
Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Vallerie dan Elliot yang ke dua. Suasana kali ini tentu saja berbeda jauh dari kehidupan sebelumnya. Di kehidupan sekarang kehidupan pernikahan mereka jauh lebih manis dan mereka tidak perlu takut nyawa mereka akan terancam. Ditambah sekarang keluarga kecil mereka dihiasi sang buah hati telah memasuki usia satu tahun.
Vallerie melakukan kewajibannya sebagai seorang ibu memandikan putrinya di bathtub sambil bermain air bersama putrinya. Sang buah hati menampakkan tawa girang mencolek kedua tangan Vallerie dipenuhi busa.
Vallerie justru semakin bahagia dijahili anaknya sendiri sambil membilas kepala anaknya dipenuhi shampoo dengan lembut menggunakan air hangat. “Kamu lucu sekali, Anakku. Setiap mandi selalu jahil. Kamu tidak ada bedanya dengan papamu selalu iseng.”
“Papa!” Evania melambaikan tangan pada sang ayah tampan ternyata sibuk menguping di pintu kamar mandi, Vallerie tersentak.
Elliot melangkah perlahan menghampiri istrinya, duduk berjongkok tepat di samping istrinya sambil mencubit pipi putrinya lembut.
“Papa suka setiap kamu sedang memanggil. Tapi, jangan terlalu memercayai perkataan mama ya. Terkadang mulut mama itu tidak bisa diajak kerja sama.” Elliot menatap istrinya dengan tatapan usil.
Vallerie berdecak kesal langsung mencolek pipi suaminya berkali-kali sampai wajah tampan suaminya ditutupi busa.
“Sayang! Sudah kuduga kamu jauh lebih usil daripada aku! Bahkan dari tadi aku tidak mengotori wajahmu!” Elliot tidak ingin kalah meraih wajah istrinya tapi langsung dihindari cepat.
“Coba kamu tanya Evania! Pasti dia setuju menganggapmu nakal.” Vallerie mengelak, mengangkat kepala bergaya angkuh.
Tatapan Elliot beralih pada putrinya terus menertawai wajahnya dari tadi. “Putriku, menurut kamu, mama atau papa yang nakal? Kamu harus jawab jujur supaya dapat susu cokelat.”
“Dasar curang! Kalau kamu kasih susu cokelat sudah pasti dia akan menuduhku nakal!” Vallerie menggerutu, mencubit pipi suaminya bertenaga.
“Papa!” Evania tertawa girang mencolek pipi Elliot sengaja, sehingga wajah Elliot kini terlihat seperti seorang kakek berjenggot putih.
Elliot membulatkan mata. Tidak disangka triknya justru tidak berefektif bagi Evania.
Mendengar perkataan Evania sangat jujur, Vallerie tertawa terbahak sampai wajahnya memerah sambil mencolek pipi dan tangan suaminya berkali-kali. “Rasakan ini akibat kamu mau berbuat curang!”
“Aneh sekali. Biasanya Evania selalu menurut setiap ada kaitannya dengan susu cokelat. Jangan-jangan kamu juga memakai trik yang sama tanpa sepengetahuanku!” Elliot tidak ingin kalah mencolek wajah istrinya sampai hampir terkena mata.
“Aduh! Busanya hampir kena mataku nih!” Vallerie mengeluh, menyeka kelopak mata kirinya lumayan banyak busa.
Elliot memasang wajah memelas mencuci tangannya dipenuhi busa, kemudian perlahan membersihkan wajah istrinya dipenuhi busa. “Maafkan aku, Sayang. Aku mengakui memang sebenarnya aku lebih usil darimu.”
Bukan marah, justru Vallerie tertawa usil menggunakan tangan lincah kembali menghiasi wajah suaminya menyerupai jenggot putih.
“Vallerie!!” Elliot berteriak, tanpa segan mencolek wajah istrinya tidak diberi jeda.
“Dari dulu kamu memang mudah tertipu sandiwaraku!”
Awalnya memandikan anak, sekarang sepasang suami istri saling mencolek wajah satu sama lain berdiri berhadapan. Terlalu asyik bermain, tanpa sengaja Vallerie terpeleset membuat tubuhnya tercebur ke bathtub sampai basah kuyup. Tatapan Vallerie langsung menajam pada suaminya akibat berbuat jahil, sedangkan putrinya menertawainya puas.
“Kamu nakal! Siap-siap terima pembalasanku!” Vallerie mencipratkan air mengenai wajah suaminya.
Justru Elliot semakin bahagia, sengaja menceburkan dirinya ke bathtub lalu memajukan bibirnya mendekati wajah cantik sang istri. “Ayo, kita main! Sudah lama kita tidak bermain di bathtub.”
“Padahal kamu sudah mandi, baiklah kita bermain sesuai keinginanmu.”
Sambil menunggu istrinya selesai membersihkan diri, giliran Elliot bermain bersama Evania di ranjang sambil berguling-guling. Elliot sengaja menggulingkan tubuhnya berkali-kali karena Evania suka melihat aksi kekonyolannya sampai tertawa puas.
Sejenak Elliot memposisikan tubuhnya tengkurap di sebelah Evania, memasang senyuman ceria mengelus punggung tangan mungil pelan. “Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan papa dan mama yang ke dua. Papa sangat bahagia memiliki kamu melengkapi keluarga kecil ini. Di kehidupan sebelumnya, papa juga bahagia menikahi mama. Tapi, tanpa kehadiranmu, ulang tahun pernikahan kami tidak akan terkesan bermakna. Terima kasih sudah menemani papa dan mama merayakan ulang tahun pernikahan kami.”
Sedangkan dari kejauhan terlihat Vallerie memakai balutan dress elegan menguping perkataan suaminya diam-diam. Ungkapan isi hati suaminya meski tidak dimengerti Evania, tapi Vallerie menghayatinya sampai ingin melampiaskan tangisan haru.
Mengingat hari menjelang siang, Vallerie tidak ingin menguping lebih lama. Vallerie mendatangi suaminya dan anaknya memeluk keduanya dengan penuh kasih sayang. “Aku juga sangat bahagia memiliki Elliot dan Evania. Dua kesayanganku yang mewarnai kehidupanku.”
“Kamu menguping dari tadi?” Reaksi Elliot sedikit terkejut, tangan kanannya membelai rambut indah istrinya lambat laun.
“Ungkapanmu tadi aku akan selalu ingat.” Vallerie tersenyum lepas mengecup pipi suaminya sekilas.
Dibalas kecupan manis diberikan suaminya mendarat di pipi, mereka berpelukan erat menggulingkan tubuh di ranjang memperlihatkan atraksi konyol untuk Evania.
Tiba-tiba Vallerie menghentikan aksi kegemasannya. Sekarang posisi tubuhnya dan suaminya terbaring saling berpelukan erat. “Hari ini kamu harus menyetir mobil. Aku tidak mau naik bus lagi!”
“Kamu takut kejadian yang sama terulang kembali?” Dengan tatapan iba Elliot mengelus kepala istrinya.
“Memang sih kita berhasil mengubah takdir kita dan semua orang terdekat kita. Tapi, untuk berjaga-jaga saja, demi keselamatan putri kita.”
Elliot mengecup hidung mancung Vallerie. “Sekarang aku sudah punya mobil bagus. Tentu saja, kali ini kita akan selalu selamat.”
Sedangkan pasangan Erick dan Rachel juga tidak kalah mesra menjalani hari mereka bersama anak mereka. Bisa dikatakan sikap Erick yang biasanya terlihat tegas dan profesional setiap kerja, sekarang justru sikapnya berbanding terbalik. Rachel selalu mengamuk setiap melihat suaminya bersikap kekanak-kanakan bermain bersama putra mereka tanpa memedulikan waktu.
Rachel baru selesai membuat susu untuk putranya minum. Baru ingin meminta bantuan suaminya mengambil serbet membantu membersihkan bercak susu berceceran di meja makan, suaminya menghilang entah ke mana, yang pastinya Rachel sudah siap memberikan hukuman untuk suaminya.
Tatapan Rachel menajam membawa sebotol susu menuju kamar mereka, langsung disambut aksi kekanak-kanakan dilakukan suaminya bermain mobil-mobilan bersama anaknya. Rachel memutar bola mata langsung merebut mobil kecil milik suaminya, sehingga tatapan suaminya menjadi memelas bagaikan anak kecil sedang merayu ibunya.
“Sayang, aku masih mau bermain bersama Edgar.” Erick merayu dengan nada manja.
“Kamu sudah berumur berapa sekarang?” Rachel semakin menajamkan tatapannya, melipat kedua tangan di dada.
Erick menggarukkan kepala malu. “Sudah … kepala tiga.”
“Belakangan ini kerjaanmu hanya bermain terus. Padahal aku ingin memanggilmu membantuku membersihkan meja makan, tapi kamu sibuk bermain. Aku sudah tidak dipedulikan!”
“Maafkan aku, Sayang. Aku masih menyayangimu dan ingin bermain bersamamu juga. Tapi Edgar selalu mengajakku main duluan. Nanti dia menangis kalau aku tidak menurutinya.” Erick mengeluh sambil menunjuk Edgar masih bersikap polos menggesekkan mobil mainan dalam posisi tengkurap.
“Sepertinya Edgar tidak mempermasalahkan kamu tidak bermain dengannya. Lihat saja dia sibuk main sendiri!”
Rachel terus menggerutu sambil menggendong Edgar menuju ranjang. Diikuti Erick kemudian mereka bertiga duduk bersandar di ranjang.
Rachel menahan botol susu berukuran sedang membiarkan Edgar menyedot susu dengan rakus sambil mengelus kepala Edgar penuh kasih sayang. “Jangan keras kepala seperti papamu. Banyak orang yang bilang papamu adalah direktur bijak, tapi sebenarnya dia sangat kekanak-kanakan.”
“Papa … main!” Edgar memanggil sang ayah dengan nada manja.
Erick memasang raut wajah angkuh pada istrinya. “Benar, ‘kan? Edgar sangat senang bermain bersamaku daripada kamu selalu galak!”
“Baiklah, aku sudah bermaksud baik ingin mengingatkan nanti kita akan ajarin Edgar berenang. Aku yakin kamu pasti lupa!” Dengan sengaja Rachel mendekatkan bibir merahnya menuju bibir Erick.
“Aku tidak lupa. Justru aku selalu ingat karena sudah lama kita tidak berenang bersama, Sayang.” Erick mengecup pipi Rachel sekilas, membuat hati Rachel menjadi sungkan bersikap galak pada suaminya.
Rachel tersenyum malu sambil mencium pipi suaminya dan mengelus kepala suaminya dengan tangan kanan. “Aku juga merindukan berenang bersamamu. Hanya berdua. Tapi, sekarang sudah ada Edgar. Sepertinya sulit bagi kita berkencan berdua saja.”
“Sebenarnya bisa. Tinggal meminta bantuan ayah dan ibu menjaga Edgar selagi kita berkencan.”
Rachel tertawa usil. Menaruh botol susu sudah dihabiskan Edgar di samping meja, kemudian ia memeluk suaminya manja. “Tentukan tanggal kencan yang tepat.”
Tidak hanya dua pasang suami istri merayakan momen bahagia mereka. Jordan juga baru kembali dari luar negeri setelah menyelesaikan studinya mendalami ilmu teknologi informasi, berkat bantuan Elliot menyerahkan portofolio Jordan kepada pihak salah satu universitas ternama, sehingga Jordan diberikan beasiswa atas keterampilannya luar biasa dalam bidang peretasan.
Aria menjemput kedatangan kekasihnya di bandara. Dari kejauhan mereka saling melambaikan tangan kemudian berlari cepat, pada akhirnya berpelukan mesra tidak peduli dilihat pengunjung di sini. Karena mereka hanya bisa bertemu saat liburan musim dingin dan musim panas, sekarang mereka bisa sering bertemu kapan pun mereka inginkan.
“Aku merindukanmu, Jordan. Kamu tidak akan pergi lagi, ‘kan?” Aria menggoyangkan tangan kanan Jordan.
“Tidak akan. Bahkan aku ingin berkencan denganmu setiap hari, sebagai pelampiasan selama ini kita hanya bertemu beberapa kali.” Jordan tersenyum puas, mengelus kepala Aria pelan.
“Untuk merayakan kelulusanmu, aku ingin mengajakmu makan di restoran mahal. Aku jamin kamu pasti suka.”
Pasangan Whitney dan Harry sedikit berbeda aktivitasnya karena sekarang giliran Whitney yang sedang hamil. Perut Whitney mulai membuncit memasuki tahap trimester dua. Saat ia ingin melakukan olahraga berlarian di mesin treadmill selalu cepat lelah. Maka dari itu, hanya lima menit berolahraga, sekarang ia sibuk membaca novel favoritnya yaitu tema detektif dengan bumbu romansa membuatnya candu membacanya sambil tiduran di sofa.
Harry melihat istrinya setiap asyik membaca novel hanya bisa menggelengkan kepala. Tapi tidak bisa disalahkan juga, karena ia sendiri suka membaca komik bersama istrinya setiap ada waktu luang.
“Iya nih, lagi seru. Aku tidak menyangka penjahatnya tidak hanya satu. Aku mengira psikopat itu penjahat utama, ternyata ada yang lebih jahat lagi. Wah, novel ini memang membuatku selalu penasaran!” Whitney terkagum-kagum menggeser layar ponselnya.
“Padahal komik favoritmu sudah dirilis nih dua episode. Kamu tidak mau baca?”
Dengan lincah Whitney keluar dari aplikasi novel, kini membuka aplikasi khusus komik langsung membaca komik favoritnya. “Kamu benar! Tumben sekali belakangan ini rilis dua episode per minggu. Ada apa dengan penulisnya?”
“Karena kamu sedang hamil dan gaya ngidammu selalu aneh maunya baca komik, penulisnya mengerti perasaanmu.”
“Mendengar kamu menggombal begitu, kamu tidak menyesal kalau penulisnya adalah pria?”
“Tidak masalah.” Harry mengecup pelipis Whitney.
Pasangan Vallerie dan Elliot berbelanja di supermarket membeli barang kebutuhan mereka, sambil mendorong stroller dan troli memilih sayur-sayuran dan daging untuk makan malam nanti. Seketika Vallerie ingin mengambil salah satu bumbu penyedap yang letaknya di sebelah makanan kaleng, tanpa sengaja ia menyenggol salah satu makanan kaleng sehingga hampir menimpa punggungnya. Untungnya langsung dilindungi suaminya, tapi kejadian ini terulang kembali seperti di masa lalu. Punggung lebar Elliot dijadikan perisai melindungi Vallerie dari makanan kaleng.
Vallerie langsung panik ingin memeriksa kondisi punggung suaminya, tapi tubuhnya langsung dipeluk erat suaminya. Vallerie sedikit ketakutan, adegan sekarang sama persis seperti sebelumnya padahal takdir mereka sudah berubah, apakah ulang tahun pernikahan kali ini akan berjalan lancar sampai pergantian hari nanti?
“Kamu mencemaskan punggungku lagi?” Elliot tersenyum santai sambil mengelus kepala Vallerie lambat laun.
“Seharusnya aku bisa menghindari kejadian ini. Tidak kusangka meski kita sudah punya anak tetap terjadi.” Vallerie memanyunkan bibir sambil mengelus punggung suaminya pelan, secara tidak langsung menyembuhkan luka kecil.
“Tidak apa-apa kalau kejadian ini terulang. Yang penting sekarang tidak ada kejadian buruk menimpa kita lagi. Nanti malam, aku ingin merayakan ulang tahun pernikahan kita bersama anak kita.”
Sebelum pulang ke rumah, tidak lupa membeli kue ulang tahun pernikahan di toko langganan Elliot sejak dulu setiap kali pesan kue secara khusus. Saat mampir beli buket bunga di toko bunga, sebenarnya Vallerie sedikit benci teringat momen masa lalu mereka bertemu Carla secara acak sewaktu ingin membeli buket bunga mawar. Namun, Vallerie tidak ingin mencegah keinginan suaminya ingin membelikan bunga untuk dijadikan hiasan di rumah, meski rumah mereka banyak tanaman hias.
Untungnya di kehidupan sekarang, kejadian yang terulang hanya saat di supermarket. Saat perjalanan pulang ke rumah, Evania tertidur pulas di kursi khusus bayi, sedangkan Elliot masih menyetir mobil dengan santai sambil menggenggam tangan istrinya.
Vallerie terus menampakkan senyumannya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, bahkan sorot matanya semakin candu menikmati pemandangan senyuman indah suaminya sangat menawan.
Sebelum turun dari mobil, untuk merayakan keselamatan mereka, Elliot menghujani ciuman di area wajah Vallerie, membuat gelak tawa bahagia dihasilkan Vallerie berhasil menghangatkan udara di dalam mobil. Vallerie juga tidak bisa menahan diri, justru dirinya tidak kalah menggerakkan bibirnya lincah berlompat-lompat di wajah tampan suaminya.
“Kalau sampai dilihat Evania, kamu harus bertanggung jawab!” Vallerie menegur tegas, menempelkan telunjuk di bibir suaminya.
“Tenang saja, nanti aku kasih dia boneka mahal supaya dia menuruti aku.” Elliot menjawab dengan santai, melanjutkan aksi kecupan penuh girang.
“Mau sampai kapan kamu menciumku? Kamu tidak kasihan Evania nanti makan terlalu malam?”
Sebagai penutup permainan bibir, Elliot mencium kening Vallerie mendalam. “Aku ingin masak makan malam bersamamu.”
Vallerie dan Elliot menghiasi rumah mereka sekaligus bermain bersama Evania sampai malam hari. Kali ini pesta ulang tahun pernikahan mereka berlangsung meriah di kediaman mereka ditemani sang buah hati mempermanis keluarga kecil yang mereka bentuk selama dua tahun.
Tidak lupa Elliot membeli sebuah kue tiramisu dengan hiasan permen-permen berukiran hati di bagian tepi kue dan juga menancapkan beberapa tangkai lilin di tengah kue. Bersamaan mereka berdua meniup lilin, kemudian saling berciuman mesra sekilas seketika sang buah hati sudah tertidur di kamar, karena kelelahan jalan-jalan seharian dan sempat bermain balon saat makan malam.
Sejenak Elliot mengambil sebuah paper bag yang disimpan di dalam laci penyimpanan, membuat Vallerie penasaran sejak kapan suaminya menyembunyikan sesuatu darinya, padahal selama ini ke mana pun mereka pergi selalu bersama.
Elliot mengeluarkan sebuah kotak berukuran besar, kemudian membuka kotak itu isinya berupa sebuah kotak musik dengan hiasan figur sepasang pengantin sedang berdansa. “Ini hadiah ulang tahun pernikahan untukmu.”
Mata Vallerie bersinar-sinar mengamati keindahan kotak musik ini, tangan kanannya meraba kaca pelindung lambat laun hingga mulutnya terbuka lebar. “Cantik sekali. Kapan dan di mana kamu beli? Kenapa aku tidak tahu selama ini kamu menyembunyikan dariku?”
Elliot menggarukkan kepala sambil menunduk. “Sebenarnya saat kamu sibuk rapat beberapa saat lalu. Bisa dikatakan kotak musik ini hanya ada satu di dunia ini. Coba kamu putar musiknya deh.”
Vallerie menekan sebuah tombol memutarkan sebuah instrumen romantis favorit mereka tapi sedikit dimodifikasi, yaitu “Canon in D”.
Kelopak matanya sedikit basah, spontan memeluk suaminya erat sambil memegang kotak musik. “Terima kasih sudah memberikan hadiah indah ini.”
“Aku sengaja memberikan hadiah ini saat kita sudah pulang dengan selamat di hari ulang pernikahan kita yang ke dua. Hari ini tidak terjadi sesuatu pada kita. Bisa disimpulkan, kehidupan pernikahan kita akan terus bertahan dan berjalan manis seperti mini figur sepasang pengantin di dalam kaca kotak musik ini.”
Pandangan Vallerie kembali memandangi kotak musik ini. “Mini Elliot dan Vallerie, akan kupastikan kalian selalu saling berpegangan tangan erat.”
“Tapi, jika dipikir-pikir lebih manis majikannya daripada mini figur ini.” Elliot menyunggingkan senyuman usil menyentuh pipi Vallerie dengan telapak tangan kanan.
Sepasang bibir bertautan indah dengan penuh kehangatan cinta. Pergerakan bibir dengan lembut menyatakan perasaan bahagia yang mereka alami sepanjang hari tidak bisa dideskripsikan dalam bentuk pernyataan. Awalnya posisi duduk mereka saling bersebelahan, kini tanpa disadari Vallerie menduduki paha suaminya dengan manja, masih dalam kondisi bibirnya berdansa bersama bibir suaminya semakin candu.
Cukup puas mencicipi asupan bibir manis, perlahan Elliot dan Vallerie memundurkan bibir serentak dan saling melepas tawa bahagia sambil mengelus kepala satu sama lain.
Elliot mengulurkan tangan kanan. “Hari ini ada hujan meteor, kamu mau lihat bersamaku di balkon?”
“Evania sedang tidur, tidak masalah hanya kita berdua melihatnya?”
“Sebenarnya aku ingin membangunkannya karena fenomena alam ini jarang terjadi. Tapi, tidak masalah, lebih baik dia beristirahat cukup karena hari ini sudah menemani kita kencan sepanjang hari.”
Seketika Vallerie mengangguk, Elliot menggendong tubuh Vallerie menuju kamar mereka. Posisi balkon kamar sangat cocok dijadikan tempat menyaksikan hujan meteor. Elliot membiarkan istrinya menduduki pahanya, lalu mendekap tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang sambil menatap langit malam.
“Ulang tahun pernikahan kita kali ini sungguh sangat spesial bagiku. Bahkan Tuhan memberikan hadiah hujan meteor supaya kita bisa meminta permohonan kita.” Vallerie mengalungkan kedua lengan di leher suaminya.
Elliot tertawa ledek, seperti biasa gengsinya masih belum berubah sejak dulu. “Kamu percaya mitos anak kecil?”
Vallerie memanyunkan bibir, sungguh kecewa jawaban suaminya tidak sesuai ekspektasi. “Sedangkan saat bulan madu, kamu mudah percaya mitos jembatan cinta dan dinding cinta. Dasar tidak ngaca!”
“Hujan meteor itu terjadi karena banyak asteroid kecil jatuh ke bumi akibat terkena gesekan–”
Sudah tidak bisa menahan dengar ocehan suaminya lagi-lagi memamerkan kecerdasan, Vallerie membungkam bibir suaminya dengan tangan kanan. “Aku tahu, Pak Direktur Elliot. Bahkan ada di buku anak SD.”
Respons Elliot tertawa puas sambil mencubit pipi istrinya. Seketika ingin membuka bibirnya, langit malam dihiasi kilatan hujan meteor membuat senyuman bahagia menghiasi wajah mereka serentak.
“Ayo, cepat ucapkan permohonanmu!” Vallerie menatap girang, melekatkan kedua tangannya.
Sejenak mereka memejamkan mata mengucapkan doa dalam hati. Permintaan Vallerie hanya sederhana, perlahan ia membuka matanya mengamati suaminya masih memejamkan membuat dirinya sangat penasaran permohonan suaminya seperti apa, padahal tadi sempat gengsi.
Hujan meteor masih berlangsung di langit. Akhirnya Elliot membuka matanya langsung disambut senyuman usil istrinya membuat tatapannya tidak berkedip.
“Bukankah tadi kamu sendiri bilang tidak percaya mitos?” Vallerie sengaja mengejek suaminya, sambil bertopang dagu ala model ingin berpose.
Perlahan Elliot menempelkan hidungnya pada hidung mancung di hadapannya. “Tidak ada salahnya memercayai mitos. Siapa tahu keinginan kita sungguh terkabul.”
“Tadi kamu mendoakan apa?” Vallerie mengedipkan mata manis pada suaminya.
“Aku ingin keluarga kita terus manis seperti ini. Tidak ada yang menghancurkan kehidupan lagi, aku hanya ingin kamu dan anak kita selalu hidup bahagia meski sederhana.” Elliot menjawab dengan nada manis, mengelus pipi sang pujaan hati sekilas.
“Sejak tadi pagi saat bangun tidur aku sudah mengucapkan permohonan doa. Aku ingin kamu tidak amnesia lagi dan tidak kasar seperti dulu.” Justru bagi Elliot, permohonan istrinya terkesan sindiran membuat matanya menyipit sebal.
“Sayang, dua tahun sudah berlalu. Selama dua tahun ini, aku selalu memperlakukan kamu seperti seorang ratu, apa yang kurang dari aku?” Elliot mengeluh, berkacak pinggang dengan tatapan melotot.
“Tidak ada yang kurang darimu. Aku hanya ingin tingkat gombalanmu seiring berjalan waktu semakin meningkat, supaya aku selalu mencintaimu seiring berjalan waktu.”
Elliot mendaratkan bibirnya di puncak kepala istrinya berdurasi lama dengan penuh kasih sayang sangat besar. “Spesial untukmu saja. Semua momen bahagia yang kita lalui bersama selalu membuatku semakin mencintaimu juga.”
Vallerie mencium pipi suaminya dengan penuh cinta. “Aku sangat mencintaimu, Elliot Sinclair.”
“Aku mencintaimu berkali-kali lipat, Vallerie Emerald.”
Masih belum puas melampiaskan rasa cintanya, sepasang bibir saling bertautan dengan indah selama beberapa detik, lalu melepaskan dengan lincah. Mengingat sang majikan ingin melihat hujan meteor yang masih berlangsung dan tidak ingin melewatkan kesempatan langka ini.
Vallerie semakin mempererat rangkulan di leher Elliot, sedangkan Elliot mempererat pelukannya di tubuh Vallerie sambil menggerakkan tubuh mereka kegirangan.
Akhirnya ulang tahun pernikahan yang ke dua berlangsung dengan manis dan bisa dikatakan ini adalah ulang tahun pernikahan yang terbaik bagi mereka. Bisa melihat hujan meteor, memiliki anak, dan kehidupan semua orang terdekat mereka berakhir bahagia juga.