Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 65: Kemenangan



Semua masalah telah terselesaikan. Untuk merayakan momen kemenangan mereka, Vallerie mengundang semua teman terdekatnya yang berpartisipasi menjalankan misi rahasia selama ini makan malam bersama di salah satu restoran elit. Vallerie juga mengundang Carla karena secara tidak langsung merayakan momen dirinya berhasil menyelamatkan hidup Carla dari maut.


Vallerie memesan berbagai macam menu makanan yang aman dikonsumsi untuk Rachel sedang hamil. Sedangkan Harry dan Whitney, tatapannya mulai rakus mengamati semua makanan pembuka sampai penutup tersusun rapi di meja makan berukuran besar sampai bingung ingin menghabiskannya seperti apa.


“Kalian boleh makan sepuasnya. Hari ini aku yang akan mentraktir.” Vallerie menyerahkan beberapa piring kecil kosong untuk semua temannya.


“Tumben kamu berinisiatif mentraktir kami. Biasanya kamu pelit,” sindir Whitney menyantap tempura melahap.


“Karena kalian semua sudah banyak membantuku selama ini. Tanpa kalian, mungkin misi yang aku rencanakan akan hancur.” Vallerie menatap percaya diri pada semua temannya.


“Aku hanya merasa kasihan pada suamimu saja. Hari ini dia pasti sangat syok melihatmu melakukan misi nekat tiba-tiba. Aku sendiri juga sebenarnya ingin melarangmu melakukannya. Tapi kamu tidak sopan langsung mematikan teleponku!” Whitney mengomel sambil menggenggam sendok mengayunkan ke arah wajah Vallerie dari kejauhan.


“Awalnya aku syok, tapi aku sangat bangga dia bisa melakukannya sendirian tanpa bantuanku.” Pandangan Elliot terfokus pada istrinya sambil mencium punggung tangan kiri sekilas.


Sedangkan pasangan Erick dan Rachel tidak berkomentar seperti dunia milik mereka berdua. Begitulah calon pengantin baru yang ingin menikah meski belum meminta restu secara resmi dari pihak keluarga Rachel.


Rachel menikmati sup iga dengan anggun sambil menyandarkan kepala di pundak calon suaminya. Bisa dikatakan sebenarnya tingkah manja sang ibu hamil mulai membara menjadi bahan tontonan bagi sepasang suami istri sudah menikah cukup lama tapi belum menghasilkan anak.


“Kamu harus makan yang banyak, Rachel,” usul Vallerie tiba-tiba membuat Rachel sedikit terkejut.


Rachel tersenyum malu mengelus perutnya lambat laun. “Aku tidak akan diet selama mengandung bayiku. Karena bayiku, belakangan ini porsi makanku lebih banyak berkali-kali lipat.”


“Enaknya sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Kalau butuh bantuanku, tinggal hubungi aku saja.”


“Tenang saja. Sekarang aku sudah memiliki Erick. Dia selalu mendatangiku setiap aku tidak enak badan.” Tatapan Rachel tertuju pada ekspresi wajah Erick tersenyum malu.


“Waktu itu teknik sandiwaramu sangat menakjubkan, misiku berhasil berkat kamu pandai menipu orang lain.” Vallerie mengacungkan jempol pada Rachel.


Rachel tersenyum malu sambil menyeka sudut bibir dengan tisu. “Sebenarnya kemarin aku hanya melakukan spontan. Justru kemarin saat kamu berkelahi dengan para pria itu, kamu sangat hebat, Vallerie.”


Erick juga ingin menyampaikan kalimat pujiannya untuk adik iparnya. Tapi entah kenapa bibirnya masih sulit mengatakannya karena selama ini lebih cenderung banyak sindiran dilontarkan dibandingkan kalimat pujian.


“Vallerie … terima kasih banyak,” ucap Erick sedikit terbata-bata membuat Vallerie sedikit bingung dan merasa aneh mendengar ucapan terima kasih dari kakak iparnya.


“Terima kasih karena apa?”


“Karena kamu menolong Rachel. Skandal aneh sebelumnya yang melibatkan adikku, kamu, dan tunanganku.”


Elliot tertawa kikuk. Sikap kakaknya sangat berubah drastis dibandingkan sebelumnya sangat ogah memuji adik iparnya dan bahkan selalu menyalahkan Vallerie karena selalu melakukan sesuatu tanpa meminta izin darinya dulu. Namun, terus terang Elliot sangat nyaman dengan karakter kakaknya yang sekarang. Sama seperti di masa lalu selalu memperlakukannya dengan baik saat bekerja.


“Kakak tidak usah mengubah suasana jadi mellow. Sebaiknya kakak fokus pada kesehatan Rachel saja daripada memedulikan istriku!” Jari telunjuk Elliot menunjuk mimik wajah Rachel terus tersenyum ceria.


“Memangnya kenapa? Kamu cemburu aku lebih dekat dengan istrimu?” Erick terkekeh.


Elliot memutar bola mata. “Mana mungkin aku cemburu dengan kakak kandung sendiri! Lagi pula kakak dari dulu tidak terlalu suka istriku!”


“Siapa yang bilang tidak suka! Aku juga menyukai Vallerie karena dia lebih cerdas daripada kamu.”


Bola mata Elliot terbelalak, entah kakaknya mengatakannya bermaksud bergurau atau dari lubuk hati yang tulus, Elliot sangat tidak nyaman mendengar perkataan itu membuat telinganya panas. “Oh, jadi selama ini kakak menyukai istriku diam-diam!”


“Aku kan pandai main tenis, para wanita termasuk istrimu pasti bisa menyukaiku juga. Sedangkan kamu sampai sekarang belum mahir.” Ejekan Erick membuat api cemburu semakin membara dalam tubuh Elliot.


“Baiklah, suatu hari nanti aku akan bertanding dengan kakak! Aku tidak takut, demi membuat Vallerie bangga padaku!”


“Sudahlah, kalian jangan berdebat lagi karena masalah cemburu. Aku mengajak kalian untuk merayakan momen kemenangan, bukan untuk bertengkar!” Vallerie melerai perdebatan dua bersaudara ini.


“Carla, kamu kenapa?”


Carla tersenyum tipis. “Aku tidak apa-apa.”


“Maaf, terkadang sikap kakak iparku dan suamiku sedikit kekanak-kanakan. Kamu nikmati makananmu santai saja, tidak usah pedulikan mereka.”


“Sebenarnya bukan karena itu. Tapi, aku masih tidak rela melihat mantan pacarku ditangkap polisi.”


Semua orang kembali berdiam menyantap makanan mereka sedikit gugup. Tidak berlaku untuk Vallerie karena memang sebenarnya ia ingin menghentikan perbuatan jahat Bertrand terlebih dahulu sebelum nyawanya, suaminya, dan Carla melayang kedua kalinya.


“Kamu masih belum bisa melupakan Bertrand?” Vallerie bertanya dengan nada pelan.


Carla menggeleng. “Aku sudah melupakannya. Tapi aneh saja mantan pacarku adalah tersangka di mata semua orang di dunia ini. Sedangkan aku adalah reporter yang akan meliput berita terkait penangkapannya. Aku terlihat seperti orang jahat jadinya.”


Vallerie tersenyum tipis. Tangan kirinya menggenggam tangan kanan Carla terasa hangat. “Meski kamu terlibat dalam misi pembalasan dendamku, tapi kamu adalah orang terbaik di mataku. Justru aku sangat berutang budi padamu di masa lalu.”


“Benar kata istriku. Kamu menyelamatkan hidup kami saat itu. Kalau seandainya kamu tidak menghidupkan kami kembali ke masa ini, mungkin Bertrand akan hidup tenang terus kalau kejahatannya tidak terungkap,” sambung Elliot merangkul pundak istrinya.


“Aku … menyelamatkan kalian?” Alis Carla terangkat, sebenarnya ia masih penasaran sejak kapan ia akrab dengan dua teman barunya di masa lalu, padahal mereka baru kenal beberapa minggu.


“Ingatanmu memang hilang sepenuhnya, tapi kami selalu mengingat kebaikanmu.” Vallerie memeluk Carla beberapa detik.


Cukup puas berpelukan, Vallerie tidak ingin suasana terlalu mellow. Mengangkat gelas kaca tinggi menampakkan senyuman percaya diri menatap teman terdekatnya satu per satu. “Terima kasih sudah membantuku selama ini. Ayo kita bersulang untuk kemenangan kita!”


“Untuk Vallerie!” Elliot bersorak paling heboh menabrakkan gelasnya dengan gelas istrinya sambil mencium kelopak mata sang istri.


Seminggu kemudian…


Hari ini adalah hari persidangan terakhir Bertrand. Sebelum itu, pagi-pagi Vallerie dan Elliot bersiap-siap memilih pakaian yang cocok untuk menghadiri persidangan. Vallerie dipanggil sebagai salah satu saksi karena Vallerie yang berhasil membuat Bertrand ditangkap atas banyak perkara dan juga Vallerie adalah salah satu korban hampir diperkosa di kamar hotel.


Seperti biasa sejak semua masalah sudah terselesaikan, Vallerie kembali bersikap seperti dulu selalu bingung memilih pakaian yang akan dipakainya sampai menghabiskan waktu minimal sepuluh menit untuk membuat keputusan. Untungnya Elliot adalah tipe suami penyabar meski beberapa saat lalu selalu ketus, tapi selalu lebih memprioritaskan kenyamanan istrinya.


Padahal sudah membersihkan diri, tapi tubuh Vallerie berkeringat lumayan banyak karena dari tadi tangannya sibuk mengeluarkan sejumlah setelan pakaian kerja sampai walk in closet berantakan. Sudah lebih dari lima belas menit menunggu, Elliot mulai menyerah langsung merebut pakaian kerja yang digenggam istrinya.


“Biar aku saja yang pilihkan untukmu.” Elliot mengedipkan mata kanan sekilas.


“Aku mau mencoba mengubah sikap burukku. Ternyata sulit diubah juga sejak dulu. Pasti kamu tidak sabar menungguku kelamaan.” Vallerie menunduk malu dengan wajah polos menggarukkan kepala.


“Aku selalu menunggumu dengan sabar. Lagi pula, biasanya kamu selalu cepat memilih pakaian, kenapa sekarang kamu jadi lama pilih pakaian seperti mau kencan denganku?”


Vallerie menyingkirkan helaian anak rambut ke belakang telinga. “Belakangan ini kan keadaan genting. Mana mungkin aku pilih baju sangat lama padahal nyawa kita sendiri terus terancam. Jadinya, aku tidak memedulikan gaya pakaianku. Kalau sekarang, karena keadaan kembali normal, aku harus memastikan gaya pakaianku terlihat sempurna di matamu.”


Elliot menyunggingkan senyuman usil mendekatkan bibirnya menuju bibir indah istrinya. “Kamu tetap manis di mataku kalau berpenampilan sederhana begini.”


Tangan Vallerie sedikit gemetar gugup. “Bukankah kamu mau pilih pakaian untukku? Jangan kelamaan menggombalku deh! Nanti kita telat menghadiri persidangan!”


Akhirnya Vallerie berpenampilan setelan blazer dan celana panjang dengan warna senada bertema cokelat tua. Tidak hanya mereka saja yang menghadiri persidangan ini, semua teman mereka juga turut hadir terutama Carla dipanggil sebagai saksi karena Carla adalah orang terdekat Bertrand dan korban penyiksaan.


Persidangan berlangsung selama dua jam dengan suasana perdebatan sedikit mencekam, karena Bertrand menyewa salah satu pengacara dari firma hukum ternama. Untungnya persidangan berakhir dengan lancar, berkat detektif wanita andal dan jaksa terbaik yang berhasil mencari segala informasi mengenai Bertrand sampai pihak pengacara tidak bisa berbuat apa pun.


Mendengar suara ketukan palu yang dipukul hakim ketua sebanyak tiga kali setelah menyebutkan hukuman yang diberikan untuk Bertrand adalah hukuman penjara seumur hidup, Vallerie dan Elliot bernapas lega sambil berpegangan tangan erat.


Saat Bertrand dituntun pihak kepolisian keluar dari ruang sidang, sejenak sorot matanya tertuju pada Carla memandanginya dari kejauhan. Bertrand ingin menghampiri Carla langsung dan meminta maaf, tapi yang bisa diperbuatnya adalah menundukkan kepala mengisyaratkan permintaan maaf darinya untuk Carla karena sudah menyakiti perasaan selama ini.