
Carla bingung percakapannya bersama Bertrand saat itu bisa terekam di alat recorder ini. Padahal seingatnya, insiden ini terjadi di kediaman Bertrand saat ia pulang kerja mampir sebentar hanya ingin memberikan hadiah. Tapi, bagaimana bisa alat recorder ini terekam sendiri tanpa sepengetahuannya? Terutama terekam jelas percakapan mereka dari awal sampai akhir tanpa tertinggal satu kata.
Sejenak Carla berusaha memikirkan kembali apa penyebab alat recorder ini bisa merekam semua percakapan mereka. Berjalan mondar-mandir sambil bertopang dagu. Seingatnya memang hari itu ada agenda mengunjungi narasumber di lapangan terbuka. Tapi, saat itu memang ada sedikit kendala sehingga sesi wawancara tidak berlangsung lama dan harus terburu-buru meninggalkan tempat itu yang masih dalam pengerjaan konstruksi.
Ting! Ada satu hal terlintas di pikirannya. Gara-gara saat itu terburu-buru harus meninggalkan lapangan konstruksi, Carla lupa mematikan alat recorder. Lalu, setelah kejadian menimpanya di rumah Bertrand, alat recordernya tertimpa buku catatannya sehingga tanpa disadari karena kecerobohannya justru membawakan berkah baginya.
“Aku harus beri tahu Vallerie.”
Tidak terasa hari sudah malam. Sebagai penutup kencan hari ini, Elliot mengajak istrinya berjalan santai di sebuah taman yang biasanya mereka kunjungi untuk melepas pikiran negatif mereka. Hanya melihat hiasan taman dipenuhi lampu berkelap-kelip ditambah ada suatu acara di taman ini, terasa pas suasana kencannya jika dilihat tema acara adalah mengajak pasangan masing-masing kencan dan berdansa ria mengelilingi air mancur taman.
Vallerie dan Elliot hanya menjadi penonton menyaksikan para sepasang kekasih berdansa ria mengelilingi air mancur taman diiringi musik bernuansa romantis. Tawa bahagia ditampilkan Vallerie membuat Elliot tertawa juga, sebenarnya yang dilihat Elliot bukan terfokus pada acara yang masih berlangsung ini, justru ia lebih memilih memandangi pemandangan indah istrinya sangat menghibur hatinya.
Vallerie menyadari suaminya dari tadi terus memandanginya tanpa bosan. Dengan sengaja menolehkan kepala mengecup pipi suaminya sekilas. “Kamu tidak mau lihat acaranya?”
Dibalas kecupan manis juga mendarat di pipinya. “Tidak. Kamu lebih menarik dibandingkan acara ini.”
Vallerie melipat kedua tangan di dada. “Jangan berkata seperti itu terang-terangan! Nanti semua orang akan memarahimu. Apalagi mereka sudah bersusah payah menampilkan yang terbaik.”
“Aku berkata sesuai fakta. Kalau seandainya kamu yang tampil di depan, mungkin akan semakin menarik. Entah kamu mau melakukan apa pun, di mataku kamu selalu menarik.”
Rona merah menyala pada pipinya, jika dibayangkan mereka sungguh berdansa menggantikan salah satu pasangan yang sedang tampil di depan, senyumannya semakin mengambang. Seandainya saja keinginannya langsung terkabulkan, tapi sepertinya mustahil. Sekarang suaminya terlahir sebagai keluarga kaya, pasti tidak ingin melakukan sesuatu memalukan begini. Terlebih lagi, karena skandal aneh yang melibatkan mereka, terpaksa ia merelakan keinginannya.
Saat acara itu berakhir. Semua pasangan kembali menempatkan diri di posisi penonton. Tanpa berbasa-basi, Elliot menggandeng tangan Vallerie tiba-tiba menuju air mancur. Tatapan Vallerie melotot, entah apa yang akan dilakukan suaminya tanpa memberikan aba-aba dulu.
Beberapa pasangan lainnya juga turut ingin berdansa mengelilingi air mancur. Tapi, justru pasangan Elliot dan Vallerie yang memancing perhatian dari tadi. Posisi Elliot seolah-olah ingin melamar membuat Vallerie terngiang-ngiang. Tangan kanannya diberikan kecupan lembut sang suami sehingga menghebohkan semua penonton di sana.
“Maukah kamu berdansa denganku, Istriku?” Elliot tersenyum bahagia mengulurkan tangan kanan.
Vallerie tertawa gemas sambil mengamati sekeliling sedikit malu, menggenggam tangan suaminya. “Aku mau. Tapi, kamu sangat berlebihan.”
Elliot memposisikan dirinya dan istrinya memilih tempat strategis untuk berdansa. “Dari kemarin memang banyak orang membicarakan kamu adalah orang jahat yang mengajakku selingkuh. Sekarang aku ingin membuktikan seberapa besar cinta kita sesungguhnya. Aku juga tidak mau kamu syok lagi karena skandal itu.”
“Tapi, kamu biasanya tidak suka melakukan hal seperti ini sejak hidup sebagai orang kaya. Apa yang membuat pikiranmu berubah tiba-tiba?”
Elliot menempelkan jari telunjuknya di bibir sang istri. “Kamu salah. Sebenarnya aku suka melakukan hal menyenangkan apa pun bersama wanita sangat kusayangi. Entah bagi orang kaya lain memalukan atau tidak, yang terpenting aku dan kamu sangat bahagia.”
Alunan musik romantis kembali dimainkan para musisi, tapi ada satu hal yang membuat mereka tidak jadi berdansa. Getaran ponsel Vallerie tiba-tiba membuat secara terpaksa mereka harus merelakan keinginan kecil itu. Dengan sigap Vallerie dan Elliot menjauhi area itu, lalu Vallerie mengangkat panggilan telepon dari Carla.
“Carla, ada apa meneleponku?”
“Maaf aku mengganggu kencan kalian. Tapi ada sesuatu penting yang ingin kusampaikan. Bisakah kalian bertemu denganku di apartemen Whitney? Jangan sampai orang lain mengetahui pergerakan kalian!”
Bibir Vallerie sedikit memanyun sambil memandangi suaminya juga cemberut. Demi menyelesaikan masalah berkaitan dengan nyawa, memang mereka tidak boleh berkencan dengan tenang.
“Boleh saja. Kami akan ke sana sekarang.”
“Baiklah, aku akan menunggu kalian. Sekalian Whitney juga harus mengetahuinya.”
Semua orang sudah berkumpul di apartemen Whitney, kecuali Rachel dan Erick tidak diundang karena memang mereka tidak kenal Carla. Carla memutar alat recorder menayangkan rekaman percakapan dirinya bersama Bertrand di saat dirinya disiksa hanya karena masalah kecil.
Ekspresi wajah semua orang bergidik ngeri. Terutama Vallerie sangat syok mendengar perkataan Bertrand sungguh di luar dugaannya sampai kepalanya pusing. Tangan kanannya terus memijit pelipisnya, dibantu tangan kiri suaminya memijitnya kepalanya semakin sakit akibat dikejutkan hal seperti ini. Ditambah efek suara seperti ada tindakan aksi kekerasan sehingga tubuh Vallerie semakin mematung dan tidak bisa berkata-kata.
“Vallerie, tenangkan dirimu dulu!” Elliot memeluk tubuh Vallerie dari belakang, sehingga hati Vallerie sedikit tenang sekarang, hanya saja matanya masih berkaca-kaca.
Vallerie mengambil napas dalam lalu membuangnya perlahan, akhirnya sedikit merasa tenang dan bisa lanjutkan diskusinya lagi. “Bagaimana dengan artikel yang sudah dirilis?”
“Sekarang semua orang memihak kamu lagi, jika dilihat banyak komentar positif di kolom komentar. Karena sebenarnya aku memasukkan sedikit bumbu penyedap. Aku hanya memberitahukan samar-samar pada mereka semua bahwa sebenarnya ada seseorang yang ingin menghancurkan hubungan kalian.”
“Bahkan artikel yang dirilis Whitney sekarang sudah melebihi trending skandal aneh itu.” Harry menepuk pundak Whitney sekilas.
Vallerie merasa lega nama baiknya akhirnya kembali seperti semula, ada juga bantuan beberapa reporter andalan Elliot sejak dulu setiap kali membereskan berita hoaks perusahaan, tapi setengah hatinya masih gelisah mendengar karakter asli Bertrand sungguh berengsek di luar dugaannya, rasanya ingin cepat mengakhiri semuanya sebelum masalah semakin rumit.
Tatapan Vallerie terfokus pada alat recorder. “Terima kasih sudah melaporkan padaku, Carla. Rekamanmu ini sungguh membantu kita mengungkapkan kejahatan Bertrand.”
Carla menyingkirkan beberapa helaian anak rambut ke belakang telinga. “Sebenarnya aku hanya beruntung saja. Awalnya aku tidak berniat merekamnya.”
Raut wajah Carla kembali lesu, membuat Vallerie mulai cemas pasti ada masalah lain yang berkaitan dengan Bertrand.
“Kamu kenapa, Carla?”
“Sebenarnya Bertrand mengajakku kencan besok. Apa yang harus kulakukan? Mustahil aku menolaknya, nanti dia menerorku lagi. Kalau aku menerimanya, nanti dia akan menyiksaku lagi.”
Kalau jadi Carla, Vallerie juga akan bingung ingin mengambil keputusan seperti apa. Apalagi Bertrand adalah orang sangat berbahaya, jika salah mengambil keputusan, maka nyawanya akan terancam.
“Kalau meminta Bertrand menunda lusa gimana? Bilang saja besok kamu ada janji ingin berjalan santai bersamaku. Karena aku yang memaksamu mengajak jalan-jalan.” Sebenarnya Vallerie sedikit ragu apakah usulannya ini berhasil atau tidak, untuk mengulur waktu.
“Tapi, apa tidak masalah membawa namamu? Bagaimana kalau sampai nyawamu yang terancam?” Elliot mulai menampakkan sisi cerewetnya, tapi tidak ada keraguan ditampilkan Vallerie.
Vallerie tersenyum lebar menepuk pundak suaminya. “Bertrand tidak akan mencelakaiku. Karena sampai sekarang dia masih belum menyerah padaku. Dengan begini, mustahil dia menyiksa Carla karena masalah kecil ini. Aku sengaja mengusulkan ini karena kita harus meminta bantuan Erick dan Rachel juga.”
Apa boleh buat, terpaksa Elliot menuruti keinginan istrinya. Lagi pula hanya ini satu-satunya cara juga mungkin bisa menjatuhkan Bertrand dalam sekejap. Entah apa yang direncanakan Vallerie nantinya.
Sebelum tidur, Vallerie masih merenungkan rencana pembalasan dendam dibuatnya sambil memandangi langit malam terlihat indah dihiasi beberapa bintang tepat di depan mata. Hanya melihat pemandangan dan menikmati pelukan hangat disalurkan suaminya dari belakang sudah membuat pikirannya sedikit tenang.
Tangan kanannya terus mengelus punggung tangan suaminya lambat laun. Pandangannya berbinar memandangi bintang kecil di hadapannya, seolah-olah ingin meraihnya hanya menggunakan tangan kosong. “Langit malam hari ini indah sekali. Apakah pertanda rencanaku menjatuhkan Bertrand akan berhasil?”
“Rencanamu pasti berhasil. Aku yakin seratus persen.” Elliot mengacungkan dua jempol menampakkan senyuman percaya diri.
“Bukankah tadi kamu sendiri meragukan aku? Kamu takut nyawaku terancam lagi?” Dahi Vallerie mengernyit.
“Setelah dipikir-pikir, memang kamu ada benarnya. Bertrand masih memercayaimu sebagai orang baik. Apalagi dia sempat mengundangmu makan malam bersama. Semua ide cerdas yang kamu lakukan sejak dulu memang bisa diandalkan. Aku masih tidak bisa melupakan aksi pembalasan dendam Sofia.”
Senyuman manis terpampang pada wajah Vallerie. Berbalik badan sambil merentangkan kedua tangan. “Gendong aku. Aku mengantuk.”
Tanpa disuruh, Elliot langsung menggendong tubuh Vallerie kembali memasuki kamar kemudian membaringkan di ranjang perlahan. Udara di luar sangat dingin, Elliot berinisiatif menaikkan temperatur AC sambil memeluk erat tubuh Vallerie dengan senyuman manja.
“Aku mau kencan denganmu di dunia mimpi. Urusan rencana balas dendam lanjut besok saja. Aku cemas kamu jatuh sakit karena terlalu memaksakan diri.” Elliot mengecup kening Vallerie mendalam.
Dibalas kecupan manis diberikan Vallerie mendarat di dahi. “Aku tidak akan sakit selama kamu memelukku seperti ini.”