
Tamu tidak terduga itu adalah Rachel, wanita licik sempat dijodohkan dengan Elliot. Suasana hati Vallerie semakin memburuk seketika mengamati wanita yang sempat mengomporinya beberapa bulan lalu sedang apa mendatangi Elliot tiba-tiba. Apalagi penampilan Rachel terlihat sangat sexy, sedangkan penampilan Vallerie memakai pakaian kerja formal elegan, Vallerie cemas suaminya akan mudah tergoda hanya karena penampilan Rachel sangat menggoda.
Saat bersamaan, ada sebuah notifikasi pesan muncul di layar ponsel Vallerie. Pesan itu dari sahabat terdekatnya bernama Whitney ingin mengajak makan siang bersama. Namun, karena situasi tidak memungkinkan, terpaksa ia membalas pesan itu berkata bahwa ia akan menunda makan siang dulu sampai urusan selesai. Urusan itu adalah mengusir wanita ini dari hadapan Elliot.
Awalnya Elliot ingin mencoba meminta maaf pada istrinya, sekarang dihadapi satu beban. Terpaksa mengurungkan niat sejenak demi menyelesaikan masalah ini. Elliot tidak takut pada Rachel sama sekali, terutama memang suasana hatinya memburuk akibat berdebat dengan pegawai justru membawakan keberuntungan baginya untuk memperlakukan Rachel kasar sampai kapok.
Dengan mengangkat kepala angkuh melangkah arogan mendekati wanita licik itu menatap menyeringai. “Aku tidak memanggilmu ke sini! Kenapa kamu mengunjungiku tiba-tiba?!”
“Aku hanya ingin mengucapkan selamat secara langsung atas pernikahanmu.” Tangan kanan Rachel seperti ingin meraba pundak Elliot.
Elliot langsung menghindari gerakan tangan Rachel, kemudian tangan kirinya menggenggam tangan Vallerie secara spontan. Entah kenapa tangannya ingin bermanja dengan tangan istrinya di situasi mencekam ini, akibat beberapa potongan ingatan kembali.
“Bukankah kamu menghadiri acara pernikahanku saat itu? Aku tahu kamu ke sini ada tujuan lain. Cukup basa-basinya, Rachel! Aku sangat muak!”
Rachel tertawa seperti setan, dengan tatapan elang memelototi Vallerie dan Elliot seolah-olah ingin membunuh dua orang sekaligus. “Sebenarnya aku masih penasaran dengan hubungan kalian. Saat itu, istrimu mendatangimu di kamar hotel. Tapi, anehnya aku tidak pernah melihat kamu bersamanya. Jangan-jangan, kamu menjalani hubungan satu malam dengannya?”
Darah Elliot semakin mendidih seketika mendengar dirinya dan istrinya dihina dengan perkataan murahan itu. Meski selama ini ia selalu kesal terhadap Vallerie, tapi ia lebih memilih membela Vallerie daripada siapa pun. Karena, hanya Vallerie yang bisa membuatnya tersenyum seperti saat bulan madu. Ia juga teringat potongan ingatan memperlihatkan dirinya membela istrinya terang-terangan, tidak peduli kena tamparan.
“Mau menghinaku silakan, tapi jangan menyeret nama istriku ke dalam masalah ini!”
Deg..
Hati Vallerie tersentuh dan meleleh dalam sekejap, seketika mendengarkan ungkapan sangat langka akhirnya diucapkan secara lantang dari bibir sexy Elliot yang selama ini selalu bicara ketus. Senyuman tipis kembali terukir pada wajahnya, tapi permasalahan tadi rasanya masih sulit memaafkan suaminya karena hatinya sudah terlanjur sesak.
Alis Rachel terangkat sebelah. Ia masih belum memercayai perkataan Elliot terkesan hanya karangan indah. “Kamu sungguh mencintai istrimu?”
“Iya, aku sangat mencintainya. Jangan pernah ikut campur urusanku lagi!”
“Tapi, kenapa kamu masih ingin berkencan denganku beberapa kali? Berarti bisa disimpulkan justru kamu berselingkuh darinya?” Rachel berkacak pinggang sambil menatap Vallerie dengan tatapan menusuk sekilas.
Kedua tangan Elliot terkepal kuat dan matanya memerah. Hatinya terasa tercabik-cabik, cemas Vallerie akan salah paham karena perkataan Rachel semakin mengompori mereka sekarang.
“Dasar wanita murahan!” umpat Elliot.
“Apa? Beraninya kamu!”
Tangan kanan Rachel hampir mendarat di pipi Elliot, tapi ditahan langsung oleh Vallerie dengan cengkeraman erat sampai pergelangan tangan Rachel memerah dan meringis kesakitan.
Batas kesabaran Vallerie sudah habis. Melihat suaminya diperlakukan kasar, sudah pasti membuatnya marah besar, meski sempat dibentak. Elliot tetap suaminya, sudah pasti sekarang giliran ia menindas Rachel demi melindungi suaminya supaya tidak diganggu lagi seterusnya.
“Lepaskan aku! Kamu tidak ada bedanya denganku juga! Suamimu masih tidak tahu kamu itu wanita murahan sebenarnya!” Rachel menjerit membuat seisi ruangan bergema.
“Aku murahan? Ha! Haruskah aku membawakan cermin besar untukmu? Oh ya, perusahaan kami memiliki banyak cermin, seharusnya saat hari pernikahan kami waktu itu, khusus kamu diberi souvenir cermin. Sebelum berbicara, sebaiknya berkaca dulu.” Vallerie tersenyum sinis sengaja mencengkeram pergelangan tangan Rachel lebih kuat.
“Apa? Haruskah aku menamparmu dulu supaya kamu sadar dengan ucapanmu itu?!” Rachel berusaha melepas cengkeraman tangan Vallerie, anehnya tidak biasanya tenaganya kalah dengan wanita lain.
“Aku dan Elliot sudah saling mencintai sejak lama. Memang kamu belum pernah melihatku karena Elliot yang memutuskan ingin menyembunyikan hubungan kami. Karena dia merasa tidak nyaman kalau orang lain selalu menggosipkan hubungan asmara kami.”
Senyuman tipis menghiasi wajah tampan Elliot. Sekarang giliran hatinya terngiang-ngiang menyaksikan aksi pembalasan istrinya terhadap musuhnya sangat mengagumkan di matanya.
“Hanya aku yang bisa membuatnya tersenyum. Kamu bahkan gagal membuatnya bahagia, kamu tidak pantas menikahinya sejak awal! Lihat saja, setiap ada orang menindas suamiku, aku pasti akan melindunginya!” Vallerie mengangkat kepala mendekati wajah Rachel.
“Dasar kamu!!”
Hampir saja pipi Vallerie hampir terkena tamparan kasar tangan kiri Rachel. Sebenarnya Vallerie sedikit ketakutan, tapi rasa takut itu menghilang sekejap berkat Elliot kini melindungi serangan kasar itu.
Elliot mencengkeram tangan kiri Rachel dengan erat sampai pergelangan tangan Rachel sedikit berbunyi. Vallerie terkagum, akhirnya sikap kepedulian suaminya kembali seperti dulu lagi setiap ia selalu ditindas.
“Elliot! Bahkan sekarang kamu berani melukai aku! Kamu tidak sadar dulu kita pernah berpacaran?!”
“Mustahil aku berpacaran dengan wanita jahat seperti kamu! Lancang sekali kamu ingin menyakiti istriku! Tidak akan kubiarkan kamu menyakitinya!” Elliot melakukan hal yang sama seperti dalam potongan ingatannya, melindungi istrinya dari kekerasan apa pun.
“Pergi dari sini sebelum aku panggil petugas keamanan menyeret kamu!”
“Sebelum itu, lepaskan tanganku dulu!”
Akhirnya Vallerie dan Elliot melepas cengkeraman erat tangan Rachel serentak. Vallerie kembali menggenggam tangan Elliot, sengaja memposisikan tubuhnya berdiri di depan Elliot bagaikan perisai. Karena ia masih mengingat jelas, tujuan Elliot menikahinya hanya menjadikannya perisai, bukan cinta sungguhan. Sekarang ia akan bertindak sesuai keinginan Elliot.
“Kalau kamu mau menindas suamiku, hadapi aku dulu! Mungkin jari kelingkingmu akan musnah duluan. Setiap kamu menindas Elliot, aku akan mematahkan jarimu satu per satu.” Vallerie mengancam tanpa segan mendorong pundak Rachel.
Batas kesabaran Rachel sudah melebihi batas. Semakin muak rasanya berhadapan dengan sepasang suami istri yang sudah menghancurkan misi rahasianya ingin membalas dendam. Apalagi ia tidak menyangka Vallerie akan menindasnya balik sampai membuatnya tidak bisa berkata-kata.
“Hari ini sampai di sini dulu. Kalau sampai kita bertemu lagi, aku tidak akan mengampuni kalian!”
“CEPAT PERGI!” Elliot berteriak.
Rachel menghentakkan kaki kasar melangkah keluar dari ruangan ini tanpa berbasa-basi.
Kini hanya tersisa Elliot dan Vallerie di dalam ruangan. Tubuh Elliot rasanya sangat lemas menopang tubuh berdiri dalam durasi lumayan lama berdebat dengan Rachel. Sebenarnya selama berdebat, ia merasa tidak asing dengan perlakuan Vallerie saat melindunginya. Seperti pernah dilakukannya entah kapan.
Vallerie juga sebenarnya gugup menghadapi Rachel. Tapi tugasnya hidup kembali adalah melindungi suaminya. Mustahil kalau ia membiarkan suaminya menghadapi musuh sendirian. Apalagi jika dilihat raut wajah sang suami sedikit lesu, ia tidak tega meninggalkan suaminya sendirian di saat begini.
“Vallerie, bisakah kita duduk sebentar?” Elliot bertanya dengan lembut.
Vallerie mengangguk pelan, kemudian mengikuti Elliot menempati sofa.
Kepala Elliot terus menunduk. Melihat istrinya sangat berjasa hari ini, ia semakin tidak tega berkata lancang terus terhadap istrinya. Apalagi membentak habis-habisan soal keegoisan. Elliot terus merutukki dirinya sambil memukuli paha berkali-kali melampiaskan kekesalan terhadap dirinya selalu tidak bisa mengendalikan sikap kasarnya.
“Kamu kenapa, Elliot?” Vallerie cemas melihat mata suaminya sedikit berkaca-kaca.
“Maafkan aku, Vallerie. Kamu selalu melindungiku, tapi aku selalu membentakmu. Tadi aku membentakmu sampai kamu hampir menangis. Aku memang suami payah dan tidak berguna. Seharusnya aku bersyukur memiliki istri hebat seperti kamu, bukan menuduhmu akan menghancurkan proyek.”
Hati Vallerie semakin tersentuh dan matanya bersinar-sinar menerima ungkapan manis dari suaminya akhirnya terucapkan setelah sekian lama menunggu. Tapi, hatinya masih marah akibat disakiti menggunakan kekerasan verbal membuatnya sedikit sulit memaafkan.
“Kamu sudah menyadari kesalahanmu? Sebenarnya aku ingin memarahimu lagi karena kamu sangat keterlaluan tadi.” Vallerie menyilangkan kaki dengan angkuh.
“Aku … ingat dulu aku seperti pernah menolongmu. Maka dari itu, aku harus melindungimu seperti sebelumnya, bukan menyakiti perasaanmu. Kalau kamu menyimpan dendam padaku, kamu bisa melampiaskannya dengan cara yang sama seperti kulakukan sebelumnya.” Elliot terus menggarukkan kepala berkali-kali.
Lagi-lagi Vallerie merasa bahagia mendengar suaminya mengingat momen manis mereka lagi di masa lalu yang mampu menjinakkan hati suaminya dalam sekejap.
Awalnya Vallerie tidak ingin mudah memaafkan suaminya. Tapi, berkat suaminya menyelamatkannya dari Rachel, Vallerie mencoba menghilangkan rasa dendam.
Sebagai gantinya, kedua lengannya memeluk suaminya penuh kasih sayang sambil menepuk punggung berirama. Vallerie berniat memaafkan suaminya, tapi sebenarnya tidak sepenuhnya. Hanya sebagai pemanis supaya suasana tidak canggung. “Justru aku yang tidak tahu diri karena sudah bertindak seenaknya di hari pertama kerja. Seharusnya aku berdiskusi denganmu dulu, apalagi ini proyek besar.”
“Jangan menyalahkan dirimu! Aku memang keterlaluan tidak bisa mengendalikan sikap burukku sejak dulu. Vallerie, terima kasih sudah menolongku tadi. Benar perkataanmu saat melawan Rachel, hanya kamu yang bisa membuatku tersenyum. Mulai sekarang, aku ingin mengubah sikapku tidak akan galak lagi padamu.”
Sejenak Vallerie mendaratkan kecupan manis di pelipis Elliot selama beberapa detik. Elliot semakin bermekaran dan bersemangat ingin mengubah sikapnya menjadi lembut di hadapan Vallerie. Apalagi tanpa disadari sekarang ia terus tersenyum berkat kecupan cinta diberikan Vallerie membuat hatinya terasa hangat.
“Mulai sekarang, kalau aku bersikap galak lagi, kamu harus menyadarkan aku dulu. Aku tidak tega melihatmu menangis karena aku menyakitimu. Aku lebih suka melihatmu tersenyum.”
Vallerie menggeleng pelan. “Kamu jangan menyalahkan dirimu terus. Nanti aku akan semakin sedih mendengarnya.”
“Karena kamu sudah menolongku hari ini, aku ingin mengajakmu makan siang bersama. Maukah kamu?” Elliot tersipu malu.
Tanpa penolakan, Vallerie mengangguk cepat. “Sudah pasti aku ingin berkencan denganmu.”
“Aku ingin mentraktirmu sebagai permintaan maaf tulus karena aku selalu menyakitimu selama ini. Seharusnya aku memperlakukanmu sangat spesial di antara semua wanita di dunia ini. Sejujurnya saat aku ingin berkata kasar lagi, hatiku langsung menolak dan rasanya seperti aku terkena sayatan pisau berkali-kali.”
Kali ini Elliot bertekad bulat ingin mengubah sikapnya, berkat sepotong ingatan berhasil membuat hatinya menjadi lembut. Selain itu, Elliot merasa istrinya masih belum memaafkannya jika dilihat nada bicaranya sedikit paksaan. Apa yang harus dilakukannya supaya istrinya sungguh memaafkannya sepenuhnya?