Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 13: Malaikat Pelindung



Sudah cukup membicarakan persoalan cemburu karena pria lain akrab dengan istrinya, sebenarnya ada hal lain yang ingin dibicarakan Elliot terkait dengan Erick. Sesungguhnya, ia sudah menahannya sejak lama, tapi hatinya terasa sesak jika ia terus diam. Satu-satunya wanita yang berhasil membuatnya ingin terbuka sejak dulu hanya Vallerie. Tapi, saat sebelum menikah, ia terlalu gengsi sampai tidak berani menceritakan kehidupan pribadinya lebih dalam akibat ia tidak mudah memercayai siapa pun.


Elliot meletakkan sendok dan garpu di piring, menghela napas lesu. “Vallerie, aku punya satu cerita untukmu. Kisah ini berkaitan dengan kehidupanku.”


Vallerie menghabiskan sesendok lauknya, kemudian membersihkan sudut bibirnya sedikit berminyak menggunakan tisu sambil menyimak cerita suaminya. “Akhirnya kamu terbuka juga padaku. Padahal sebelumnya kamu tidak mudah memercayaiku.”


“Karena kamu adalah istriku dan satu-satunya orang yang sangat kupercayai.”


Jantung Vallerie berdebar kencang, ia semakin tidak sabar mendengar sebuah curahan hati akan disampaikan suaminya. Jika Elliot berkata seperti itu, tandanya lampu hijau mengenai hubungan asmara mereka menyala.


“Hubunganku dengan Erick tidak pernah akur sejak dulu. Aku memang selalu disayang kedua orang tuaku, sedangkan Erick jarang dipedulikan karena dia adalah anak sulung. Lalu, saat kami dewasa, ayahku menyerahkan wewenang perusahaan sepenuhnya dan jabatan direktur eksekutif utama untukku karena aku pandai menyusun strategi bisnis, menyelesaikan masalah besar perusahaan sampai sukses besar dan pandai merancang busana. Mendengar aku yang mendapatkan posisi itu lebih awal, Erick marah besar dan sejak itu, aku dimusuhinya. Erick selalu iri dengan kehebatanku, padahal menurutku dia juga hebat.”


Sejenak Elliot menyesap jus lemon miliknya, kemudian melanjutkan mencurahkan isi hatinya. “Sebenarnya aku juga kesepian meski aku berasal dari keluarga kaya. Semua orang menganggapku bahagia, tapi sebenarnya aku tidak merasa bahagia. Ayahku selalu menekanku menikah secepatnya, padahal aku bisa mencari jodohku sendiri. Selain itu, aku tidak ingin mewarisi perusahaan, aku ingin membangun pusat perbelanjaan sendiri dan anak perusahaan. Tapi tetap saja Erick selalu menganggapku remeh. Semua orang tidak terlalu suka dengan keberadaanku, kecuali pegawaiku dan beberapa dewan direksi.”


Vallerie turut bersedih mendengar kisah pahit suaminya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di kehidupan sebelumnya. Elliot juga kesepian tidak memiliki seseorang yang menyayanginya. Maka dari itu, meski Elliot anak yatim piatu di kehidupan sebelumnya, tapi hidupnya sangat bahagia berkat kehadiran Vallerie.


Sekarang Vallerie penasaran apa yang dipikirkan Elliot terhadapnya. Apakah akan mengatakan hal yang sama seperti dulu atau sebaliknya? Namun, Vallerie juga tidak ingin membiarkan hati Elliot semakin terpuruk. Ia menghampiri Elliot, kemudian memeluk tubuh Elliot dari belakang penuh cinta.


“Kamu sangat baik di mataku, tapi kenapa nasibmu selalu malang? Seharusnya Tuhan memberikan kehidupan yang layak untukmu. Menjadi orang kaya tidak sepenuhnya akan membuatmu bahagia.”


Senyuman manis terukir pada sudut bibirnya. Mendapatkan perlakuan kasih sayang istrinya, rasanya ingin bersikap egois ingin dipeluk lebih lama. Tangan kiri lambat laun mengelus punggung tangan sang istri melingkar di leher.


“Hidupku sudah bahagia sekarang. Aku tidak merasa kesepian lagi. Sekarang aku memberanikan diri mengatakan kamu berhasil membuatku tersenyum.” Elliot mengungkapkan isi hatinya dengan tatapan istimewa membuat hati Vallerie meleleh.


“Elliot ….”


“Setiap aku mencurahkan isi hatiku, hanya kamu satu-satunya pendengar yang baik. Terima kasih selalu menemaniku, Vallerie.”


Air matanya ingin berlinang, tapi ia berusaha menahannya supaya tidak terkesan berlebihan di mata sang direktur. “Terima kasih sudah jujur padaku, Elliot. Sudah pasti aku selalu menemanimu ke mana pun kamu pergi. Aku justru tidak akan berpisah denganmu lagi.”


Sejenak Elliot memainkan ponsel milik Vallerie kebetulan dalam kondisi terbuka, entah apa yang dilakukan suaminya, rasanya Vallerie ingin mengintip dengan penuh rasa penasaran.


Elliot mengembalikan ponsel milik Vallerie, lalu memperlihatkan sebuah aplikasi di mana GPS sepasang kekasih terhubung otomatis tanpa ada batasan waktu. “Tadi aku menginstall aplikasi ini, supaya kamu tidak bisa kabur dariku.”


Vallerie tertawa anggun sambil menatap aplikasi ini dengan pandangan berseri-seri, sangat bahagia hatinya melihat tanda-tanda suaminya sungguh sangat perhatian sampai melakukan hal tidak terduga. “Ternyata kamu cukup agresif juga.”


Sorot mata Elliot tertuju pada arloji mahal koleksinya sedikit panik. “Kita harus kembali ke kantor sekarang. Aku ada rapat darurat bersama petinggi perusahaan. Kita bisa lanjutkan perbincangan kita di rumah.”


Hari ini agenda Elliot sebenarnya cukup padat karena mempersiapkan proyek besar itu akan diadakan beberapa bulan lagi dan juga membahas permasalahan kasus plagiarisme yang masih viral meski sudah dibantah melalui internet. Elliot tetap tidak menyerah ingin mencari pelakunya sampai ketemu.


Karena hari sudah semakin malam. Terpaksa Vallerie menikmati makan malam lebih awal tanpa ditemani siapa pun. Ia mengunjungi salah satu restoran di dekat kantor, tapi harus jalan kaki sekitar sepuluh menit dalam kondisi jalan lumayan sepi.


Semakin lama, Vallerie sedikit merinding ketakutan. Tiba-tiba mulutnya dibungkam seseorang menggunakan tisu, dengan sigap Vallerie menggunakan jurus bela diri menghantam orang itu dengan menendang area terlarang.


Orang misterius itu kesakitan, kesempatan untuk Vallerie melarikan diri menuju suatu tempat lebih ramai untuk menyelamatkan nyawanya. Sambil ia mengeluarkan ponsel menghubungi suaminya terpaksa menolongnya.


Tidak sampai lima detik, panggilan telepon langsung terhubung.


“Vallerie, aku mencarimu ke mana-mana!”


“Elliot … aku … dikejar seseorang,” desis Vallerie terisak-isak.


“Apa?! Sekarang kamu ada di mana?”


“Aku—”


BRUK


Belum selesai melanjutkan perkataannya, kepalanya dipukul seseorang sampai membuat dirinya terjatuh lemas dalam kondisi sambil memasukkan ponsel ke dalam saku blazer. Perlahan matanya terpejam dan kepalanya sangat sakit.


Sedangkan Elliot sangat panik mendengar istrinya dalam bahaya langsung membuka aplikasi yang baru diinstall. Baru tadi siang ia mengakui isi hatinya, sekarang dihadapi masalah baru lagi.


Elliot mengendarai mobil sedan hitam dengan kecepatan tinggi menuju sebuah hotel tempat istrinya disekap di sana. Perasaannya semakin tidak enak seketika mengamati tempat itu biasanya dipergunakan untuk menjual diri saat malam hari. Elliot semakin takut istrinya akan diperkosa seseorang di kamar hotel jika ia sedikit terlambat menolongnya.


“Kumohon, Vallerie! Jangan membuatku semakin takut!” Elliot menggerutu sambil melonggarkan lilitan dasi.


Sekarang Vallerie baru tersadar setelah pingsan selama beberapa menit. Perlahan matanya terbuka lebar mengamati sekelilingnya berada di sebuah kamar hotel mewah. Tubuhnya mulai merinding ketakutan, apalagi mendengar seperti suara seseorang sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi, Vallerie langsung mencari cara kabur dari tempat menjijikan ini sebelum tubuhnya diperkosa.


Vallerie mencari kartu akses kamar hotel ini di lemari, laci meja, dan sebuah tas tergeletak di meja, tapi tidak berhasil. Tebakan Vallerie, kartu akses itu pasti sedang dibawa penculik itu di kamar mandi.


Vallerie duduk lemas di pintu sambil mendoakan suaminya menolongnya tepat waktu, meski ia merasa bersalah karena merepotkan suaminya di tengah kesibukan bekerja.


Penculik itu akhirnya menampakkan diri terang-terangan. Dengan penampilan tubuh atletis hanya dibaluti handuk mengikat pinggang, membuat kaki Vallerie sedikit gemetar mundur perlahan menjauhi penculik itu terlihat seperti psikopat memperlihatkan sebuah kartu akses kamar.


“Anda mencari ini?”


“Siapa Anda sebenarnya? Apa yang Anda inginkan dari saya?!” Vallerie membentak dengan tatapan melotot, meski sebenarnya ia sangat ketakutan sekarang.


“Anda merupakan istri direktur eksekutif Clarity Star Company Limited. Tubuh Anda terlihat menyegarkan, sepertinya akan sangat lama saya ingin menikmatinya.” Penculik itu ingin meraih bokong Vallerie, Vallerie langsung menghindarinya dengan lincah sambil menendang area terlarang di hadapannya.


BRUK


“Rasakan ini!” Vallerie menjerit.


BRUK


Vallerie juga menonjok pipi penculik itu sekuat tenaganya, tapi tangannya langsung dicengkeram erat dan diseret ke ranjang. Vallerie berusaha melawan penculik ini ingin menodai tubuhnya, tapi ia mulai kehabisan tenaga karena efek dipukul sampai pingsan tadi.


“Malam ini adalah malam keberuntungan bagi saya. Akan saya tuntaskan semuanya hari ini!” Dengan lincah penculik itu mulai membuka kancing kemeja Vallerie satu per satu, meski Vallerie berusaha menendang area terlarang itu lagi, tapi kedua kakinya dijepit kuat.


Air matanya semakin berlinang dan terus menjerit sampai suaranya berserak. Mulai terlihat bagian belahan dada dan tulang selangkangnya kini sudah terbuka. Penculik itu mulai meraba punggung lentik Vallerie membuat Vallerie semakin sesak napas dan tubuhnya gemetaran.


BAMM


Tepat waktu Elliot langsung menolong istrinya hampir diperkosa habis-habisan. Dengan gaya lebih kejam seperti biasa, Elliot langsung menyeret tubuh penculik itu menghantam ke arah tembok sedikit kasar sampai kepala penculik itu berdarah.


“Dasar keparat sialan!”


Elliot tidak puas kalau lihat penculik itu hanya terluka kecil. Sekarang ia melampiaskan sikap brutal menonjok wajah penculik itu berkali-kali sampai babak belur wajahnya. Apalagi ia sangat marah melihat tubuh istrinya sempat disentuh dan bibir istrinya hampir bersentuhan, sudah pasti rasanya Elliot ingin membunuh penculik itu tanpa berpikir panjang.


“Beraninya Anda melecehkan istri saya! Haruskah Anda mempersiapkan perkataan terakhir dulu sebelum saya membunuh Anda sekarang juga?!”


“Lagi pula, tubuh istri Anda terlihat menyegarkan—”


BRUK


Kali ini Elliot menonjok wajah penculik itu sekuat tenaganya sampai penculik itu hampir kehilangan kesadaran.


“Siapa yang memerintahkan Anda?”


“Saya memang bertindak sendiri.”


BRUK


Elliot menonjok wajah penculik itu sampai tidak sadarkan diri. Kemudian Elliot menghubungi polisi untuk menangkap penculik ini atas tindakan percobaan pelecehan seksual terhadap istrinya.


Mata Elliot semakin berkaca-kaca membayangkan adegan tadi sangat terlarang baginya disaksikan secara langsung. Apalagi penampilan Vallerie sekarang sangat berantakan dengan balutan kemeja sudah terbuka hampir setengah. Vallerie menangis pecah sampai napasnya semakin sesak dan rasanya ia kehilangan kendali mengendalikan tangannya gemetar tidak stabil.


Elliot langsung membantu merapikan penampilan istrinya seperti semula. Kemudian membuka jasnya menyelimuti tubuh istrinya hampir diperkosa dan mendekap tubuh mungil istrinya penuh kasih sayang.


“Maafkan aku, Vallerie. Seharusnya aku mendatangimu lebih awal.”


“Aku takut … Elliot.”


“Kamu tidak perlu takut lagi. Aku tidak akan membiarkan tubuhmu disentuh pria lain. Kamu adalah istriku, hanya aku yang boleh menyentuh tubuhmu.”


Tubuh Vallerie gemetar semakin tidak stabil sampai rasanya hampir kehilangan kesadaran dengan pandangan buram sambil memijit pelipis.


Tatapan Elliot semakin iba pertama kali menatap kondisi mental istrinya tidak stabil, padahal biasanya selalu ceria di hadapannya meski dilanda masalah. Hatinya terasa hancur dan tidak ingin senyuman yang sangat disukainya itu memudar karena kecelakaan tidak terduga ini.


Bibir sexynya menyentuh kening istrinya selama beberapa detik. “Menangislah sepuasnya. Aku tidak akan memarahimu menangis asalkan kamu harus berjanji tidak akan menangis di lain waktu.”


Mendengar usulan hangat suaminya, Vallerie melampiaskan tangisan sepuasnya hingga wajahnya memerah. Puas juga menangis keras apalagi suaminya sangat memperbolehkannya membuat Vallerie semakin lega.


Perlahan tangisannya terhenti berubah menjadi senyuman manis tampil pada wajahnya. Kedua tangannya melingkar sangat erat di punggung lebar suaminya penuh kehangatan cinta menambah rasa nyaman ingin bermanja.


Elliot mengelus kepala Vallerie. “Jangan pernah lepaskan pelukan aku! Entah dalam kondisi apa pun, meski luka traumamu sembuh, kumohon biarkan aku menyentuh tubuhmu untuk membersihkan noda hinaan itu. Aku akan berusaha semampuku untuk mengembalikan senyuman terindahmu.”


Kini jantung Vallerie berdebar-debar sehingga energi dalam tubuhnya terisi kembali berkat energi kasih sayang diberikan suaminya. Baru mengalami trauma menyakitkan, hanya sentuhan cinta diberikan suaminya membuat luka trauma itu perlahan menghilang.