
Baru saja dibicarakan langsung muncul seperti hantu gentayangan di siang bolong. Bahkan Vallerie dan Elliot hampir terkena serangan jantung dikejutkan begini. Apalagi membayangkan saat mereka masih membicarakan Bertrand sampai sekarang, mungkin rencana mereka akan hancur dalam sekejap dan nyawa mereka akan melayang lagi kedua kalinya.
Anehnya Carla dan Bertrand saat saling berpapasan seperti tidak saling mengenal satu sama lain. Terutama tatapan Bertrand lebih terfokus pada Vallerie dibandingkan pacarnya sendiri. Ekspresi wajah Carla seperti menyimpan dendam pada Bertrand.
Elliot sebenarnya mengetahuinya, tapi yang bisa ia lakukan hanya berpura-pura tidak tahu apa pun. Elliot juga marah melihat pandangan Bertrand hanya terfokus pada Vallerie, cemas di masa depan Vallerie yang akan menjadi target selanjutnya setelah berhasil membunuh Carla.
“Kita bertemu lagi, Vallerie,” sapa Bertrand tanpa memandangi Carla.
“Entah kenapa kita sering bertemu secara acak seperti ini.” Vallerie berpura-pura ramah, memang benar ia merasa pertemuan dengan Bertrand semakin lama semakin janggal.
Sorot mata Bertrand beralih pada Carla yang terlihat sengaja memalingkan pandangan. “Aku tidak menyangka kamu adalah teman Vallerie, Carla.”
“Sedangkan kamu, bagaimana kamu bisa mengenal Carla? Apa hubungan kalian sebenarnya?” Vallerie sengaja menguji apa yang akan dijawab Bertrand. Kalau menjawab bukan pacar, berarti Bertrand adalah pria berengsek di mata Vallerie.
“Carla adalah teman terdekatku.” Bertrand menjawab dengan santai membuat hati Carla seperti terkena sayatan pisau berkali-kali.
Rasanya Vallerie ingin mengumpat terang-terangan. Mulai sekarang ia sudah menganggap Bertrand bukan temannya lagi, tapi pria berengsek yang selalu mempermainkan seorang wanita demi keegoisannya.
“Kalau begitu, aku makan siang dulu. Aku tidak akan mengganggu kalian.” Bertrand menunduk sopan sambil memandangi Carla berwajah murung.
Vallerie dan Elliot tersenyum sekilas lalu berjalan bergandengan tangan keluar dari restoran, diekori Carla dari belakang.
Carla terus menghela napas lesu sambil menggenggam mini bag miliknya dengan gemetar, membuat Vallerie dan Elliot menghentikan langkah. Mereka tahu alasan Carla terlihat marah besar karena Bertrand tidak menganggapnya sebagai pacar.
Vallerie memasang tatapan cemas. “Kamu kenapa, Carla?”
“Kamu sedikit lesu.” Elliot juga ikut cemas.
“Tidak apa-apa. Perutku kekenyangan jadinya berat badanku sepertinya menambah drastis.” Carla tersenyum simpul dengan wajah sedikit gugup, merenungkan perkataan Bertrand sungguh menyakiti perasaannya sekarang.
Sejenak sorot mata Carla mengamati arloji mewah dipakainya di pergelangan tangan kiri. “Aku harus kembali ke kantor sekarang. Terima kasih sudah menemaniku makan siang.”
“Hati-hati di jalan, Carla.” Vallerie melambaikan tangan.
Vallerie melampiaskan kekesalannya berjalan mondar-mandir di dalam ruangan. Tidak menyangka Bertrand sungguh pria kejam yang selama ini bersikap munafik di hadapannya. Jika dibandingkan dengan Erick, bahkan Erick masih memiliki hati nurani, meski beberapa saat lalu Erick sempat berpikiran ingin menghabisinya juga.
Karena hari ini agenda Elliot tidak terlalu sibuk, ia juga menemani Vallerie di dalam ruangan ini. Sudah sedikit muak melihat istrinya berjalan seperti sedang menyetrika baju.
Akhirnya tangan kanannya langsung menangkap pinggang istrinya dari belakang. “Sayang, kamu masih kesal?”
“Sudah pasti. Aku kalau jadi Carla pasti hatiku hancur berkeping-keping! Lancang sekali dia bilang Carla hanya teman terdekatnya! Rasanya aku ingin membunuhnya sekarang juga!” Vallerie mengibaskan blouse akibat tubuhnya gerah.
Kecupan manis mendarat sekilas di pundaknya. Dalam sekejap Vallerie tidak merasa tubuhnya kepanasan karena terbawa emosi, sekarang hatinya terasa lembut berkat pergerakan tangan suaminya terus mengelus perut lambat laun, menambah senyumannya semakin melebar.
“Aku tidak pernah menyesal saat menolak Bertrand sewaktu dulu. Seandainya aku sungguh menikahinya—”
“Jangan berkata seperti itu di hadapanku!” Elliot membentak sampai telinga Vallerie sedikit perih.
“Aku kan hanya membayangkannya saja. Lagi pula, kamu mudah cemburu padahal kamu tahu sendiri Bertrand bukan orang baik!” Vallerie memelototi balik dan berkacak pinggang.
“Aku bukan cemburu! Tapi aku merasa tidak nyaman setiap kali kamu membahas masa lalumu bersama Bertrand! Untuk apa menyimpan semua kenangan seorang pembunuh!”
Vallerie tertawa imut, perlahan berbalik badan menatap suaminya berwajah cemberut membuat dirinya merasa semakin bersalah. Tangan kanannya mengelus pipi suaminya lambat laun. “Aku tidak pernah menyimpan semua kenangan dengannya. Di dalam pikiranku, aku hanya menyimpan semua kenangan indah yang telah kita ciptakan entah di masa lalu maupun sekarang.”
“Maka dari itu, berjanjilah padaku! Jangan mengungkit Bertrand lagi selain membahas rencana misi rahasia.” Elliot memasang wajah memelas mengecup hidung Vallerie.
“Aku berjanji!” Vallerie mencium hidung suaminya.
“Agendaku hari ini tidak padat seperti kemarin. Mau kencan di taman kantor?”
Vallerie bergelayut manja di leher sang suami. “Aku ingin menetap di sini saja. Menurut ramalan cuaca robot AI, cuaca di luar sekarang mendung. Dia melarangku keluar dari kantor.”
Bibirnya menempel di kening istrinya penuh kehangatan. Sedangkan lengan kekar melingkar erat di punggung lentik sang istri. “Aku cemburu, Vallerie. Robot itu sepertinya sangat perhatian padamu.”
“Justru aku mulai sebal padanya, dia sangat cerewet, tidak ada bedanya dengan kamu. Hanya saja, perbedaannya adalah kamu bisa menghangatkan tubuhku kedinginan.”
Vallerie dan Elliot saling berpelukan mesra seketika sebenarnya sepasang pegawai ingin memasuki ruangan ini, tapi mengurungkan niat disambut suatu adegan mesra yang dilakukan atasan mereka.
“Padahal kita ingin berterima kasih pada atasan kita, terpaksa kita harus menundanya.” Jordan memanyunkan bibir.
“Kita bisa melakukannya kapan-kapan. Sebaiknya kita beri mereka ruang saja untuk berpacaran. Sebagai imbalan bahwa berkat mereka, sekarang kita resmi berpacaran.”
Jordan menunduk sambil mengelus punggung tangan Aria. “Maaf, ya. Sebelumnya aku membuatmu sakit hati.”
Aria memutar bola mata menepuk-nepuk pundak Jordan. “Sudah cukup minta maafnya! Aku sudah muak mendengar permintaan maaf darimu lebih dari sepuluh kali dalam sehari. Yang penting sekarang hubungan kita sudah aman!”
“Lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak peduli ada wanita lebih cantik, aku tetap memilihmu, Aria.”
“Kalau mau mengucapkan kalimat puitis lebih baik saat pulang kerja saja. Nanti atasan kita bisa mendengarkan percakapan kita diam-diam.”
Sedangkan di sisi lain, saat melakukan rapat penting bersama para petinggi perusahaan, tiba-tiba Rachel merasa mual lagi padahal tadi pagi tidak terjadi apa pun. Maka dari itu, hari ini ia tidak berniat menggunakan testpack yang sudah dibelinya.
Beberapa menit lagi rapat telah usai, entah kenapa bagi Rachel menunggu itu sangat lama dan bisa jadi ia memuntahkan isi perutnya di ruang rapat. Wajahnya semakin pucat dan keringat dingin terus mengalir di sekujur leher, dalam hati terus mendoakan rapat ini diselesaikan secepat mungkin.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Rachel bisa terbebas dari menahan rasa mual dalam tubuh. Dengan lincah berlarian menuju kamar kecil memuntahkan seisi perutnya tanpa peduli beberapa pegawai mengamatinya atau menggosipkannya.
Napas Rachel semakin terengah-engah. Berjalan perlahan menuju wastafel mencuci mulutnya sedikit kotor dan bau muntah sambil mengepalkan kedua tangan erat dan memandangi cermin di hadapannya.
Sudah merasa lega, Rachel kembali memasuki ruangannya langsung disambut asistennya menatap cemas dan diberikan segelas air hangat. “Ini minum dulu.”
“Terima kasih.” Rachel menyesap segelas air sedikit terburu-buru akibat perutnya sekarang sudah kosong.
Drrt…drrt…
Getaran ponsel Rachel menampakkan nama sang kekasih tertera di layar ponsel. Awalnya Rachel ingin bersikap seperti orang sehat, tapi situasi sekarang justru membuatnya seperti orang sakit. Padahal tadi pagi sudah percaya diri tidak akan mual lagi dan menganggap mual yang dialaminya belakangan ini karena kelelahan bekerja.
Tangan kanannya gemetar saat menggeser mengangkat panggilan telepon sambil mengisyaratkan asistennya keluar dari ruangan ini secara halus.
“Erick, kenapa kamu meneleponku?” Rachel menyapa sedikit sesak sambil menyeka keringat menggunakan sapu tangan.
“Kamu mual lagi? Ada apa denganmu sebenarnya?” Suara Erick terdengar panik.
Rachel mengatupkan bibir. “Aku tidak bisa membohongimu. Aku hanya sedikit mual saat rapat tadi.”
“Sudah kuduga kamu pasti akan mual lagi meski tadi pagi kamu masih terlihat sehat.”
“Maaf, aku membuatmu khawatir.”
“Mau pulang? Mau aku jemput sekarang?”
“Tidak usah. Lagi pula aku masih harus melanjutkan pekerjaanku.”
“Tapi Rachel—”
“Aku tutup telepon dulu, ya. Asistenku memanggilku barusan.”
Rachel langsung mengakhiri panggilan telepon daripada percakapan semakin terkesan canggung. Kepalanya terus menunduk sambil mengelus perutnya perlahan, merasakan apakah sungguh ada janin di dalam rahimnya?
“Apakah besok aku menjalankan tes saja? Untuk memastikan apakah aku hamil atau tidak?”
Suasana hati Carla sepanjang hari terasa suram setiap memikirkan momen tadi siang saat pacarnya tidak menganggapnya sebagai seorang wanita. Maka dari itu, untuk melampiaskan kekesalannya, Carla sengaja berlama di kantor sampai semua ruangan kosong.
Hari semakin larut malam. Akhirnya Carla memutuskan pulang ke apartemennya karena ia sendiri sudah merasa mengantuk.
Saat berjalan di basement menuju mobilnya, tiba-tiba ia merasakan seperti seseorang sedang mengikutinya dari belakang. Namun, seketika berbalik badan, tidak ada siapa pun yang mengikutinya sampai membuat tubuhnya merinding sendiri. Dikira baru saja ada setan gentayangan sedang melewatinya.
Entah kenapa saat Carla melangkahkan kakinya lagi, ia semakin yakin ada seseorang sungguh sedang mengejarnya. Dengan langkah kaki lincah memasuki mobilnya, menyalakan mesin mobil menginjak pedal gas melajukan mobilnya keluar dari basement.
Benar dugaan Carla. Dilihat dari pantulan kaca spion, ada sebuah mobil sedan kuno sedang mengikutinya diam-diam dari di basement sampai perjalanan menuju apartemen.
Sebenarnya di belakang mobil sedan kuno itu, Whitney juga mengikutinya diam-diam dari belakang. Untungnya Whitney adalah pengemudi andal, sehingga urusan begini baginya bisa diatasi dengan mudah.
“Benar tebakan Vallerie. Nyawa Carla dalam bahaya.”