
Di sebuah restoran sangat tidak asing bagi Vallerie, tatapan Vallerie bersinar-sinar mengamati sekeliling tempat ini suasananya tidak berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Sebenarnya restoran ini adalah tempat langganan sewaktu dulu mereka berkencan setiap jam makan siang di hari kerja. Vallerie tidak menyangka, meski Elliot amnesia dan gaya hidup berubah drastis, seleranya masih belum berubah.
Terutama tempat duduk yang mereka tempati sekarang adalah tempat duduk mereka setiap berkencan. Sebenarnya Vallerie sedikit curiga dengan suaminya. Semua kebiasaan dan selera sama persis seperti sebelumnya, hanya saja sikap yang berubah dan ingatannya hilang sepenuhnya. Tapi, kenapa hal kecil begini bisa ingat?
Vallerie terus menggeleng membuang pikiran negatif jauh. Sekarang yang difokuskan adalah menyantap menu makanan favoritnya yang sudah menggoda perut sejak tadi. Tidak disangka suaminya yang selalu bersikap dingin peka juga, padahal sebenarnya Vallerie belum menceritakan semua makanan favoritnya secara lengkap.
Sedangkan Elliot juga menikmati makanan melahap, seketika menikmati pemandangan indah di hadapannya sudah cukup membuat hatinya terngiang-ngiang. Namun, rasa bersalah berkata kasar saat di kantor tadi masih membekas di hati. Dilihat istrinya terlihat sangat manis sekarang, ia membayangkan mungkin nanti malam istrinya akan bermimpi buruk karena sikapnya sangat kasar.
Tangan kanannya berinisiatif membantu menyingkirkan sehelai rambut panjang hampir terkena bibir indah istrinya. “Vallerie, kamu tidak perlu makan terburu-buru. Nanti kamu bisa tersedak.”
Pipi Vallerie terasa hangat. Mendengar perkataan Elliot sama seperti apa yang diucapkan di kehidupan sebelumnya. Di tempat ini, waktu yang sama, menu makanan sama, dan perlakuan manis juga. Hanya saja sedikit berbeda suasana.
“Aneh sekali mendengar kamu tiba-tiba memedulikan aku. Biasanya kamu selalu cuek.” Vallerie tertawa paksa sambil menyantap mie kuah melahap.
Benar juga. Bahkan Elliot merasa aneh melihat perubahan sikapnya tanpa disadarinya seiring berjalan waktu. Setiap melakukan adegan manis spontan bersama istrinya tanpa mengungkit masa lalu, entah kenapa Elliot selalu merasa nyaman dan ingin mempertahankan sikap manisnya terus. Namun, selalu dikalahkan prinsipnya selalu seperti beton.
Mustahil jawab semua isi pikirannya terang-terangan. Nada bicara istrinya baru saja sudah membuatnya sedikit tidak berselera makan. Elliot sudah tidak tahan akhirnya memutuskan bertanya langsung pada istrinya.
“Aku sedikit tersinggung mendengar perkataanmu tadi. Kamu masih marah?” Bibir Elliot memanyun, sekaligus menguji apakah istrinya sungguh memaafkannya karena terpaksa atau setulus hati.
Vallerie melepas tawa bahagia sampai sedikit mengejutkan pengunjung restoran duduk di dekatnya. Ia merasa semakin gemas setiap suaminya bersikap lembut tiba-tiba entah apa yang merasuki suaminya sampai perubahan sikapnya sangat drastis. Hatinya menjadi semakin sungkan dendam pada suaminya karena masalah tadi. Apakah memaafkannya langsung? Tapi, masih sedikit sulit.
“Aku tidak marah karena kamu sangat manis saat melindungiku tadi.” Vallerie sedikit gelagapan sambil menggigit putus mie.
“Kalau seandainya kamu masih marah, kamu bisa memarahiku lagi. Sebenarnya sebelum kamu mendatangi aku, aku sempat bertengkar dengan salah satu pegawaiku karena pekerjaannya sangat berantakan dan lambat, lalu bertindak sembrono dan selalu menganggap dirinya benar membuatku marah besar dan memecatnya. Akibatnya, aku tidak sadar aku memarahimu juga padahal kamu tidak bersalah sama sekali. Sejak dulu, aku sulit mengendalikan amarahku karena aku sulit memercayai orang lain, maafkan aku. ”
Vallerie tidak penasaran alasan dibalik sikap ketus suaminya. Lebih cenderung pertanyaan utama adalah kenapa sikap suaminya berubah menjadi lembut tiba-tiba. Vallerie merasa nyaman, tapi ia harus tahu jawabannya langsung.
“Sebenarnya aku penasaran denganmu. Kenapa kamu tiba-tiba berbuat baik padaku? Padahal hanya karena masalah proyek, kamu membentakku habis-habisan. Mustahil hanya karena sepotong ingatan. Jangan-jangan kamu bersikap baik karena terpengaruh ingatan!”
Kepala Elliot kembali menunduk lesu. Menaruh sumpit dan sendok di mangkuk berukuran besar, merenungkan perbuatan mengejamkan itu sampai telinganya sendiri juga panas. Soal perubahan sikap, Elliot masih ingin berusaha melakukannya. Entah kenapa hatinya selalu tersentuh setiap melihat sikap manis Vallerie selalu membuatnya bahagia ditambah sepotong ingatan manis membuatnya tidak tega bersikap kasar lagi.
Setengah hati ia juga merasa bersalah karena sikap agresif Vallerie yang selalu jatuh cinta padanya, sedangkan ia masih belum mencintai Vallerie, meski Vallerie selalu melindunginya. Cemas Vallerie akan sakit hati suatu hari nanti karena cinta tidak terbalaskan.
“Sedangkan kamu kenapa selalu membelaku terus? Padahal aku masih belum bisa mencintaimu dan selalu menyakiti hatimu. Kenapa kamu ingin membela suami kasar seperti aku? Kalau aku jadi wanita lain, mungkin aku tidak akan menikah dengan suami kasar.” Elliot menahan sumpit digenggam Vallerie.
“Karena aku tahu kamu tidak akan selamanya selalu bersikap kasar. Hatimu tidak menginginkannya, karena hatimu sudah mengenalku sejak lama.” Vallerie tersenyum percaya diri membuat debaran jantung Elliot semakin kencang.
Rona merah menyala pada pipi Elliot. Memang apa yang dikatakan Vallerie benar. Setiap kali ingin membentak Vallerie, hatinya selalu ingin mencegahnya. Ia ingin mengakuinya terang-terangan tapi harga dirinya selalu seperti beton. Hanya mengucapkan rasa bersyukur saja sangat sulit baginya.
“Karena … kamu terlihat jelek setiap menangis. Nanti dikira aku suami sangat kejam di mata orang!” Elliot membuang muka.
“Aku ingin memberimu jawaban pertanyaan tadi. Alasanku selalu membelamu padahal kamu tidak mencintaiku, karena aku berhutang budi padamu. Kamu selalu menyelamatkan aku setiap aku mengalami masalah. Lalu … kamu meninggal di mataku … hanya demi menyelamatkan nyawaku.” Mata Vallerie sedikit berkaca-kaca membayangkan insiden menyakitkan itu masih menghantuinya sampai sekarang.
Dahi Elliot mengernyit. Lagi-lagi mengungkit persoalan kematiannya yang masih menjadi misteri sampai sekarang. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan identitas Vallerie sesungguhnya seperti mengetahui kejadian di masa depan seperti apa. Di benaknya sudah banyak sekali pertanyaan bertumpuk sejak pertemuan pertama mereka. Di pikirannya, ia selalu beranggapan apakah Vallerie adalah peramal yang bisa melihat masa depan? Apalagi Elliot terkejut mendengar dirinya akan tewas demi menolong Vallerie sampai tubuhnya kaku.
“Vallerie, sebenarnya kamu siapa? Kamu sungguh bisa melihat masa depan?”
Vallerie sengaja tidak menjawab. Jika ia berkata terus terang, mungkin Elliot akan membentak lagi dan bahkan ingin memusuhinya karena menganggap tidak waras. Vallerie tetap menyimpan rahasianya sampai Elliot sungguh mengingat semua ingatannya.
“Aku tidak ingin dimarahi kamu lagi. Sekarang aku lapar, biarkan aku menghabiskan mie dulu.” Vallerie kembali melanjutkan menyantap mie rakus.
“Baiklah, aku tidak memaksa kamu menjawab pertanyaanku tadi. Aku hanya ingin bilang, nanti malam aku tidak bisa pulang bersamamu. Aku ada rapat.”
“Bagaimana kamu bisa pulang sendirian? Sebenarnya aku ingin mengantarkan kamu pulang, tapi agendaku padat.”
“Aku bisa pulang sendiri.”
Entah kenapa mendengar perkataan istrinya, Elliot sedikit tidak percaya. Karena jika didengar nada bicaranya sedikit gugup mengatakannya.
“Mungkin aku bisa menunda rapat sebentar setelah mengantarkan kamu pulang.”
Bola mata Vallerie terbelalak. Ia merasa déjà vu dengan kejadian sebelumnya pernah terjadi saat di tangga darurat. Merelakan rapat demi bisa menghabiskan waktu bersama. Namun, kali ini Vallerie tidak akan membiarkan suaminya selalu mementingkannya daripada pekerjaan. Apalagi pekerjaan suaminya sebagai direktur, ia tidak ingin citra nama baik suaminya rusak karena dianggap direktur pemalas.
“Tidak usah terlalu memaksakan diri. Lagi pula, Whitney bisa mengantarkan aku pulang. Aku sudah berjanji akan makan malam bersamanya nanti.”
Langit malam terlihat indah disinari bulan purnama. Vallerie tidak pulang bersama Elliot karena ada urusan tiba-tiba yang harus dilakukan Elliot sebelum pulang kerja. Lagi pula, Vallerie sudah berjanji ingin makan malam bersama sahabatnya yang mengajak makan siang bersama, namun ditunda karena Vallerie ingin menikmati momen langka bersama suaminya.
Vallerie sengaja mengajak makan malam di restoran langganan mereka seperti biasa. Sebenarnya tujuan pertemuan ini Vallerie tahu. Karena sebelumnya Vallerie sempat meminta bantuan Whitney untuk menggali segala informasi mengenai kehidupan Erick.
Vallerie terus menampakkan senyuman manis di hadapan Whitney, membuat Whitney sedikit penasaran dengan tingkah sahabatnya tiba-tiba agak aneh, padahal biasanya tidak pernah terlihat bahagia begini bahkan saat sebelum menikah.
“Vallerie, sebenarnya apa yang merasuki pikiranmu? Kamu demam?” Telapak tangan Whitney menyentuh dahi Vallerie.
“Aku baik-baik saja. Kenapa kamu bertanya hal itu seolah-olah aku tidak waras?” Dahi Vallerie mengernyit.
“Habisnya tidak biasanya kamu senang begini. Apa mungkin suamimu hari ini memberikan hadiah istimewa untukmu?”
Sebenarnya ada. Hadiah istimewa itu adalah ruangan pribadi di kantor merupakan impian terbesarnya sejak dulu. Tapi sebenarnya faktor utama yang membuatnya tersenyum bukan karena itu. Pikirannya selalu membayangkan adegan manis suaminya saat membelanya terang-terangan di hadapan Rachel tadi menghapus momen terburuknya sedikit demi sedikit.
“Setiap hari Elliot selalu memberikan hadiah untukku.”
“Wah, aku jadi iri nih! Seandainya saja aku memiliki suami yang kaya seperti Elliot.”
“Kamu jangan berkata seperti itu di hadapan Harry. Nanti dia akan marah.”
“Dia belakangan ini selalu sibuk meliput berita kriminal. Begitulah pekerjaan kami setiap hari selalu bekerja di lapangan sehingga kami sulit meluangkan waktu berpacaran.” Bibir Whitney memanyun sambil memutar gelas bir berkali-kali.
“Asalkan kamu tahu saja. Memiliki suami kaya belum tentu membuat hidupmu bahagia. Karena sebagian besar suami kaya itu lebih mengutamakan kekayaan mereka daripada keluarga. Untungnya Elliot berbeda dari lainnya.” Vallerie mengibaskan rambut panjang dengan angkuh.
Lupakan soal memamerkan kelebihan pasangan masing-masing. Vallerie penasaran pada pencarian Whitney selama beberapa minggu mengenai informasi lain berkaitan dengan Erick. Karena profesi Whitney adalah seorang reporter, mungkin sedikit mudah mencari informasi Erick dari beberapa narasumber mungkin yang dikenal.
“Omong-omong, kamu sudah temukan apa yang kuminta saat itu?” Vallerie menyesap bir dengan anggun
“Sebenarnya tidak ada hal menarik lain sih berkaitan dengan Erick. Dia memang dikenal sebagai manajer kompeten di perusahaan mertuamu. Selain itu, ada beberapa yang memuji kakak iparmu itu sangat bijak.”
Bijak? Rasanya Vallerie ingin memuntahkan seisi perutnya. Justru para netizen di negeri ini masih belum tahu di balik sikap bijak Erick, sebenarnya sifat aslinya sangat busuk.
Whitney menyipitkan mata. “Tapi, kenapa kamu sangat terobsesi dengan kakak iparmu? Kamu tidak jatuh cinta padanya, ‘kan?”
Bola mata Vallerie melotot. Tubuhnya langsung merinding seketika membayangkan ia sungguh jatuh cinta pada sang pembunuh yang menghancurkan kehidupan pernikahannya di kehidupan sebelumnya.
“Mustahil aku jatuh cinta pada Erick. Pokoknya aku hanya mencintai suamiku. Titik!”
“Aku merasa aneh saja. Sejak dua bulan lalu, sikapmu sangat aneh selalu tertarik dengan informasi Erick. Memangnya kamu punya masalah dengannya?”