
Bibit cinta dalam hati Elliot semakin bertumbuh pesat sejak adegan mesra yang mereka lakukan sepanjang malam. Akhirnya Elliot sudah mengetahui sifat kebusukan Rachel ingin menusuknya dari belakang. Namun, tetap tidak ingin dipermainkan terus karena sekarang ia memiliki wanita sangat istimewa dalam hidupnya.
Hari ini Vallerie sibuk membantu tim perancang busana mempersiapkan rancangan beberapa gaun yang akan dipersiapkan untuk festival catwalk yang akan diadakan beberapa bulan lagi. Karena Sofia sudah resmi dipecat Elliot, hidup Vallerie sedikit tenang. Tidak ada yang akan mengganggu lagi di saat bekerja, kecuali kakak iparnya.
Sedangkan di ruangan lain, Elliot mulai merasa bosan tidak ada yang menemaninya. Asistennya sedang sibuk bersama pegawai lain, pekerjaannya tidak terlalu banyak hari ini. Entah kenapa kedua kakinya ingin memasuki ruangan sebelah, yaitu ruangan istrinya.
Apakah hatinya sungguh menerima Vallerie sepenuhnya? Baru beberapa jam tapi sudah merindukan wajah cantik istrinya. Haruskah menahan rasa gengsi untuk sementara?
Rasanya ingin menggila jika hanya berdiam saja. Pada akhirnya Elliot memutuskan menemani istrinya di ruangan sebelah sampai hatinya kembali tenang.
Baru memasuki ruangan perancang busana eksekutif, sudah disambut wajah sedikit kusut dipancarkan Vallerie akibat merancang pakaian sedikit tergesa-gesa karena harus dipersiapkan secepatnya. Sejenak Vallerie meregangkan kedua tangannya dan menggerakkan leher terasa kaku akibat terlalu fokus pada buku sketsa selama berjam-jam. Bahkan tidak tahu kalau suaminya sedang mendatanginya sekarang.
Mengamati istrinya terlihat tidak berdaya karena kelelahan bekerja, dengan sigap Elliot melangkah menghampiri istrinya memasang tatapan cemas. “Vallerie, kamu istirahat dulu saja.”
Baru sadar suaminya mengunjunginya. Vallerie langsung tersenyum tipis, menyembunyikan rasa lelah supaya suaminya tidak terlalu cemas. “Aku belum lelah. Hanya saja, aku merasa bosan.”
“Jangan terlalu fokus bekerja! Nanti kamu sakit, aku semakin berdosa kalau kamu terlalu memaksakan diri!” Elliot menegur tegas, membuat Vallerie tertawa gemas mendengar ocehan suaminya.
“Kalau begitu aku sengaja bekerja keras sampai sakit, supaya kamu bisa merawatku.” Vallerie tertawa santai.
“Vallerie!”
“Aku kan harus berkontribusi supaya beban kamu berkurang. Pokoknya kamu cukup lihat hasil rancanganku saja.” Vallerie memperlihatkan beberapa hasil rancangan gaun sementara untuk sang direktur.
Tidak puas melihat rancangan gaun jika tidak menempel pada tubuh istrinya. Elliot menggenggam tangan kanan Vallerie, kemudian mereka menempati sofa sehingga bisa bermanja sepuasnya.
Sebenarnya Vallerie sedikit terkejut melihat tindakan suaminya tidak seperti biasanya membiarkan punggungnya bersandar di tubuh kekar itu dan menerima pelukan hangat tiba-tiba. Padahal biasanya mereka selalu sibuk mengurus pekerjaan sendiri di ruangan masing-masing. Apa yang merasuki pikiran Elliot?
“Aku bosan. Izinkan aku menetap di sini sampai jam makan siang.” Elliot membujuk memasang wajah memelas.
Justru Vallerie sangat menginginkannya tanpa perlu minta izin, mendengar bujukan itu membuat senyuman indahnya kembali terbit pada sudut bibir merahnya. “Aku pasti mengizinkannya. Aku juga bosan dari tadi tidak ada yang menemaniku.”
“Pundakmu pasti pegal karena menggambar terlalu lama. Tubuhku sudah siap menopang punggungmu supaya tidak terlalu kelelahan.” Elliot mengelus kepala Vallerie lambat laun sebagai wujud kasih sayang secara tidak langsung diberikan.
“Bagaimana dengan hasil rancanganku, apakah jelek di matamu?” Vallerie menunjuk salah satu sketsa gaun yang dirancang.
Sejenak Elliot memandangi halaman buku sketsa satu per satu. Hanya draft rancangan saja sudah membuat Elliot terpukau. Semakin percaya diri bahwa tidak salah memilih Vallerie sebagai perancang busana eksekutif perusahaan. Bahkan rasanya ingin mencium berkali-kali. Mungkin kalau ia sungguh melakukannya tiba-tiba sekarang, istrinya akan pingsan.
“Semua rancangan yang kamu gambar sudah bagus di mataku. Hanya saja aku ingin memberikan beberapa saran supaya terlihat lebih indah.” Elliot menatap istrinya sambil fokus juga pada buku sketsa.
“Saran apa?” Vallerie mengedipkan mata manja membuat Elliot tertawa gemas semakin mempererat pelukan sambil menggenggam buku sketsa.
“Mungkin motifnya sedikit dikurangi karena jika terlalu banyak motif, maka orang lain akan pusing melihatnya dan terkesan berlebihan. Tapi aku suka rancanganmu sangat indah.”
Vallerie tersenyum manja, tatapannya tidak terfokus pada buku sketsa miliknya, lebih memilih memandangi senyuman indah ditampilkan suaminya saat sedang memuji membuat hatinya semakin bermekaran.
“Terima kasih, Elliot. Apa yang kamu katakan tadi sama seperti sebelumnya.”
“Aku … pernah memujimu?”
“Sama persis seperti yang kamu lakukan dulu. Bedanya hanya di status pekerjaan kita saja.”
Embusan napas lesu tiba-tiba dikeluarkan dari mulutnya. Setiap kali Vallerie mengungkit persoalan masa lalu, entah kenapa hatinya masih tidak ingin menerima. Rasanya ingin egois menegur Vallerie tidak boleh mengungkit masa lalu dan fokus pada masa sekarang saja. Setiap Vallerie mengungkapkan cinta, Elliot ragu Vallerie mencintainya karena tindakan di masa sekarang, Elliot tahu Vallerie mencintainya karena perasaan cinta dari masa lalu masih terbawa sampai sekarang.
“Vallerie, sebenarnya aku ingin bersikap egois padamu. Tapi, aku cemas kamu akan sakit hati lagi karena perkataanku mungkin akan menyinggungmu lagi.”
“Tidak apa-apa. Kamu mau bicara apa?”
Jika dipikirkan kembali, mungkin bukan saat yang tepat membicarakan hal tidak penting ini. Elliot sengaja mengalihkannya dengan mengelus punggung tangan kiri Vallerie lambat laun.
“Lupakan saja. Aku tidak mau senyumanmu memudar lagi karena aku.”
Rasa penasaran justru semakin membara dalam diri Vallerie. “Tidak apa-apa, kamu–”
“Bagaimana kalau aku perlihatkan beberapa referensi model mantel yang sedang tren?” Dengan lincah Elliot menyerahkan ponsel miliknya memperlihatkan sample sketsa mantel.
Jempol kanan Vallerie bergerak lincah menatap beberapa referensi sample dengan fokus. Di tengah keasyikan mengamati sample, tiba-tiba muncul sebuah foto dirinya membuat tatapannya melotot. Elliot masih belum sadar apa yang dilihat istrinya sampai ekspresinya terkejut begitu.
“Sejak kapan kamu … menyimpan fotoku?”
Baru sadar! Elliot hendak merebut ponselnya, tapi gerakannya kalah cepat dengan istrinya. Tanpa sengaja Vallerie menekan tombol home sehingga layar ponsel kembali ke halaman utama. Sungguh di luar dugaan! Vallerie semakin tersentak melihat wallpaper yang dipajang di ponsel suaminya adalah foto pernikahan mereka. Vallerie tidak bisa menahan air matanya telah membendung di kelopak mata.
“Kamu jadikan foto pernikahan kita sebagai wallpaper ponselmu?”
“Kembalikan ponselku, Vallerie!” Elliot tidak mudah menyerah berusaha merebut ponselnya mengandalkan gerakan tubuh lincah.
“Biar kujelaskan–”
Pada akhirnya posisi tubuh mereka saling tumpang tindih. Tubuh Elliot terbaring di sofa, sedangkan dada Vallerie menempel di dada Elliot. Dua pasang mata saling melempar pandangan gugup, terutama netra gagah Elliot sudah tidak bisa menahan diri mengamati bibir merah yang jaraknya berbeda tipis dengan bibirnya. Vallerie menelan saliva gugup, berusaha mengendalikan rasa gugup melihat wajah menawan suaminya dengan jarak sangat dekat hingga ponsel suaminya terjatuh di sofa.
Perlahan Elliot memajukan bibirnya mendekati bibir istrinya tanpa keraguan. Tangan kanannya sudah bersiap menyentuh pipi istrinya, kini tinggal maju sedikit lagi sudah berhasil melakukan ciuman yang sangat diinginkannya.
Kruk..
Astaga! Rasanya Elliot ingin marah besar terhadap perutnya berbunyi di saat tidak tepat. Terpaksa ia kembali memundurkan kepalanya dengan raut wajah gugup. Sedangkan Vallerie agak kecewa ciuman mereka ditunda, tapi tidak masalah juga, karena jantungnya hampir saja meledak tadi kalau seandainya mereka sungguh berciuman.
“Kamu mau makan?” Elliot memalingkan mata.
“Pergi ke restoran dekat saja. Kasihan perutmu sudah lapar dari tadi.” Vallerie menjawab dengan nada gugup sambil memposisikan tubuhnya duduk sempurna.
Elliot dan Vallerie makan malam bersama keluarga Elliot di rumah besar milik keluarga Elliot. Sebenarnya Elliot penasaran kenapa ayahnya mengundang makan malam, padahal sebenarnya belum pernah. Apalagi ia tahu Erick sedang marah jika dilihat cara makan seperti ingin membunuh seseorang.
“Vallerie, ayah sangat bangga memiliki menantu cerdas seperti kamu. Kalau bukan kamu yang menangkap pegawai itu, mungkin perusahaan akan hancur dalam sekejap.” Ayahnya Elliot menuangkan segelas teh untuk Vallerie.
Vallerie menunduk merendah sambil menyelipkan beberapa helaian rambut ke belakang telinga. “Aku hanya melakukan kewajibanku saja bekerja di perusahaan ayah. Karena aku merasa ada sesuatu yang janggal, tidak mungkin aku membiarkan begitu saja.”
Erick sudah tidak tahan mendengar adik iparnya yang menjadi topik utama perbincangan makan malam. Sengaja menaruh sendok sedikit kasar di piring, sehingga semua orang langsung terfokus padanya.
“Ayah, sebenarnya ada hal penting yang ingin kusampaikan,” ucapnya dengan tatapan serius.
“Apa lagi?” Sang ayah menyahut bermalasan.
“Aku ingin menikahi Rachel.”
“Apa?!” Reaksi sang ayah dan ibu sangat syok mendengar nama wanita itu adalah wanita yang sempat akan dijodohkan dengan Elliot, tapi berakhir batal.
Sedangkan Vallerie dan Elliot terlihat biasa saja karena mereka sudah mengetahuinya sejak awal berkat aksi pengintaian di bar. Namun, mereka berpura-pura terkejut supaya terlihat alami mendengar kabar mengejutkan ini.
“Kakak bercanda? Kakak ingin menikahi Rachel?” Elliot meninggikan nada bicara memasang raut wajah polos.
“Rachel sebenarnya adalah pacarku sejak lama. Maka dari itu, saat kamu ingin kencan buta dengannya, aku sangat tidak setuju.”
“Lalu, kenapa kamu merahasiakan dari kami selama ini?” Sang ayah mengerutkan dahi melipat kedua tangan di dada.
“Habisnya ayah sangat mendukung Elliot berpacaran dengan Rachel. Di mata ayah, mungkin aku tidak cocok dengan Rachel.”
“Kalau kamu mau menikahi Rachel, silakan saja.” Elliot mempertegas langsung pada intinya sampai membuat semua orang terkejut, kecuali Vallerie sangat berbunga mendengarnya.
“Tapi, aku tidak akan menikahinya sebelum mencapai mimpiku. Aku sudah bekerja keras bertahun-tahun dari tingkat terendah sampai manajer. Kapan aku pantas mendapatkan posisi direktur, Ayah?” Erick membujuk, memasang wajah memelas rasanya ingin berlutut di hadapan sang ayah.
Namun, reaksi sang ayah di luar dugaan Erick. Sang ayah tidak menghiraukannya sibuk melanjutkan menyantap makan malam. “Kamu masih harus menunggu lagi. Belum waktu yang tepat kamu menjabat sebagai direktur keuangan.”
“Mau sampai kapan aku harus menunggu! Kenapa harus Elliot yang mendapatkan posisi direktur lebih awal?! Ayah lebih memercayai Elliot daripada aku?” Erick membentak sambil memukuli meja berkali-kali, tapi tidak terlalu kasar.
“Dilihat dari cara Vallerie menangani masalah dengan cepat, mungkin ayah akan menyerahkan posisi direktur untuk Vallerie juga.”
Bola mata Vallerie terbelalak. Sangat terkejut mendengar perkataan sang ayah mertua tidak terduga sampai tubuhnya kaku.
“Ayah!” Erick mulai kehabisan kesabaran melonggarkan lilitan dasi.
“Kamu harus belajar lebih banyak lagi kalau mau jadi direktur keuangan!”
Usai menghabiskan makan malam, Elliot, Vallerie dan Erick berpamitan kemudian keluar dari rumah mewah ini.
Saat Elliot ingin menggandeng tangan istrinya berjalan menuju mobil, dengan kasar Erick mencengkeram tangan kanan Elliot memasang tatapan seperti ingin membunuh.
“Gara-gara kamu, ayah jadi semakin tidak memercayaiku!”
Elliot melepas cengkeraman tangan Erick, lalu menarik lengan kemeja Erick sedikit kasar. “Aku muak lihat kakak selalu bersikap egois. Bahkan kakak berani sekali menyembunyikan hubungan kakak dengan Rachel! Untung saja aku tidak jadi menikahi Rachel. Mungkin kakak akan langsung membunuhku!”
“Memang rasanya aku ingin membunuhmu kalau kamu sudah kelewatan! Awas saja sampai mimpiku terhalang karena kamu dan istrimu!” Erick mendorong Elliot sehingga Elliot hampir tersandung.
“Jangan membawa nama Vallerie lagi! Kalau kakak ingin membunuhnya karena menghalangi mimpi kakak, hadapi aku dulu!” Elliot berlagak angkuh tersenyum sinis menantang Erick sambil mencolek lengan Erick.
Bukan terharu, tapi Vallerie semakin takut mendengar ancaman itu semakin terang-terangan. Tanpa disadari tangan kanannya terus menggenggam erat tangan kiri suaminya gemetaran.
“Siapa takut? Di mataku, kamu selalu jadi pengacau hidupku!” Erick menuturkannya tanpa segan.
Sebenarnya dalam hati Elliot, mendengar bentakan Erick membuat hatinya seperti terkena sayatan pisau berkali-kali. Dadanya semakin sesak, tapi berkat sentuhan cinta dari istrinya membuat hatinya sedikit lebih tenang.