
Aku merangkak pelan ke tepi ranjang. Jarak dari atas ranjang ke lantai cukup jauh bagi makhluk bertubuh mungil seperti aku. Tapi aku yakin, aku pasti bisa turun tanpa kesalahan. Aku sudah bisa berdiri walaupun harus dibantu.
Kaki kananku perlahan aku turunkan, berlanjut dengan kaki kiri. Lantainya terasa jauh sekali. Aku masih terus menurunkan badanku perlahan, dengan tangan berpegangan erat pada sisi ranjang.
Oke berhasil! Kakiku menyentuh lantai.
Tunggu, lembek sekali, apa ini?
"AAAA!!!"
Aku reflek berteriak. Keseimbanganku hilang. Aku langsung memejamkan mata, bersiap menerima rasa sakit karena kebodohanku sendiri. Namun ternyata rasanya tidak sakit. Aku disambut oleh sesuatu yang lembek, lembut dan empuk. Dan itu adalah...
...seekor anjing.
Sekujur badannya diselimuti oleh rambut halus berwarna hitam. Ukuran tubuhnya cukup besar, sebesar anjing husky dewasa. Bentuknya pun mirip dengan anjing husky, hanya saja dengan bulu berwarna hitam pekat. Mata kanannya berwarna kuning cerah, dan mata kirinya ditutupi dengan kain. Ada apa dengan mata kirinya?
Terlebih, anjing siapa ini? Milik Edgar? Tapi aku tidaj pernah melihatnya di sekitar istana. Apa anjing ini baru saja ia pungut ya? Dan lagi, kenapa semua hewan di neraka didominasi oleh warna hitam? Kucing hitam, burung hitam, ular hitam, laba-laba hitam, dan sekarang anjing hitam.
"Felice? Kenapa kau beranjak dari tempat tidurmu?"
Merasa terpanggil, aku melirik ke arah pintu dan menemukan Edgar yang sedang mengeringkan rambutnya. Tampaknya lelaki itu baru saja mandi. Aroma mawar tercium jelas saat ia mendekat dan membawaku ke gendongannya. Astaga lelaki ini. Apa dia tidak sadar bahwa badannya masih basah dan ia malah menggendongku.
"Kerja bagus, Rekta," katanya sembari melihat ke arah si anjing. Anjing itu hanya melihat, tidak menyaut sama sekali. Sedetik kemudian anjing itu beranjak pergi, meninggalkan aku dan Edgar berdua di kamar.
Edgar mendudukkanku di atas ranjang. Wajahnya kembali serius, menatap lurus mataku. Mungkin kejadian di pesta ulangtahunnya membuat Edgar trauma. Dia menjadi lebih...
...posesif.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menyerahkanmu pada orang tua sialan itu. Dia harus melangkahi mayatku dulu sebelum bisa menyentuhmu."
Orang tua sialan? Siapa?
Dan, lihat kan? Dia menjadi lebih posesif sekarang.
-~~~-
Edgar akan menggendongku ke teras, membuat perhatianku teralihkan oleh kicauan burung dan cerahnya sinar matahari. Musim dingin akan segera berakhir, digantikan oleh musim semi. Ulang tahun pertamaku semakin dekat. Semua penghuni istana begitu antusias menyiapkan perayaan. Namun ada satu iblis yang tidak senang dengan perayaan ini.
Siapa dia? Siapa lagi kalau bukan Edgar, ayahku tercinta.
Merayakan pesta ulang tahunku seperti membuka celah bagi iblis yang berniat mencelakaiku. Namun Madam Amber berhasil meyakinkan Edgar bahwa semua akan baik-baik saja. Keamanan akan diperketat dan hanya iblis tertentu yang akan diundang. Dapur juga akan diawasi dengan ketat.
Hal itu dilakukannya untuk para penghuni istana yang terlanjur bahagia. Madam Amber tidak ingin merusak kebahagiaan itu dengan membiarkan Edgar berkata bahwa ulang tahunku tidak akan dirayakan. Hati seluruh penghuni istana akan terluka.
"Yang Mulia, bagaimana dengan warna emas?" tanya Brianna sembari memperlihatkan sebuah gaun berwarna emas yang luar biasa cantik.
Sekarang aku dan Edgar sedang memilih pakaian untuk dikenakan saat aku berulang tahun. Seperti biasa, Brianna yang menjadi desainernya. Dari tadi ia telah memperlihatkan banyak gaun pada Edgar. Namun tidak ada satupun yang menarik perhatiannya.
Gaun emas yang baru saja diperlihatkan Brianna disambut gelengan kasar oleh Edgar. Wanita itu cemberut, kemudian menghembuskan napas panjang. Ia berfikir sejenak. Apa yang bisa ia lakukan agar Edgar puas dengan pakaian yang dibuatnya.
"Yang Mulia, yang akan memakainya adalah putri Felice, bukan? Bagaimana jika kita membiarkan Putri Felice untuk memilihnya sendiri?"
Edgar berfikir sejenak, melirik ke arahku. "Baiklah. Pilih pakaian yang kau suka."
Aku mengangguk, meletakkan jari telunjukku di bibir bawah, seperti orang yang sedang berfikir. Semua pakaian yang dirancang Brianna memang sangat bagus. Yang mempengaruhi hanya warna. Seperti pakaian nomor 3 dari ujung. Warnanya memang manis, perpaduan warna hijau muda dan hitam. Aku tidak suka warna hijau.
Sebaliknya, gaun yang berada tepat di depanku berwarna pink cerah, polos, tidak ada paduan warna apapun di sana. Dan aku suka sekali warna pink. Tapi aku tidak akan memilih pakaian itu karena Edgar benci warna cerah.
"Itu!" Aku menunjuk sebuah gaun berwarna biru tua berlengan panjang yang sangat manis. Ada tiga berlian berwarna hitam berbingkai emas di pinggangnya.
Brianna tersenyum, memakaikan pakaian itu di badanku untuk melihat seberapa cocoknya pakaian itu di tubuhku. Ia juga meletakkan sebuah cermin berukuran besar di hadapanku. Tiba-tiba muncul Madam Amber dari pintu, memberitahukan sebuah informasi yang membuat Edgar geram, bahkan nyaris membatalkan pesta ulang tahunku.
-~~~-