."
Sekarang wanita itu diam sembari mengelus kedua pipinya yang memerah akibat tamparan dariku.
Aku berbalik, berjalan ke arah pintu keluar. Ryan dan Reon berdiri di sana. Aku tidak tau sejak kapan mereka ada di sana. Tapi sepertinya mereka melihat apa yang aku lakukan pada Adelline. Wajah mereka tampak terkejut.
Dan aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan. Aku rasa aku telah melakukan hal yang benar.
- O w O -