
Perkataan sebelumnya hanya gurauan. Meski rindu bersenang-senang bersama istrinya, Elliot tetap harus kembali ke kantor karena tidak ingin pekerjaannya terbengkalai harus diurus asistennya lagi hanya karena ingin egois.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, tatapan Vallerie terus berbinar memandangi pesona ketampanan sang suami terlihat semakin bersinar. Memikirkan kembali adegan saat suaminya menolongnya detik-detik terakhir sebelum kena tamparan Sofia, Vallerie tidak bisa berkata-kata selain terus memuji aksi kepahlawanan suaminya dalam hati.
“Kamu tidak bosan melihatku?” Akhirnya Elliot membuka mulut dengan nada sexy, dalam sekejap Vallerie langsung tersadar dari lamunan.
“Aku justru sangat suka melihatmu,” jawab Vallerie dengan nada manis.
Reaksi Elliot tertawa lepas, mengecup punggung tangan kiri Vallerie terpasang cincin pernikahan di jari manis. “Teruslah melihatku, Vallerie. Jangan pernah bosan melihatku dalam kondisi apa pun.”
“Sebenarnya aku sangat penasaran denganmu. Bukankah tadi kamu sendiri bilang ingin kembali ke kantor setelah makan siang?” Vallerie mengalihkan perbincangan akibat sudah tidak bisa menahan rasa penasaran.
“Karena aku penasaran apa yang ingin kamu lakukan sampai merahasiakan dariku. Tidak biasanya kamu bermain rahasia padahal selama ini kamu selalu terbuka padaku. Maka dari itu, sebenarnya dari tadi aku mengikutimu diam-diam.”
Vallerie memalingkan pandangan menatap kaca jendela di samping sambil memainkan kuku jari. “Ternyata sejak dulu setiap aku berbohong pasti kamu tahu. Tidak seru bermain rahasia denganmu.”
“Mau pakai trik apa pun, kamu tetap tidak bisa menutupinya dariku.”
Vallerie menghela napas lesu. “Maafkan aku.”
Elliot mengelus kepala Vallerie lambat laun. “Aku tidak masalah kamu bermain rahasia. Tapi, aku sangat senang melihatmu berani melawan Sofia memakai trik licikmu.”
“Habisnya aku tidak tahan dengan sikap Sofia membuat hidupmu sengsara juga sewaktu dulu. Apalagi kamu pernah dituduh menggelapkan dana perusahaan, padahal semua dana diambil Sofia diam-diam. Sudah pasti aku tidak akan diam saja.” Bibir Vallerie mengerucut.
“Jadinya, tujuan pembalasanmu sebenarnya adalah meminta kembali semua dana yang dicurinya lalu menyumbangkan ke orang lain. Itulah alasan kenapa kamu tidak ingin polisi menangkapnya dulu saat aku mengusulkan ide itu.”
“Masuk penjara dengan mudah, hidupnya pasti masih tenang selama uangnya masih berada di tangannya. Lagi pula, dengan semua uang yang diperolehnya, dia bisa menyewa pengacara andal untuk membebaskannya. Sekarang dia tidak memiliki apa pun, aku yakin sekarang giliran dia yang depresi, bukan Aria.”
Perbincangan sementara ditunda seketika Elliot memarkirkan mobil di lobby perusahaan, lalu mereka menuruni mobil bersama memasuki gedung saling bergandengan tangan.
Saat memasuki ruangan perancang busana eksekutif, Elliot mengunci pintu dengan rapat supaya tidak ada yang mengganggu momen mereka kali ini. Mereka menempati sofa saling bermanja satu sama lain melanjutkan perbincangan lagi.
Vallerie menyandarkan kepala di pundak suaminya. “Aku sengaja berbalas dendam karena tidak ingin kamu menderita lagi. Bukan bermaksud meminta ganti rugi, tapi aku ingin dia menerima pelajaran bahwa melakukan sesuatu buruk tidak akan mendapatkan hasil, justru menerima sebaliknya.”
“Hari ini kamu berhasil membuatku jatuh cinta berkali-kali lipat.” Elliot mengecup pipi Vallerie sekilas.
Dahi Vallerie mengernyit. “Tapi, kenapa kamu mengikutiku tadi? Kamu masih belum memercayai ucapanku?”
“Memang sebenarnya aku tidak memercayai perkataanmu. Siapa tahu kamu akan melakukan sesuatu berbahaya lagi! Tapi melihat kamu bisa mengatasinya dengan baik saat aku mengintipmu di luar Kafe, sekarang aku baru sadar. Istriku memang wanita tangguh dan mandiri, tidak membutuhkan bantuanku juga kamu bisa melakukannya.”
Pipi Vallerie semakin memerah dipuji besar-besaran suaminya sekaligus dalam satu hari. Kedua tangannya melingkar di leher sang suami dengan tatapan sedikit menggoda. “Meski di matamu aku wanita mandiri, tapi aku masih membutuhkanmu dalam hidupku, Elliot. Aku melakukan semuanya demi hidupmu terbebas dari penderitaan.”
“Sebenarnya tidak perlu melakukan apa pun, cukup ada kamu, hidupku sudah tidak menderita lagi.”
Tingkat gombalan Elliot meningkat pesat, efek sampingnya membuat jantung Vallerie semakin berdebar kuat sampai tubuhnya sedikit gerah. Ditambah kecupan manis diberikan Elliot mendarat pada bibirnya sekilas, hampir saja Vallerie terkena serangan jantung.
“Terima kasih sudah menolongku tadi. Kalau kamu tidak mengikutiku, mungkin aku sungguh kena tamparan Sofia.” Vallerie menyentuh pipinya hampir ditampar Sofia.
“Memang wanita itu tidak bisa dibiarkan! Aku merasa mengurungnya di penjara tidak akan membuat hidupnya tersiksa. Seharusnya aku menyebarkan perbuatan kotornya melalui media, tidak perlu disamarkan.” Elliot mengerucutkan bibir.
“Tidak perlu sejauh itu. Aku hanya membutuhkan uangnya, lebih dari cukup bagiku.” Isi pikiran Vallerie membayangkan sejumlah uang masuk ke rekening bukan atas namanya bisa membeli kebutuhannya sepuasnya menggunakan semua uang itu.
“Tapi, kamu sungguh memintanya mentransfer sebagian uang ke rekeningmu selain dalam bentuk uang tunai? Berarti kamu bisa diduga melakukan penggelapan dana gelap juga kalau kamu tertangkap basah tiba-tiba menerima banyak uang dari nomor rekening Sofia.”
Vallerie tersenyum cerdas. “Beberapa hari lalu, aku meminta Aria membuatkan nomor rekening cadangan untukku. Tenang saja, aku ingin merencanakan hal licik tapi mustahil bertindak gegabah juga. Lagi pula, nominal yang dikirimkan Sofia melalui rekening masih dibilang normal bagi orang awam yang melihat.”
Elliot tidak bisa berkata-kata selain mendekap tubuh Vallerie dengan erat. Di pikirannya saja tidak ada ide menindas Sofia dengan cara halus tapi terkesan kejam. Yang ada di pikirannya hanya ingin Sofia membayar perbuatan jahat di penjara dan menghancurkan semua bisnis ilegal yang dilakukan Sofia selama ini.
“Beban hidup kita sekarang berkurang berkat kamu. Sekarang tinggal kita membalaskan dendam pada Erick.” Raut wajah Elliot sedikit murung mengingat perkataan kakaknya sendiri selalu menyinggung.
“Sebenarnya ada. Justru aku ingin menanyakan pendapat mengenai ideku ini terkesan kekanak-kanakan.” Kini giliran senyuman licik terbit pada sudut bibir Elliot.
Elliot sengaja berbisik semua ide yang telah dibuatnya sejak lama. Mendengar ide ini konyol tapi terkesan mencekam, Vallerie tertawa usil sampai terpingkal-pingkal. Entah apa yang mereka perbincangkan sampai sangat seru jika dilihat orang lain terutama Elliot menyalurkan ide konyolnya sampai menghabiskan waktu hampir lima menit.
“Bagaimana? Kamu setuju?”
“Aku sangat suka idemu ini. Bahkan aku sampai tidak kepikiran ke sana karena terlalu fokus pada Sofia.” Vallerie mengayunkan pergelangan tangan suaminya.
“Mari kita lihat saja! Sikap Erick sesungguhnya tanpa memakai topeng. Aku sudah muak melihat dia selalu bersikap munafik di hadapan semua orang.”
Lagi-lagi Elliot tidak bisa menahan diri. Mengunci pintu ruangan ada maksud tersembunyi sebenarnya. Dengan lincah memposisikan tubuhnya terbaring di sofa, kepalanya menopang pada paha istrinya. “Biarkan aku bermanja denganmu sebelum kamu rapat.”
Vallerie tersenyum anggun melihat tingkah suaminya sangat gemas di tengah kesibukan bekerja. Perlahan menggunakan jari mungilnya memijit kepala suaminya pelan. “Jangan kelamaan. Nanti mereka kesal padaku.”
“Kalau sampai mereka protes, panggil aku saja! Mereka pasti akan takut setiap berhadapan denganku.”
Vallerie mencium dahi suaminya sekilas. “Baiklah, Pak Direktur Elliot yang selalu ketus.”
Elliot tertawa gemas, menahan kepala istrinya lalu menempelkan bibirnya pada pipi istrinya.
Sesi bermesraan tidak berlangsung lama, karena kali ini giliran Vallerie melakukan rapat bersama tim perancang busana mengenai pembagian tugas proyek ini, menggantikan tugas Sofia sekaligus juga memberitahukan persoalan dana yang dikumpulkan Sofia selama ini akan dipergunakan untuk proyek lain di masa mendatang.
Sedangkan Elliot di ruangannya sendiri sedang menggambar sebuah gelang berlian di buku sketsanya membuat asistennya penasaran apa yang telah digambar Elliot sampai dari tadi terus menampakkan senyuman. Bisa dikatakan belakangan ini sejak Elliot menerima Vallerie sebagai istri tercinta, tidak biasanya ia menggambarkan sesuatu di buku sketsa.
“Belakangan ini kamu sibuk menggambar sesuatu. Tidak biasanya kamu melakukannya.” Jordan berusaha mengintip buku sketsa Elliot, tapi sengaja ditutupi Elliot.
“Aku ingin memberikan hadiah istimewa untuk istriku. Dia sudah sangat berjasa menolongku, aku harus memberinya hadiah.” Elliot menatap foto kencan bersama istrinya terpajang di meja kerja.
“Aku sangat iri melihat kamu dan Vallerie mesra setiap hari. Jadi, begitu rasanya menikah dengan wanita yang kita sayangi.” Bibir Jordan sedikit memanyun, mengingat statusnya sekarang masih belum pernah berpacaran dengan siapa pun.
Elliot tersenyum tipis, menaruh buku sketsa di meja kerja. Tiba-tiba ada ide cemerlang terlintas di pikirannya mengenai Jordan. “Selama ini kamu selalu sibuk membantuku mengurus pekerjaan, jadinya wajar kamu belum berpacaran dengan siapa pun.”
“Aku … tidak bermaksud berkata keberatan dengan pekerjaan yang selalu diberikan kamu. Lebih baik aku hidup sendiri daripada dipecat hanya karena mengucapkan perkataan omong kosong.” Jordan menunduk gugup.
Elliot tertawa terbahak sampai wajahnya memerah, sikap polos asistennya membuatnya ingin mencubit berkali-kali. “Tenang saja, aku tidak akan memecatmu meski kamu sibuk berpacaran. Justru aku ingin menjodohkan kamu dengan seseorang.”
Bola mata Jordan terbelalak mendengar perkataan yang diucapkan atasannya sangat membuatnya tersentak. “Apa … aku tidak salah mendengar?”
“Usiamu tidak jauh berbeda denganku. Kamu harus mencari wanita supaya bisa menyusulku.”
“Memangnya kamu ingin menjodohkan aku dengan siapa? Apakah wanita dari kantor ini atau dari kerabat dekat?” Senyuman lebar terukir pada wajah Jordan mendekatkan wajahnya pada wajah Elliot, tapi langsung dihindari Elliot.
Elliot sengaja tidak menjawabnya. Supaya kejutan istimewa yang diperlihatkannya suatu hari nanti akan berhasil membuat Jordan sungguh terkejut.
“Sudahlah, urusan itu belakangan saja. Pokoknya selama kamu rajin membantuku, aku pasti secepatnya akan mengenalkan kamu pada wanita itu.”
Hari sudah tidak menampakkan matahari. Erick masih bersikap seperti biasa, padahal adik kandungnya sudah merencanakan sesuatu buruk padanya. Hari ini suasana hati Erick sedikit buruk, pertama karena kejadian kemarin malam melakukan sesuatu tidak terduga pada kekasihnya. Yang kedua, mendengar gosip dari para pegawai mengenai aksi pembalasan dendam yang dilakukan Vallerie hari ini berhasil membuat semua pegawai terkagum. Erick merasa dirinya semakin terpojok jika adik iparnya terus maju selangkah darinya.
Erick tidak ingin bertemu Rachel hari ini. Bahkan Erick tidak menerima panggilan telepon dari Rachel beberapa kali sengaja. Karena ia sendiri bingung ingin berkata apa setelah merenungkan apa yang diperbuatnya. Maka dari itu, malam ini, ia mengajak salah satu temannya minum alkohol bersamanya di bar langganannya.
Teman Erick terlihat misterius dari belakang berjalan menghampiri Erick. Kemudian menempati kursi di sebelah Erick menuangkan segelas champagne mahal untuk Erick berwajah murung karena tengah mengalami kegelisahan sepanjang hari.
Sedangkan di kediaman Erick, Rachel terus menunggu kedatangan Erick sambil berjalan mondar-mandir dan menggigit kuku jari. Melihat sepuluh panggilan teleponnya tidak terjawab semua, Rachel sedikit kesal karena seolah-olah dirinya hanya angin berlalu. Hatinya juga sedikit cemas karena tidak biasanya Erick bersikap cuek begini, padahal biasanya sangat memedulikannya.
“Sebenarnya kamu ke mana sih, Erick? Apakah kamu akan kabur karena kesalahan yang kamu perbuat kemarin malam?” Rachel terus menatap layar ponsel menunggu panggilan dari Erick.