
Setelah membereskan kekacauan dan noda darah di lantai, Raja Azeroth mengumumkan bahwa pesta dilanjutkan. Memang terdengar agak gila setelah seseorang kehilangan nyawa, sebuah pesta masih dilanjutkan. Tapi nyatanya semua tamu memang bersikap biasa saja, seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Seolah tidak ada nyawa yang melayang beberapa saat sebelumnya.
Reon Amon Bael, putra tertua dari Azeroth Amon Bael, memasuki ruangan dengan senyuman yang tampak begitu ramah. Ia tampak seperti Azeroth, dengan rambut berwarna silver dan iris yang berwarna merah bagaikan darah. Tepat hari ini usianya telah mencapai 15 tahun.
Pesta ini bukan hanya sekedar pesta ulang tahunnya, tetapi juga pesta resmi untuk memperkenalkan dirinya sebagai putra sulung dari Azeroth Amon Bael, Raja dari Kerajaan Alasca. Lihatlah, ia mulai menyapa seluruh tamu istinewa di dalam ruangan. Dengan senyuman ramahnya ia memperkenalkan diri dan mengajak iblis-iblis bangsawan rendah itu berjabat tangan. Ohh, apakah kata-kata "bangsawan rendah" terdengar kasar? Tapi mereka memang bangsawan kelas bawah. Bisa dilihat dari iris mereka yang berwarna pink pekat.
Edgar membuat ukuran kursi yang disediakan oleh Raja Azeroth menjadi sedikit lebih besar. Ia mendudukkanku di sebelahnya, memberikan segelas minuman yang tidak aku ketahui namanya. Rasanya asam, berwarna hijau terang, dan meninggalkan rasa manis di lidah.
"Papa, kapan Felice akan diperkenalkan secara resmi seperti ini?"
Edgar melihatku, melihatku dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Kau masih kecil, bahkan tinggi badanmu masih belum mencapai sepertiga tinggi badanku. Masih cukup lama."
Aku menggembungkan pipi. Bisakah ia menjawab dengab kata-kata yang lebih manis? Ahh aku lupa, sekarang kami sedang berada di tempat yang ramai.
"Kau tau? Sebenarnya seorang pangeran atau putri tidak boleh dibawa ke suatu pesta resmi sebelum pesta perkenalannya diadakan."
Aku mengerutkan kening. "Lalu kenapa Felice dibawa ke sini?"
Ia tidak membalas, hanya mengusap lembut kepalaku.
"Raja Edgar, Putri Felicia, sebuah kehormatan untukku karena Raja Agung dan Tuan Putri dapat hadir di pesta ini."
Aku dan Edgar serentak mengalihkan pandangan, menemukan si bintang utama di acara siang ini tersenyum tepat di hadapan kami. Edgar berdiri, sama sekali tidak balas tersenyum. Wajahnya tampak menyeramkan, sangat tidak bersahabat. Aku turut melakukan hal yang sama, berdiri dan melihatnya dengan wajah yang sebisa mungkin terlihat tidak peduli dan anggun dalam satu waktu.
"Aku ingin meminta maaf atas kejadian yang baru saja terjadi."
"Tidak usah dipikirkan. Itu bukan masalah besar bagiku."
Nada bicaranya terdengar sangat santai, seperti menganggap enteng kejadian tadi. Sombong sekali. Yah...memang telah terbiasa sih. Di luar istana akan menjadi tempat paling tidak aman untukku selama Romeo masih menginginkan untuk merawatku.
"Baiklah, Yang Mulia. Aku harus pergi ke tempat ayahku. Aku berharap kalian menikmati acara ini hingga selesai."
Edgar tidak merespon, hanya memberikan tatapan bahwa lelaki itu boleh beranjak sekarang. Ia masih tetap tersenyum, seperti telah mengerti bahwa Edgar tidak membencinya, mengerti juga bahwa Edgar bukannya tidak menikmati pestanya. Edgar hanya menunjukkan sifat aslinya. Dan Reon tampak tidak keberatan dengan itu.
Tidak berapa lama kemudian, musik yang mengalun lembut tiba-tiba berhenti. Reon datang, berjalan dengan gagah menuju ke tengah ruangan. Ia menggandeng tangan seorang wanita cantik yang tampak begitu ramah. Tampaknya wanita itu adalah ibunya.
"Papa, kenapa mereka hanya berdansa berdua?"
"Tradisi," jawabnya singkat.
Aku memiringkan kepala, meminta penjelasan lebih lanjut.
"Pangeran atau Putri yang akan diperkenalkan akan berdansa untuk pertama kali di depan umum dengan orang pilihannya. Setelah ini ia akan dipakaikan mahkota dan diberikan pedang sebagai tanda bahwa ia telah siap untuk melindungi kerajaan dan rakyatnya."
Aku memandangnya dengan tatapan takjub. "Lalu, apa yang akan Felice terima saat pesta perkenalan nanti?" *0*)
"Mahkota dan buku, sebagai simbol bahwa seorang Putri harus memiliki pengetahuan yang luas, kepandaian dalam berbicara, pintar dalam mengatur strategi, dan menyenangkan saat diajak berbicara."
Aku menggembungkan pipi. "Tidak adil sekali." ( ̄へ ̄)
Edgar menatapku, menunggu alasanku mengatakan hal tersebut.
"Felice ingin melindungi papa juga. Felice tidak mau menjadi putri yang lemah dan selalu harus dilindungi. Kita harus saling melindungi!" (。ì _ í。)/!
"Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau hanya harus bersikap manis seperti putri kerajaan pada biasanya. Aku yang akan melindungimu."
Uhhh papa siapa ini?!!
"Berjanjilah kau akan menjadi tuan putri yang manis dan cerdas. Kau tidak akan ambil bagian dalam perang."
Kalau dipikir-pikir Edgar memang selalu tidak memperbolehkanku menyentuh pedang dan benda tajam lain yang biasa dibawa saat berperang. Mungkin terdengar wajar karena bisa saja Edgar hanya khawatir benda-benda itu akan menyakitiku dengan tidak sengaja.
Tapi ini sungguh berbeda. Ini bukan pertama kalinya ia menyuruhku berjanji untuk tidak menyentuh benda tajam dan tidak ambil bagian dalam sebuah perang. Apakah perang begitu mengerikan? Apa seorang putri begitu terlarang untuk ikut berperang?
Padahal di bumi ada kok cerita tentang putri yang cerdas juga pandai dalam seni berpedang. Kenapa Edgar secemas ini?
"Baiklah, Felice akan jadi putri manis dan cerdas."
- U w U -