
"Maukah kau berdansa denganku, Putri Felicia?"
Aku menoleh, menemukan seorang lelaki berambut putih dengan wajah yang sangat tampan. Siapa ini? Dia tau namaku? Astaga, maaf, tentu saja aku tidak mau. Aku bisa menghancurkan kakimu jika kau berdansa denganku.
"Maafkan aku, aku tidak bisa."
"Khawatir akan menginjak kakiku? Tenang saja, Putri. Aku telah menjadi laki-laki sejati seperti yang kau katakan sepuluh tahun yang lalu."
Aku ingat sekarang. Ryan Amon Bael, anak lelaki pemalu yang pertama kali aku temui di pesta ulang tahun Reon. Dia...berubah begitu banyak.
"Aku tidak akan merasa sakit hanya karena kau menginjak kakiku."
"Kau...berubah begitu banyak hanya karena kata-kataku?"
Ia tersenyum. "Benar, sejak saat itu aku terus berjuang dan belajar menjadi laki-laki sejati seperti yang kau katakan."
"Ahh, begitu ternyata. Namun maafkan aku karena aku benar-benar tidak bisa berdansa denganmu."
Wajahnya tampak begitu kecewa, namun ia berusaha menyembunyikannya. "Kenapa?"
"Nyawamu berada dalam bahaya jika kau mencoba menyentuhku." Aku melirik ke samping kanan. Di sana Edgar sedang bersandar di dinding sambil memperhatikan kami.
Ryan mengikuti arah lirikan mataku, tertawa kecil setelahnya. "Baiklah, aku juga tidak ingin kehilangan nyawa di usia yang masih muda."
"Pilihan yang bagus, Pangeran Ryan. Maaf karena tidak bisa menemanimu berbincang lebih lama. Aku harus ke tempat papa untuk menjelaskan segalanya. Permisi." Aku tersenyum sejenak, kemudian beranjak dari hadapannya.
"Tunggu."
Langkah kakiku terhenti. Ia memegang tanganku. Astaga, Edgar akan membunuhnya.
"Apakah kita bisa bicara lagi nanti?"
Aku menoleh, tersenyum. "Tentu saja."
Ia turut tersenyum, melepaskan tanganku. "Baiklah. Sampai nanti."
Namun saat aku kembali menoleh ke arah tempat Edgar berdiri tadi, dia malah tidak lagi berada di sana. Huffh, kenapa iblis-iblis ini suka sekali menghilang?
- O w O -
Ini aneh. Edgar tidak terlihat dimana-mana. Bahkan para tamu telah selesai berdansa. Apakah dia marah? Tunggu, dia tidak boleh marah. Harusnya ia bersikap biasa saja karena Ryan sama sekali tidak menyentuhku.
Humm, mungkin aku harus mengecek ke taman belakang. Mungkin saja Edgar sedang berdiri dan memandangi Tree of Eternity.
"Felicia?"
Aku menoleh ke belakang, mendapati Edgar sedang berdiri sembari tersenyum. Horor sekali. Kenapa ia bisa tiba-tiba berada di belakangku?
"Papa!" aku berlari kecil ke arahnya, tersenyum semanis mungkin.
"Kemarilah, sayangku. Kemarilah." Ia merentangkan kedua tangannya, tersenyum makin lebar.
Ahh tunggu, sejak kapan ia bisa tersenyum hangat begitu? Padahal ia baru saja menatapku dengan dingin saat bicara dengan seorang lelaki.
Aku menghentikan gerakan kakiku, perlahan mundur sembari memperhatikan penampakan laki-laki itu dari bawah hingga ke atas. Tidak-tidak, Edgar tidak pernah seperti ini.
Siapa ini?
"Kenapa, sayangku? Kenapa kau berhenti?"
Aku perlahan mundur. Detak jantungku mulai tidak karuan. Tidak-tidak, tidak mungkin iblis ini kesurupan. Tidak ada iblis yang kesurupan iblis lain. Ini bukan dia. Ada yang mencoba mengecohku dengan berpura-pura menjadi dia.
Ahhh, dimana Edgar saat ini? Dia bilang dengan aku memakai kalung mawar ini, dia akan segera tau apapun yang terjadi padaku, bahkan segera tau bagaimana perasaanku.
"Siapa kau? Kenapa kau mencoba mengelabuiku?"
Kedua tangannya kembali ia turunkan. Senyuman hangat yang terbentuk di bibirnya perlahan tampak mengerikan. "Aku tidak mencoba mengelabuimu. Aku hanya ingin mencoba menjadi ayahmu yang sangat disayang oleh anak perempuannya."
Rambut merah panjangnya perlahan berubah menjadi hijau. Wajahnya yang tadi begitu mirip dengan Edgar kini sepenuhnya berubah menjadi wujudnya yang sebenarnya. Siapa ini? Astaga dia pasti berasal dari Kerajaan Agatha. Tapi siapa ini? Aku tidak ingat Edgar pernah bercerita bahwa Brezenska memiliki saudara laki-laki atau semacamnya.
Ia perlahan mendekat. Namun aku tetap mempertahankan jarak dengan melangkah mundur tiap kali ia melangkah maju. Detakan jantungku menjadi tidak karuan. Apakah aku akan mati hari ini?
Sepertinya tidak.
Sebuah serangan tiba-tiba muncul dari arah samping. Edgar masuk melalui jendela, langsung mengarahkan sebuah tendangan ke bahu lelaki di hadapanku. Namun tendangan itu bisa ia tangkis dengan mudah. Ia seperti sudah tau bahwa akan ada serangan yang mengarah ke bahunya.
Edgar dengan cepat melompat, memosisikan dirinya tepat di depanku. "Aku tak ingat pernah mengundangmu di acara ini, Claude. Kenapa kau datang?"
Siapa lagi si Claude ini?
"Kasar sekali. Aku hanya ingin melihat keponakanku, Ed."
Ia melangkah, mencoba mendekat. Namun Edgar telah lebih dulu membentuk semacam pelindung dengan api hitam sehingga Claude mengurungkan niatnya untuk mendekat. "Menjauh, pergi dari sini. Aku tidak ingin merusak acara penting putriku."
"Tenang, aku tidak akan mengajakmu berkelahi sekarang. Aku hanya penasaran apa yang membuat Paman Romeo begitu menginginkan gadis itu. Dan aku belum begitu paham."
Dia keponakan si kakek jahatku, artinya dia sepupu Brezenska.
"Kenapa tidak kau tanyakan sendiri padanya? Kau begitu tidak sopan karna menghadiri sebuah acara dimana kau tidak diundang."
Ia tertawa kecil. "Aku...malas. Jadi lebih baik aku cari tau sendiri."
"Pergilah, aku tidak ingin membunuh makhluk lemah sepertimu di acara yang begitu penting untuk putriku."
"Aah, sombong sekali. Baiklah, aku akan pergi sekarang," ucapnya sembari mengeluarkan sepasang sayap dari dalam jubah hijau tuanya. Ia melangkah keluar lewat jendela, kemudian terbang ke angkasa.
Edgar berbalik, mengarahkan seluruh perhatiannya padaku. "Ia melakukan sesuatu padamu? Apa saja yang telah ia katakan?"
- O w O -