That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 47



Ini adalah pertama kalinya aku berkunjung ke Kerajaan Athelion. Kerajaan unik ini desainnya sangat klasik. Furnitur kerajaan didominasi oleh warna coklat dan berbahan dasar kayu. Kayu ini juga tidak diambil dari sembarang pohon. Ini adalah kayu dari Pohon Pratama, pohon yang batangnya sangat keras, persis dengan batu.


"Pangeran Ryan, selamat datang!"


Kalian pasti bisa menebak kan suara yang ceria itu keluar dari rungu siapa?


Yap, Aluna Vermillion Gregory, masih berjuang untuk mendapatkan cinta dari seorang Ryan Amon Bael yang sama sekali tidak peduli pada perasaannya. Kisah yang suram, kontras dengan warna gaun yang saat ini dipakainya.



(Aluna Vermillion Gregory)


"Kau hanya menyapa Ryan? Tidakkah kau lihat kami ada bertiga di sini?" Protes Viona sembari berpangku tangan.


Aluna hanya tersenyum, mengedipkan matanya pada Viona.


Aku sudah berada di sini sekitar lima belas menit, berdiri di dekat Natasya dan menyaksikan Cornella dan Arthur yang sedang mengobrol. Kami tidak berdiri terlalu dekat, memberikan ruang agar mereka merasa nyaman. Mereka jadi dekat setelah kejadian di istanaku dua minggu lalu. Lihatlah, bahkan mereka janjian mengenakan pakaian dengan warna sama.



(Cornella Beelzebub)



(Arthur Vermillion Gregory)


"Viona, sebelah sini," Natasya mengangkat tangannya, melambai pada Viona.


Viona yang sadar namanya dipanggil langsung berjalan pelan ke arah kami, sedikit kerepotan karena gaun yang dipakainya.



(Viona Amon Bael)


Ryan dan Reon mengikutinya dari belakang. Merasa tidak nyaman diikuti, Viona berbalik dan menatap satu per satu saudaranya. "Kenapa kalian mengikutiku?"


Ryan tampak salah tingkah, tidak tau mau menjawab apa.


Reon sendiri tetap tenang, menunjuk ke arah belakang Viona. Wanita itu mengikuti arah telunjuk Reon dan menemukan Arthur yang sedang berbincang dengan Cornella.


"Tapi sepertinya tidak usah diganggu dulu. Mereka sedang pendekatan," bisik Viona pada Reon.


Reon mengangguk kecil, paham dengan situasi. Ia memilih untuk berbalik, mengambil segelas minuman dan mengobrol dengan seorang lelaki yang ada di dekat sana. Ryan turut mrngambil minum dan pergi entah ke mana.


"Kau cerewet sekali. Padahal tidak masalah jika Pangeran Reon dan Pangeran Ryan ikut berbincang dengan kita di sini," ucap Natasya.


Viona mengibaskan tangannya. "Tidak, mereka harus berkumpul dengan sesamanya. Aku tidak ingin mereka mencampuri lingkaran pertemananku."


Natasya tertawa kecil, kembali menyesap minuman manisnya.



"Putri Miranda dimana?" tanya Viona.


Aku menggeleng. "Belum kelihatan."


Viona mengerutkan keningnya. "Tumben sekali makhluk itu terlambat."


"Aku di sini, teman-teman. Kalian merindukanku?"


Panjang umur. Miranda langsung datang ke arah kami. Senyumannya tampak begitu manis. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang membuatnya bahagia.



(Miranda Asmodeus)


"Oh tidak tidak tidak, kau salah mengira Putri Miranda. Aku hanya heran kenapa kau datang terlambat," bantah Viona dengan wajah pura-pura cuek dan sinis. Setelah itu ia malah tersenyum dan berpelukan dengan Miranda.


"Selamat, ya," ucap Miranda sembari tersenyum manis.


"Terima kasih," balas Viona.


Aku dan Natasya saling berpandangan, bertanya-tanya apa yang terjadi. Ia mengangkat bahu, tidak tau. Kami kembali memandangi mereka yang masih berpelukan, melihat dengan wajah bertanya-tanya.


Miranda melirik ke arah kami, kemudian berbicara pelan. "Sebentar lagi Viona resmi menjadi kakak iparku."


Aku dan Natasya sama-sama kaget. Ini adalah berita yang hebat. Viona akan segera menikah dengan Nathan.


"Benarkah? Kau akan segera mmm—" tanya Natasya memastikan.


Viona membekap mulut Natasya, kemudian berbicara pelan. "Baru kalian berdua yang tau. Jangan beri tau siapa-siapa dulu."


Aku mengangguk, begitu juga dengan Natasya.


Viona menurunkan tangannya, tersenyum dengan manis. "Kalian berdua harus menjadi pengiringku. Aku tidak terima penolakan."


"Dan kami tidak mungkin menolaknya," ucapku sembari tersenyum.


Ia menggenggam kedua tanganku, menatapku dengan mata berbinar. "Benarkah?"


Aku mengangguk, kemudian melirik Natasya. Gadis itu mengacungkan jari jempolnya, setuju dengan yang aku katakan.


"Terima kasih," ucap Viona dengan nada yang begitu bahagia sembari memelukku.


- O w O -