
Di kamar VVIP rumah sakit milik salah satu kenalan ayahnya Elliot, dua bersaudara bersama pasangan masing-masing sangat panik melihat sang ayah terbaring memakai selang infus, meski sang ayah masih terlihat santai menyambut kedatangan mereka semua.
Terutama Erick dan Elliot merasa bersalah karena mereka tahu penyebab ayah mereka tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit. Sudah pasti karena skandal aneh yang menghebohkan di seluruh media sosial sampai trending teratas membuat sang ayah pasti jatuh pingsan.
Elliot yang maju duluan mendekati ayahnya masih tersenyum tipis, kedua tangan menyentuh punggung tangan kiri sang ayah dipasangkan selang infus membuat tatapannya semakin murung dan sedikit berkaca-kaca.
“Ayah membuatku takut saja!”
Sang ayah tersenyum tipis menyentuh punggung tangan Elliot. “Sudahlah, kamu jangan terlalu berlebihan, Nak. Ayah masih sehat sebenarnya.”
“Masih sehat apanya! Kalau kamu sampai dilarikan ke rumah sakit, berarti penyakitmu semakin parah!” Ibunya Elliot menepuk lengan suaminya pelan.
“Maafkan ayah. Kalian semua pasti panik sampai terburu-buru menjenguk.” Sang ayah memandangi semua orang yang menjenguknya.
Elliot menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Aku sangat bersyukur melihat ayah masih dalam keadaan sadar begini.”
Perlahan sang ayah memposisikan tubuh duduk bersandar pada bantal, dibantu sang istri. “Omong-omong, soal berita yang disebarluaskan di internet ….”
“Itu tidak benar, Ayah! Vallerie bukan tipe wanita murahan! Aku dan Vallerie sungguh saling mencintai sejak awal.” Elliot membantah cepat, sebelum ayahnya kembali berpikiran aneh-aneh.
Elliot menggandeng tangan kiri Vallerie diam-diam, tapi diketahui ayahnya yang tertawa kikuk dari tadi.
“Ayah tahu. Mustahil istrimu adalah penghancur hubungan orang. Wajah istrimu sangat manis begitu, justru ayah meragukan dia bisa berselingkuh.”
“Jadinya, ayah tidak akan membenci Vallerie, ‘kan?” Elliot membujuk dengan wajah memelas.
“Tentu saja, ayah sangat menyukai Vallerie sejak dulu. Sebenarnya penyebab ayah pingsan karena ayah sangat syok melihat menantu kesayangan ayah jadi penjahat. Padahal di mata ayah, Vallerie bukan tipe wanita seperti itu.”
Pagi-pagi sudah dapat pujian ekstra dari suaminya, sekarang dipuji ayah mertua langsung. Vallerie semakin bersyukur memiliki orang-orang di sekitarnya sangat menyayanginya di kehidupan sekarang.
Pipinya semakin memerah, perlahan sedikit melangkah mendekati ayah mertuanya. “Terima kasih sudah sangat memercayaiku sejak dulu, Ayah. Aku sangat tersanjung.”
“Ayah sudah serahkan Elliot sepenuhnya padamu. Dilihat Elliot selama ini selalu bermanja denganmu, syukurlah kalian selalu hidup bahagia karena sudah saling percaya satu sama lain sejak dulu.”
“Soal Elliot, sudah pasti selalu prioritas nomor satuku. Sama seperti halnya selama ini dia selalu memedulikan aku dibandingkan segala hal di dunia ini.” Vallerie mengedipkan mata kanan sekilas pada suaminya.
Sebenarnya bukan hanya Elliot dan Vallerie yang datang menjenguk. Tapi ada pasangan lainnya sudah menjadi obat nyamuk berdiri di pojokan membuat sang ayah merasa sungkan. Sorot matanya beralih pada Erick berwajah murung.
“Erick, kenapa kamu diam saja dari tadi?” sapa sang ayah membuat Erick terkejut dari lamunannya.
Erick menunduk. “Aku tidak mungkin mengganggu perbincangan ayah dan Elliot.”
“Tidak apa-apa. Ayah justru ingin berbincang denganmu juga dan Rachel.” Sang ayah mengibaskan tangan kanannya mengisyaratkan Erick dan Rachel berdiri mendekat.
Elliot dan Vallerie berinisiatif melangkah mundur mempersilakan pasangan berikutnya berbincang dengan sang ayah. Selain itu, Vallerie hendak berpamitan karena skandal ini sekarang membuat beban hidup semakin bertambah dan harus diselesaikan secepatnya sebelum nama baiknya hancur dalam sekejap karena trik murahan penjahat.
“Ayah, aku dan Elliot izin pamit dulu, ya. Karena kami berencana ingin menyelesaikan skandal aneh ini.”
“Tapi, permasalahan ini agak sulit diatasi jika hanya kalian melakukannya. Ayah bisa meminta bantuan kenalan ayah membereskan masalah kalian.”
Vallerie menggeleng pelan. “Aku sangat berterima kasih pada ayah, tapi kami bisa mengatasinya sendiri. Temanku bernama Whitney dan Harry adalah reporter, aku bisa meminta bantuan mereka menulis artikel klarifikasi persoalan berita di internet tidak benar.”
“Baiklah, ayah tidak akan memaksa keputusanmu.”
“Kami permisi dulu.” Elliot menggandeng tangan istrinya terburu-buru keluar dari kamar ini. Sebenarnya tujuan mereka terburu-buru berpamitan karena ingin memberikan ruang untuk sang ayah dan anak sulung berkomunikasi dengan baik.
Sekarang hanya tersisa Erick dan Rachel. Suasana sedikit canggung, karena Erick bingung ingin menjelaskan hubungannya dengan tunangannya seperti apa pada sang ayah. Mungkin akan terjatuh pingsan kalau mendengar kejadian di luar dugaan dan terlarang bagi sepasang kekasih belum menikah.
“Seharusnya ayah jaga kesehatan! Ayah harus beristirahat cukup dan jangan terlalu memaksakan diri! Aku juga hampir serangan jantung mendengar ayah dirawat di rumah sakit.” Erick mengomel panjang lebar membuat sang ayah justru sangat bahagia mendengar putra sulungnya masih sangat perhatian meski percakapan terakhir mereka terkesan mencekam.
Sang ayah tertawa kecil. “Sudahlah, kamu tidak perlu mencemaskan ayah lagi. Lebih baik kamu fokus pada hubungan kalian saja. Kapan kamu memutuskan menikahi Rachel? Besok kamu ingin mengadakan pertemuan keluarga, ‘kan?”
“Tidak biasanya kamu mengatur pertemuan keluarga kedua belah pihak. Sudah pasti karena kamu ingin menikah. Bagus untukmu, Nak.” Tangan kanan sang ayah menepuk-nepuk pundak putranya santai.
“Tapi … ada satu hal yang harus ayah ketahui.”
Sorot mata Erick tertuju pada tunangannya, tangan kanannya mengusap perut Rachel masih belum berisi. “Sebenarnya aku melamar Rachel karena aku sungguh mencintainya, tapi Rachel mengandung anakku, Ayah.”
Benar dugaan Erick. Sekarang reaksi ayahnya sangat terkejut sambil meremas dada terasa sedikit sakit karena efek syok. Ibunya Elliot spontan duduk di tepi ranjang menggenggam tangan kiri suaminya dengan tatapan cemas, jika dikejutkan hal tidak terduga terus, mungkin suaminya sungguh akan terkena serangan jantung.
“Apa … yang terjadi sebenarnya? Bagaimana bisa?”
“Ceritanya panjang. Aku sungguh tidak sengaja melakukannya. Tapi, aku melamar Rachel sebelum mengetahui dia hamil. Maafkan aku, Ayah. Ayah ingin menghukum aku, aku sangat menerimanya.” Erick membujuk dengan wajah pucat sambil menggesekkan kedua telapak tangan gemetar.
Bukan bermaksud memberi hukuman. Justru sang ayah masih tersenyum tipis menepuk punggung putranya pelan. “Kalau kamu tidak sengaja melakukannya, maka kamu harus bertanggung jawab. Pertahankan hubunganmu dengan Rachel. Rawat dia sebaik mungkin supaya cucu ayah terlahir sehat nanti.”
Bola mata Erick membulat. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa ayahnya tidak marah sama sekali atas kesalahan besar ini?
“Ayah tidak marah?”
“Ayah ingin marah, tapi mau gimana bisa marah kalau sudah terlanjur! Sekarang yang kamu fokuskan adalah jaga bayimu.”
Akhirnya senyuman tipis terbit di sudut bibirnya dan tubuhnya membungkuk sembilan puluh derajat sambil merangkul pinggang Rachel erat. “Aku pasti akan merawat Rachel dengan baik supaya cucu ayah terlahir sehat.”
“Ada satu hal yang ingin ayah berikan padamu juga. Mendengar kabar baik ini, ayah ingin menyerahkan posisi direktur eksekutif keuangan untukmu.”
Bukan hanya Erick yang terkejut hampir serangan jantung. Tapi Rachel dan ibunya Elliot juga terkejut sampai mulut menganga. Terutama Erick, tidak menduga hadiah istimewa ini sungguh diberikan padahal ia sudah menyerah sebenarnya mengejar impian yang tidak mungkin dicapainya sampai dulu sempat ingin bersaing tidak sehat dengan adiknya demi keegoisannya. Sekarang, apa yang harus dilakukannya setelah mendengar hal tidak terduga ini.
Perlahan duduk berjongkok di lantai, memposisikan berlutut di samping ranjang pasien dengan kepala menunduk. “Maafkan aku, Ayah. Selama ini aku selalu bersikap egois. Seharusnya ayah menghukum aku, bukan memberikan hadiah besar ini.”
Sang ayah tertawa terbahak sambil terus menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa, Putraku. Memang sejak dulu ayah sudah berniat ingin memberikan posisi itu untukmu kalau kamu sudah menikah. Sebenarnya selama ini tujuan ayah merahasiakannya karena posisi direktur eksekutif keuangan di perusahaan adalah hadiah pernikahanmu dari ayah. Hanya ini yang ayah bisa berikan. Tapi, kamu justru selalu salah paham.”
Buliran air mata semakin membanjiri kelopak mata. Erick teringat perkataan terakhirnya malam itu soal ayahnya selalu bersikap egois. Justru sebenarnya ia yang egois tidak ingin mendengarkan pendapat ayahnya dulu. “Aku selalu egois dan menyakiti perasaan ayah. Bagaimana bisa aku mendapatkan posisi itu?”
“Ayah sudah lupakan masalahmu di masa lalu. Sebenarnya, hadiah posisi direktur juga tidak gratis. Ayah ingin kamu bertanggung jawab merawat cucu ayah dengan baik. Kalau sampai anakmu sakit, maka kamu akan kehilangan posisimu.”
Tanpa berbasa-basi lagi, Erick langsung memeluk tubuh ayahnya erat. Melampiaskan semua kesalahan yang telah diperbuat selama ini, mungkin sulit dihitung hanya menggunakan jari. “Aku pasti tidak akan mengecewakan ayah.”
“Jawaban soal pertanyaanmu mengenai menyayangi ibu kandungmu. Sebenarnya ayah sangat mencintai ibumu juga sampai sekarang. Ayah masih belum bisa melupakan momen bahagia bersamanya sampai detik-detik terakhir ibumu mengalami kecelakaan. Ayah menjawab sekarang supaya kamu tidak marah lagi.” Sang ayah memberikan senyuman hangat pada ibunya Elliot agar tidak terjadi salah paham.
“Sudahlah, ayah jangan mengungkit hal itu lagi. Nanti ibu keduaku akan tersinggung mendengarnya.” Pandangan Erick tertuju pada ibunya Elliot dari tadi tertawa anggun.
“Tidak apa-apa, Erick. Ibu justru senang ayahmu selalu terbuka. Kamu juga adalah anakku meski bukan anak kandungku.” Ibunya Elliot mendekap tubuh Erick erat.
“Sekarang proporsi saham milikmu dan Elliot sama. Kalian berdua masing-masing mendapatkan 25 persen, supaya adil. Sedangkan Vallerie mendapatkan lima persen sejak bergabung dengan keluarga kita. Bersainglah dengan sehat bersama adikmu. Kalau salah satu dari kalian berhasil membanggakan ayah, ayah akan menyerahkan posisi presiden direktur untuk kalian tanpa ragu.”
Erick mengangguk bersemangat lalu menunduk hormat. “Aku tidak akan mengecewakan ayah lagi. Kali ini aku akan bersaing dengan Elliot tanpa pakai cara licik.”
“Belakangan ini Elliot berencana akan membuka department store dan sering melakukan survey lokasi, jangan kalah darinya!”
Sepanjang hari, meski Elliot sudah meminta bantuan beberapa reporter andalannya menghapus berita hoaks itu, tetap saja berita itu masih trending karena Bertrand memiliki koneksi sangat kuat terhadap media. Maka dari itu, Elliot terpaksa menggunakan kartu cadangan mengandalkan teman terdekatnya.
Saat hari libur di sebuah Kafe terkenal, Elliot dan Vallerie berkumpul bersama sepasang reporter membahas persoalan skandal aneh semakin lama semakin panas di media sosial. Sepasang reporter turut mengamuk melihat teman terdekat mereka seolah-olah menjadi penjahat padahal di mata mereka, padahal Vallerie adalah orang terbaik sepanjang masa.
“Aish, rasanya pengen aku pukul orang itu habis-habisan!” Whitney mengepalkan kedua tangan.
Vallerie memainkan kuku jari santai. “Silakan saja, pelakunya adalah Bertrand. Aku tidak salah tebak.”
Melihat wajah Vallerie masih santai di tengah situasi genting, Harry semakin penasaran apa yang akan direncanakan Vallerie. “Jadinya, langkah selanjutnya apa?”