
Vallerie langsung menahan kepalan tangan suaminya hampir menonjok Bertrand. Vallerie mengisyaratkan menggeleng pelan dan tatapannya seperti sedang menatap sesuatu tersembunyi, Elliot terpaksa mengurungkan niat menghajar musuhnya, meski ia masih tidak tahu apa yang direncanakan istrinya sebenarnya.
Elliot melangkah mundur memposisikan diri berdiri di belakang istrinya bertindak sebagai pengawal pribadi. Jika ada sesuatu yang tidak diinginkan, tanpa segan ia akan menghajar Bertrand sampai babak belur.
Kembali bersikap profesional, Vallerie menggenggam tangan kiri suaminya sengaja menampakkan senyuman manja sekilas pada sang suami untuk mengompori Bertrand. “Suamiku memang selalu menyayangiku dengan tulus, dibandingkan kamu pasti tidak mencintaiku. Kamu tidak bisa membedakan antara cinta dan obsesi.”
“Apakah kamu yang menerbitkan artikel mengenai istriku adalah pihak ketiga yang mengajakku berselingkuh?”
Bertrand tertawa iblis bertepuk tangan dengan irama sindiran. “Memang benar aku adalah pelakunya. Sesekali hubungan kalian hancur akibat istrimu menolak lamaranku dulu.”
“Dasar berengsek! Akan kupastikan kamu akan membusuk di penjara!” Elliot ingin menonjok wajah Bertrand tapi ditahan Vallerie terus.
Tiba-tiba terdengar suara sirene mobil polisi. Bertrand mulai panik melihat pemandangan luar Kafe dikepung beberapa mobil polisi. Tatapan Bertrand kembali memelototi raut wajah Vallerie dan Elliot masih santai.
“Kalian menelepon polisi?!”
Vallerie tertawa sinis. “Aku yang merencanakan semua ini. Menghancurkan hidupmu sama seperti kamu menghancurkan hidupku juga di masa lalu.”
“Kamu sungguh kejam, Vallerie! Aku salah menilaimu!” Bertrand berteriak, mengacak rambut menggila.
“Sekarang kamu menyesal sudah mencintai wanita berbahaya seperti aku?”
Sekelompok detektif dari unit kekerasan kejahatan mengepung Bertrand. Kemudian sang kepala detektif wanita mengeluarkan borgol dari saku blazer kemudian memborgol pergelangan tangan Bertrand, dibantu dua anggota tim detektif menahan lengan Bertrand.
“Pak Bertrand Tyler, Anda ditangkap atas tuduhan dalang di balik percobaan pemerkosaan terhadap Vallerie Emerald, percobaan penyiksaan terhadap Carla, melakukan tindakan ilegal menyewa para wanita untuk diperkosa di kamar hotel, dan menyebarkan fitnah di media sosial. Anda memiliki hak menyewa pengacara untuk membela Anda atau hak untuk berdiam saja.”
“Kenapa saya ditangkap atas tuduhan semua perkara itu? Kalian punya bukti?!” pekik Bertrand memelototi detektif wanita itu.
“Semua perbincangan kita terekam. Pengakuanmu mengenai semua tindakan kejahatanmu sudah disebarluaskan di media sosial.” Vallerie memperlihatkan video di layar ponselnya mengenai percakapan mereka tersebar luas sampai mencapai trending pertama.
“Seharusnya aku tidak mengampuni kamu, Vallerie!” bentak Bertrand menunjuk-nunjuk Vallerie.
Sebelum dituntun tim detektif memasuki mobil polisi, Vallerie mendekatkan bibirnya pada daun telinga Bertrand dengan senyuman licik. “Aku suka melihatmu menderita. Hadiah dariku apakah kamu suka?”
“Hadiah apa?”
Bertrand baru sadar. Beberapa saat lalu sempat diteror beberapa kali oleh nomor tidak dikenal dan diberi paket misterius berisi tas kulit bermerk mahal sudah usang.
“Kamu pelakunya?”
“Kamu membunuhku dan suamiku di masa lalu. Terima pembalasanku karena sudah menghancurkan kehidupan pernikahanku!”
Belum selesai membalas perkataan, tubuh Bertrand langsung diseret paksa beberapa anggota tim kepolisian menuju mobil polisi. Dari kejauhan, sang kepala detektif wanita menunduk hormat pada Vallerie, dibalas lambaian tangan diberikan Vallerie.
Suasana di Kafe ini hanya tersisa mereka berdua. Vallerie berbalik badan menghadap suaminya berwajah murung, membuat dirinya semakin merasa bersalah karena hari ini telah melakukan dosa besar. Perlahan tangan kanannya menggenggam tangan kiri suaminya dengan tatapan cemas.
“Aku mau pulang.” Vallerie merayu mengedipkan mata manja supaya hati suaminya sedikit terhibur.
Dibalas tatapan elang diperlihatkan Elliot. “Aku juga. Apalagi aku membutuhkan semua penjelasan apa yang kamu lakukan selama ini!”
Sepanjang perjalanan menuju kediaman mereka sama sekali tidak membuka mulut bagaikan perang dingin. Tapi pergerakan tangan tidak bisa bohong. Mereka masih saling berpegangan tangan dan mengelus punggung tangan satu sama lain meski tidak saling bertatapan.
Mereka masih belum berbicara sama sekali, tapi posisi mereka sekarang duduk bersebelahan di sofa ruang tamu berpegangan tangan erat.
Vallerie sudah tidak tahan dengan situasi canggung yang membuatnya tidak nyaman. “Maafkan aku. Demi kebaikanmu, aku sengaja mengingkari janjiku.”
Bukan marah, justru Elliot langsung mendekap tubuh istrinya dengan erat. “Kamu tahu perasaanku saat mengetahui kamu tiba-tiba menghilang di taman bermain? Aku mengira kamu sungguh diculik Bertrand atau pria berengsek lain ingin memerkosa kamu lagi!”
“Aku tidak mau kamu meninggal lagi di hadapanku! Maka dari itu, aku harus maju sendiri supaya kamu tetap selamat.”
“Justru aku lebih takut di kehidupan sekarang kamu yang menggantikan aku! Kamu mau aku bunuh diri karena stress berat ditinggalkan kamu?”
Vallerie menggeleng lesu, setengah hati juga ia tidak mau suaminya meninggal karena bunuh diri. Entah kenapa keputusannya berbohong pada suami membuat hatinya seperti terkena sayatan pisau. “Aku ingin kamu hidup bahagia. Di kehidupan sekarang, kamu mendapatkan kehidupan yang lebih layak dari sebelumnya.”
Elliot menggeleng cepat memasang tatapan sendu. “Hidupku tidak akan berarti jika tanpa kehadiranmu.”
“Elliot ….”
Elliot menyentuh punggung tangan kiri istrinya mengukir senyuman tipis. “Ceritakan semua rencanamu dengan lengkap! Kamu harus jelaskan semuanya padaku dulu! Apakah berkencan di taman hiburan adalah bagian dari rencanamu? Bukan bermaksud kencan sungguhan?”
Vallerie tersenyum malu menyelipkan helaian anak rambut ke belakang telinga sambil mengelus punggung tangan suaminya. “Soal itu … memang aku ingin kencan denganmu. Tapi jika dipikir, memang sangat pas juga untuk menjalankan misi rahasia tanpa sepengetahuanmu.”
*****
Sebenarnya Vallerie sudah merencanakan misi rahasia diam-diam di saat suaminya tidak berada di sisinya. Terutama sekarang adalah waktu yang sangat pas berdiskusi dengan semua teman terdekatnya mengenai rencana besar menangkap Bertrand besok. Elliot baru memasuki kamar mandi sedang membersihkan diri, sedangkan yang dilakukan Vallerie adalah menghubungi Carla.
“Carla, besok kamu sungguh ingin berkencan dengan Bertrand?”
“Terpaksa aku harus melakukannya daripada dia menyiksaku lagi.”
“Beritahu aku lokasinya. Kamu tidak perlu melakukannya, biar aku saja yang menggantikanmu.”
“Apa? Bertrand adalah pria sangat berbahaya! Kamu tidak boleh berhadapan dengannya sendirian!” Carla sedikit berteriak membuat Vallerie sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga.
“Tidak masalah. Aku sudah punya rencana lain supaya dia tidak bisa berbuat apa pun lagi.”
“Tapi—”
“Sudahlah, berikan saja alamatnya! Aku akan beritahu padanya bahwa kamu tidak bisa berkencan karena kamu harus menyusun laporan berita yang akan kamu bawakan.”
Terdengar suara napas lesu di speaker ponsel. Beberapa detik telah berlalu, tapi Carla masih belum membuka mulut.
“Baiklah, aku akan kasih tahu alamatnya. Kalau sampai terjadi sesuatu, apa yang akan kamu lakukan?”
“Tenang saja. Aku tidak bertindak sendirian. Kamu tidak boleh beritahukan hal ini pada suamiku. Dia tidak boleh tahu rencanaku sampai semuanya sungguh terselesaikan.”
Setelah menghubungi Carla, langkah selanjutnya adalah menghubungi Whitney. Dalam menjalankan misi rahasia ini, Whitney juga berperan penting membantu Vallerie. Vallerie juga berpikir cepat sebelum suaminya selesai membersihkan diri.
“Whitney, besok aku membutuhkan bantuanmu menaruh kamera tersembunyi di Kafe yang kukirimkan di pesan singkat.”
“Memangnya kamu ingin melakukan apa sih?”
“Aku ingin Bertrand mengakui kesalahannya besok.”
“Apa?!” Lagi-lagi suara teriakan membuat telinga Vallerie terasa panas.
“Tenang saja, aku akan membuatnya mengakui kesalahan tanpa melakukan kekerasan.”
“Tapi, apakah aman? Kamu melakukannya bersama suamimu?”
“Tidak. Aku tidak ingin melibatkan siapa pun.”
“Kamu gila? Nyawamu dalam bahaya kalau sampai dia tidak bisa mengendalikan emosinya!”
“Pokoknya kamu turuti perintahku saja! Besok siang kamu pergi ke Kafe itu, lalu meminta izin pihak Kafe mengosongkan Kafe sejenak dan memasang kamera tersembunyi. Kemudian, kamu meminta Harry merilis artikel kebusukan Bertrand selama ini menyewa para wanita lajang secara ilegal berdasarkan bukti yang kita dapatkan.”
“Tapi—”
Melihat pintu kamar mandi dibuka tiba-tiba, Vallerie langsung mematikan panggilan telepon. Kemudian dengan lincah menempati meja rias seolah-olah sedang memakai night cream.
Sedangkan saat di taman bermain, setelah berpamitan dengan suaminya beralasan ingin pergi ke kamar kecil, memang Vallerie sempat berjalan menuju kamar kecil supaya tidak dicurigai. Tapi hanya sebentar. Kemudian ia mulai melakukan misinya berlarian keluar dari area taman bermain sambil memesan taksi online.
*****
Begitulah rencana Vallerie yang sangat rapi tanpa ada sedikit kesalahan membuat Elliot juga tertipu. Elliot tidak bisa membenci istrinya yang sangat cerdas setiap merencanakan sesuatu. Bahkan sekarang akhirnya ia bisa tersenyum girang mengangkat tubuh istrinya sambil berputar-putar kegirangan.
“Seharusnya kamu menceritakan padaku juga sejak awal. Kamu sangat hebat merencanakan semua misi ini. Aku sangat bangga memilikimu, Vallerie.”
Tangan kanan Vallerie melingkar erat di leher Elliot. “Maafkan aku. Kalau kamu ingin memarahiku, aku tidak mempermasalahkannya. Memang aku terlalu egois dan selalu tidak ingin melibatkanmu setiap merencanakan misi besar.”
“Tidak apa-apa. Aku tidak akan memarahimu. Melihatmu berhasil memusnahkan Bertrand tanpa bantuan siapa pun di Kafe, aku semakin mencintaimu berkali-kali lipat.” Elliot mengecup area wajah Vallerie berkali-kali membuat Vallerie tertawa geli.
Vallerie melepas pelukan menampakkan kerutan di dahi. “Bukankah tadi kamu marah selama di mobil?”
Elliot tertawa gemas mencubit pipi istrinya. “Kalau aku marah, mana mungkin aku masih ingin berpegangan tangan denganmu.”
Vallerie mengecup pipi suaminya. “Yang pasti aku sangat lega semua masalah akhirnya terselesaikan. Sekarang aku bisa berkencan denganmu lagi tanpa takut nyawa terancam atau diganggu teman kita.”
Tidak ingin kalah, Elliot mencium pipi istrinya dengan candu, sehingga akhirnya mereka saling menghujani ciuman, tanpa disadari tubuh mereka sekarang terbaring di ranjang.
Vallerie memberikan jeda sejenak sambil meraba wajah lembut suaminya memasang pandangan girang. “Aku sungguh menepati janjiku, ‘kan. Surat perjanjian kita tadi sangat efektif untukku. Mustahil aku meninggalkanmu sendirian.”
“Lebih cenderung berkat stempel perjanjian kita membuatmu tidak berani melanggar janji.” Elliot mencium hidung istrinya sekilas.