Remarried My Husband

Remarried My Husband
Special Episode 2: Dinding Cinta



Inilah saatnya yang ditunggu-tunggu Vallerie semenjak di kehidupan masa lalu. Pada akhirnya Vallerie bisa menyaksikan Paris Fashion Week secara langsung tanpa harus melihat melalui TV atau layar ponsel.


Karena sekarang musim semi, tubuh mereka dilapisi mantel juga, karena Vallerie masih belum terbiasa dengan udara di negeri empat musim. Lokasi acara besar ini diselenggarakan di Carrousel du Louvre, yaitu pusat perbelanjaan di komplek Museum Louvre.


Vallerie tidak terlalu fokus pada acara fashion, seketika menelusuri seisi gedung ini sudah membuatnya kegirangan, karena ia merupakan tipe wanita suka melihat bangunan klasik yang tidak akan bisa ditemukan di kota asal.


Acara sudah dimulai memperlihatkan para model terkenal berpose memperlihatkan koleksi pakaian mahal musim semi dan musim panas satu per satu, tatapan Vallerie terfokus pada rancangan-rancangan pakaian sangat elegan dan juga tas merk mahal limited edition sangat langka di dunia, membuat Vallerie ingin memakai semua busana yang dipakai para model itu. Apalagi ada beberapa model merupakan model favorit Vallerie sejak dulu. Berkat model itu, gaya pakaian Vallerie perlahan juga berubah mengikuti trend mode seiring berjalan waktu.


Ruangan megah ini hanya mengandalkan lampu spotlight di panggung berkelap-kelip. Meski pencahayaan sedikit redup, entah kenapa mata Elliot selalu terpancing pada kecantikan istrinya setiap tersenyum bahagia membuatnya semakin candu memandanginya, tidak memedulikan para model memperagakan busana mahal di panggung. Awalnya ingin melakukan survey tren mode masa kini, sekarang tatapannya justru malas melihat para model itu.


Tangan kanannya perlahan menyentuh punggung tangan Vallerie, akhirnya menyadarkan Vallerie tidak hanya sendirian menyaksikan acara ini.


Vallerie menolehkan kepala menghadap wajah suaminya, menampakkan senyuman malu. “Maaf, gara-gara aku keasyikan melihat para model memperagakan busana, aku melupakan kamu.”


Elliot menggeleng pelan sambil mengecup punggung tangan istrinya sekilas. “Justru aku suka melihatmu ceria begini. Syukurlah, aku bisa mengabulkan keinginanmu sekarang. Aku teringat dulu aku tidak bisa mengabulkannya karena aku terlalu sibuk bekerja dan aku tidak kaya.”


Rasanya Vallerie sudah agak malas terfokus pada acara peragaan busana. Tatapannya semakin terfokus pada wajah tampan suaminya, perlahan mengelus pipi suaminya lambat laun. “Terima kasih, Sayang. Sepanjang hidupku, hadiah ulang tahun darimu sangat bermakna bagiku.”


“Aku mengajakmu ke Paris bukan untuk mengabulkan keinginanmu dan sebagai hadiah ulang tahunmu, tapi ini hadiah pernikahan untukmu.” Elliot mengecup pelipis Vallerie sekilas.


Pipi Vallerie tersipu malu. “Jika dilihat, sepertinya kamu sudah memberikan banyak hadiah untukku, sedangkan aku tidak pernah memberikan hadiah untukmu. Apa ada sesuatu yang sangat kamu inginkan dari dulu? Aku juga ingin mengabulkan keinginanmu.”


Elliot berpikir sejenak sambil menatap istrinya dengan tatapan fokus menampilkan senyuman manis. “Kamu sudah mengabulkan keinginanku, Sayang.”


Vallerie mengernyitkan dahi melipat kedua tangan di dada, sangat bingung mendengar perkataan suaminya sangat ambigu. “Benarkah? Bukankah dari dulu kamu ingin punya anak? Tapi sampai sekarang aku masih belum hamil.”


Elliot menggeleng pelan, tidak peduli disaksikan beberapa pengunjung di dekat mereka, lengan kekarnya mendekap tubuh istri tercinta dengan penuh kasih sayang dan mendaratkan kecupan manis di puncak kepala istrinya berdurasi lama, sehingga membuat jantung istri tercinta berdebar-debar.


“Keinginanku yang paling utama adalah aku menikahi seorang wanita paling kusayangi dan wanita itu sangat menyayangiku.” Elliot mengungkapkannya dengan tatapan percaya diri menambah debaran jantung Vallerie sangat kuat.


“Bisakah kamu menggombalku jangan sekarang? Aku jadi tidak fokus menyaksikan acara fashion show.” Vallerie menunduk sambil mengamati sekeliling penonton di sekitarnya dengan malu.


“Sebenarnya, dari tadi aku tidak melihat acara fashion show.”


“Karena sebenarnya kamu tidak terlalu suka melihat acara beginian?”


“Aku suka, tapi bagiku lebih menarik melihat kamu daripada para model sexy di panggung.” Elliot mengedipkan mata genit.


Mendengar satu kata sangat sensitif di telinga tajam, Vallerie sedikit merasa tersinggung menampakkan tatapan mata elang. “Para model sexy? Bukankah kamu sempat bilang sebelumnya, hanya aku adalah wanita sexy di matamu?”


“Bukan begitu. Tapi aku berbicara sesuai apa yang dipikirkan semua pria di dunia ini. Pasti mereka semua tergoda melihat para model setiap kali memperagakan busana terbuka. Coba deh kamu lihat model itu sekarang pakai celana pendek dan memakai baju bermodel sabrina. Aku yakin para pria langsung mata keranjang melihatnya.” Elliot menunjuk salah satu model terlihat sangat sexy penampilannya, karena perut terlihat jelas membuat semua pria sedang menyaksikannya terpesona mengamatinya.


Bagi Vallerie itu hanya sebagai alasan, tapi jika dilihat sorot mata suaminya terfokus padanya saja, Vallerie tidak ingin mencurigai suaminya lagi. “Aku memercayaimu. Karena aku tahu kamu adalah tipe pria sangat setia pada satu wanita. Kamu pernah bercerita, di dunia sekarang kamu selalu dikhianati para wanita dan di masa lalu, kamu selalu lebih memilih pekerjaan daripada berkencan.”


Dengan jempol kanan Elliot menyentuh bibir Vallerie sambil memajukan bibir hanya berbeda tipis dengan bibir Vallerie. “Tidak peduli para model di panggung memakai pakaian sexy atau bikini. Di mataku, hanya kamu adalah wanita sexy.”


Cukup lama menyaksikan acara peragaan busana, karena mereka sudah datang jauh-jauh ke tempat ini, sekalian mereka berjalan-jalan mengelilingi seisi museum dipandu pemandu wisata khusus yang hanya memandu mereka. Pemandu wisata ini adalah salah satu kenalan Jason, sehingga Elliot tidak perlu bersusah payah mencari pemandu wisata bisa diajak kerja sama memandunya sambil berfoto di luar museum.


Museum ini memperlihatkan semua karya seni yang diciptakan seniman terkenal seperti lukisan Mona Lisa dan masih banyak lagi lukisan yang dipajang di setiap titik museum dan patung-patung bersejarah.


Pertama kali yang dilihat Vallerie adalah lukisan Mona Lisa yang selalu ingin dilihatnya sejak memasuki kelas seni rupa. Mengamati lukisan ini asli digambarkan pelukis ternama, tangan mungilnya ingin meraih lukisan itu, tapi sangat disayangkan tertulis tidak diperbolehkan menyentuh benda apa pun di museum ini. Terpaksa Vallerie hanya sekadar mengamatinya sambil bergandengan tangan dengan suaminya.


“Jadi begini wujud lukisan Mona Lisa yang dilukis Leonardo Da Vinci. Selama ini aku hanya mempelajari sejarahnya saja saat masih sekolah.”


“Sekarang kamu tidak perlu melihat lukisan ini di buku sejarah, kamu bisa melihatnya secara langsung.” Elliot melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Vallerie dari belakang.


“Sayang, jangan peluk aku di tempat seperti ini deh! Nanti dilihat semua orang!” Vallerie menegur tegas sambil memberontak, tapi tenaganya kalah.


“Tidak apa-apa. Udara di sini sedikit dingin, aku cemas kamu kedinginan.”


“Aku tidak kedinginan sama sekali! Justru lebih cenderung kamu yang ingin bermanja denganku!”


Elliot mengulurkan tangan kanan menggandeng tangan istrinya. “Setelah ini, aku ingin mengajakmu ke tempat yang aku ingin kunjungi sejak dulu. Aku yakin kamu pasti suka.”


Tempat yang diungkit Elliot adalah salah satu tempat terkenal biasa dikunjungi sepasang kekasih saat mengunjungi Paris. Le Mur des Je T’aime atau biasa dikenal sebagai dinding cinta. Biasanya sepasang kekasih menulis sebuah pernyataan cinta di dinding ini dan tempat ini juga dikenal sebagai tempat pertemuan pasangan di seluruh dunia.


Elliot dan Vallerie sengaja memilih lokasi strategis untuk menulis sebuah pernyataan cinta mereka satu sama lain, sulit ditemukan orang lain dan mudah bagi mereka untuk menemukannya. Hanya menulis kalimat satu kalimat sederhana di dinding ini, kemudian mereka saling berpelukan mesra mengamati tulisan mereka saling berdampingan di antara semua pernyataan cinta pasangan di dinding ini.


Tidak hanya mereka yang berkunjung tempat ini, Jason dan istrinya juga datang berkunjung menjadi pemandu wisata sepasang pengantin baru sekaligus menjadi fotografer pribadi ke mana pun Elliot dan Vallerie pergi. Dari kejauhan Jason mengatur kamera DSLR milik Elliot memotret setiap gaya mesra secara alami yang dilakukan Elliot dan Vallerie satu per satu.


Pernyataan cinta yang ditulis Elliot di dinding itu adalah “Ke mana pun kamu pergi, kita dipisahkan jauh, aku hilang ingatan, tetap saja aku mencintaimu, Vallerie Emerald. Kita telah ditakdirkan bersama sejak dulu. Aku akan selalu mencarimu sampai kita dipertemukan kembali.”


Membaca pernyataan itu membuat mata Vallerie sedikit berkaca-kaca. Membayangkan beberapa saat lalu kehidupan pernikahan mereka diuji berat sampai memakan nyawa mereka, sehingga sekarang mereka terlahir kembali di kehidupan baru dengan gaya hidup berbeda.


“Seandainya saja sekarang kamu masih amnesia, kamu tetap mencintaiku? Kamu tidak akan bersikap ketus padaku?” Vallerie menatap suaminya dengan tatapan sendu sambil menyeka air mata terus membanjiri kelopak mata.


“Persoalan aku selalu bersikap ketus, maafkan aku. Sebenarnya kalau seandainya aku tidak amnesia, aku berusaha ingin mencintaimu karena sejak pertama kali bertemu denganmu, aku bisa merasakan kamu adalah wanita sangat berbeda di antara semua wanita di dunia ini. Perlahan aku akan mengubah sikapku demi kamu hidup bahagia bersamaku.” Elliot mengusap kelopak mata istrinya basah menggunakan jempol.


Vallerie sedikit mengangkat kepala ringan sambil menyedot lendir hampir mengalir keluar dari hidung. “Benarkah? Kamu tidak akan bersikap kasar padaku?”


“Seandainya saja aku meninggal lagi dan terlahir kembali dengan kepribadian berbeda, hatiku masih tetap ingin bersamamu. Mau aku bersikap kasar apa pun, aku tidak tega menyakiti hatimu berlebihan seperti dulu.”


“Kamu masih utang cerita itu. Jadinya, kamu hanya menitipkan obat untuk ibu?”


Elliot menggeleng menampakkan senyuman percaya diri. “Aku juga mendatangimu saat kamu tidur.”


Deg..


Vallerie sulit mengendalikan debaran jantung mengingat momen itu memang ia merasakan ada seseorang merawatnya penuh kasih sayang saat tertidur pulas. Sentuhan tangan hangat melebihi kasih sayang yang diberikan orang tuanya, hanya dirinya yang bisa merasakan kasih sayang itu. Mendengar perkataan suaminya, membuatnya percaya diri menyimpulkan bahwa orang itu adalah suaminya.


“Bukankah … saat itu masa-masa kamu sibuk? Sampai kamu malas membalas pesanku.”


“Akan aku ceritakan yang sebenarnya supaya kamu tidak ragu lagi.”


*****


Sejak Vallerie meminta bantuan Elliot membalas pesan singkat setiap pagi, siang, dan malam, Elliot membalas pesan dengan satu kata ‘iya’ atau ‘aku sehat’, sudah cukup membuat Vallerie puas karena membuktikan suaminya masih hidup. Elliot hanya melakukannya di saat dirinya tidak sibuk rapat atau kunjungan ke rekan bisnis.


Sampai suatu hari Elliot merasa tidak enak badan karena kelelahan bekerja, Vallerie bela-belain mendatangi rumah Elliot untuk memasak sarapan, makan siang, dan makan malam. Sejak saat itu, hati Elliot mulai mencair karena ia sangat bahagia memiliki seseorang yang sangat perhatian padanya di saat dirinya sedang sakit.


Elliot mulai rajin membalas pesan singkat tidak menggunakan kata-kata rutinitas yang biasanya diketik. Sekarang ia juga mengabarkan bahwa dirinya sudah makan atau beristirahat cukup, meski belum membalas pakai sticker atau emoji. Entah kenapa ia semakin suka melihat calon istrinya tidak pernah bosan menanyakan kabar meski di tengah kesibukan.


Sekitar dua minggu sebelum hari pernikahan, pagi-pagi sekali Elliot sudah menunggu pesan singkat Vallerie. Elliot terus berjalan mondar-mandir di ruangannya menunggu sampai menjelang siang dan mulai bosan.


‘Tumben kamu tidak menanyakan kabarku. Apakah akhirnya kamu bosan melakukannya?’


Apa yang merasuki hati dan pikirannya? Kenapa sekarang ia yang jadi sangat mengharapkan dapat pesan dari seorang wanita? Apakah hatinya mudah luluh hanya karena hal kecil itu sedangkan selama ini selalu jual mahal? Tetap saja prinsip utama Elliot saat itu masih kuat seperti beton, masih ingin memperlakukan semua wanita sama, karena trauma selama ini selalu dikhianati para wanita.


Pada saat bersamaan pesan singkat dari calon ibu mertua bermunculan di layar ponselnya memberikan kabar bahwa Vallerie terkena demam. Entah kenapa Elliot tersentak dan hatinya tercabik-cabik. Rasanya ingin mendatangi Vallerie langsung, tapi gengsinya saat itu masih kuat dan agendanya sepanjang hari lumayan padat.


Saat pulang kerja, Elliot langsung mengunjungi sebuah apotek membeli obat untuk Vallerie. Ia berniat ingin memasak makan malam untuk Vallerie, tapi ia masih berpikiran calon mertuanya pasti sudah memasak dan merawat sepenuh hati. Sehingga Elliot memutuskan menitipkan obat untuk calon ibu mertua.


Saat Elliot hendak berpamitan, ibu Vallerie menahan tangan kanannya erat. “Kamu mau pergi? Tidak mau menjenguk tunanganmu?”


Elliot berbalik badan tersenyum ramah. “Vallerie sedang tidur, aku takut justru aku akan membangunkannya.”


“Tidak apa-apa. Meski putriku terbangun, pasti dia bahagia dan semakin cepat pulih kalau bertemu denganmu.”


Terpaksa Elliot menuruti keinginan ibu Vallerie. “Baiklah, aku akan menjenguk sebentar. Tapi, ibu jangan beritahu Vallerie.”


“Kenapa?”


“Karena … kalau dirawat diam-diam begini, pasti sangat terkesan istimewa baginya.”


Elliot memasuki kamar Vallerie, melangkah pelan menghampiri Vallerie tidur merengkuh di ranjang. Elliot duduk di tepi ranjang, dengan tatapan iba menatap wajah Vallerie terlihat kusut padahal biasanya selalu ceria.


Melihat ada baskom dan handuk kecil di meja samping ranjang, Elliot berinisiatif mengisi air panas di kamar mandi lalu bertekad merawat tunangannya selama tertidur. Elliot menaruh handuk kecil sudah direndam air panas menaruh di dahi lembut tunangannya sambil mengusap perlahan.


Hanya karena perhatian kecil ini, awalnya Vallerie berwajah kusut kini menjadi mulai ceria. Elliot agak terkejut karena perlakuan sederhana ini berhasil mengembalikan wajah ceria Vallerie seperti semula. Hatinya sedikit bermekaran, tanpa disadari tangan kanannya mengelus kepala Vallerie dengan senyuman hangat.


“Kamu menyebalkan! Kamu sedang sakit tapi kamu tidak memberitahukan kabarmu padaku! Sebenarnya aku bosan menunggu pesan darimu seperti biasa seharian ini.”


Tiba-tiba air matanya menetes di kelopak mata. Disimpulkan berasal dari lubuk hati yang tulus karena sangat mencemaskan keadaan tunangannya sepanjang hari. Sejenak Elliot mengusap air matanya dengan lengan jas, Elliot berpikir lagi, ia merupakan tipe pria paling benci jika berhadapan dengan seseorang tidak pernah memberikan kabar atau menyembunyikan sesuatu darinya. Maka dari itu, ia bertekad akan memberi pelajaran untuk calon istrinya karena telah mengabaikannya sepanjang hari seolah-olah seperti dikhianati.


‘Karena kamu adalah orang pertama melanggar janji, bersiaplah terima pembalasan kejam dariku!’


*****


Mendengar cerita singkat itu dari suaminya membuat mulut Vallerie semakin menganga dan melamun di tempat. Masih sulit memercayai suaminya yang selalu cuek saat itu bisa melakukan perlakuan manis di saat sibuk.


“Maaf, soal aku ketus selama ini juga akibat kamu mengingkari janjimu! Seandainya kamu memberitahukan kabarmu, aku pasti akan memperlakukan kamu lebih baik lagi.” Elliot menunduk bersalah.


“Bukankah sejak awal memang kamu terlahir selalu ketus?” Vallerie terkekeh.


“Aku memang selalu ketus, tapi berkat kesayanganku, sikapku menjadi lembut. Sejujurnya, aku tidak pernah bosan melihatmu menanyakan kabarku terus. Maka dari itu, sehari saja kamu tidak menanyakan kabarku, aku marah.”


Vallerie tersenyum simpul. “Pantesan saat itu aku cepat pulih berkat cinta darimu mampu menyembuhkan aku, terima kasih, Sayang.”


“Aku tidak mau seperti waktu itu bersikap kekanak-kanakan lagi. Aku bosan melihatmu menangis terus.”


Pada akhirnya Vallerie menampilkan senyuman penuh kebahagiaan merentangkan kedua tangannya lebar. Vallerie bermaksud ingin meminta suaminya memeluknya, tapi justru sekarang tubuhnya digendong sambil berputar girang.


“Aku tidak mau hanya memelukmu, tapi aku ingin menggendongmu juga. Aku ingin menggendongmu ke mana pun kita pergi tanpa ada orang lain mengganggu kita.” Elliot mencium hidung mancung Vallerie sekilas.


“Kalau aku memintamu menggendong sampai malam, kamu mau?”


“Demi kesayanganku, pasti aku mau dan suka melakukannya.”


Elliot dan Vallerie menautkan bibir mereka bersamaan, masih dalam kondisi menggendong erat, sepasang bibir melakukan pergerakan bibir dengan lembut melampiaskan energi cinta mereka sangat berlimpah.