That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 45



"Tanganmu tidak sengaja menjatuhkannya di perjalanan pulang?"


"Iyap."


"Dokter istanamu tidak punya bahan yang aku maksud?"


"Iyap."


"Dan mendadak kulitmu jadi tidak cocok memakai salaf yang biasa kau pakai?"


"Benar sekali."


Aku menghembuskan napas panjang, memaksakan tersenyum pada makhluk berambut putih di hadapanku. Dia berbohong. Aku bisa melihat itu di nada bicaranya. Dia Reon Amon Bael.


Entah apa tujuannya yang sebenarnya. Tapi baiklah, aku yang baik hati ini akan membuatkannya lagi. Lagian membuatnya sangat mudah dan tidak butuh waktu lama. Setelah itu akan aku usir dia dari sini. Pagi-pagi begini sudah mengganggu.


"Baiklah, aku akan membuatkannya lagi."


Ia tersenyum miring, senyum yang terlihat sangat menyebalkan. Kalian bisa membayangkannya kan? Senyuman makhluk tidak ada akhlak sehabis mengerjai seseorang?


"Terima kasih, tuan putri."


Aku tersenyum sebagai balasannya, kemudian berjalan menuju ruangan dokter istana. Reon mengikutiku di belakang. Aku bisa merasakan tatapan pelayan yang melihat kami berjalan beriringan. Dan ini sangat menggangguku.


Sepertinya dokter istana kembali membuat eksperimen. Tercium aroma sesuatu yang terbakar saat aku memasuki ruangan. Pelayan yang ada di dalam ruangan terlihat kaget saat melihat Reon datang bersamaku.


"Apa yang kalian lihat?"


Mereka seketika beralih, kembali mengerjakan pekerjaan mereka.


"Bawakan aku darah sapi."


Dua diantara mereka mengangguk, segera meninggalkan ruangan.


"Sembari menunggu, pangeran bisa duduk di sana," ucapku sembari menunjuk sofa di sudut ruangan.


Ia menggeleng. "Aku ingin melihat bagaimana kau membuatnya."


"Baiklah," balasku sembari berjalan menuju meja di mana dokter biasanya meracik obat. Di belakanganya ada dua lemari besar, yang satu berisi banyak bahan-bahan untuk membuat obat, yang satu berisi obat yang telah siap pakai.


Aku mengambil beberapa bahan dari lemari pertama, juga sebuah kotak kecil untuk tempatnya nanti. Reon menimang kotak itu, kemudian menggeleng.


"Tidak, ganti. Aku tidak suka."


Aku mengerutkan kening, memperhatikan lelaki itu membuka lemari dan meletakkan kotak tadi di tempatnya semula. Ia memperhatikan satu demi satu kotak kosong di sana. Tidak begitu lama, hingga akhirnya ia meraih sebuah kotak berwarna merah dengan ukiran bunga mawar di seluruh bagian kotaknya.


"Baiklah," balasku sembari mengangguk singkat.


Sejenak suasana menjadi hening. Mendadak tidak ada pelayan yang lalu lalang. Mungkin mereka merasa aku dan Reon akan terganggu jika mereka lewat. Reon sendiri sekarang sibuk memperhatikan lemari kaca berisi bahan-bahan obat di belakangku.


"Kau hapal semua bahan yang ada di sini?" tanyanya memulai percakapan.


"Setiap bahan memiliki aroma berbeda. Cukup mudah untuk membedakannya."


"Wajahmu terlihat kesal, apa kedatanganku mengganggumu?"


Iya.


"Tidak, pangeran. Aku hanya sedikit terganggu dengan aroma terbakar di ruangan ini, dan—"


"Mencoba berbohong?" tanyanya sembari perlahan mendekat.


Aku berpangku tangan. "Mencoba mendominasi? Pangeran, kau harus tau bahwa usahamu sia-sia."


Pelayan yang tadi aku perintahkan mengambil darah sapi datang. Dalam hati aku berterima kasih karena mereka datang di saat yang sangat tepat.


"Terima kasih, kalian boleh pergi sekarang," ucapku setelah mereka meletakkan gelas berisi darah itu di atas meja.


Mereka menunduk sejenak, kemudian beranjak pergi.


"Pelayanmu sedari tadi mengintipku. Apakah aku terlalu tampan?" tanya Reon sembari mengibaskan rambutnya.


"Kenapa pangeran tidak tanya sendiri kepada mereka?" balasku sembari meneteskan cairan pemisah ke dalam mangkuk.


Reon tidak lagi menjawab, fokus memperhatikan aku yang sedang meracik obat untuknya. Tidak butuh waktu lama, obat itu telah selesai sekarang. Tidak lupa aku memasukkannya ke dalam kotak yang telah dipilih Reon untuk dibawanya pulang.


Reon membuka kancing bajunya membuatku sedikit kaget. "Apa yang pangeran lakukan?"


"Apa? Aku ingin melepas pakaianku. Aku harus rutin memakainya dua kali dalam sehari kan? Aku ingin memakainya sekarang."


Ukhhhh makhluk ini!!!


"Baiklah, aku akan membantumu memakainya."


Reon tersenyum. "Terima kasih, kau peka sekali."


- O w O -