
Menurut susunan keluarga Elliot, sebenarnya Erick dan Elliot saudara kandung tapi berbeda ibu. Ibunya Erick telah meninggal akibat mengalami kecelakaan saat Erick berusia dua tahun. Lalu, ayahnya Elliot menikahi ibunya Elliot, tak lama kemudian mengandung Elliot. Hubungan ibunya Elliot dan sang ayah lebih dekat daripada ibunya Erick, itulah alasan kenapa Erick tidak suka Elliot sejak dulu. Mimpinya terus terhalang karena kehadiran Elliot di dalam keluarga ini seolah-olah sebagai penghalang.
Suasana ruang kerja semakin tegang karena perkataan Erick semakin lancang pada telinga ayahnya. Sang ayah mengamuk, tapi caranya melawan Erick bukan seperti ayah di berbagai drama selalu menyiksa anaknya menggunakan stik golf atau tongkat untuk kaki pincang. Cara sang ayah lebih berkelas menghadapi anaknya sudah keterlaluan sikapnya.
Sang ayah berjalan cepat mendekati Erick yang masih berlagak sombong setelah mengucapkan perkataan menohok. Dengan tatapan tajam memukul lengan Erick sekuat tenaga. “Lancang sekali perkataanmu! Kamu masih tidak tahu bersyukur selama ini ayah memperlakukanmu dengan baik?”
Erick menajamkan tatapannya melangkah mendekati ayahnya. “Apa? Justru bagiku ayah lebih memedulikan Elliot daripada aku! Bahkan urusan masa depan saja ayah tidak memedulikan aku. Ayah lebih mencemaskan masa depan Elliot kalau seandainya dia masih belum menikah sekarang.”
“Kamu kan punya banyak teman wanita. Kamu bisa memilih salah satu dari mereka sebagai istrimu. Bahkan ayah sendiri tidak tahu Rachel adalah pacar rahasiamu selama ini. Memang kamu lebih mandiri daripada Elliot, meski Elliot sangat cerdas dalam hal bisnis. Ayah tidak perlu mencemaskanmu lagi.”
Masih belum puas dengan jawaban ayahnya, Erick tidak ingin kalah dalam perdebatan melanjutkan melampiaskan kekesalannya yang terpendam dalam hati sejak lama. “Bagaimana kalau urusan kantor? Kenapa ayah menyerahkan jabatan direktur untuk Elliot? Aku sampai sekarang masih tidak mengerti tujuan ayah sebenarnya apa. Tidak lama setelah kematian ibu, hati ayah mudah tergoyahkan langsung menikahi ibunya Elliot. Ayah tidak merasa malu sama sekali? Kalau ibu melihat sikap ayah sangat keterlaluan, mungkin ibu tidak akan bisa pergi dengan tenang sampai sekarang!”
Sang ayah bergeming kembali menyesap kopi pahit sudah dingin akibat berdebat terlalu lama dengan putra sulungnya. Darahnya sudah mendidih dari tadi, tapi tetap ingin mengatasinya dengan trik santai seolah-olah memang apa yang diperbuatnya tidak ada dosa. Hanya saja Erick selalu salah paham selama ini dan sikapnya selalu egois.
“Maafkan ayah. Hanya ini yang bisa ayah lakukan demi kebaikanmu. Ayah ingin menyerahkan jabatan direktur untukmu, tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Ada saatnya kamu akan menerima banyak hal suatu hari nanti.” Sang ayah menyentuh pundak Erick, tapi langsung ditepis.
“Mau sampai kapan aku harus menunggu? Sewaktu Elliot kecil, dia sangat beruntung orang-orang menyelamatkannya saat kita pergi berlibur dan dia hampir menghilang. Seandainya saja semua orang tidak menolongnya, mungkin aku yang akan mendapatkan posisi itu lebih cepat.”
“Jaga ucapanmu, Erick!” Sang ayah menggertak meja sampai terdengar di luar ruangan.
“Aku sudah cukup lelah berdebat dengan ayah hari ini! Apalagi tadi pagi Elliot mencurigai aku memasuki ruangannya karena sengaja ingin menyelinap. Ini akibat ayah terlalu memanjakannya!”
“Erick!!”
Tanpa berpamitan sopan, Erick melonggarkan lilitan dasi meninggalkan ruangan ayahnya penuh amarah. Baru saja menginjak kaki di depan ruangan, sudah disambut ibunya Elliot ternyata mendengar percakapan mereka dari tadi. Erick merasa tidak enak membuat keributan sampai didengar ibu tirinya. Sejenak menunduk sopan, lalu berjalan terburu-buru keluar dari rumah mewah ini.
Ibunya Elliot panik melihat suaminya tiba-tiba sesak napas sampai terus meremas dadanya. Suaminya hampir kehilangan kesadaran, untung ia langsung menolongnya dan menuntun perlahan menduduki sofa.
“Suamiku, dadamu sakit lagi?”
“Erick … kenapa dia tidak mengerti sama sekali sejak dulu?” Napas sang ayah tersengal-sengal.
“Jangan pikirkan Erick dulu! Sekarang kamu fokus pada kesehatanmu saja! Kalau terus begini, kamu bisa terkena serangan jantung tiba-tiba!”
Erick mengendarai mobil sport hitam miliknya dengan kecepatan penuh sambil menekan layar dasbor menghubungi kekasihnya. Panggilan langsung terhubung, tapi suara sedikit bising karena keberadaan Rachel terdengar seperti di sebuah klub malam.
“Kamu sedang di klub?” Erick sedikit berteriak supaya suaranya terdengar Rachel.
“Aku sedang bersenang-senang. Kamu tidak ke sini? Aku akan pulang lebih awal kalau kamu tidak mengunjungiku sekarang!”
“Tetap di sana! Aku akan bersenang-senang denganmu juga!”
“Ke tempat klub langgananku, ya. Aku tidak perlu kasih tahu detail alamatnya.” Nada bicara Rachel sedikit aneh akibat pengaruh alkohol.
Jarak posisi Erick saat menghubungi Rachel dan klub tidak terlalu jauh, sehingga tidak menghabiskan waktu terlalu lama perjalanan.
Erick sedikit kesulitan mencari keberadaan kekasihnya di antara kumpulan lautan manusia sedang menari bebas di tempat gelap ini hanya diterangi lampu spotlight berkedip-kedip.
Sorot matanya langsung terpaku pada Rachel sedang menikmati minuman alkohol sendirian dengan penampilan pakaian kerja sedikit berantakan. Saat Erick ingin mendatanginya, tiba-tiba ada pria lain ingin menyentuh lekukan pinggang Rachel terlihat sexy, Erick berlari cepat menghadang pria itu kemudian membanting tubuh pria itu sekuat tenaga sampai dijadikan bahan tontonan semua pengunjung klub.
“Keparat sialan! Berani sekali ingin menyentuh tubuh kekasihku!” Erick tanpa segan menonjok wajah pria itu berkali-kali sampai babak belur.
Rachel menyaksikan aksi brutal kekasihnya langsung menahan kepalan tangannya. “Erick, sebaiknya kita pergi dari sini saja!”
Erick menuruti keinginan Rachel, melepas jasnya langsung menutupi tubuh Rachel terburu-buru keluar dari gedung klub.
Di tengah perjalanan pulang, Erick masih mengamuk tidak mengucapkan sepatah kata pada kekasihnya jika dilihat situasi tadi kekasihnya hampir dilecehkan di depan mata.
Kepala Rachel sedikit sakit akibat pengaruh alkohol. Tatapannya sedikit samar-samar mengamati wajah Erick sangat galak fokus menatap kaca depan.
“Sebenarnya aku ingin memarahimu dari tadi. Kenapa kamu ke klub di saat hari kerja?!”
“Aku merasa kesepian saja dari tadi. Sesekali aku ingin bersenang-senang, apakah tidak boleh?”
“Seandainya tadi aku tidak mendatangimu, kita akan putus kalau kamu dilecehkan! Jangan-jangan selama ini tubuhmu sudah ternodai pria lain juga?”
Mendengar suara bentakan Erick membuat kepala Rachel semakin sakit. Kepalanya terus menunduk meringis kesakitan sambil memijit pelipis pelan. “Aku sedang sakit kepala tapi kamu masih memarahiku!”
“Karena hari ini kamu ingin tidur di apartemenku, baiklah hari ini kita akan tidur bersama sesuai keinginanmu. Lagi pula, aku butuh hiburan.”
Baru menginjak kediaman mewah, Erick dan Rachel mulai melakukan aksi panas saling melucuti pakaian mereka di kamar sampai terdengar jelas suara tawa Erick dan Rachel penuh gairah, terutama suara ******* Rachel sangat nyaring di luar kamar.
Sedangkan pasangan Elliot dan Vallerie masih belum tertidur karena Elliot juga menceritakan yang sebenarnya mengenai Erick dan dirinya merupakan saudara kandung tapi berbeda ibu. Vallerie mendengar fakta mengejutkan ini sampai tidak bisa berkata-kata. Rahangnya semakin kaku, di benaknya semakin banyak pertanyaan bermunculan karena setiap clue bermunculan, beban pikiran juga semakin bertambah.
“Jadinya, ibu yang selama ini selalu berbaik hati padaku itu bukan ibunya Erick. Pantesan saja sikap ibumu mewarisimu.”
“Maaf, lagi-lagi aku menyembunyikan fakta mengejutkan. Tapi, menurutku Erick selama ini kesal padaku karena salah satu alasan utamanya adalah ibuku menikahi ayahku di saat Erick masih berkabung atas kematian ibunya. Mungkin Erick ada benarnya, karena kehadiranku ….”
“Jangan menyalahkan dirimu lagi, Sayang! Kehadiranmu di dunia ini merupakan sebuah anugerah bagiku!” Vallerie merangkul lengan suaminya erat.
Elliot tertawa gemas sambil mengelus punggung tangan Vallerie lambat laun. “Bahkan ayah dan ibuku tidak pernah mengucapkan perkataan itu di hadapanku. Kamu memang sangat istimewa dalam hidupku.”
“Dari tadi kamu tidak bisa tidur karena masalah Erick masih mengganggu pikiranmu. Setelah kamu menceritakan semuanya langsung padaku, hatimu sudah merasa tenang?” Vallerie memasang tatapan lesu mengelus pipi lembut Elliot.
“Sejak aku mengajakmu ke taman tadi, aku selalu merasa bahagia. Sekarang aku tidak perlu memikirkan apa pun lagi.”
Sorot mata Elliot teralihkan mengamati jarum panjang jam dinding menampakkan sudah memasuki tengah malam.
Spontan ia membaringkan tubuh istrinya dan dirinya di ranjang kemudian membungkus tubuh mereka dengan selimut. “Maaf, aku bahkan tidak sadar berbincang denganmu sampai tengah malam begini.”
“Tidak masalah. Asalkan pikiranmu sudah tenang, sekarang kamu bisa tidur nyenyak.”
Lengan kekar Elliot mendekap tubuh Vallerie hanya dibaluti piyama dengan celana pendek, bibirnya mendarat sekilas pada bibir Vallerie. “I love you, My Vallerie.”
Dibalas kecupan manis mendarat pada bibir Elliot. “I love you too, My Elliot.”
“Sepertinya mataku sulit terpejam karena kamu terlalu manis.” Elliot mengelus pipi Vallerie gemas.
“Siapa yang menggombalku dulu ya tadi?” Vallerie tersenyum usil sengaja mengalihkan pandangannya mengamati sekeliling kamar.
“Seorang pria tampan yang selalu melindungimu setiap saat.” Elliot menghujani ciuman pada wajah istrinya.
Mendengar gombalan ekstra manis suaminya, rasanya Vallerie ingin menggulingkan tubuhnya melampiaskan rasa girang, tapi karena tubuhnya dipeluk erat. Ia hanya bisa memendam rasa bahagia itu dalam hati saja.
Entah kenapa Elliot masih tidak bisa tertidur lelap padahal sudah tengah malam. Sejenak ia melangkah keluar menuju balkon kamar sambil menghirup udara segar. Sontak ia merasakan kehangatan tubuh istrinya membuatnya spontan berbalik badan perlahan.
“Kamu masih belum tidur?” Elliot mengusap kelopak mata Vallerie masih terlihat segar.
Diberikan senyuman manis ditampilkan Vallerie. Kedua tangannya melingkar pada leher suaminya. “Bagaimana aku bisa tidur nyenyak kalau kamu tidak bisa tidur? Sebenarnya apa yang mengganggu pikiranmu?”
Elliot menggarukkan kepala. “Sebenarnya … aku masih penasaran kenapa sejak dulu kode akses rumah ini adalah tanggal pernikahan kita. Aku merasa ada sesuatu istimewa selain tanggal pernikahan kita.”
Vallerie menggandeng tangan suaminya kembali memasuki kamar. “Saat aku pertama kali memasuki rumah ini dan kamu memberitahukan kode akses padaku, aku mengira kamu sungguh ingat tanggal pernikahan kita. Ternyata dugaanku salah … jawabanmu malahan tidak memuaskan aku.”
“Maka dari itu, aku penasaran kenapa aku jadikan 0220 adalah kode akses rumah ini.”