Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 63: Pelampiasan Dendam Terpendam



Di sisi Elliot sebelumnya mengatakan firasat buruk mengenai istrinya sungguh diculik tanpa sepengetahuannya. Padahal kejadian sesungguhnya berbeda jauh. Apa yang dilakukan Vallerie kini berada di salah satu Kafe agak terpencil mengadakan pertemuan pribadi dengan Bertrand. Apalagi dilihat situasi Kafe tidak ada pengunjung sama sekali, Vallerie sudah bisa menebak tujuan Bertrand mengadakan pertemuan tiba-tiba untuk apa.


Dalam hati Vallerie terus meminta maaf, dosa besar yang kali ini diperbuat berbohong pada suaminya terang-terangan bermaksud melindungi nyawa suaminya. Sebenarnya Vallerie ingin menceritakan rencana yang dibuatnya, tapi cemas suaminya justru yang akan menghancurkan rencana itu karena kecemasan nyawa mereka akan melayang kedua kali.


Vallerie juga sengaja menolak panggilan telepon suaminya beberapa kali dan mematikan ponselnya supaya suaminya tidak bisa melacak keberadaannya melalui aplikasi pasangan yang bisa melacak GPS. Tebakannya pasti sekarang suaminya sangat panik mencarinya ke mana-mana. Lebih baik begini daripada nyawa terancam lagi berhadapan dengan musuh terbesar.


Sebenarnya ekspresi wajah Bertrand sedikit bingung melihat wanita yang duduk berhadapan dengannya adalah tamu tidak undang. Entah kenapa Vallerie bisa mengetahui aktivitasnya diam-diam.


Bahkan Vallerie masih terlihat santai menyesap kopi sambil menyilangkan kaki dengan anggun.


“Kamu tidak terkejut aku mendatangimu tiba-tiba?” Vallerie sengaja membuka perbincangan berbasa-basi daripada perbincangan sangat canggung jika langsung berbicara pada intinya.


Bertrand tertawa remeh sambil menyesap kopi sejenak. “Aku mengajak pacarku berkencan. Kenapa justru kamu yang muncul? Bagaimana kamu tahu aku akan kencan di Kafe ini?”


Vallerie tertawa kikuk, bertepuk tangan gaya angkuh. “Carla tidak bisa berkencan denganmu. Jadinya, aku menggantikan dia sekarang.”


“Apa?” Alis Bertrand terangkat sebelah.


“Aku hanya bercanda. Aku sudah menikah, mana mungkin kencan dengan pria lain. Cukup memiliki satu pria yang paling kusayangi, hidupku sangat bahagia.”


Vallerie sengaja melontarkan perkataan itu bermaksud memancing reaksi Bertrand akan seperti apa. Dilihat raut wajah Bertrand semakin terlihat sisi kejamnya, Vallerie sangat bersemangat ingin meluapkan semua apa yang dipendamnya selama ini.


“Iya, mustahil kamu ingin berkencan denganku. Kamu sudah punya suami sedangkan aku sudah punya Carla.” Bertrand menggesekkan tangannya gugup.


“Tujuanku menemuimu sekarang adalah aku hanya ingin berbincang santai saja. Jangan dianggap serius!”


“Jadinya, kamu yang menanyakan hal ini pada Carla atau kamu mendapatkan informasi dari Carla bahwa aku akan berkencan dengannya hari ini?”


“Bisa dikatakan dua pilihan itu memang benar. Awalnya aku menanyakan Carla soal apakah aku bisa bertemu denganmu di hari libur. Lalu, dia menjawab sebenarnya hari ini kamu mengajaknya berkencan, sedangkan dia tidak bisa. Maka dari itu, aku menggantikannya sekarang. Daripada kamu sudah bersusah payah ke sini tapi membawa tangan kosong.” Vallerie mulai bersandiwara sesuai skenario yang sudah dirancangnya beberapa detik lalu.


Bertrand masih belum mencurigai apa yang akan dilakukan Vallerie. Yang ada di pikirannya hanya ingin menggunakan kesempatan menghabiskan waktu bersama wanita yang sempat disukainya di hari libur. Persoalan Carla, ia melupakan sejenak karena baginya Carla hanya pengganti Vallerie.


“Aku tidak masalah alasanmu seperti apa. Terima kasih sudah mendatangiku sekarang.”


Senyuman sinis tiba-tiba terbit pada sudut bibirnya. Sesi basa-basi berhasil membuat pikiran Bertrand teralihkan. Saatnya memulai misi rahasianya menjatuhkan musuh terbesarnya. “Ada satu hal yang masih aku cemaskan dan masih penasaran sebenarnya. Kenapa kamu menganggap Carla adalah teman terdekatmu saat kita bertemu di restoran waktu itu?”


Ekspresi wajah Bertrand bukan gugup, tapi lebih cenderung santai seolah-olah memang tidak tahu apa pun membuat darah Vallerie mulai mendidih. “Karena saat itu aku gugup. Jadinya, aku salah bicara. Habisnya wajar kalau bertemu pacarku dan wanita yang sempat kusukai saat bersamaan, pasti sangat canggung.”


Seandainya ada teko raksasa berisi air panas, mungkin Vallerie akan menyiram wajah Bertrand sampai melepuh. Vallerie terus mengumpat dalam hati, tapi ekspresi wajahnya sekarang masih terlihat profesional saat masih menjalankan misi.


“Bukankah kamu lebih cenderung masih mencintaiku dan menganggapnya sebagai boneka penggantiku, jadinya kamu menganggapnya sebagai teman terdekat saja?” sindir Vallerie mulai menajamkan tatapannya.


“Sepertinya kamu salah paham—”


Vallerie berdecak kesal sambil mengibaskan rambut panjang. “Aku masih belum mengerti. Kenapa kamu sangat terobsesi denganku? Padahal Carla juga wanita baik di mataku. Kenapa kamu selalu menyakiti perasaannya?”


Sementara Elliot sedang mengendarai mobilnya dengan panik masih dalam pencarian istrinya menghilang tiba-tiba. Ia terus membuat panggilan telepon, tapi usahanya tidak membuahkan hasil. Tidak hanya itu juga, ia mencoba membuka aplikasi pasangan itu melacak istrinya tapi tidak terdeteksi. Saat bersamaan, muncul nama Carla di LCD dasbor mobil. Dengan sigap langsung mengangkat panggilan telepon.


“Carla, apa Vallerie bersamamu?”


“Vallerie sekarang sedang bertemu Bertrand.”


“APA?!” Elliot langsung mengerem mobil sedan tiba-tiba di tepi jalan.


“Sebenarnya Vallerie memaksa aku meminta alamat pertemuannya. Awalnya aku tidak mengizinkannya, tapi dia terus memaksa karena ada sesuatu yang ingin dilakukannya.”


“Di mana alamatnya?”


“Aku akan kirimkan alamat lengkapnya melalui pesan singkat. Aku tutup telepon dulu.”


Panggilan telepon berakhir. Elliot mengatur navigasi menuju Kafe tempat pertemuan itu. Kemudian melajukan mobil dengan kecepatan penuh menyelamatkan istrinya dalam bahaya.


Situasi di Kafe mulai mencekam. Bertrand mulai tidak bisa berkata-kata mendengar pertanyaan jebakan dilontarkan Vallerie tiba-tiba. Apalagi memang kenyataannya sempat menyiksa Carla, mustahil kalau berbohong tapi sudah tertangkap basah.


Wajah Bertrand masih terlihat sedikit datar dan sedikit mengangkat kaki kiri. “Carla salah paham. Memang beberapa kali pikiranku kacau jadinya aku tidak sengaja menyakiti perasaannya.”


“Tidak sengaja? Ha! Aku punya bukti kamu pernah menyakitinya secara fisik. Tidak kusangka, orang yang sangat aku percayai selama ini menggunakan tangan kotor menyiksa seorang wanita, apalagi kekasih sendiri karena masalah sederhana.”


Vallerie mengeluarkan alat recorder kemudian memutar rekaman perbincangan Bertrand dan Carla. Wajah Bertrand semakin pucat mendengar dirinya sendiri berkata kasar sampai sempat menyiksa Carla. Sudah tidak bisa menyangkal menggunakan alasan lain, salivanya sulit ditelan dan langsung memalingkan pandangan.


Bertrand terus menggeleng gugup. “Saat itu aku sungguh tidak sengaja melakukannya. Aku sedang mabuk jadinya aku kehilangan akal sehat.”


“Pembohong! Carla bilang kamu tidak mabuk. Saat dia baru mengunjungimu, kamu masih bersikap seperti orang normal. Hanya karena dia tidak bisa merayakan ulang tahunmu, kamu tidak menerimanya. Pria berengsek!” Vallerie memukuli meja sedikit kasar menakuti Bertrand.


Embusan napas kasar dikeluarkan dari rongga mulut, Bertrand mengepalkan kedua tangan di atas meja. “Sebenarnya kenapa kamu berbuat kejam padaku tiba-tiba? Padahal selama ini aku selalu berbuat baik padamu.”


“Sebulan yang lalu aku hampir diperkosa seorang pria asing di kamar hotel. Kamu yang memerintahkannya?”


“Bukan aku!” Bertrand menggeleng cepat.


Vallerie mengeluarkan ponsel memutar rekaman perbincangan salah satu kenalan Whitney merupakan seorang detektif wanita sedang menginterogasi pelaku yang ingin memerkosa Vallerie.


“Siapa dalangnya?” selidik detektif itu.


“Bukan saya. Ampuni saya.”


Terdengar suara detektif itu membanting buku catatannya di meja. “Tidak ada kata pengampunan terhadap penjahat yang ingin memerkosa seorang wanita. Tidak peduli Anda hanya kaki tangan, hukum tetap mengatur Anda membusuk di jeruji besi! Jika Anda terus membantah, justru hukuman Anda akan ditambahkan karena menyembunyikan dalang sebenarnya, apakah Anda berminat?”


“Bertrand adalah pelakunya! Saya hanya menjalankan perintahnya melayani wanita lajang.”


Sejenak Vallerie menghentikan rekaman itu setelah mengungkapkan inti utama permasalahan. “Beraninya kamu memerintahkan seseorang melecehkan aku!”


Vallerie meneguk secangkir kopi mulai dingin dengan amarah meledak, baginya perang masih belum terselesaikan. Kali ini ia mengeluarkan sejumlah bukti mengenai para anak politikus yang bermain kotor dengan Bertrand.


“Selain melecehkan aku, kamu juga mencari wanita lajang untuk melayani para pria berengsek ini setiap malam. Mereka sudah ditangkap polisi kemarin dan mengaku kamu ada hubungannya dengan mereka. Bahkan kamu tidak pantas dianggap manusia setelah melakukan perbuatan mengejikan ini!”


“Sialan!” Bertrand memukul meja berkali-kali.


Tidak mau terlihat lemah, Vallerie menendang kaki Bertrand sekuat tenaga. “Mengumpat terus saja. Akhirnya aku bisa melihat sikap aslimu sesungguhnya. Selama ini kamu memakai topeng di hadapanku supaya aku bisa jatuh cinta padamu.”


Perlahan Vallerie beranjak dari kursi kemudian memajukan bibirnya mendekati daun telinga Bertrand. “Aku tidak pernah menyesal menolak cintamu. Untungnya aku tidak pernah menjalin hubungan asmara dengan pembunuh seperti kamu!”


Batas kesabaran Bertrand mulai habis. Vallerie kembali menempati kursi di hadapan Bertrand, melanjutkan perbincangannya masih belum selesai.


“Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku? Kenapa kamu sampai memeriksa latar belakangku?!” Kali ini raut wajah Bertrand terlihat seperti seorang pembunuh ingin menampar wajah Vallerie.


“Menyerahkan diri di kantor polisi. Semua kejahatan yang kamu lakukan selama ini sudah terbukti!”


Bertrand tertawa sinis menunjuk wajahnya dengan jari telunjuk. “Aku? Jangan harap! Aku tidak membunuh orang dan justru orang-orang itu yang memerintahkan aku melakukannya!”


Tiba-tiba Elliot menerobos masuk Kafe ini membuat percakapan terputus. Terutama tatapan Vallerie melotot entah bagaimana suaminya bisa menemukan keberadaannya padahal memang sengaja dirahasiakan.


“Bagaimana kamu bisa menemukan aku, Sayang?” sambut Vallerie menatap bingung.


“Kamu sungguh membuatku takut tadi! Tiba-tiba kamu meninggalkan aku di tengah kencan kita.” Pelukan Elliot sangat erat membuat Vallerie sedikit sesak napas, sebenarnya tatapan Elliot tertuju pada penjahat masih tersenyum iblis, membuat dirinya juga mengamuk ingin menghajar habis-habisan.


Elliot melepas pelukan sejenak, lalu menunjuk-nunjuk Bertrand. “Awas saja sampai kamu melukai Vallerie!”


“Lebih cenderung istrimu yang menindasku atas bukti konyol yang didapatkannya!” Bertrand menarik tangan Elliot, Elliot langsung melepas cengkeraman tangan Bertrand.


“Apa? Dasar keparat! Setelah mempermainkan para wanita, kamu berani berkata bukti yang kami dapatkan adalah bukti konyol!” Tangan kanan Elliot terkepal kuat langsung melayangkan kepalan tangannya ke arah pipi Bertrand.