Remarried My Husband

Remarried My Husband
Special Episode 4: Hamil?



Vallerie tersenyum sinis. Menghadapi para wanita licik adalah hal mudah baginya setelah menghadapi berbagai masalah jauh lebih berat. Meski Elliot berhasil berdebat dengan para wanita itu, Vallerie masih belum puas menindas terutama mengucapkan perkataan menohok berbeda jauh dari fakta.


“Jadi begini sikap kebusukan kalian sebenarnya. Untungnya suamiku lebih cerdas daripada kalian semua sejak dulu.” Kini giliran Vallerie berniat mengompori para wanita itu.


“Melihat foto ini saja sudah membuatku ingin muntah! Aku sangat berterima kasih pada kalian karena sudah menolakku. Hidupku sudah sangat bahagia menikahi satu wanita paling kusayangi dan sangat setia padaku.”


Sejenak tatapan Vallerie terfokus pada suaminya menampakkan senyuman manis, diberi sentuhan hangat tangan suaminya di kepalanya membuat semangatnya membara ingin melanjutkan aksi pembalasan terhadap para wanita yang pernah menindas suaminya.


Sorot mata Vallerie kembali terfokus pada para wanita, senyuman manis memudar menjadi berwajah dingin. “Sejak dulu Elliot hanya mencintai satu wanita yang sangat setia padanya. Daripada kalian selalu mempermainkan Elliot dari belakang, lalu sekarang kalian seperti mengemis ingin berbaikan. Aku jadi Elliot tidak akan mudah memaafkan kalian!”


“Mentang-mentang kamu sudah menjadi istri Elliot sekarang kamu berani menindas kami!” Wanita itu ingin menampar Vallerie, tapi langsung ditahan Vallerie sehingga pergelangan tangan wanita itu berbunyi akibat dicengkeram erat.


Bahkan Elliot sampai tercengang melihat aksi perlindungan yang dilakukan istrinya penuh cekatan. Padahal ia sudah bersiap ingin menahan tamparan itu, sekarang sudah cukup tenang melihat istrinya memang selalu kuat di matanya.


Vallerie memasang tatapan kejam memajukan kepala pada wanita itu. “Jangan pernah muncul dalam kehidupan Elliot lagi! Kalau kamu menindasnya lagi, aku tidak akan mengampunimu!”


Wanita itu tersenyum sinis. “Baiklah, aku menyerah. Lepaskan tanganku!”


Vallerie melepas cengkeraman tangan dengan kasar, lalu kembali bergandengan tangan dengan suaminya meninggalkan wanita itu.


“Kalian sudah menikah lumayan lama. Kenapa tidak ada kabar hamil?”


Langkah kaki Vallerie terhenti mendengar sindiran itu rasanya ingin menampar wajah wanita itu sampai puas. Tapi yang bisa dilakukannya adalah memasang wajah murung karena mengingat dirinya akan malu karena tidak hamil sama seperti kehidupan sebelumnya.


Elliot sudah tidak bisa menahan batas kesabarannya. Sejenak menolehkan kepala menghadap wanita itu. “Urusan istriku hamil atau tidak, bukan urusanmu! Sebaiknya kamu mengintrospeksi diri selama ini telah mengkhianatiku!”


“Kurang ajar!”


Elliot tidak peduli. Yang penting ia ingin berkencan dengan istrinya sekarang juga. Bukan melarikan diri karena dirinya pengecut, tapi baginya untuk apa berdebat dengan pengecut yang tidak pernah mengakui kesalahan.


Taman labirin ini sebenarnya tidak terlalu rumit dirancang. Terutama sepanjang labirin dihiasi lampu kelap-kelip memperindah suasana tempat kencan biasanya dikunjungi sepasang kekasih.


Suasana hati Vallerie kembali membaik memandangi keindahan taman labirin, matanya terus bersinar sambil mengayunkan tangan kanan suaminya, rasanya sudah tidak bersabar ingin menelusuri seluruh area labirin.


“Aku penasaran apakah kita akan tersesat atau tidak. Jika dilihat labirin ini lebih kecil daripada di film.”


Elliot tertawa gemas mengelus kepala istrinya. “Tidak apa-apa kalau tersesat. Justru bagus bagi kita supaya tidak ada seseorang mengganggu kita berkencan.”


Dibalas tawa bahagia pada akhirnya dikeluarkan Vallerie. “Baru pertama kali aku ingin tersesat.”


Elliot mengayunkan tangan istrinya semakin girang. “Teruslah berpegangan tangan padaku supaya kita tidak bisa dipisahkan.”


Sepanjang perjalanan menelusuri labirin, apa yang dilakukan sepasang suami istri ini masih bisa saling menatap bahagia, meski sebenarnya sekarang sepertinya mereka tersesat karena terlalu asyik menikmati permainan labirin beberapa menit. Labirin ini juga menyediakan fasilitas bangku taman sehingga mereka tidak perlu khawatir kaki pegal-pegal kalau terus berjalan.


Sejenak Vallerie mengajak Elliot menduduki bangku taman. Sedikit lelah juga karena memakai stiletto membuat kakinya pegal-pegal.


Saat Elliot ingin berinisiatif memijit kaki mungil istrinya, tubuhnya langsung dipeluk erat membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.


“Tidak perlu pijit kakiku. Aku sedang ngidam ingin memelukmu.”


Vallerie mengalihkan pandangan memandangi sekeliling taman labirin terlihat banyak ornamen-ornamen waterproof dipajang di dinding labirin maupun di atas meja. “Sepertinya kita sungguh tersesat. Aku sangat suka situasi seperti ini. Berdua bersamamu lebih leluasa apalagi tempat ini sangat indah.”


Kecupan manis mendarat di pelipis Vallerie. “Kalau kita tersesat sampai besok pagi? Aku lupa tadi kita berasal dari arah mana.”


“Justru aku suka kamu lupa arah!” Vallerie bertepuk tangan tertawa gemas.


Elliot dan Vallerie melepas tawa bahagia. Angin malam sepoi-sepoi, meski tubuh Vallerie sudah dibungkus jas mahal milik Elliot, tapi Elliot masih mencemaskan istrinya akan kedinginan. Bibir sexy mencium kening istrinya dengan penuh kehangatan cinta.


“Di mana pun kita tersesat, aku tidak pernah ketakutan. Berkat kamu yang selalu ceria di hadapanku, rasa takut itu tidak akan pernah timbul dalam diriku.”


Vallerie mengecup hidung suaminya. “Aku juga tidak pernah takut sejak kamu menemaniku. Entah aku ditindas atau tersesat, asalkan ada kehadiranmu, aku berhasil menjadi wanita pemberani.”


Sejenak Elliot berdiri tegak mengulurkan tangan kanan, memandangi area yang mereka tempati sekarang cukup luas dan hiasannya sangat indah mendukung mereka melakukan hal lebih romantis. “Sebenarnya di tempat seperti ini sangat cocok untuk berdansa. Maukah kamu berdansa denganku?”


Vallerie tertawa bahagia sambil berdiri dari bangku menggenggam tangan kanan suaminya. “Aku suka. Sejak dulu sulit sekali berdansa denganmu di tempat sepi begini.”


“Aku juga sengaja mengajakmu ke sini supaya kita berdansa sepuasnya. Aku malas berdansa di dalam, karena banyak wanita lain pasti akan mengincarku.”


Vallerie mengelus punggung tangan suaminya. “Kita masih ada utang dansa saat di taman waktu itu.”


“Sebelum itu, aku mau putar musik romantis kesukaan kita di ponselku.” Elliot mengambil ponsel dari saku jasnya lalu memutarkan sebuah instrumen romantis berjudul “Loving You - Kenny G” untuk mengiringi dansa mereka.


Elliot mengecup punggung tangan Vallerie sekilas. Kemudian mereka memposisikan tubuh mereka berdiri saling berhadapan sambil melingkarkan lengan mereka pada tubuh satu sama lain. Perlahan dengan kompak menggerakkan kaki kanan berirama mulai berdansa di tengah kesunyian labirin. Sepasang mata saling berpandangan bahagia sambil berdansa berputar-putar mengikuti irama instrumen masih berlangsung.


Langkah kaki mereka terhenti seketika iringan musik berakhir, lalu berciuman manis sebagai penutup dansa malam ini penuh kebahagiaan karena mereka bisa berdansa sepuasnya tanpa ada yang ganggu.


Saatnya kembali ke dunia realita mengurus pekerjaan berkaitan dengan proyek besar yang akan diselenggarakan dua bulan lagi.


Karena Elliot dan Vallerie terlalu lama berbulan madu, sekarang pekerjaan mereka sedikit bertumpuk sehingga mereka jarang berkencan saat jam makan siang akibat terlalu fokus mengurus pekerjaan. Kalau mengandalkan Jordan dan Aria menggantikan pekerjaan mereka sepertinya mustahil, karena Aria dan Jordan hanya asisten pribadi, sedangkan yang tahu prosedur proyek secara detail hanya Vallerie dan Elliot.


Dalam waktu dekat ini, Elliot dan Vallerie merencanakan hasil yang didapatkan Sofia selama ini sudah disita di rekening rahasia Vallerie, akan dipergunakan untuk memberikan beasiswa pada anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka mengadakan rapat bersama Erick dan beberapa petinggi perusahaan mendiskusikan rencana proposal yang mereka telah susun.


Ide mereka sebenarnya terinspirasi dari kehidupan mereka di masa lalu dan juga Jordan yang ingin menempuh studi lebih lanjut di luar negeri tidak bisa, karena situasi keuangan tidak memungkinkan membayar biaya pendidikan lebih lanjut yang harganya relatif mahal.


Mendengar presentasi proposal yang disajikan Elliot dan Vallerie, orang pertama yang memberikan respons positif adalah Erick. Erick berdiri di antara semua petinggi perusahaan termasuk ayahnya memberikan tepuk tangan meriah.


“Ide kalian bagus. Dengan begini, anak-anak zaman sekarang akan diberikan kesempatan menempuh pendidikan mereka lebih tinggi lagi dan meningkatkan kreativitas mereka di masa mendatang.” Erick tersenyum puas mengacungkan jempol kanan.


“Kita bisa berkolaborasi dengan Sunshine High School karena setiap mereka adakan acara besar, kita selalu menjadi salah satu sponsor utama mereka.” Elliot melanjutkan presentasinya sambil memainkan senter laser merah mengarahkan pada proyektor.


Cukup lama mengadakan rapat, akhirnya mereka sedikit bisa bersantai, meski Vallerie harus bertanya mengenai progress pekerjaan pada tim perancang busana untuk pameran yang akan diselenggarakan di pusat perbelanjaan. Keuntungan dari menyaksikan Paris Fashion Week saat bulan madu, ada ide cemerlang di pikirannya terkait rancangan busana yang akan didistribusikan sesuai trend masa sekarang. Vallerie tidak bermaksud menjiplak hasil karya orang, justru Vallerie mengembangkan desain busana lebih indah dari yang diperagakan saat acara fashion show waktu itu.


Di tengah rapat bersama tim perancang busana, Vallerie merasakan perutnya tercampur aduk sehingga hampir saja memuntahkan seisi perutnya di hadapan para pegawai. Untungnya Vallerie masih bisa menahannya, tapi Aria sangat mencemaskannya sampai tangan kirinya terus merangkul pundak atasannya.


“Vallerie, kamu tidak enak badan?”


“Aku … baik-baik saja. Hanya perutku sedikit tidak enak.” Vallerie terus membungkam mulutnya menggunakan telapak tangan.


Sejenak Aria menatap beberapa pegawai tim perancang busana juga mencemaskan kondisi kesehatan atasannya memburuk akibat bekerja terlalu kelelahan. Aria merasa tidak enak pada semua rekan kerjanya, sekarang giliran ia yang menggantikan posisi Vallerie memimpin rapat.


“Rapat hari ini sampai di sini dulu saja. Kalian semua bisa kembali bekerja.”


“Jaga kesehatan, Bu Vallerie. Kami sangat mencemaskan kondisi kesehatanmu karena belakangan ini terlalu bekerja keras.” Salah satu pegawai menatap Vallerie dengan tatapan cemas.


“Urusan pekerjaan, kami siap membantu.” Pegawai lainnya mengucapkannya penuh semangat.


Vallerie menatap ekspresi wajah semua pegawainya penuh ambisi, melegakan hatinya karena sejak hidup di dunia ini, ia dikelilingi pegawai yang sangat memedulikannya meski permasalahan kecil tidak berkaitan dengan pekerjaan.


Dibandingkan di kehidupan sebelumnya, hampir sebagian besar rekan kerjanya membencinya karena terpengaruh perkataan hasutan Sofia yang membuat Vallerie mengalami stress di masa itu bersama Aria. Untungnya Elliot selalu menemani Vallerie setiap saat sehingga rasa stress itu menghilang.


Vallerie menyingkirkan telapak tangan menghalangi bibirnya ingin terbuka. “Terima kasih sudah mencemaskanku. Terkadang aku masuk angin jika cuaca di luar agak dingin.”


Setelah semua pegawai meninggalkan ruang rapat, akhirnya Vallerie langsung berlari cepat menuju kamar kecil tanpa didampingi Aria, kemudian memasuki toilet khusus VIP, berusaha memuntahkan seisi perutnya.


Sebenarnya sudah beberapa kali Vallerie merasa mual tiba-tiba setiap pagi atau sedang bekerja, hanya saja Vallerie sengaja tidak mau memberitahukan suaminya mengenai kondisi kesehatannya. Karena tidak mau suaminya mencemaskannya berlebihan sampai merelakan pekerjaan.


Merasa sedikit lebih enak, Vallerie berjalan perlahan menuju wastafel mencuci mulutnya sedikit kotor akibat muntah. Vallerie berpikir sejenak mengenai kondisinya belakangan ini memang sedikit aneh, jika dibilang hanya masuk angin akibat kelelahan bekerja. Padahal di kehidupan sebelumnya, pekerjaannya jauh lebih berat tapi masih terlihat sehat.


Entah kenapa Vallerie memiliki firasat bahwa sekarang dirinya yang menyusul kakak iparnya sedang hamil. Kemarin sempat beli alat testpack diam-diam tanpa sepengetahuan suaminya. Hanya Aria yang tahu karena Aria menemani Vallerie membeli testpack. Belakangan ini Vallerie juga selalu ngidam ingin makan makanan asam manis, memang itu salah satu makanan favoritnya tapi entah kenapa belakangan ini sangat menginginkannya berlebihan.


Vallerie berjalan perlahan keluar dari kamar kecil sambil mengusap bibirnya, baru menginjak kaki keluar langsung disambut tatapan cemas suaminya.


Elliot langsung memeluk tubuh Vallerie erat sampai membuat Vallerie sedikit tersentak. Entah bagaimana Elliot bisa tahu keberadaan istrinya sekarang. “Aku sangat mencemaskanmu, Sayang. Aria melaporkan padaku tiba-tiba kamu bertingkah aneh selama rapat.”


Rasanya Vallerie ingin mencubit Aria karena memang bibir Aria terkadang ember selalu melaporkan hal tidak penting. “Aku baik-baik saja, perutku memang sedikit tidak enak akibat masuk angin.”


“Bohong! Sebenarnya saat rapat proyek CSR, aku melihat wajahmu pucat! Tidak hanya itu saja, belakangan ini kamu terlihat mual terus hampir setiap pagi.”


Perlahan Elliot melepas pelukan, kemudian tangannya menggandeng tangan kiri istrinya dengan tatapan sendu. “Sebaiknya kita lanjutkan pembicaraan kita di dalam ruanganmu saja. Ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu.”


Udara AC di dalam ruangan sangat dingin efek dari hujan deras guyur di luar gedung. Sekarang Vallerie dan Elliot duduk bersebelahan di sofa dengan jarak sedikit berjauhan karena firasat Vallerie mengatakan ia akan dimarahi habis-habisan karena membohongi suaminya persoalan masalah kesehatan.


Sebenarnya Elliot tidak bermaksud galak, entah kenapa istrinya belum apa-apa sudah terlihat canggung. Perlahan Elliot menggeserkan tubuhnya mendekati istrinya sedikit berwajah cemberut, tangan kanannya membelai rambut indah istrinya lambat laun memasang tatapan cemas.


“Kamu tidak perlu takut. Aku tidak akan membentakmu, tapi aku ingin menanyakan persoalan kondisi tubuhmu belakangan ini tidak seperti biasa yang membuatku cemas.”


“Habisnya nada bicaramu tadi mulai ketus. Aku takut kamu sungguh memarahiku karena aku menyembunyikan kondisiku seolah-olah aku terlihat sehat.” Vallerie memasukkan helaian rambut ke belakang telinga dengan malu.


“Porsi makanmu lebih banyak dari biasanya, kamu selalu mengajakku makan di restoran yang menjual menu makanan daging panggang saus asam manis dan kamu mual. Kamu hamil?”


Vallerie membelalakan mata dan mulutnya terbuka lebar. Tidak disangka suaminya sangat peka terhadap pikirannya, padahal belum melakukan tes menggunakan testpack.


Elliot tersenyum santai sambil mengelus perut istrinya. “Ada bayi kita di dalam perutmu. Nanti aku akan belikan testpack untukmu supaya besok pagi kamu bisa tes.”


Vallerie cemas hasilnya tidak akan sesuai ekspektasi mereka. Nantinya akan mengecewakan suaminya karena sudah terlanjur senang mereka memiliki anak di kehidupan sekarang.


Vallerie menghembuskan napas lesu, tatapannya sedikit sendu menatap suaminya masih tersenyum bahagia tidak sabar menantikan hasil tes akan seperti apa besok. “Sebenarnya aku sudah beli testpack kemarin saat kamu sibuk rapat. Tapi, kalau hasilnya tidak sesuai dugaanmu, kamu akan memarahiku? Jangan terlalu senang dulu! Nanti kamu sungguh kecewa seolah-olah aku memberikan pengharapan palsu untukmu.”


Elliot menggeleng pelan, lengan kekarnya mendekap tubuh istrinya erat sambil mengusap kepala istrinya dengan lembut. “Meski hasil tes tidak sesuai dugaanku, tapi aku masih memiliki kamu. Berarti belum saatnya kita memiliki anak seperti di masa lalu. Sudah kukatakan sebelumnya, tidak memiliki anak tidak masalah, asalkan aku memiliki kamu yang selalu mendampingi hidupku, aku sangat bahagia.”


Bisa jadi hasilnya akan sesuai ekspektasi mereka. Hidung tajamnya terus mengendus aroma tubuh suaminya sangat harum baginya, meski orang lain mungkin akan beranggapan tidak ada aroma spesial dalam tubuh Elliot. Entah kenapa Vallerie semakin ingin bermanja dengan suaminya dan bersikap egois tidak akan melepas pelukan erat ini.


“Aroma tubuhmu sangat wangi. Aku suka.”


Elliot tersenyum bahagia sambil mengecup daun telinga istrinya sekilas. “Hidungmu tidak salah? Padahal aku tidak memakai parfum berlebihan.”


“Entah kenapa aku sangat menyukai tubuhmu. Aku ingin—”


“Kamu ingin aku terus memelukmu?” Elliot semakin memajukan kepala.


Vallerie menggeleng langsung melepas pelukan. “Tidak mau. Kamu harus rapat bersama yang lain.”


“Urusan rapat aku bisa menunda sepuluh menit. Tenang saja, mereka semua pasti mengerti.” Elliot memasang wajah memelas mengelus pipi istrinya.


Sejenak Vallerie melipat kedua tangan di depan dada, jika hanya sepuluh menit saja, apa boleh buat mungkin ia bisa pergunakan dengan baik daripada terus gelisah setiap tidak ditemani suaminya.


“Sepuluh menit saja!”


Tidak puas hanya berpelukan, Elliot mendaratkan bibirnya pada bibir mungil Vallerie selama beberapa detik, tatapan Vallerie melotot langsung memundurkan kepalanya, tapi ditahan suaminya.


“Aku habis muntah, nanti bibirmu bau.”


“Tidak masalah. Aku memang sengaja memberikan obat penghilang mual spesial dariku supaya kamu tidak mual lagi.”


Kali ini Elliot membaringkan tubuh mereka di sofa dalam kondisi berpelukan mesra.


‘Tidak salah lagi, kamu hamil Vallerie.’