Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 41: Rasa Bersalah



Itulah jawaban yang masih ditunggu Elliot juga. Apalagi ia merasa tidak nyaman istrinya selalu bertemu dengan Bertrand kebetulan setiap sedang kencan. Entah kenapa setiap bertemu Bertrand, Elliot merasa memiliki firasat buruk terhadap Bertrand. Apakah karena efek cemburu atau hatinya sedikit memberikan peringatan halus bahwa Bertrand bukan orang baik?


Sebenarnya Elliot dan Vallerie juga masih penasaran bagaimana Erick bisa mengenal Bertrand. Apakah Bertrand adalah salah satu kenalan Erick juga tanpa sepengetahuan mereka?


Sebelum memasuki topik utama, Vallerie ingin bertanya hubungan Erick dan Bertrand seperti apa. “Omong-omong, bagaimana kamu bisa mengenal Bertrand?”


“Bertrand adalah temanku. Terkadang aku minum bersamanya dan bermain tenis. Jadinya, aku tahu apa yang ingin dia lakukan.”


“Lalu, bagaimana kamu bisa tahu Bertrand ingin merencanakan sesuatu jahat padaku?”


Erick tersenyum angkuh melangkah perlahan mengelilingi Vallerie. “Bisa dikatakan, awalnya aku tidak tahu kalau dia ingin merencanakan perbuatan itu padamu. Aku sempat menguping perbincangannya saat dia menghubungi seseorang lewat telepon. Aku dengar dia seperti membicarakan soal bayaran untuk menyentuh seorang wanita di hotel.”


Alis Vallerie terangkat. “Kapan dia membicarakan hal itu?”


“Sekitar dua minggu lalu.”


Vallerie semakin merinding ketakutan, mendengar sepotong clue diberikan Erick semakin meyakinkan Bertrand adalah pelaku sebenarnya. Kenapa dirinya sangat payah tidak bisa membedakan orang jahat atau orang baik hanya dinilai berdasarkan karakter saja?


“Padahal selama ini aku selalu memercayainya.” Matanya mulai berkaca-kaca masih sulit memercayai fakta membuatnya semakin syok.


“Vallerie ….” Elliot menyentuh pundak kiri istrinya memasang tatapan sendu.


Sorot mata Erick tertuju pada arloji mahal koleksinya menampakkan hari semakin larut malam. Melihat suasana semakin mellow, ia tidak tega membiarkan adik iparnya semakin sedih karena mengetahui fakta mengejutkan.


“Ini sudah malam. Aku dan Rachel mau pulang dulu. Kalian di sini saja.” Erick menggandeng tangan Rachel berjalan menuju pintu kamar.


Sejenak Erick berbalik badan menatap wajah adiknya sedikit babak belur karena ulahnya, tidak disangka pertama kali mereka bertengkar dahsyat begini, membuat rasa bersalah dalam hati bertambah berkali-kali lipat. “Elliot, maaf aku melukai wajahmu. Jangan lupa obati lukamu!”


Vallerie menyeka air matanya sejenak, beranjak dari ranjang sambil bergandengan tangan dengan suaminya. Rasa bersalah masih bertumpuk dalam hatinya. Bingung ingin berkata apa pada Erick, selama ini selalu berprasangka buruk terhadap Erick.


“Kamu menginap di sini saja. Aku ingin pulang ke rumah bersama suamiku.”


“Tapi—”


“Sudahlah, kakak tinggal turuti perkataan Vallerie saja!” Elliot menatap wajah kakaknya juga babak belur penuh sungkan.


“Tapi—”


Vallerie langsung menarik tangan suaminya keluar dari kamar terburu-buru. Hatinya terasa semakin perih jika terus melanjutkan perbincangan bersama Erick.


Di rumah mewah, Vallerie melangkahkan kaki lemas memasuki kamar terus menundukkan kepala. Bisa dikatakan sebenarnya karena kecerobohannya, suaminya juga terkena imbas secara tidak langsung.


Saat Vallerie ingin memasuki kamar mandi sambil membawa gaun tidur, tiba-tiba ia merasakan kehangatan cinta dari suaminya berkat pelukan hangat ini membuat kakinya sulit melangkah. Akhirnya senyuman tipis kembali terukir pada wajah Vallerie, meski ia masih gelisah karena kecerobohannya.


“Sayang, kamu jangan bersedih lagi.” Elliot berbisik dengan nada lembut.


Vallerie semakin melebarkan senyumannya. Berbalik badan perlahan memandang wajah tampan suaminya masih menyegarkan membuat pandangannya semakin berbinar. Tangan kanannya mengelus pipi suaminya sedikit memar akibat bertengkar dengan Erick. Dalam hatinya ia terus meminta maaf karena suaminya terluka akibat ulahnya.


“Aku sedih melihatmu terluka karena aku.”


“Ini hanya luka kecil. Kamu tidak perlu mencemaskanku berlebihan.” Tangan Elliot menyentuh punggung tangan istrinya yang menempel di pipinya.


“Tetap saja, lukamu harus diobati. Saat hari kerja nanti, semua pegawai pasti akan menertawakan kamu.”


Seketika Vallerie ingin mengambil kotak P3K, tiba-tiba tangannya ditarik, bibirnya bertautan dengan bibir suaminya sampai gaun tidur miliknya terjatuh dari genggaman tangannya. Vallerie sangat terkejut, tapi berkat ciuman manis yang diberikan suaminya sedikit agresif, ia semakin candu ingin melakukannya lebih lama sambil terus meraba jenjang leher sang suami lambat laun.


Sudah cukup puas melakukannya, Elliot melepas tautan bibirnya kemudian mengakhiri ciumannya dengan mendaratkan bibirnya pada kening sang istri penuh kasih sayang.


“Tidak perlu pakai obat, cukup berciuman denganmu saja sudah berhasil menyembuhkan lukaku.” Elliot sengaja memakai cara sexy supaya istrinya tidak terlalu mencemaskannya, tapi caranya tidak berhasil dilihat raut wajah istrinya semakin cemberut.


“Cukup gombalannya! Pokoknya kamu harus pakai obat sekarang!”


Lagi-lagi tangan Vallerie ditahan erat. “Vallerie, aku akan menuruti kamu. Tapi sebaiknya kamu mandi dulu saja. Hari sudah terlalu malam. Pakaikan obat saat kita sudah mandi.”


“Kamu tidak boleh berubah pikiran nanti!” Vallerie mengulurkan jari telunjuk hampir menempel pada hidung Elliot.


“Wajahmu jadi jelek begini gara-gara aku.”


“Sayang, kamu jangan menyalahkan dirimu terus. Kamu tidak bersalah sama sekali.”


“Seharusnya aku tidak sembarangan menuduh Erick hanya berdasarkan penglihatanku saat sebelum aku tenggelam di sungai. Bisa jadi karena aku hampir kehilangan kesadaranku, aku jadi salah melihat orang.”


Elliot menyentuh punggung tangan Vallerie, memasang wajah memelas mengecup pipi Vallerie untuk menenangkannya dalam sekejap. “Wajar kalau kamu tidak menyadari Bertrand adalah pelaku sesungguhnya. Aku sendiri juga hampir tertipu karena dia selalu bersikap akrab denganmu. Hanya saja setiap berada di dekatnya, aku merasa tidak nyaman.”


Vallerie menutup tutupan obat salep, kemudian memasukkan ke dalam kotak P3K. Menaruh kotak itu di meja, kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Sejenak berbalik badan menghindari pandangan suaminya karena ia ingin melampiaskan kemarahannya diam-diam tidak ingin dilihat suaminya langsung.


Suara tangisan sang istri semakin pecah seperti memecah hati Elliot menjadi berkeping-keping. Spontan lengan kekarnya membungkus tubuh istrinya tidur meringkuk, membuat sang istri semakin terasa tertusuk pisau berkali-kali.


“Kumohon, Elliot. Lepaskan pelukannya. Aku semakin merasa sesak jika dipeluk kamu.” Vallerie berusaha memberontak, tapi semakin ingin memberontak semakin dipererat pelukannya.


“Justru aku sengaja memeluk kamu supaya kamu membuang pikiran negatif jauh-jauh darimu. Vallerie, aku tidak masalah aku terluka begini. Yang terpenting, sekarang aku sudah lega mengetahui Erick dan Rachel bukan orang jahat, tapi Bertrand adalah penjahat sesungguhnya.”


“Tapi, karena aku, hubunganmu dan Erick menjadi hancur. Lalu, aku secara tidak langsung merepotkan Jordan juga membantu kita hanya ingin mencelakai Erick.” Tangisannya semakin deras membuat bantalnya basah.


“Vallerie, coba lihat aku,” pinta Elliot lembut.


Vallerie menyeka air mata membasahi pipi dan kelopak mata. Perlahan berbalik badan kembali menghadap suaminya masih bisa menampakkan senyuman bahagia setelah melewati masa mencekam hari ini.


“Kamu … terlihat tampan. Kamu tersenyum, meski wajahmu terluka.”


Elliot mengusap kelopak mata Vallerie lembut. “Aku tidak peduli kamu merusak hubunganku dengan Erick. Aku masih bahagia asalkan kamu adalah istriku entah di masa lalu maupun masa sekarang.”


“Bisakah kamu jangan menggombalku di saat begini? Aku sedang serius sekarang.”


“Aku serius mengatakannya padamu supaya kamu tidak sedih terus. Aku tidak suka melihatmu menangis hanya karena kamu menyalahkan dirimu terus. Yang terpenting kita sudah tahu pelakunya, jadinya untuk ke depannya kita bisa menghindari kejadian tidak diinginkan. Aku ingin menyusun rencana untuk berbalas dendam pada Bertrand. Tapi aku harus meminta izin darimu karena Bertrand adalah temanmu.”


Dalam sekejap akhirnya senyuman percaya diri kembali terukir pada sudut bibir. Menyeka air mata masih sedikit membekas di pipi, mengecup pipi suaminya dalam durasi lama secara tidak langsung menyampaikan rasa terima kasih karena sudah berhasil membuat hatinya kembali tenang.


“Balas dendam pada Bertrand sesuka hatimu. Aku sangat mendukungmu melakukannya.”


“Sekarang kamu sudah merasa tenang? Mau aku hibur lagi?” Bibir Elliot sudah bersiap mendekati bibir indah Vallerie.


Vallerie tersenyum usil sedikit memundurkan kepala. “Tidak perlu. Perkataanmu tadi benar. Mulai sekarang aku harus berwaspada dengan Bertrand. Aku tidak ingin kita tewas kedua kalinya.”


Kini giliran bibir Elliot memanyun. Vallerie mengernyitkan alis, sedikit bingung kenapa sekarang justru wajah suaminya terlihat murung. Apakah ada salah bicara? “Sayang, kamu kenapa sih? Sekarang aku sudah merasa lega, tidak perlu mencemaskanku lagi.”


“Sebenarnya aku sedikit kecewa dengan jawabanmu tadi. Kalau kamu masih butuh hiburan dariku, aku ingin menciummu lagi.”


Vallerie tertawa gemas, tidak disangka sikap suaminya semakin hari semakin manja. Perlahan memajukan bibirnya mendekati bibir sexy sang suami. “Cium aku.”


Tentu saja tidak perlu disuruh, Elliot melanjutkan ciuman mesra masih belum puas dilakukannya tadi. Kali ini melakukan ciumannya semakin panas sambil berguling-guling di ranjang karena terlalu nikmat melakukannya, entah sampai kapan ingin melakukannya jika dilihat gerakan bibir Vallerie sangat lincah sekarang ia memimpin permainan antar bibir dengan indah.


Sedangkan Erick dan Rachel masih berada di dalam kamar sesuai permintaan Vallerie tadi. Sekarang tubuh mereka hanya dibaluti bathrobe, wajah Erick masih sedikit kesal karena tidak menyangka kekasihnya sungguh bisa menipunya meski tidak bermaksud mencelakainya.


Suasana hati Rachel juga tidak nyaman tidur bersama kekasihnya tidak saling berhadapan, karena Erick yang memulainya dulu tidak ingin tidur berhadapan khusus hari ini.


“Mau sampai kapan kamu marah terus?” Rachel sudah tidak tahan melihat sikap kekasihnya terus mengambek.


“Sampai kamu tidak akan membohongiku lagi!” Erick masih bersikap ngambek tidur berhadapan dengan meja kecil samping ranjang,


Rachel menghembuskan napas pasrah dan membuang muka. “Aku sungguh kapok tidak mau berbohong lagi! Setiap kamu marah, aku selalu merasa tidak nyaman!”


Erick tidak tega membiarkan kekasihnya seolah-olah tidur sendirian. Dengan lincah berbalik badan kemudian membenamkan kepalanya pada lekukan pinggang Rachel sangat ramping. “Aku tidak akan marah lagi.”


“Sebenarnya aku sudah menunggumu tadi di kolam renang. Bahkan aku sudah ganti baju, kamu lama sekali sampai kencan kita batal!”


Erick jadi teringat misi yang ingin dilakukannya menjadi kacau karena ulah adiknya yang merusak suasana kencan. Lebih cenderung sebenarnya hari ini seharusnya menjadi kencan istimewanya.