
Belum mengucapkan sepatah kata lagi, mimik wajah sang suami tampan semakin murung dan menghembuskan napas kasar, menambah rasa penasaran Vallerie apa yang akan dibicarakan suaminya sampai terlihat gelisah. Firasat Vallerie mengatakan pasti berkaitan dengan pekerjaan sehingga sulit bagi suaminya mengatakan hal sebenarnya.
Vallerie tersenyum santai, meraih tangan kiri suaminya sambil mengelus punggung tangan itu lambat laun. “Apa karena pekerjaan?”
Elliot mengangguk pelan. Kepalanya sedikit terangkat menatap istrinya dengan tatapan lemas. “Sekitar dua minggu lagi aku harus melakukan perjalanan bisnis bersama Erick.”
“Aku tidak pernah melarangmu pergi, kenapa kamu sedih?” Vallerie menjawab dengan lirih, mengusap kelopak mata suaminya lembut.
“Kamu sedang hamil, tidak ada yang menjagamu selain aku. Erick juga pergi, sedangkan Whitney, Harry, dan Carla pasti sibuk bekerja di lapangan. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, siapa yang akan menjagamu?”
Vallerie menggeleng, memeluk tubuh suaminya manja membiarkan kepala suaminya bersandar di pundaknya. “Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku juga bisa memanggil ayah dan ibu kalau seandainya aku tidak enak badan.”
“Tetap saja aku merasa tidak tenang kalau aku tidak berada di sampingmu! Aku sudah berjanji denganmu, aku tetap akan menemanimu tidak peduli aku sibuk bekerja!” Elliot sedikit meninggikan nada bicaranya, matanya mulai berkaca-kaca.
Jantung Vallerie berdebar-debar, tapi tetap saja perkataan suaminya sedikit tidak nyaman, karena secara tidak langsung kehadirannya justru merepotkan suaminya dan pekerjaan suaminya jadi terhalang.
Vallerie melepas pelukan sejenak, menggeserkan tubuhnya sedikit menjauhi suaminya. “Jadinya, karena aku, aku sangat merepotkan di matamu.”
Elliot memasang wajah memelas terus menggelengkan kepala kembali mendekap tubuh istrinya erat. “Kamu tidak pernah merepotkan di mataku, justru aku tidak suka melihatmu menderita sendirian. Penderitaan yang dialami kamu seharusnya bagikan ke aku juga. Jangan menanggung semuanya sendirian! Kamu sudah menikah dan memiliki aku, kamu harus pergunakan aku dengan baik.”
Perlahan Vallerie menolehkan kepala menghadap suaminya yang masih tersenyum ceria. “Aku sedang serius! Di saat begini kamu masih bisa menggombalku!”
“Aku juga sedang serius. Pokoknya aku tidak mau meninggalkanmu dan anak kita sendirian! Nanti aku akan bicarakan dengan Erick.” Elliot membaringkan tubuh istrinya perlahan di ranjang, kemudian membungkus tubuh mereka menggunakan selimut.
Wajah Vallerie masih cemberut terus membuang muka mendengar suaminya semakin keras kepala. Beginilah kalau sudah perhatian berlebihan, di satu sisi Vallerie sangat suka, tapi merasa tidak enak dengan kakak iparnya karena suaminya egois sekali berkat permintaannya sedikit berlebihan terkadang sejak hamil.
Elliot memeluk tubuh istrinya erat. Mengedipkan mata manis memajukan hidungnya menempel di hidung istrinya. “Kamu jangan mengambek lagi. Kakakku pasti akan mengerti perasaanku.”
“Erick pasti akan memarahimu karena kondisi Rachel jauh perlu dipedulikan daripada aku. Erick masih bisa membiarkan istrinya sendirian, sedangkan kamu tidak bisa mengikuti jejak kakakmu sendiri.”
Embusan napas lesu dikeluarkan dari rongga mulut. Memang benar perkataan istrinya mengenai sikapnya terlalu berlebihan hanya karena masalah wanita. Apakah harus menuruti perkataan istrinya saja? Entah kenapa Elliot merasa masih sulit membayangkan dirinya berpisah dari istrinya selama beberapa hari. Beberapa jam saja berpisah di kantor sudah membuatnya ingin menggila, apalagi berhari-hari meski rutin melakukan video call.
Namun, jika dipikir-pikir, perdebatan mereka tidak akan pernah berakhir jika terus seperti ini. Senyuman tipis kembali terbit pada sudut bibirnya. Tangan kanannya terus membelai kepala istrinya perlahan dengan pandangan percaya diri. “Kamu ada benarnya. Mau berdebat dengan Erick juga pasti aku akan kalah. Erick selalu bekerja profesional dibandingkan aku terkadang terbawa perasaan pribadi. Aku akan menuruti keinginanmu.”
Awalnya Vallerie menampakkan wajah murung, kini kembali memasang senyuman ceria mengelus kepala suaminya gemas dan mencium pipi sekilas. “Nah, begini baru suamiku yang selalu memedulikan pekerjaan sejak dulu.”
“Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, kamu harus berjanji panggil ayah dan ibu merawatmu!”
“Tenang saja, aku tidak akan keras kepala.” Vallerie mencium pipi suaminya lagi.
Sejenak Elliot mengusap perut Vallerie mulai membesar dan mencium perut berdurasi lama. “Selama papa bepergian jauh, papa akan sangat merindukanmu. Jangan nakal di dalam perut mama, ya.”
Vallerie tertawa gemas setiap melihat interaksi suaminya dengan bayi dalam kandungan. “Anak kita pasti langsung menurut. Kamu tidak perlu cemas lagi.”
Rasanya belum puas. Elliot menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking istrinya sambil menautkan bibir sexynya dengan bibir istrinya berdurasi lama. Vallerie menggerakkan bibirnya lambat laun, sebenarnya ia tahu maksud ciuman ini bertujuan apa. Isi pikirannya hanya terfokus pada manis dan lembutnya bibir suaminya selalu membuatnya berbunga-bunga.
Tidak ingin membiarkan istrinya tidur terlalu malam, Elliot mengakhiri ciumannya dengan berat hati memundurkan kepala perlahan.
“Stempel perjanjian kita, kamu suka?” Elliot mengusap bibir istrinya dengan tatapan fokus.
Vallerie tertawa usil, dugaannya benar mengenai arti ciuman mereka, tangan kanannya menyentuh pipi lembut di hadapannya dengan kedua tangan. “Perjanjian kita sepertinya hanya membutuhkan satu halaman saja. Kenapa kamu terus mencap stempel seolah-olah seperti menyetujui surat perjanjian kontrak bisnis?”
“Karena aku tahu kamu pasti keras kepala kalau hanya mencap sedikit.”
“Padahal kamu pergi dua minggu lagi. Kenapa membuat stempel perjanjian sekarang? Kalau sampai aku lupa?”
“Bisa dikatakan ini baru menyicil. Nanti sebelum aku pergi, aku akan melakukannya lebih banyak lagi.” Elliot menggesekkan hidungnya dengan hidung mancung istrinya lembut.
Hari demi hari berlalu cepat. Belakangan ini Vallerie sering pergi ke kantor menanyakan progress mengenai festival catwalk yang akan diselenggarakan kurang dari sebulan. Vallerie juga sering memberikan usulan dan memantau progress pekerjaan yang dilakukan anggota timnya mempersiapkan acara besar yang biasanya diselenggarakan Clarity Star Company Limited setiap empat bulan sekali.
Karena Vallerie bekerja keras sampai sedikit kelelahan, stamina tubuhnya belakangan ini cepat habis. Setiap kali pulang ke rumah pasti jarang berbincang dengan suaminya sebelum tidur. Ia lebih memilih tidur lebih awal mengisi energinya untuk besok.
Berhubungan Vallerie sedang hamil, terkadang Vallerie merasa sedikit tidak enak badan jika terlalu memaksakan diri bekerja keras. Vallerie sengaja tidak mau memberitahukan suaminya mengenai permasalahan kesehatan karena ia sudah tahu jawaban suaminya akan seperti apa. Pasti tidak mengizinkan bekerja sampai persalinan dan suaminya yang menanggung semua pekerjaannya. Maka dari itu, Vallerie terus usahakan menggunakan keterampilan sandiwara di hadapan suaminya berpura-pura kuat.
Besok Elliot harus melakukan perjalanan bisnis. Semua barang sudah dikemas di dalam satu koper besar. Elliot mengemas barangnya tanpa bantuan istrinya karena ia tidak ingin merepotkan istrinya yang sedang mengandung anaknya.
Sebenarnya Elliot tahu tingkah istrinya belakangan ini sedikit aneh sejak terlalu sibuk mempersiapkan festival catwalk bersama anggota tim perancang busana. Terkadang sempat tertangkap basah melihat istrinya terus memijit pelipis dan memegangi perutnya. Elliot semakin takut jika besok ia pergi meninggalkan istrinya sendirian, apakah istrinya bisa mengurus diri sendiri tanpa bantuannya?
Memang jika dilihat situasi sekarang, Vallerie masih terlihat sehat menampakkan senyuman ceria melambaikan tangan dari kejauhan sambil menepuk ranjang, sebagai isyarat meminta suaminya memeluknya sebelum tidur. Tapi, apakah senyuman itu hanya sekadar untuk menutupi rasa kegelisahannya?
Elliot berpura-pura tidak tahu apa pun. Perlahan membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya sambil berpelukan mesra. “Besok aku akan pergi, kamu sungguh bahagia membiarkan aku pergi?”
“Aku tidak bermaksud mengusirmu, tapi sesekali aku ingin mandiri. Selama ini aku selalu mengandalkanmu, aku penasaran bagaimana kalau aku berada di posisi sendirian seperti sebelum menikah?”
“Lebih cenderung mungkin aku akan merasa kesepian. Belakangan ini aku juga sering ngidam suka dengan aroma tubuhmu.” Elliot mengenduskan hidung tajam mencium lekukan leher istrinya mendalam, membuat istrinya tertawa geli.
“Bukan menghirup aroma tanaman hias lagi?”
Elliot menggeleng. “Aroma tubuhmu jauh istimewa dibandingkan sebuah tanaman hias. Aroma yang tidak bisa dirasakan siapa pun, kecuali aku sendiri.”
“Gaya ngidammu memang tidak jauh berbeda denganku!” Vallerie mengejek tertawa usil.
Sejenak Elliot menghela napas lesu sambil mengelus punggung tangan kiri istrinya. “Kamu selalu bilang tidak bisa tidur kalau aku tidak memelukmu. Sedangkan mulai besok aku sungguh pergi, kamu yakin bisa tidur?”
Vallerie mengerutkan dahi. “Sepertinya lebih cenderung aku mencurigaimu tidak bisa tidur. Belakangan ini kamu sangat manja.”
Elliot menunduk “Ketahuan deh.”
“Kita kan bisa saling video call sebelum tidur. Kamu bisa memeluk ponselmu sambil tidur kalau kamu merindukan aku sampai ingin menggila.” Vallerie terbahak-bahak sampai perutnya sakit membuat mata suaminya menyipit.
“Sayang, bisakah kamu jangan terus menyindirku? Sebelum aku pergi seharusnya kamu menggombalku, bukan menyindirku sampai aku malu.” Elliot terus menundukkan kepala sambil memainkan jemari istrinya.
“Supaya kamu tidak manja berlebihan selama bepergian. Aku mencemaskan Erick akan kelelahan mengurusmu.”
Sebagai pelampiasan sebelum bepergian, Elliot memeluk tubuh istrinya dengan erat dalam kondisi terbaring di ranjang, lalu membungkus tubuh mereka mulai kedinginan dengan selimut.
“Aku akan merindukanmu dan bayi kita. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, kamu harus selalu lapor padaku. Aku siap melayanimu 24 jam.”
Vallerie tertawa kecil. “Kamu mengira layanan polisi atau rumah sakit?”
Satu hal masih belum dilupakan Elliot, saatnya melanjutkan pembuatan stempel perjanjian yang sempat diungkitnya dua minggu lalu. Menautkan bibirnya dengan bibir istrinya penuh rasa cinta mendalam, membuat sang istri sangat candu menggerakkan bibirnya dengan nikmat sambil mempererat rangkulan tangannya di leher suaminya.
Waktu berlalu cepat padahal sebenarnya masih belum puas, sepasang bibir indah saling berjauhan perlahan.
“Jangan pernah melupakan perjanjian kita! Kalau sampai kamu lupa, besok aku akan menciummu lagi sebelum pergi.” Elliot mempertegas dengan ekspresi wajah usil.
“Sepertinya lebih cenderung bibirmu yang ingin manja.” Vallerie mengucapkan dengan nada menggoda, menyentuh bibir suaminya dengan jempol.
Hari ini jadwal Vallerie tidak perlu pergi ke kantor karena urusannya sudah terselesaikan. Namun, entah kenapa Vallerie merasa tubuhnya pegal-pegal dan perutnya sedikit sakit hingga wajahnya dipenuhi keringat dingin. Perlahan Vallerie membangkitkan tubuh supaya tidak membangunkan suaminya masih tertidur lelap akibat bekerja terlalu kelelahan juga belakangan ini.
Seketika Vallerie memuntahkan sebagian isi perutnya di kamar mandi, pandangannya sedikit buram sehingga sulit baginya berdiri tegak. Kondisinya sekarang duduk di lantai kamar mandi sambil mengatur pernapasannya sedikit tidak stabil.
Suara erangan berasal dari kamar mandi langsung membangunkan Elliot. Elliot berlarian panik memasuki kamar mandi, disambut sosok istrinya terlihat sekarat membuatnya semakin panik langsung memeluk tubuh istrinya merinding kaku. Untungnya istrinya tidak pernah mengunci pintu kamar mandi sehingga tidak perlu bersusah payah mendobrak pintu.
“Sayang! Kamu kenapa tidak membangunkan aku?” Elliot menyeka keringat dingin terus bercucuran di wajah istrinya.
Vallerie tersenyum simpul sambil terus memegangi perutnya. “Belakangan ini kamu sibuk bekerja, aku tidak mau mengganggumu tidur. Lagi pula, nanti siang kamu harus pergi ke bandara. Jangan memedulikan aku berlebihan.”
Elliot menggeleng cepat. “Siapa bilang aku akan bepergian hari ini melihatmu sakit!”
Dengan lincah Elliot menggendong tubuh istrinya keluar dari kamar mandi, kemudian membaringkan tubuh istrinya perlahan di ranjang. Seketika ingin mengambil segelas air hangat, tangan kanannya tiba-tiba ditahan cepat oleh istrinya. Perlahan berbalik badan memandang istrinya terus berwajah murung menahan rasa mual.
“Kamu … tidak mau pergi?” Napas Vallerie tersengal-sengal.
“Mana mungkin aku bisa pergi dengan tenang melihatmu sakit! Pokoknya aku akan bilang pada ayah bahwa aku tidak mau pergi demi merawatmu!” Elliot langsung mengambil ponselnya.
“Tapi … ini hanya sementara. Pasti nanti siang aku sudah sembuh setelah tidur lagi dan minum air hangat.”
“Jangan membohongiku lagi! Aku tahu selama ini kamu berpura-pura sehat di hadapanku padahal sebenarnya kamu mulai tidak enak badan karena bekerja kelelahan!”
Mulut Vallerie menganga, sandiwaranya gagal selama ini akhirnya tertangkap basah juga. “Bagaimana kamu tahu?”
“Aku kan suamimu! Sudah pasti aku tahu karaktermu sejak dulu setiap tidak enak badan! Mau kamu menutupinya dengan segala cara, aku tetap mengetahuinya.”
Vallerie menunduk malu perlahan menaikkan selimut menutupi wajahnya, tapi selimutnya langsung dibuka kembali oleh suaminya.
“Aku akan menjagamu sampai kamu kembali sehat. Meski kamu tetap memaksa aku pergi, aku tidak akan pergi. Hari ini sampai seterusnya, aku ingin menemani kamu di rumah terus.” Elliot mengucapkannya dengan nada lembut sambil mengelus dahi istrinya.
Akhirnya Vallerie tidak bisa berkata-kata. Bibirnya sedikit memanyun sambil mengelus punggung tangan suaminya pelan. “Maafkan aku merepotkanmu lagi.”
“Justru aku senang kamu merepotkan aku. Karena hari ini aku tidak jadi pergi, aku akan memasak sarapan spesial untukmu supaya kamu cepat kembali sehat.”
Sebelum masak sarapan, Elliot mengecup puncak kepala istrinya kemudian bibirnya berpindah di hidung mancung istrinya sekilas. “Nanti aku akan bangunkan kamu setelah aku selesai masak.”
Vallerie mengangguk dan melambaikan tangannya. “Aku rindu mencicipi bubur spesial buatanmu.”
Menu sarapan hari ini adalah bubur telur dicampur ayam spesial buatan Elliot. Untung Elliot masak bubur dengan porsi lumayan banyak, sehingga istrinya tidak akan kelaparan jika dilihat istrinya menikmati bubur ini melahap. Hanya sepuluh menit sudah tidak tersisa.
“Kamu sangat rakus di saat sedang mual begini. Jangan memuntahkan semua bubur yang sudah kamu telan! Aku sudah bersusah payah masak bubur spesial untukmu.” Elliot memperingatkannya tegas, tapi raut wajahnya menampakkan senyuman santai membersihkan bibir merah istrinya sedikit kotor.
“Selama ini aku tidak pernah memuntahkan makanan yang dimasak kamu. Tadi pagi aku muntah air. Lagi pula semalam kamu beli makan malam.”
“Syukurlah. Berarti aku harus lebih sering masak untuk kamu supaya kamu tidak mual lagi.”
“Jangan! Kalau selama ini hanya kebetulan? Aku tidak tega!”
Elliot tertawa kecil memajukan wajahnya mendekati wajah istrinya dengan senyuman manis membuat mata sang istri sampai tidak berkedip. “Perutmu itu sangat peka dan bisa membedakan yang mana yang tidak boleh dimuntahkan. Sudahlah, kamu jangan melarangku lagi. Sejak aku menikahimu, aku semakin rajin belajar memasak supaya kamu semakin suka menikmati masakanku.”
Pikiran dan ucapan berbeda jauh. Sebenarnya dalam benaknya, Vallerie justru candu ingin menikmati masakan suaminya setiap hari.
Senyuman indah terpampang pada wajahnya sekarang menunjukkan jawabannya jujur. “Baiklah, aku tidak akan melarangmu lagi. Tapi, kalau kamu sampai lupa sarapan, aku akan cerewet.”
Elliot menepuk jidat. Beginilah kalau terlalu asyik bermesraan sampai lupa mengurus dirinya sendiri. “Aku belum sarapan.”
“Haruskah aku mencubitmu sampai lenganmu memerah? Kebiasaan deh selalu lebih prioritaskan aku daripada tubuh sendiri!”
“Aku kan lebih prioritaskan kamu wajar karena kamu sangat istimewa.”
Vallerie memutar bola mata sambil sedikit mendorong tubuh suaminya bermaksud mengusir. “Cukup gombalannya! Kamu sarapan dulu saja. Aku mau tidur dulu.”
“Sebelum itu.” Elliot mendaratkan bibirnya di pipi istrinya sekilas.
Vallerie tersenyum malu mengelus pipi bekas dicium sambil mencium pipi suaminya sekilas. “Karena kamu sudah menciumku, aku tidak tega memarahimu.”
“Kamu tidur dulu saja, aku sarapan tidak lama tapi aku harus cuci piring dulu.”
Elliot menghabiskan sarapan secepat kilat. Setelah mencuci semua piring kotor dan peralatan masak, saatnya kembali bermain bersama istrinya di kamar sambil merawat istrinya masih terlihat pucat akibat rasa sakit dialami.
Dari bangun tidur sampai sarapan, Vallerie belum mencuci wajahnya padahal urusan kebersihan, Vallerie nomor satu selalu melakukannya setiap baru bangun.
Sekarang Elliot berinisiatif mengambil baskom dan handuk kecil. Mencelupkan handuk kecil di dalam baskom berisi air hangat kemudian mengusap pipi lembut istrinya dengan pelan, perlahan tangannya berpindah ke dahi istrinya berminyak akibat terlalu banyak berkeringat.
“Kalau menyuruhku memilih melakukan perjalanan bisnis dan membersihkan wajahmu, aku lebih pilih membersihkan wajahmu.” Elliot mengucapkannya dengan lembut, menatap fokus mengusap lekukan leher istrinya.
“Padahal aku tidak merasa sakit. Kenapa kamu dari tadi sangat memanjakan aku?” Vallerie tertawa kecil mengelus punggung tangan suaminya.
“Karena … hobiku adalah memanjakan kamu sejak pertama kali kita resmi berpacaran.” Elliot mengedipkan mata genit sambil menaruh baskom di kamar mandi.
Vallerie teringat momen di saat suaminya sangat memanjakannya pertama kali mereka berpacaran. Mengingat momen itu, senyuman manis menghiasi sudut bibirnya sambil merentangkan kedua tangan lebar menyambut kedatangan suaminya sedang kembali menghampirinya.
Mereka saling berpelukan erat, duduk bermalasan di ranjang menepuk-nepuk punggung satu sama lain berirama.
“Aku ingin bercerita mengenai awal mula perkembangan cinta kita dari kamu cuek padaku sampai kamu sangat memanjakan aku berlebihan,” ucap Vallerie.
“Lebih cenderung, aku perhatian padamu diam-diam. Kamu saja yang selalu tidak peka.” Elliot mencubit pipi istrinya gemas.