
Sebenarnya maksud Vallerie merekrut Aria sebagai orang kepercayaannya ada tujuan lain. Selain mengandalkan Jordan, Vallerie juga membutuhkan satu orang lagi untuk melaporkan pergerakan Erick jika Erick melakukan hal mencurigakan lagi. Tapi, bukan berarti hanya memperalat Aria. Memang dari lubuk hati Vallerie sudah menganggap Aria sebagai sahabat terdekatnya.
Tidak terasa sudah memasuki malam hari. Saatnya Elliot mengajak Vallerie dinner romantis di restoran favorit mereka sewaktu dulu setiap pulang kerja. Vallerie bertingkah kegirangan memandangi pemandangan indah restoran sederhana ini, dihiasi ornamen nuansa romantis mempercantik suasana kencan mereka semenjak dulu.
Kebiasaan Vallerie tidak berubah. Lagi-lagi melakukan hal yang sama memotret setiap titik restoran ini dihiasi bunga mawar kecil dan lampu kelap-kelip kemudian memposting di akun media sosial Pictagram.
Elliot tertawa kecil melihat tingkah istrinya selalu gemas di matanya setiap ada hal unik ditemuinya. Saat pelayan restoran menyajikan menu makanan favorit mereka di restoran ini, Vallerie menghentikan aksi kekanak-kanakan langsung menggerakkan tangan kanannya lincah menyantap makan malamnya melahap tanpa peduli suaminya memandanginya dari tadi.
Mulut Vallerie sedikit berminyak akibat terlalu rakus menikmati makanannya, jempol kanan Elliot berinisiatif menyeka bercak minyak berceceran pada sudut bibir merah Vallerie.
“Dari dulu sampai sekarang selalu deh belepotan,” ejek Elliot terkekeh.
Vallerie menunduk malu. “Maaf, lain kali aku akan perbaiki sikapku.”
“Tidak masalah. Aku lebih suka kamu bersikap menggemaskan begini daripada kaku terus.”
“Bukankah sikapmu sangat kaku seperti robot biasanya? Aneh saja mendengar kamu suka aku yang berantakan.”
Sejenak Elliot membagikan beberapa potong daging panggang untuk istrinya. “Sudah kubilang sebelumnya, aku bersikap lembut hanya untuk istriku saja. Orang lain, aku tidak peduli sama sekali.”
“Kalau sama Jordan, Whitney, Harry, dan kedua orang tuamu. Kamu akan bersikap dingin terus pada mereka?”
“Sudah pasti. Sekarang aku ingin bersikap dingin saja. Percuma bersikap lembut di kehidupan sebelumnya, tapi aku tidak dihargai. Ya, meski kedua orang tuaku juga menyayangiku tapi tidak terlalu berlebihan.”
Alis Elliot menurun. Suasana menjadi mellow tiba-tiba teringat kehidupan masa lalunya sangat suram tidak dianggap sama sekali. Sebenarnya kehidupan sekarang juga tidak ada bedanya, hanya saja sekarang posisinya sangat penting di mata semua orang dan banyak orang mengenalnya meski hanya sebatas kenal.
Vallerie menaruh sendok dan garpu, menghampiri suaminya melingkarkan kedua tangannya pada leher sang suami dari belakang memasang tatapan sendu. “Meski kamu tidak dihargai semua orang, kamu punya aku yang selalu menghargaimu. Akan kupastikan kamu tidak akan kesepian lagi sejak menikahiku.”
Senyuman manis kembali terbit pada wajah tampan Elliot setelah mendengar kalimat motivasi istimewa diberikan Vallerie. Tangan kanannya menepuk pahanya. “Duduk bersamaku, Sayang.”
Vallerie memposisikan bokong menduduki paha suaminya sekaligus menerima pelukan ekstra cinta yang diberikan Elliot, membuat tubuhnya semakin merasa hangat karena cinta.
“Vallerie, perkataanmu tadi membuatku semakin jatuh cinta padamu berkali-kali lipat.”
“Teruslah mencintaiku apa adanya. Kalau sampai kamu galak lagi, siap-siap terima pembalasan dariku!” Vallerie memasukkan sesendok nasi lumayan banyak ke dalam mulut Elliot.
Elliot mengunyah nasi sedikit kesulitan, akhirnya bisa ditelan juga lalu memasang tatapan cemberut pada istrinya seolah-olah ia habis disiksa. “Sayang, barusan kamu berniat suapi aku tidak sih?”
“Tadi itu hanya sebagai penggambaran hukuman kalau kamu galak lagi! Tadi hanya pemanasan, hukuman yang sebenarnya akan lebih ganas lagi.”
Elliot memasang wajah memelas menggesekkan telapak tangan. “Ampun, Vallerie! Aku tidak akan bersikap galak lagi. Sebagai gantinya, aku ingin mengajakmu ke tempat bagus sebelum pulang ke rumah.”
“Tempat apa itu?”
Di mata semua orang, tempat ini terlihat biasa saja. Tapi di mata Vallerie dan Elliot, tempat ini membawakan kenangan terindah sepanjang hidup mereka. Taman kota jarang dikunjungi orang dihiasi air mancur di tengah taman dan dihiasi lampu kelap-kelip. Vallerie dan Elliot bergandengan tangan berjalan santai di sepanjang taman, merasa déjà vu pernah melakukan hal yang sama sebelumnya.
“Kamu mengajakku ke restoran langganan kita, sekarang kamu mengajakku ke sini. Sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan, Sayang?” Vallerie sangat penasaran melihat tingkah suaminya hari ini tidak biasanya.
“Kamu masih ingat tempat ini? Saat aku melamarmu.”
Langkah kaki mereka terhenti di satu titik depan air mancur dihiasi beberapa patung malaikat mengelilingi air mancur. Jantung Vallerie berdebar-debar, merasa seperti suaminya akan melamarnya lagi padahal status mereka sudah menikah sejak sebulan lalu.
Elliot menunduk lesu, merenungkan apa yang diperbuatnya saat dilamar istrinya di kamar hotel terkesan hancur. Apalagi perkataan menohok diluncurkan dari bibirnya, rasanya ia ingin mengutuk dirinya sendiri setiap kali membayangkan momen buruk itu.
“Seharusnya di kehidupan sekarang, aku melamarmu di sini. Malahan kamu yang melamarku duluan dan lamaran itu terkesan paksaan. Aku menyesal menerima lamaranmu sebagai paksaan dan pelarian dari perjodohan. Aku bodoh tidak mengenalmu saat itu.”
Vallerie tersenyum bahagia menandakan bahwa ia sudah melupakan momen memalukan itu. Tangan kanannya masih mengayunkan tangan Elliot berirama. “Mau dilamar pakai cara apa pun aku tidak masalah. Kamu menerima lamaranku terpaksa saat itu aku tidak masalah. Aku hanya ingin kita hidup sebagai sepasang suami istri selalu berbahagia sepanjang hidup kita.”
“Mengingat momen lamaran sewaktu dulu, aku ingin melakukannya lagi.”
*****
Situasi di kehidupan dulu sedikit berbeda suasana. Vallerie berlarian kegirangan menelusuri sekeliling taman ini ditambah air mancur taman terlihat indah disinari warna lampu pink dan ungu silih berganti.
Suasana hati Elliot saat itu sedang membaik. Tangan kanannya terus berayunan dengan tangan Vallerie kemudian perlahan tangannya itu meraba saku jasnya seperti ada sebuah kotak kecil bersembunyi.
“Maaf, ya. Aku tidak memberikan kado ulang tahun untukmu.”
“Tidak apa-apa. Hanya kamu yang mengingat hari ulang tahunku dan kamu memberikan kue favoritku untukku, aku sudah sangat bahagia.”
Entah kenapa Vallerie merasa sikap kekasihnya sedikit aneh terus meraba kotak kecil di dalam saku jas. “Elliot, kamu sedang apa?”
“Aku ingin memberimu hadiah kecil.” Elliot mengeluarkan sebuah kotak kecil mahal dari saku jasnya kemudian membuka kotak kecil itu isinya berupa sebuah cincin berlian.
Bola mata Vallerie membulat sampai rahangnya kaku. Kedua tangannya spontan menutup mulut dengan anggun, bagi Vallerie ini bukan hadiah kecil, melainkan sebuah hadiah istimewa sangat memengaruhi hidupnya di masa depan.
“Elliot ….”
“Maaf, hadiah ini meski kecil tapi terkesan sedikit berlebihan. Aku ingin memberanikan diriku melamarmu sebagai pendamping hidupku di masa depan. Aku masih banyak kekurangan di matamu, tapi sejak aku berpacaran denganmu, hidupku sangat bermakna. Mungkin kalau di masa depan kita hidup berdampingan, aku tidak perlu mencemaskan hidupku lagi.”
Mata Vallerie mulai sembab. Tetesan air mata terus membasahi kerah kemejanya, diusap lembut oleh jempol tangan Elliot.
“Elliot ….”
“Kamu tidak perlu gelisah karena traumamu, aku akan selalu menjadi penyembuhmu. Setiap kamu takut air atau takut petir, kamu tidak perlu bersusah payah memanggilku dari kejauhan. Ke mana pun kita pergi, aku selalu menemanimu dan melindungimu dari berbagai hinaan orang-orang yang selalu merendahkanmu.”
Elliot mengatupkan bibirnya, kemudian melanjutkan ungkapannya masih belum selesai. “Kalau sampai aku harus mengorbankan nyawaku, aku rela mati demi kamu.”
Vallerie menggeleng cepat. “Jangan berbicara hal aneh! Aku suka kamu selalu melindungi aku selama ini, tapi aku ingin kamu jangan meninggalkan aku.”
Senyuman manis terpampang pada wajah Elliot. “Tadi itu hanya seumpama saja, aku juga ingin berumur panjang supaya pagiku selalu disambut istri kesayanganku.
Jempol kanannya mengusap air mata dengan lembut. “Maukah kamu menjadi pendamping hidupku, Vallerie?” Dengan senyuman percaya diri sambil menggenggam erat kotak cincin ini, Elliot mengungkapkannya sangat lantang.
Bagi Vallerie, pertanyaan ini sangat mudah dijawab. Kepalanya langsung mengangguk cepat, mencium bibir sang kekasih sekilas sambil mengulurkan jari manisnya menampakkan senyuman bahagia.
“Bagiku, kamu tidak ada kekurangan di mataku. Meski kamu anak yatim piatu, tapi aku sangat bahagia memiliki kamu. Kamu selalu menemaniku dan menenangkan aku setiap aku mengalami masalah. Aku juga satu-satunya wanita yang berhasil menyembuhkan luka traumamu. Mustahil, aku menolak menjadi istrimu.”
Elliot tertawa bahagia memakaikan cincin berlian ini pada jari manis Vallerie. Kemudian mengangkat tubuh Vallerie berputar-putar kegirangan melampiaskan rasa bahagianya. Bahkan air mancur saja sangat peka memberikan warna pink cahaya lampu menandakan bahwa kehidupan sepasang kekasih ini akan selalu manis seiring waktu berjalan.
*****
Kilasan balik mengenai momen lamaran manis di tempat ini, Elliot sangat merindukan momen itu hingga tanpa disadari matanya sedikit berkaca-kaca sambil terus menyentuh cincin nikah terpasang pada jari manis Vallerie.
“Aku paling suka melihat senyumanmu saat menerima lamaranku. Sedangkan di kehidupan ini, aku malahan menerima lamaranmu sangat kasar. Seharusnya kamu memarahiku saat itu.”
Vallerie menggeleng pelan memeluk tubuh suaminya erat. “Tidak peduli lamaran dalam bentuk apa pun, aku tidak akan memarahimu. Aku hanya mementingkan momen lamaran saat itu. Seandainya kamu tidak melamarku waktu itu, mungkin sekarang aku tidak akan menikahimu juga. Hidupmu pasti selalu kesepian karena selalu dikhianati para wanita licik selalu mempermainkan kamu.”
“Vallerie ….”
Kecupan manis mendarat di pipi lembut Elliot selama beberapa detik. “Terima kasih sudah mengajakku kencan di tempat indah ini. Momen lamaran saat hari ulang tahunku akan selalu kuingat sepanjang hidupku.”
“Bagaimana kalau aku melamarmu sekarang? Sebagai Elliot di kehidupan sekarang, kamu akan menerimaku sebagai suamimu?” Kali ini Elliot memposisikan tubuhnya bertekuk lutut di hadapan sang istri.
Sejenak bibirnya mendarat di bibir sang istri. “Kamu tidak perlu takut lagi selama tinggal bersamaku. Meski aku terlihat galak dan cuek, tapi sikap galakku itu menakuti semua orang supaya mereka tidak berani menindasmu. Aku masih memiliki utang memberikan kasih sayang untukmu. Kamu satu-satunya wanita yang berhasil membuat sikapku menjadi lembut. Berkat kamu, aku mempelajari banyak hal. Hidup bersama wanita yang selalu menyayangiku dan aku cinta padanya sudah cukup membuatku bahagia. Tidak peduli kamu berasal dari keluarga mana, aku masih bersedia menjadi istrimu, Vallerie.”
Vallerie menangis bahagia sampai matanya sembab. “Cukup gombalannya, Sayang.”
Elliot menggeleng. “Bagiku masih belum cukup. Seandainya kamu menolak lamaranku karena aku galak, aku tidak ingin menyerah. Aku masih ingin mengejarmu sampai kamu sungguh menerimaku sepenuhnya.”
Lengan kekarnya mengangkat tubuh istrinya. “Tubuhmu mungil, aku sangat suka.”
Vallerie memanyunkan bibir. “Jadinya, kamu mau melamarku atau menyindirku?”
Elliot tertawa puas mengelus kepala sang istri. “Justru karena kamu mungil, aku bisa dengan mudah menggendongmu ke mana pun. Lenganku sangat mahal, aku hanya ingin menggendong sosok istri yang paling kusayangi di dunia ini, yaitu kamu, Vallerie. Meski banyak wanita memiliki tubuh lebih kecil darimu, tapi aku suka memberimu tumpangan menggendongmu supaya kaki indahmu tidak kelelahan.”
Tidak tahan mendengar gombalan sang suami, Vallerie langsung mencium pipi suaminya. “Sudah pasti aku ingin menjadi istrimu, Elliot. Bukan karena kamu berasal dari keluarga kaya, tapi sejak pertama kali bertemu denganmu saat ditindas Rachel, aku ingin melindungimu dari segala ancaman. Aku juga tidak suka melihatmu menderita sendirian. Aku ingin merasakan penderitaan bersamamu.”
Vallerie mengatupkan bibir dengan senyuman malu. “Aku juga suka digendong kamu.”
Keduanya saling melempar tawa bahagia dan menempelkan hidung satu sama lain. Elliot memutarkan tubuhnya kegirangan masih menggendong istrinya.
Tiba-tiba udara taman semakin dingin membuat tubuh sang istri mungil sedikit menggigil kedinginan. Spontan Elliot melepas jasnya membungkus tubuh istrinya dengan hangat dan memberikan pelukan kasih sayang.
“Kamu mau pulang sekarang?”
“Berikan aku waktu lima menit lagi.”
Elliot mengelus kepala Vallerie gemas. “Baiklah, lima menit saja. Aku cemas kamu terserang flu karena masuk angin.”
“Aku tidak akan terserang flu selama kamu selalu menghangatkan tubuhku seperti ini.”
Rona merah menyala pada pipinya. Jantungnya berdebar kuat mendukungnya mempererat pelukannya sekaligus meraba lekukan punggung lentik istrinya sangat sexy.
“Hangat.” Vallerie berbisik
“Kalau kamu kedinginan, tinggal panggil aku saja. Aku yakin kalau kamu menikahi pria lain, mereka pasti tidak akan bisa menghangatkan tubuhmu.” Elliot berbisik juga, menempelkan bibirnya di dahi istrinya.
Sedangkan di sebuah rumah mewah milik keluarga Elliot, lagi-lagi Erick mengunjungi kedua orang tuanya tanpa memberitahukan kabar dulu. Suasana di ruang kerja milik sang ayah terkesan menegangkan padahal belum mengucapkan sepatah kata.
Erick memasang wajah memelas, rasanya ingin mengemis ayahnya demi meraih mimpinya, tapi belum apa-apa sudah disambut tegas.
“Kamu mau apa lagi datang ke sini?”
“Sebenarnya aku penasaran dengan ayah sejak dulu. Kenapa ayah sangat memercayai Elliot daripada aku?” Nada bicara Erick mulai ketus membuat darah ayahnya mulai mendidih.
“Urusan itu, kamu tidak perlu ikut campur!”
“Apa karena ayah lebih menyayangi ibunya Elliot daripada ibuku?”