Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 23: Mengetahui Fakta



Vallerie mengangguk pelan, terpaksa memang harus memberitahukan suaminya kejadian sesungguhnya daripada hidup mereka selalu gelisah karena nyawa mereka selalu terancam. Terutama Vallerie selalu teringat perkataan Erick selalu menyakitkan menyinggung kaitan dengan ancaman nyawa. Vallerie semakin bersemangat ingin memusnahkan Erick dari dunia ini, apalagi sudah ada Elliot kini akan bergabung dalam misi rahasianya.


Vallerie bertopang dagu. “Insiden truk besar menabrak kita, sebenarnya direncanakan seseorang. Aku tahu dari wanita malaikat maut itu.”


“Wanita itu juga mengatakan hal yang sama padaku. Sebenarnya ada seseorang ingin mencelakakan kita sejak dulu.”


“Omong-omong, kamu tidak sempat berpikir aku meninggal karena bunuh diri, ‘kan?” Vallerie menyipitkan mata, ia cemas suaminya akan berprasangka buruk mendengar kematiannya terdengar sangat aneh.


Bola mata Elliot terbelalak. Tidak disangka istrinya sungguh bisa membaca pikirannya sekarang. “Bagaimana … kamu tahu?”


“Kamu menyaksikan aku pingsan terus. Kalau aku jadi kamu pasti curiga kematianku disebabkan karena aku stress berat ditinggalkan kamu, jadinya aku memutuskan bunuh diri!”


Akhirnya tidak bisa berkata-kata juga. Elliot sedikit memiringkan badannya mengalihkan pandangan ke sekeliling kamar, ia selalu mengakui istrinya selalu cerdas dalam hal bermain tebak-tebakan. “Kamu selalu dapat seratus. Sepertinya aku banyak berhutang hadiah untukmu.”


Vallerie menggeleng santai. “Tidak perlu. Cukup kamu selalu menyayangiku, aku sudah puas.”


“Tapi, siapa yang membunuh kita? Kenapa orang itu membunuh kita? Padahal kita tidak melakukan kesalahan apa pun.”


Terpaksa Vallerie memberikan jawabannya meski bibirnya terasa sangat berat mengucapkannya terang-terangan. “Erick adalah pembunuhnya.”


Hati Elliot seperti terkena sambaran petir dahsyat sampai tubuhnya gemetar. Kakaknya sendiri, apakah tidak salah dengar? Elliot selama ini selalu beradu mulut dengan Erick, tapi sungguh tidak menyangka Erick akan mencelakakannya demi memuaskan hidup.


“Erick dalangnya? Kamu yakin?” tanya Elliot terbata-bata.


“Aku yakin seratus persen. Detik-detik terakhir sebelum aku tenggelam di sungai, aku melihat dengan mataku sendiri. Erick adalah pelaku yang mendorongku saat itu.”


Helaan napas kasar dikeluarkan dari rongga mulut Elliot. “Tapi, kenapa Erick ingin membunuh kita? Padahal di kehidupan sebelumnya, aku tidak memiliki hubungan darah dengannya.”


“Nah, itu yang masih aku bingung sampai sekarang. Dulu kamu bukan orang kaya, bagaimana bisa kamu terlahir sebagai putra bungsu dari pemilik perusahaan ternama? Apalagi perusahaan itu adalah tempat kita bekerja sewaktu dulu. Kamu adalah anak yatim piatu dulu, sekarang kamu memiliki orang tua. Sebenarnya, apa yang sudah kita lewatkan selama ini?”


Sekarang giliran kepala Vallerie terasa sakit sambil memijit pelipisnya berusaha memulihkan rasa sakit ingin meledak.


Spontan Elliot semakin mempererat pelukan dan mendaratkan kecupan manis di puncak kepala Vallerie dengan penuh cinta berdurasi lama. “Jangan terlalu dipikirkan! Haruskah aku memarahimu lagi karena kamu selalu keras kepala?”


Dahi Vallerie berkerut. Bukan merasa bahagia mendapatkan kecupan cinta, justru membuatnya cemberut karena terkesan tidak berniat memperlakukannya dengan manis mendengar nada bicara suaminya sedikit ketus. “Bisakah kamu jangan membentakku terus? Haruskah aku memberi pelajaran pada bibirmu!”


“Jangan! Nanti kita tidak bisa berciuman kalau bibirku selalu disiksa kamu terus!”


Vallerie langsung berbalik badan menghindari tatapan suaminya, apalagi pipinya memerah. Perkataannya justru menjadi boomerang. Memang setiap mereka berciuman, Vallerie sangat menyukainya, tapi bukan berarti dibicarakan terang-terangan sampai telinganya panas.


Elliot menyunggingkan senyuman usil membuka selimut menutupi wajah cantik istrinya perlahan. “Padahal tadi kamu yang mencium bibirku duluan, kenapa kamu malu?”


“Jangan membicarakan hal itu lagi! Aku tidak bisa tidur, kamu harus bertanggung jawab!”


“Aku justru sulit tidur karena kamu sangat manis hari ini.” Elliot tertawa ledek mencubit pipi istrinya.


Vallerie memutar bola mata bermalasan. Ingatan suaminya pulih sepenuhnya justru membuat suaminya semakin usil. Tidak masalah, justru lebih baik begini daripada dibentak terus atau melihat suaminya terus menangis karena sepotong ingatan selalu pulih seiring waktu berjalan.


Vallerie mengelus pipi suaminya pelan. “Kamu masih demam. Sebaiknya kamu istirahat saja.”


Elliot mendaratkan kecupan manis pada bibir istrinya sekilas. “I love you, My Vallerie.”


Dibalas tawa girang diberikan Vallerie sekaligus kecupan pada pipi lembut Elliot. “I love you too, My Elliot.”


Elliot bangun lebih awal merasa energi tubuhnya kembali penuh berkat pelukan cinta yang diberikan istrinya sepanjang malam membuatnya cepat pulih. Pagi hari sudah terasa manis disambut senyuman manis istrinya membuatnya semakin ingin bermalasan di ranjang, berpelukan manja dengan istrinya masih di dunia mimpi.


Perlahan Elliot mengelus kepala istrinya sekaligus mengecup puncak kepala sang istri dengan penuh cinta membuat senyuman indah di hadapannya semakin mengambang.


‘Sejak pertama kali tidur bersamamu, aku sangat suka. Kamu selalu membawakan mimpi indah untukku. Terutama hariku semakin berwarna setiap melihat senyumanmu menggemaskan setiap sedang tidur.’


Melihat jarum jam dinding menampakkan hari semakin siang, Elliot melepas pelukan perlahan sambil beranjak dari ranjang supaya tidak mengganggu suasana mimpi istrinya sudah terlanjur indah jika dilihat senyumannya sangat ceria.


Sebelum masak sarapan, Elliot menggunakan termometer memastikan suhu tubuhnya sudah kembali normal. Lalu, ia kembali menduduki tepi ranjang dan mencium pelipis istrinya sekilas. “Aku akan masak sarapan spesial untukmu.”


Giliran Vallerie mengerjapkan mata baru terbangun dari dunia mimpi indah, tangan kanannya spontan ingin meraih tangan suaminya, tapi tidak ada sosok sang suami di sebelahnya.


Vallerie sedikit panik, mengingat suaminya masih demam sepanjang malam, mustahil bisa banyak beraktivitas di pagi hari. Melangkahkan kaki lincah menuruni tangga, terdengar suara seperti seseorang sedang memasak di dapur.


Vallerie langsung berlari mengikuti sumber suara dan aroma masakan cukup menggoda di pagi hari. Langkah kakinya terhenti melihat sosok suaminya sedang memasak sarapan untuk mereka. Vallerie tidak bisa berkedip mata. Senyuman khas selalu diberikan suaminya setiap sedang memasak memang tidak pernah berubah semenjak dulu.


Perlahan Vallerie melangkahkan kakinya, lalu melingkarkan kedua tangannya pada perut suaminya dari belakang. “Seharusnya kamu membangunkan aku supaya aku bisa masak sarapan.”


Reaksi Elliot tersenyum manis, sengaja mempererat pelukan istrinya sambil mengecup pipi istrinya sekilas. “Kamu sangat manis saat sedang tidur. Aku tidak tega merusak mimpi indahmu.”


“Kamu kan sedang sakit, tidak boleh banyak beraktivitas. Biarkan aku lanjutkan masak sarapan saja.”


Pas nasi omelet sudah matang, Elliot mematikan kompor lalu berbalik badan menyentuh pundak istrinya dengan senyuman percaya diri. “Tadi aku sudah mengecek suhu tubuhku. Tenang saja, sekarang aku sudah sehat. Berkat kamu merawatku penuh kasih sayang, sudah pasti aku cepat sembuh.”


“Tapi, tetap saja—”


Vallerie tersenyum gemas merenungkan sikap suaminya setiap pagi selalu cuek, sekarang berubah drastis menjadi perhatian berlebihan. Vallerie ingat semenjak hidup di kehidupan sekarang, Elliot lebih memilih bermain ponsel membaca artikel berita di media sosial daripada memedulikannya. Kecuali belakangan ini mulai perhatian seiring berjalan waktu.


“Sedangkan aku tidak mau kamu sakit lagi seperti kemarin. Sebenarnya apa yang merasuki pikiranmu tiba-tiba sangat peduli padaku? Padahal kamu selalu bermain ponsel sejak kita menikah di kehidupan ini.” Vallerie menyipitkan mata curiga melipat kedua tangan di dada.


Elliot juga tertawa lepas mengacak-acak rambut istrinya sampai terlihat seperti singa.


Vallerie semakin cemberut dan tatapannya semakin tajam seolah-olah seperti singa sungguhan terlepas dari kandang ingin menerkam suaminya selalu usil. Tapi, setengah hatinya juga bahagia diperlakukan usil seperti biasa.


“Iih selalu saja usil! Kamu menyebalkan!” Vallerie mencubit lengan Elliot sedikit bertenaga.


“Entah kenapa tanganku ingin bersikap jahil pagi-pagi begini. Penampilanmu lucu sekarang, haruskah aku bawakan cermin untukmu?”


Embusan napas kasar dikeluarkan dari mulut Vallerie. Tangan kanannya langsung mengambil sepiring nasi omelet sudah disiapkan suaminya, kemudian membawa menuju meja makan.


Lagi-lagi Elliot tidak merasa bosan menikmati pemandangan indah di pagi hari melihat wajah istrinya sangat menyegarkan padahal tidak dipoles apa pun dan belum mandi. Matanya sampai tidak berkedip, tidak peduli nasi omelet buatannya sudah dingin, ia lebih mementingkan melihat istrinya saja sudah cukup membuatnya kenyang.


“Kamu tidak bosan melihatku terus?”


Vallerie melemparkan pertanyaan sama seperti beberapa saat lalu. Momen yang sama, hanya sedikit berbeda tindakan Elliot kali ini jauh lebih manis.


Elliot tersentak, akhirnya terbangun dari lamunan indah sambil menyantap nasi omelet sedikit gugup. “Aku tidak pernah bosan melihatmu. Kamu terlalu manis.”


“Kalau begitu, kenapa sekarang kamu tidak berani menatapku? Apa aku sungguh menyeramkan seperti singa?”


“Karena ….”


“Lupakan saja. Aku hanya gemas saja lihat kamu selalu lebih memedulikan aku daripada nasi omelet.” Vallerie tertawa gemas mengambil sendok dan garpu.


Elliot merebut piring milik istrinya, mengambil sesendok nasi lalu mengarahkan pada bibir indah istrinya. “Aku ingin menyuapimu.”


Tanpa penolakan, Vallerie membuka mulut lebar membiarkan suaminya memasukkan sesendok nasi omelet ke dalam mulut. Mengunyah dengan lembut merasakan energi cinta berkali-kali lipat disalurkan suaminya hingga senyuman semakin lebar.


“Hari ini maukah kamu berkencan denganku, Sayang?” Elliot mengecup punggung tangan istrinya sekilas.


Vallerie mengangguk cepat. “Aku mau. Tapi dengan syarat, kamu harus sudah sembuh sepenuhnya!”


“Aku sungguh sudah sehat sekarang. Kalau tidak percaya, kamu bisa mengecek suhu tubuhku dengan termometer.”


“Kepalamu yakin sudah tidak sakit? Jangan sampai kencan kita rusak karena kamu!” Vallerie menyentuh leher suaminya dengan punggung tangan kanan.


Elliot tersenyum usil. “Haruskah aku buktikan langsung padamu?”


“Dengan apa?” Vallerie bertanya balik dengan tatapan polos.


Elliot menunjuk bibir sexynya dengan wajah polos, pipi Vallerie langsung memerah dan jantungnya berdebar kencang.


Vallerie melipat kedua tangan di dada. “Sejak kamu hidup sebagai keluarga orang kaya, kamu semakin nakal dan suka modus! Sebenarnya kamu diajarkan siapa sih!”


“Aku belajar dari kamu.” Elliot mengedipkan mata kanan sekilas.


Vallerie menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk. “Apa?! Aku? Sejak kapan aku mengajarimu hal modus begini!”


“Sejak … pertama kali kita bertemu. Siapa yang mendekati aku duluan saat itu?”


Bibir Vallerie tidak bisa mengucapkan sepatah kata. Memang pertemuan pertama mereka terkesan menjengkelkan, apalagi saat itu Vallerie terkesan sangat agresif selalu ingin menempel pada suaminya. Vallerie mengakuinya, tapi justru ada satu hal dari suaminya juga terkesan agresif saat itu tanpa disadari.


“Aku yang mendekati kamu, tapi kamu yang menciumku duluan saat itu.”


Jantung Elliot semakin menggebu-gebu, sudah tidak bisa menahan godaannya ingin mencicipi manisnya bibir sang istri terlihat bersinar di pagi hari. Mengingat momen ciuman pertama mereka terkesan canggung, Elliot ingin memperbaikinya.


Saat ia ingin melakukannya, perutnya berbunyi di saat tidak tepat. Terpaksa harus menunda sampai waktu yang tepat melakukannya.


“Dasar perut menyebalkan!” Vallerie menepuk perut berkali-kali.


“Kenapa kamu marah tiba-tiba? Memangnya kamu ingin melakukan apa?” Elliot mengerutkan dahi, entah berpura-pura polos atau tidak, hanya ia yang tahu jawabannya.


Vallerie sengaja mengalihkan pandangan memandangi sekeliling rumah ini tidak terlalu banyak hiasan warna-warni. Hiasan paling indah baginya adalah foto pernikahan mereka terpajang di ruang tamu. Selebihnya, masih ada yang kurang baginya.


Elliot menaruh sendok dan garpu sejenak di piring, menggenggam kedua tangan istrinya menampakkan senyuman hangat. “Nanti aku ingin berbelanja barang-barang furniture. Karena kita memulai hubungan kita dari awal, aku ingin mengubah hiasan rumah kita juga.”


Tatapan Vallerie melotot langsung mencubit punggung tangan suaminya. “Dasar boros! Padahal semua barang furniture di rumah ini masih bagus!”


“Kamu mau rumah kita terlihat hampa begini? Kalau aku jadi kamu, aku merasa tidak nyaman.”


Apa boleh buat, karena suaminya secara tidak langsung bisa baca pikirannya, akhirnya Vallerie membiarkan suaminya mengabulkan keinginannya juga.