
"Ia memperlakukan Brezenska seperti budak. Menyuruhnya mencuci, memukulnya saat ia melakukan kesalahan walaupun hanya kesalahan kecil, dan masih banyak lagi. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika aku menyerahkanmu padanya."
Gila...
"Kenapa dia malah ingin membunuhku, sementara ia ingin aku tinggal bersamanya?"
Edgar menyandar, menghbuskan napas panjang. "Hahhhh. Dia pernah bilang, jika ia tak bisa memilikimu, maka begitu juga dengan diriku."
Egois sekali.
"Aku tidak begitu suka dengan kebaikan yang ditunjukkan Brezenska pada semua orang. Kadang orang-orang yang ia temui tidak menghargai kebaikan hatinya, malah memanfaatkannya."
Ahh, Rekta memang mengatakan bahwa Brezenska adalah wanita yang sangat baik. Dan ternyata itu fakta.
"Terkadang aku menyuruhnya untuk terlihat licik, untuk tidak memedulikan perasaan orang lain, menikah karena ingin jadi penguasa kerajaan neraka terbesar, tidak usah banyak tersenyum, dan...banyak lagi."
Fakta yang...mencengangkan. "Apakah itu juga berlaku untukku?"
Edgar memiringkan kepalanya. "Apa?"
"Untuk mengurangi bersikap baik, terlihat licik, jangan banyak tersenyum, dan lainnya?"
Edgar mengusap puncak kepalaku, tersenyum dengan lembut. "Itu yang membuatku terus memaksamu untuk menjadi tuan putri yang pintar dan cerdas, agar tidak ada yang bisa memanfaatkanmu walaupun kau memiliki hati yang baik bagai malaikat."
Aku mengangguk kecil. Dari Cerita Edgar, sepertinya Brezenska itu bukan wanita bodoh. Kemungkinan besar dia adalah wanita yang naif. Ia membantu seseorang tanpa memandang siapapun itu. Dan terkadang orang yang ia bantu malah memanfaatkannya. Uhh...menurutku begitu.
"Lalu apa alasan papa melarangku menyentuh pedang dan belajar ilmu bela diri?"
Dia terdiam, tampaknya sedang berpikir.
"Aku tidak ingin kau terluka. Dan itu bukan duniamu. Duniamu di sini, merawat diri dan terus belajar menjadi putri yang cerdas. Untuk masalah perlindungan diri, kau bisa mengandalkan aku, Rekta, dan benda-benda magis yang aku berikan padamu."
Tapi kau tidak bisa menipuku, papa. Sebagai informasi tambahan, aku ini mahasiswa Psikologi dulu. Aku tau gerak gerik seseorang saat mereka berbohong. Aku bisa melihat matanya yang menolak untuk membalas tatapanku. Kelopak matanya mengerjap dua kali lebih cepat saat berpikir barusan.
Tapi biarlah, aku tidak akan memaksanya.
"Oh, hampir saja lupa. Apa aku boleh mengundang para putri untuk minum teh di sini?"
"Tentu saja. Kau memang harus melakukan itu agar lingkaran pertemananmu semakin kuat."
Aku tersenyum, langsung memeluknya. "Terima kasih, papa."
"Apapun untukmu," ucapnya sembari mengusap lembut kepalaku. "Kau butuh sesuatu yang lain?"
Aku mengangguk. "Aku tidak mau memakai taman yang biasa aku gunakan dengan papa untuk menghabiskan waktu bersama. Taman itu terlalu spesial untuk dimasuki orang asing seperti mereka. Jadi aku akan menggunakan taman di dekat Istana Vega. Boleh kan?"
"Boleh, tentu saja. Jangan lupa Rekta harus selalu bersamamu. Periksa setiap makanan yang akan kau makan. Paham?"
Aku mengangguk. "Oke, papa. Felice paham."
- O w O -
Setelah mendengar cerita Brezenska, aku jadi ingat pada ayah dan ibuku di kehidupan sebelumnya. Ibu adalah sekretaris di suatu perusahaan besar. Ia tidak begitu peduli dengan urusan rumah tangga dan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Akhirnya ia menyewa pembantu untuk mengurus pekerjaan rumah—termasuk mengurusku.
Ayah adalah seorang model. Tidak mendapat terlalu banyak perhatian dari ibu, ia memilih untuk berselingkuh dan menghabiskan banyak waktu dengan wanita lain di lingkungan kerjanya, entah itu penata riasnya, model muda yang baru ditemuinya, dan masih banyak lagi.
Sedangkan aku?
Ahhh aku tidak ingin memikirkannya. Lebih baik sekarang aku memejamkan mata dan segera ke alam mimpi.
- O w O -