Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 39: Pesan Misterius



Hampir saja Rachel keceplosan menjerit di hadapan kekasihnya. Telapak tangan langsung membungkam mulutnya terbuka lebar dengan anggun. Sejenak menenangkan dirinya mengambil napas kemudian membuang perlahan, supaya tingkahnya tidak terlalu gugup sehingga tidak mencemaskan kekasihnya.


Rachel berusaha mengendalikan getaran tangan kirinya semakin tidak bisa terkendalikan sampai ponselnya hampir terlepas. Sebenarnya ia tidak takut isi pesan itu. Lebih cenderung takut karena orang yang mengincar kekasihnya sekarang mengincarnya juga.


Dengan wajah datar menaruh ponsel kembali di meja kecil sampingnya.


“Siapa yang menghubungimu tadi?” Erick bertanya tiba-tiba melihat tingkah Rachel berubah drastis hanya karena sebuah pesan singkat.


“Itu … urusan kantor. Pegawaiku hanya bertanya soal rapat besok.” Rachel menjawab terbata-bata sambil mengintip ponsel sekilas dari kejauhan.


Alis Erick terangkat sebelah, tangan kirinya terulur ingin mengambil ponsel Rachel. “Benarkah? Kenapa harus bertanya tengah malam begini? Kamu tidak menegurnya?”


Rachel sedikit menggeserkan ponselnya supaya Erick tidak bisa mengambilnya. “Untuk apa aku menegur padahal dia tidak melakukan kesalahan apa pun.”


“Pegawai menghubungi atasan saat tengah malam sungguh tidak ada etika! Aku merasa tidak nyaman kalau ada yang mengganggu kita tiba-tiba!”


Rachel tersenyum centil, tangan kanannya menyentuh dagu Erick kemudian menempelkan hidung mancungnya di hidung Erick. “Jadi, karena itu kamu sengaja menetapkan malam hari adalah waktu kencan sangat pas untuk kita.”


Erick masih belum menyerah ingin meraih ponsel Rachel. “Tapi karena pegawaimu barusan mengganggu kita, aku ingin memarahinya sekarang.”


“Jangan!” Rachel langsung mencegah tangan kiri Erick ingin mengambil ponselnya.


“Sesekali pegawai itu harus diberi teguran supaya tidak bersikap lancang terus!”


“Sudahlah, jangan memperbesar masalah hanya karena kamu terbawa perasaan pribadi. Lagi pula pegawai itu baru kali ini melakukannya. Jadinya aku biarkan saja.” Rachel sengaja mengalihkan pikiran Erick dengan menampakkan kedipan mata manja, dalam sekejap Erick luluh, menarik tangan Rachel bermesraan di bawah selimut.


Elliot semakin tidak sabar melakukan misinya kali ini akan membuat Erick terkena serangan jantung. Karena ia sudah tidak menahan rasa kesabarannya ingin membuat Erick merasakan penderitaan juga, meski tidak perlu membunuhnya langsung. Prinsip Elliot adalah membunuh tidak akan menyelesaikan masalah. Ia lebih memilih menyiksa Erick terus-menerus sehingga Erick lebih merasakan penderitaan pahit.


Elliot dan Vallerie menaiki lift eksekutif, saat pintu lift akan tertutup, tiba-tiba Erick berlarian memasuki lift, mengejutkan Elliot dan Vallerie sedang bermesraan saling bergandengan tangan. Mereka tetap bersikap sopan menyapa Erick, meski sebenarnya dalam hati mereka, mereka sudah merencanakan sesuatu untuk Erick nanti.


“Belakangan ini kakak selalu terburu-buru berangkat kerja. Memangnya setiap hari kakak tidur berapa jam?”


“Urusan itu, kamu tidak perlu tahu. Urus saja istrimu sendiri. Kamu kan sudah menikah, bukankah seharusnya kamu lebih memedulikan istri daripada saudara kandung sendiri?” Erick berbalas dengan nada angkuh, merapikan lengan kemeja sedikit terlipat.


“Meski aku sudah menikah, tapi aku masih peduli pada kakak. Belakangan ini kakak juga mengalami masalah pekerjaan. Sebenarnya kakak kenapa sih?”


Ting…


Pintu lift terbuka di lantai tujuan Erick. Erick berjalan keluar dari lift, berbalik badan menatap tajam pada adiknya. “Aku tidak tahu selama ini kamu berpura-pura memedulikan aku atau tidak. Yang pasti, urusanku jangan ikut campur!”


Elliot tersenyum tipis, menutup pintu lift lalu kembali melanjutkan bergandengan tangan dengan istrinya.


Vallerie mengayunkan tangan suaminya berirama. “Sayang, sebenarnya aku masih kurang setuju dengan idemu semalam.”


Elliot mendongakkan kepala di depan wajah Vallerie. “Kamu ada ide cemerlang lain?”


“Idemu ada bagusnya. Tapi masih kurang memuaskan bagiku. Aku ingin menambah bumbu rencana, bolehkah?”


“Boleh saja. Justru kamu lebih cerdas dariku soal melakukan misi seperti ini. Aku penasaran idemu seperti apa.”


Seketika mereka berjalan keluar dari lift, tidak disangka disambut sebuah adegan tidak terduga antar pegawai sampai bola mata mereka terbelalak.


Sosok Jordan dan Aria sedang asyik berbincang di counter penjaga pintu. Vallerie dan Elliot jadi teringat sewaktu dulu adegan ini juga pernah terjadi. Hanya saja berbeda posisinya. Dulu adegan ini pemerannya adalah Vallerie dan Elliot. Sedangkan sekarang diperankan Jordan dan Aria. Entah bagaimana bisa ini terjadi, semua keadaan jadi berubah drastis hanya karena pengaruh satu perubahan.


Aria dan Jordan sangat terkejut sampai hampir tersandung menyadari atasan mereka sedang menyaksikan mereka dari tadi. Langsung bersikap profesional menghampiri atasan masing-masing memasang wajah memelas.


“Sebenarnya hubungan kami tidak seperti kalian bayangkan. Kami hanya berbincang soal pekerjaan,” ucap Aria agak gugup dengan suara gemetar.


“Benarkah? Aria, kamu kalau ingin meluruskan keadaan sebaiknya berpikir panjang dulu deh. Sebenarnya aku tidak mencurigai kalian sedang berpacaran diam-diam, kenapa kamu berprasangka aku bisa berpikir begitu?” Vallerie menampakkan senyuman licik melemparkan pertanyaan boomerang membuat Aria semakin gugup.


“Soal itu—”


“Tidak kusangka ternyata kamu bergerak lebih cepat dari dugaanku, ya, Jordan. Padahal aku masih berniat ingin menjodohkanmu dengan seorang wanita kukenal.” Elliot tertawa usil sampai wajahnya memerah.


Elliot tersenyum sinis, memasukkan tangan kanan ke dalam saku celana sambil melangkah mendekati asistennya. “Tidak perlu repot bertanya. Sekarang aku ingin bertanya padamu. Jadinya kamu masih berminat ingin dijodohkan tidak? Wanita itu sangat cocok untukmu.”


“Sudah pasti aku mau kalau wanita itu cantik!”


Entah kenapa saat mendengar jawaban lantang dilontarkan Jordan, hati Aria terasa sedikit perih seolah-olah ia sungguh ditolak mentah tanpa perlu menanyakan pendapat persoalan ingin dijadikan sebagai kekasih.


Wajah Aria terus murung, Vallerie mengamatinya sekilas sudah tahu sebenarnya bahwa Aria memiliki perasaan istimewa terhadap Jordan. Namun, Jordan saja yang tidak pernah peka sejak dulu. Sebenarnya hubungan Aria dan Jordan bisa dikatakan hampir menjadi sepasang kekasih di kehidupan sebelumnya, tapi karena masalah besar yang dihadapi Aria sampai mengalami depresi berat, Aria memutuskan tidak ingin menjalin hubungan istimewa dengan siapa pun. Karena merasa dirinya tidak pantas mendampingi hidup seorang pria, jika hidupnya selalu berada di masa terpuruk.


Sedangkan sekarang situasi beda jauh. Akhirnya Vallerie lega melihat hubungan Aria dan Jordan di kehidupan ini berjalan lancar. Hanya saja mulut pedas suaminya tidak bisa dikendalikan, rasanya Vallerie ingin mencubit suaminya habis-habisan karena tidak peka pada situasi mesra sepasang pegawai.


Vallerie sengaja tidak mau memasuki ruangannya dulu. Ia lebih memilih memarahi suaminya di dalam ruangan direktur, hanya karena persoalan merusak suasana mesra sepasang pegawai sudah terlihat seperti kekasih sungguhan.


Vallerie melipat kedua tangan di dada. “Sayang, kenapa sih kamu tidak bisa peka sedikit?”


“Sejak tadi kamu seperti ingin memarahiku. Kamu marah karena aku merusak suasana?” Lagi-lagi Elliot memasang tatapan dingin seperti dulu.


“Selama ini mereka selalu peka memberikan ruang untuk kita berpacaran. Sedangkan saat mereka berpacaran tadi, kamu bahkan secara tidak langsung menyakiti perasaan Aria. Kamu tidak lihat saat Jordan mengiyakan ingin dijodohkan wanita lain? Hati Aria pasti hancur karena ucapanmu!”


Elliot menggarukkan kepala kesal, akibat usil sekarang istrinya salah paham. “Kamu dengarkan aku dulu! Tadi sebenarnya aku hanya ingin menguji kesetiaan Jordan. Tidak kusangka dia sungguh pria kurang ajar tidak setia pada wanitanya sampai akhir.”


“Maka dari itu, sebaiknya kamu meminta maaf pada mereka langsung deh. Aku cemas hubungan mereka semakin canggung karena mulutmu itu sangat pedas! Kebiasaan deh selalu tidak peka kalau urusan asmara!”


Elliot menyunggingkan senyuman usil, tangan kanannya menyingkirkan helaian rambut terus menutupi mata kanan Vallerie. “Tapi aku selalu peka apa yang kamu inginkan, Sayang.”


“Aku suka kamu selalu peka padaku, tapi kamu juga harus peka terhadap teman dekatmu juga. Aku tidak bisa membayangkan selanjutnya mereka akan seperti apa.”


Cup..


Kecupan manis mendarat pada puncak kepala Vallerie mendalam selama beberapa detik. Sekejap hati Vallerie semakin terngiang-ngiang tidak ingin memarahi suaminya terlalu lama.


Vallerie mencium hidung suaminya sekilas. “Kebiasaan deh selalu merayuku dengan cara ini.”


“Maafkan aku. Lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku juga akan peka pada pasangan lainnya.”


“Tidak perlu minta maaf. Sekarang aku ingin mempersiapkan rencana menjahili Erick lagi.”


Tidak terasa sudah tiba saatnya pulang kerja. Rachel sudah berpenampilan memakai pakaian renang dilapisi outer tipis tembus pandang dan bertelanjang kaki, mulai menunggu kedatangan Erick di tepi kolam renang sambil memoleskan lipstik pada bibir sexynya.


Kolam renang sengaja dikosongkan Erick sejak jauh-jauh hari. Sambil menunggu Erick, Rachel menduduki sebuah kursi panjang memposisikan tubuhnya seperti sedang berfoto model majalah, memainkan layar ponsel mulai tidak sabar menantikan kedatangan sang kekasih.


Tiba-tiba muncul sebuah notifikasi pesan singkat dari nomor tidak dikenal. Rachel langsung membuka pesan itu sedikit ketakutan, kali ini isinya lebih menyakitkan dari sebelumnya.


“Kamu masih yakin Erick murni mencintaimu? Kamu masih mudah dibodohi dengan rayuannya selama ini selalu membuatmu tergoda ingin bersamanya terus. Kamu masih belum tahu sifat kebusukan Erick seperti apa. Memakan nyawa orang demi mendapatkan impiannya.”


Rachel terus menggeleng pelan, dengan penuh amarah akhirnya ia memberanikan diri membalas pesan singkat itu.


“Siapa kamu sebenarnya? Lancang sekali memfitnah kekasihku!”


Tidak sampai satu menit, pesan singkat langsung dibalas.


“Kalau kamu ingin tahu jati diri kekasihmu, datanglah ke hotel di bawah ini untuk mengetahui informasinya. Kalau kamu tidak datang, maka aku akan membunuh kekasihmu sebagai pembalasannya.”


Rachel ingin menjerit, gerakan kaki dan tangan semakin panik mengambil semua barang miliknya bersiap-siap ganti pakaiannya.


Sedangkan di sisi lain, Erick masih terlihat santai mengendarai mobil sport miliknya. Tatapannya sekilas tertuju pada sebuah kotak cincin elegan yang pastinya benda berharga itu akan sangat istimewa bagi Rachel.


Di persimpangan lampu merah, Erick memberhentikan mobilnya mendengar suara getaran notifikasi ponsel sekilas. Saat membaca pesan itu, tatapannya langsung melotot dan darahnya dalam sekejap mendidih.


“Kekasihmu akan aku bunuh kalau kamu belum mendatangi alamat hotel yang kukirim.”