Remarried My Husband

Remarried My Husband
Special Episode 5: Karunia dari Tuhan



Sesuai dengan janji sebelumnya, saat bangun tidur pagi-pagi sekali, Vallerie melakukan tes di dalam kamar mandi menggunakan alat testpack. Sedangkan Elliot sudah tidak sabar menunggu hasil tes berjalan mondar-mandir di kamar sambil bertopang dagu. Meski perkataan sebelumnya tidak mempermasalahkan tidak memiliki anak, tapi entah kenapa rasa penasarannya masih menggebu-gebu apakah di dunia ini ia sungguh memiliki anak, meski usia pernikahan belum mencapai setengah tahun.


Sejarah keluarga mereka berubah drastis sejak menetap di kehidupan sekarang, seharusnya sejarah kehidupan pernikahan mereka juga berubah.


Sudah beberapa menit di dalam kamar mandi tanpa ada suara apa pun, Elliot mulai mencemaskan apakah istrinya baik-baik saja di dalam kamar mandi. Elliot berjalan cepat menuju kamar mandi, langsung disambut pintu kamar mandi terbuka perlahan, istrinya menampakkan senyuman girang membawa alat testpack.


“Kamu menunggu hasilnya tidak sabar sampai mau masuk kamar mandi?”


Elliot menggarukkan kepala berekspresi malu. “Tidak hanya itu, aku cemas kamu pingsan di dalam kamar mandi karena aku tidak mendengarkan suara apa pun dari tadi.”


“Jadinya, haruskah aku berteriak saat melihat hasil tes garis dua?”


Elliot membulatkan bola mata, tangan kanannya langsung meraih alat testpack di genggaman tangan istrinya mengamati garis dua terlihat jelas dalam alat itu. Mulutnya terbuka lebar dan lengan kekarnya langsung memeluk tubuh istrinya erat.


“Firasatku memang benar. Terima kasih sudah memberikan hadiah terindah dalam hidupku, Vallerie.”


Vallerie semakin melebarkan senyuman. “Mungkin selama aku hamil, aku akan merepotkanmu terus. Kamu tidak masalah, ‘kan? Aku juga berusaha bisa mengurus diriku sendiri.”


Elliot melepas pelukan menaruh alat testpack di meja, lengan kekarnya sekarang menggendong tubuh istrinya dengan girang berjalan perlahan mengelilingi kamar ini. “Semakin kamu merepotkan aku, aku semakin suka. Lebih baik kamu merepotkan aku daripada kamu hanya berdiam saja. Bahkan mulai sekarang prinsip utamaku adalah aku akan selalu berada di sisimu, meski aku sibuk bekerja.”


Bibir Vallerie mengerucut, tanpa segan mencubit pipi suaminya bertenaga. “Lagi-lagi kamu egois! Aku kan bisa menjaga diriku sendiri! Coba kamu tanya Rachel! Pasti Erick tidak merawatnya berlebihan seperti kamu.”


“Erick dan aku beda. Sudah pasti cara dia memperlakukan Rachel juga beda. Memang Erick terlihat lebih mementingkan pekerjaan, tapi kita tidak tahu kalau seandainya diam-diam Erick mengunjungi kantor Rachel di saat kerja.” Kedipan mata manis suaminya membuat Vallerie sedikit pasrah berdebat dengan suaminya terus.


Vallerie memutar bola mata, tapi lebih baik suaminya bersikap berlebihan begini di saat sedang memasuki masa mengandung, daripada suaminya bersikap ketus membuatnya stress berat kemungkinan akan keguguran.


Senyuman manis terukir di bibir indah. Vallerie mencium bibir suaminya sekilas langsung dibalas ciuman mesra kali ini dipimpin suaminya untuk merayakan momen menggembirakan ini sepanjang hidup mereka setelah sekian lama menunggu.


Elliot melangkahkan kaki perlahan mengelilingi kamar sambil melakukan permainan bibir lembut dengan istrinya, kemudian membaringkan tubuh istrinya di ranjang memberikan jeda ciuman sejenak. Napas mereka sedikit tersengal-sengal akibat terlalu candu menikmatinya. Mereka saling melempar senyuman terindah dan saling mengelus pipi lambat laun.


“Omong-omong, hari ini hari libur, aku ingin pergi periksa di rumah sakit untuk memastikan aku sungguh hamil.”


“Nanti kita pergi setelah sarapan. Karena hari ini aku mendapatkan kejutan terindah darimu, aku ingin memasak menu spesial hari ini.” Elliot mencium hidung mancung Vallerie berkali-kali.


“Jangan memasak terlalu banyak! Belum tentu aku bisa menghabiskan semua.”


Elliot menyentuh dagu lancip istrinya. “Aku jamin kamu akan rakus menikmati masakanku, apalagi kamu sedang hamil.”


Di saat Elliot ingin membuka pintu kamar, tangan kanannya membeku di tempat seketika ada ide cemerlang terlintas dalam pikirannya. Perlahan berbalik badan kembali memandangi istrinya masih bermalasan di ranjang.


“Kamu yakin tidak mau makan ayam saus asam manis buatanku?”


Ekspresi wajah Vallerie berubah drastis menjadi tercengang. Meski saus asam manis buatan suaminya masih di bawah kehebatan para koki restoran. Tapi masakan spesial buatan suami tentunya sangat istimewa bagi Vallerie.


“Kalau itu … tentu saja aku mau. Tapi, tetap saja aku tidak mengizinkan kamu masak banyak. Jangan membuat berat badanku naik sebelum perutku membesar. Titik!”


“Kalau sup iga?” Elliot tertawa ledek melihat mimik wajah istrinya seperti ingin mengeluarkan air liur, seketika menawarkan salah satu makanan favorit istrinya.


“Tidak mau! Kamu bisa masak menu itu nanti malam atau bisa beli di restoran!” Vallerie membuang muka sambil menutup wajahnya menggunakan selimut, meski sebenarnya ada rasa ingin juga.


Akhirnya Elliot menyerah karena sudah tidak bisa menahan rasa lapar dari tadi. Seketika sedang mengaduk saus asam manis spesial resep buatannya, tiba-tiba kepala istrinya muncul di sampingnya membuatnya hampir terkena serangan jantung, sendok yang digenggamnya hampir terjatuh ke lantai sambil mengelus dada.


“Astaga, kamu membuatku kaget saja, Sayang!”


“Habisnya aroma masakanmu sejak aku turun tangga sudah tercium. Makanya aku langsung lari ke sini, memangnya kamu tidak sadar dengar suara langkah kakiku tadi?” Vallerie mengedipkan mata memasang raut wajah polos.


Elliot menggeleng sambil mengedikkan bahu. “Tidak. Apakah mungkin karena aku terlalu fokus memasak demi kesayanganku suka masakanku?”


Vallerie sudah bersiap memajukan bibirnya mendekati bibir suaminya. Ekspektasi berbeda jauh, awalnya dikira bibirnya akan dicium justru diberi satu sendok saus asam manis. Vallerie mencicipi saus ini sampai senyumannya semakin mengambang. Ingin meneteskan air mata karena bisa dikatakan baru pertama kali mencicipi saus asam manis buatan suaminya sangat lezat bagi indra pengecapnya.


“Mmm kemampuanmu sangat berkembang dalam hal menciptakan saus asam manis. Kamu pelajari dari Wetube lagi? Atau Giggle?”


Elliot mematikan kompor sejenak setelah mendengar jawaban yang sangat diinginkannya. Telapak tangan dilapisi sarung tangan kain mengangkat panci kecil menuju meja makan.


Sedangkan Vallerie mengambil beberapa sendok dan garpu di laci. Seketika ingin berbalik badan langsung disambut bibir suaminya mencium bibirnya sekilas. Tatapannya langsung melotot, tapi justru ia sangat menyukainya dalam hati. Pipinya tersipu malu.


Elliot mengusap bibir istrinya dengan jempol. “Maaf tadi aku tidak peka karena aku penasaran jawabanmu mengenai saus asam manis spesial buatanku.”


Vallerie tertawa lepas menyentuh pipi suaminya dengan kedua telapak tangan. “Saus asam manis buatanmu hari ini teruslah pertahankan. Jarang sekali kamu membuat saus selezat ini. Soal ciuman … tadi aku memang sempat kecewa karena sebenarnya aku sedang ngidam ingin dicium kamu.”


“Kalau begitu, aku mau menciummu lagi.” Seketika sepasang bibir hampir melekat, Vallerie langsung memundurkan kepalanya, kali ini Elliot yang kecewa.


“Tidak sekarang, Sayang. Aku tidak sabar menikmati sarapan spesial buatanmu.” Vallerie tertawa usil mengedipkan mata kanan.


“Bagaimana kalau sekarang giliran aku yang sedang ngidam ingin menciummu?” Elliot menggoda balik sambil memeluk tubuh istrinya sangat erat.


Mata Vallerie sampai tidak berkedip. Berusaha mengalihkan pandangan menatap foto pernikahan mereka di dinding supaya tangannya tidak semakin gugup.


Elliot tidak bisa menahan keinginannya haus ingin mencicipi asupan lebih lezat dari saus asam manis buatannya. Akhirnya bibirnya mendarat sekilas di bibir istrinya lagi, kemudian langsung menuangkan saus buatannya ke mangkuk kecil.


“Aku sudah puas. Sekarang ayo kita makan!” Elliot menarik kursi makan untuk istrinya, melayani selayak seorang ratu melapisi sebuah sarung tangan menutupi paha istrinya.


Setelah mendapatkan hasil scan USG, Elliot mengundang orang tua kedua belah pihak dan Erick dan Rachel makan siang bersama di restoran bintang lima untuk memberitahukan kabar gembira ini.


Vallerie memperlihatkan hasil scan USG pada para orang tua, serta Erick dan Rachel. Mereka semua mengamati hasil itu hingga menangis terharu, terutama ibunya Elliot dan ibunya Vallerie mengamatinya sambil mengelus kertas lambat laun.


“Akhirnya sebentar lagi ibu akan memiliki seorang cucu. Padahal ibu merasa kamu masih kecil, Putraku.”


Elliot tersipu malu mempererat genggaman tangan istrinya. “Ibu jangan berkata begitu di hadapan istriku, nanti dia mengejekku habis-habisan.”


“Vallerie, kalau misalnya kamu butuh bantuan, kamu bisa memanggil ibu. Biar ibu yang merawatmu.” Ibunya Vallerie menyentuh tangan kanan putrinya menampakkan wajah ceria.


“Terkadang kamu sibuk bekerja, belum lagi harus melakukan perjalanan bisnis untuk menangani proyek mewakili istrimu, jangan terlalu memaksakan dirimu demi merawat istrimu sedang hamil!” Sang ayah menasihati dengan tegas membuat tubuh Elliot sedikit menciut.


Hatinya sedikit gelisah. Apakah mungkin ia sanggup meninggalkan istrinya suatu hari nanti? Padahal sudah berjanji ingin menemani istrinya terus sejak menikah entah sibuk bekerja atau tidak. Elliot berusaha terus menampakkan senyuman bahagia sambil memainkan tangan istrinya di bawah meja.


“Tenang saja, Ayah. Kalau Elliot hanya bisa bermalasan selama jam kerja, aku akan memberinya pelajaran.” Erick tersenyum sinis menatap adiknya.


“Sudahlah, kamu jangan menakuti adikmu sendiri! Kamu tidak takut nanti karmanya kena bayi kita!” Rachel mengomel sambil memukul lengan Erick.


“Sepertinya aku akan sedikit merepotkanmu, Rachel. Kamu sudah berpengalaman hamil lumayan lama, pasti kamu sudah sangat menguasai ilmu kehamilan.” Vallerie menuangkan segelas teh herbal untuk Rachel.


“Sebenarnya aku ingin memarahimu karena bebanku bertambah satu, tapi karena kamu adalah adik iparku dan kita sesama ibu hamil, sudah pasti aku akan membantumu juga.” Rachel membalasnya dengan senyuman ramah menyesap secangkir teh dengan anggun.


Pertemuan keluarga besar sudah selesai, sekarang dua pasang suami istri ini berpindah tempat berkumpul bersama semua teman terdekat mereka di Kafe. Reaksi Whitney sangat heboh sekaligus iri karena bisa dikatakan hanya ia yang masih belum menikah. Sedangkan Carla tidak bisa menghadiri pertemuan ini karena sudah berjanji dengan kekasihnya akan pergi berkencan di saat ada waktu luang.


“Wah, ternyata dua temanku ini sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Aku jadi tidak sabar menikah dan memiliki anak seperti kalian.”


“Hei, Whitney! Memang menikah itu adalah impian semua orang, tapi menjadi seorang ibu tidak akan semudah kamu bayangkan.” Rachel menatap tajam pada Whitney masih terlihat santai.


“Terkadang kami merasakan mual di tengah kesibukan bekerja. Selain itu, porsi makan kami bertambah berkali-kali lipat. Berat badanku pasti bertambah drastis. Belum lagi terkadang merepotkan suami karena ngidam ingin makan sesuatu merepotkan.” Bibir Vallerie memanyun sambil mengelus perutnya masih kurus.


“Kamu mengeluh apalagi aku yang sudah mulai membuncit! Suamiku pasti membenciku karena postur tubuhku terlihat jelek sekarang.” Rachel mengeluh sambil menatap perutnya mulai membesar dengan tatapan cemberut.


Sedangkan para pria kakak beradik hanya bisa menepuk jidat masing-masing mendengar keluhan yang biasanya dibicarakan kalangan wanita membuat mereka agak muak. Terutama Erick merasa tersinggung mendengar dirinya difitnah, padahal isi pikirannya tidak pernah berpikir seperti itu.


Tatapan Erick sedikit tajam menatap istrinya berwajah cemberut. Tangan kirinya bergerak lincah merebut cangkir kopi milik istrinya kemudian menaruh sedikit berjauhan dengan kasar, membuat istrinya sedikit bergidik ngeri.


“Sayang … aku mau minum kopi.” Rachel memasang wajah memelas berusaha meraih cangkir kopi sengaja diletakkan di sudut meja.


“Barusan kamu bilang aku akan membencimu hanya karena postur tubuhmu terlihat jelek. Padahal di mataku, kamu tetap terlihat sexy meski gaya pakaianmu berubah karena kamu hamil.”


“Benarkah? Tapi biasanya kamu lebih suka aku—”


“Jangan sembarangan menuduhku! Pokoknya di mataku, kamu tetap terlihat sexy. Sexy bukan hanya memakai pakaian terbuka atau postur tubuh ideal, tapi aku suka sikapmu sexy.”


Ekspresi wajah Rachel kembali bersikap genit, mengedipkan mata sambil menyeka debu-debu menempel di lengan kemeja dipakai suaminya. “Terima kasih sudah berkata jujur. Jadinya aku tidak perlu mencemaskan kamu akan membenciku.”


“Kamu gemuk karena mengandung anakku sudah pasti wajar! Sudahlah, kamu jangan stress karena masalah gemuk. Nanti akan berpengaruh pada kesehatan bayi kita.”


Sedangkan Whitney dan Harry hanya bisa menggelengkan kepala mendengar perdebatan konyol sepasang suami istri sambil menyesap kopi masing-masing. Pasangan Elliot dan Vallerie menyimak perbincangan itu tertawa kecil.


Sebelum pulang ke rumah, Vallerie terus merengek ngidam ingin makan macaroon biasanya dibeli suaminya merk mahal. Sejenak mereka berbelanja di toko macaroon mengambil beberapa kotak isi macaroon rasa strawberry, vanilla, matcha, dan cokelat memasukkan ke dalam keranjang.


“Lima kotak macaroon masing-masing rasa sudah cukup untukmu dalam seminggu?” Elliot ingin mengambil satu kotak lagi, tapi dicegah Vallerie.


“Aku hanya ingin dua kotak! Kenapa kamu malahan memborong banyak kotak? Siapa yang akan menghabiskan semuanya nanti?” Vallerie mengomel, mencubit pinggang suaminya dengan wajah cemberut.


“Habisnya dari tadi siang kamu terus merengek ingin makan banyak macaroon. Sudah pasti aku borong supaya kamu bisa makan sepuasnya setiap hari.”


“Kalau seandainya besok aku tidak mau makan gimana? Kan aku bilang hari ini, bukan besok!”


Elliot memutar bola mata dan menepuk jidat. “Baru hari pertama menghadapi kamu ngidam aneh begini, apalagi selama sembilan bulan nanti.”


“Jadinya, kamu tidak suka aku ngidam?” Tentunya Vallerie merasa tersinggung langsung protes tanpa segan.


Elliot menggeleng cepat. “Tidak, Sayang. Justru aku suka melihatmu ngidam begini. Kamu sangat gemas.”


Bibir Vallerie masih saja memanyun sambil menarik lengan kemeja suaminya berjalan menuju kasir. “Menyebalkan! Sudahlah, aku ingin cepat pulang saja. Aku ngidam ingin nonton drama.”


Untuk merayakan momen bersejarah dalam hidup mereka, menu makan malam hari ini adalah hotpot. Bersamaan mereka mencelupkan bahan makanan mentah seperti bakso udang, bakso ikan, sawi putih, lobak, dan beberapa sayuran lainnya ke dalam panci dipenuhi kaldu.


Sambil menunggu sayuran matang, tangan kanan mereka bergerak lincah menggunakan sumpit mengaduk semua makanan di dalam panci.


Melihat warna semua sayuran maupun bakso mulai berubah, Elliot menuangkan kuah hotpot sudah matang ke mangkuk kecil milik istrinya. “Hotpot spesial untuk kesayanganku sudah bisa dinikmati sekarang.”


Vallerie bertepuk tangan girang langsung menyantap hotpot melahap. “Sudah lama kita tidak makan hotpot. Bagaimana kamu tahu aku sedang ngidam makan hotpot, bukan sup iga?”


Elliot memajukan kepala mendekati wajah istrinya. “Aku kan suamimu. Walaupun kamu mudah berubah pikiran, tapi aku tetap bisa membaca pikiranmu.”


Giliran Vallerie yang melakukan aksi pelayanan istimewa untuk suaminya menyerahkan satu mangkuk berisi kuah berporsi jumbo. “Karena kamu selalu peka, sebagai hadiahnya kamu pantas mendapatkan porsi yang banyak.”


Saatnya Vallerie dan Elliot menonton salah satu drama romansa fantasi merupakan genre favorit mereka sejak dulu. Ditambah apa yang mereka alami seperti di drama, semakin cinta dan bersemangat menonton drama bertema reinkarnasi atau terlahir kembali.


Dua kotak macaroon rasa strawberry dan cokelat yang dibeli mereka habis kurang dari setengah jam, akibat disuapi suaminya terus.


“Bukankah kamu sendiri tadi protes tidak mau beli banyak? Baru sehari, dua kotak sudah habis.” Elliot tertawa puas merapikan kotak macaroon kosong di meja hadapannya.


“Bukankah lebih cenderung kamu yang menyuapiku terus jadinya cepat habis? Untung saja aku menyuapimu juga, mungkin kamu tidak akan kebagian.” Vallerie membantah dengan gaya mengangkat kepala angkuh.


“Itu karena tanganku sedang ngidam ingin menyuapimu.”


Vallerie mulai merasa haus di tengah keasyikan menonton drama, sejenak beranjak dari sofa menuju pantry mengambil gelas kaca diletakkan di lemari penyimpanan gelas.


Udara malam sedikit dingin, Vallerie menuangkan air panas dalam termos mengisi gelas sampai penuh. Baru sadar belum mencampurkan air dingin, Vallerie menyesap air panas terkejut sehingga gelas kaca yang digenggamnya terjatuh ke lantai.


PRANGG


Mendengar suara pecahan kaca, Elliot langsung panik menghampiri istrinya berdiri mematung ketakutan sambil menatap lantai dipenuhi beling-beling kaca dan tumpahan air panas.


“Sayang, tunggu di sana sebentar! Aku akan menghampirimu.” Elliot melangkahkan kaki perlahan melewati rintangan menghindari serpihan kaca, meski ia dan istrinya memakai sandal.