Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 30: Misteri Identitas Elliot



Sinar matahari menembus kaca jendela kamar milik Erick mengganggu suasana tidur Rachel sudah terlanjur nyenyak akibat berolahraga saat malam hari. Perlahan ia membuka matanya sambil mengamati sekeliling kamar sangat berantakan dipenuhi pakaiannya kemarin berserakan di lantai termasuk pakaian dalam.


Rachel merasa tubuhnya agak pegal-pegal, meraba kemeja berukuran besar yang dipakainya merupakan milik kekasihnya, entah kekasihnya sudah menghilang ke mana tidak menyambut paginya dengan baik.


Ekspresi wajah Rachel setengah panik. Dalam ingatannya, ia telah melakukannya bersama Erick sepanjang malam di bawah pengaruh alkohol. Apalagi dalam ingatannya sekilas, Erick yang melakukannya dengan penuh hasrat sampai kelupaan memasang alat pengaman sebelum melakukannya.


Meski selama ini mereka tidur bersama satu ranjang beberapa kali, tapi mereka tidak pernah melakukan kesalahan sejauh ini sepanjang hidup mereka sebelum menikah. Bahkan Erick belum melamarnya secara resmi, rasanya sudah ingin menggila pagi-pagi begini sampai rambut panjangnya terlihat seperti singa.


Saat Rachel melangkahkan kakinya menghampiri Erick sedang memasak di dapur. Ia bingung ingin berkata seperti apa mengawali paginya, ingatan soal kesalahan yang diperbuatnya, bagaimana cara meminta maaf pada Erick langsung?


Erick mematikan kompor kemudian menggunakan dua serbet mengangkat sebuah panci besar berisi sup pereda pengar yang dimasaknya dibawa ke meja makan.


“Kamu sudah bangun.” Erick masih santai menuangkan sup ke mangkuk kecil untuk Rachel.


Rachel menduduki kursi makan dengan gugup sambil mengambil mangkuknya sudah terisi penuh sup pereda pengar. “Kamu masak sup pereda pengar? Padahal semalam kamu tidak mabuk.”


“Aku sengaja memasak sup ini untukmu. Semalam kamu terlihat mabuk sampai sakit kepala. Apalagi nanti kamu harus bekerja, pokoknya sup ini kamu harus habiskan semua.”


Rachel tidak peduli sikap kepedulian Erick sekarang. Rasa dosa masih timbul dalam dirinya sehingga membuatnya tidak berselera makan, terus menghela napas lesu.


“Kamu sama sekali tidak memedulikan aku? Semalam kita melakukan kesalahan!”


“Lalu? Kamu ingin meminta maaf padaku sekarang?” Erick berbicara dengan nada dingin membuat tubuh Rachel mematung.


Rachel mengerutkan dahi menggenggam sendok erat. “Setelah kita melakukannya semalam, kamu masih bisa bertindak seolah-olah tidak terjadi apa pun?”


“Memang saat itu aku terlalu agresif. Aku takut suatu hari nanti tubuhmu sudah lebih dulu dinodai pria lain. Maka dari itu, semalam aku tidak bisa berpikir jernih juga langsung melampiaskannya padamu.” Erick memalingkan mata, sebenarnya ia menyadari kesalahannya tapi tetap bersikap biasa supaya kekasihnya tidak merasa bersalah.


Tetap saja Rachel masih marah karena sikap keegoisan Erick yang membuatnya kini menjadi tidak perawan. Membanting sendok kasar di mangkuk sambil mengacak-acak rambutnya. “Seharusnya kamu tidak usah melakukannya! Kalau begini, mungkin aku akan mengandung anakmu cepat lambat!”


Darah Erick mendidih, bukan ini jawaban yang diinginkannya. Akhirnya ia memutuskan berkata jujur. “Memangnya bermasalah kalau kamu mengandung anakku? Lagi pula aku ingin menikahimu! Kenapa kamu harus memarahiku?!”


Bola mata Rachel terbelalak. Sebenarnya apa yang dipikirkan Erick tiba-tiba melamarnya dengan cara canggung begini? “Barusan kamu melamarku?”


“Sebenarnya aku ingin menikahimu, tapi sekarang bukan saat yang tepat melamarmu. Aku ingin kamu tunggu sabar sampai waktunya tiba.”


“Mau sampai kapan aku harus menunggumu? Haruskah kamu berhasil mengalahkan Elliot lalu melamarku?”


“Maafkan aku.” Erick merapikan rambut panjang Rachel terlihat tidak beraturan.


Embusan napas kasar dikeluarkan dari mulut Rachel. Melipat kedua tangan di dada dan menyilangkan kaki mulai bersikap angkuh. “Baiklah, aku akan membantumu supaya aku bisa menikahimu. Kalau sampai aku mengandung anakmu lebih awal, kamu harus turuti keinginanku!”


Pasangan Elliot dan Vallerie sudah tiba di kantor lebih awal. Pertama yang mereka lakukan adalah memastikan ruangan manajer penjualan masih terlihat gelap gulita, menandakan Erick masih belum berkunjung ke kantor. Saat yang tepat bagi mereka memeriksa rekaman kamera CCTV di ruang pengendalian, yang difokuskan tanggal belakangan ini terekam jejak Erick menyelinap ke ruangan Elliot setiap sedang rapat atau saat Elliot cuti hari Jumat karena ingin berkencan dengan Vallerie sepanjang hari.


Dahi Elliot dan Vallerie sedikit berkerut, tidak habis pikir mengamati pergerakan Erick terlihat mencurigakan setiap kali memasuki ruangan Elliot seperti sedang mencari sesuatu penting. Terutama kemarin adegan tertangkap basah di pagi hari.


“Sebenarnya apa yang diinginkan Erick sih!” Elliot memukuli meja beberapa kali.


“Apakah selama ini kamu pernah membuat laporan yang diinginkan Erick selama ini? Atau kamu menyimpan rahasia lainnya terkait Erick?”


Elliot menggeleng dan berkacak pinggang. “Tidak sih. Aku tidak pernah menyimpan sesuatu penting di ruanganku. Karena aku yakin Erick akan menggeledah ruanganku setiap aku ada di luar kantor.”


“Coba kamu pikirkan dengan baik! Di kehidupan kita sewaktu dulu, apa yang dilakukan Erick selama dua tahun ini?” Vallerie menatap layar monitor sekilas.


Elliot bertopang dagu. Menurut sudut pandangnya terhadap Erick di kehidupan sebelumnya justru terlihat tidak terjadi apa pun. Erick bekerja seperti orang normal melakukan tugasnya sebagai direktur perancang busana. Berkoordinasi dengan tim perancang busana termasuk Vallerie untuk menyusun strategi saat proyek besar akan diluncurkan. Vallerie terlibat banyak masalah berkaitan dengan kasus plagiarisme yang dilakukan Sofia sampai perusahaan dituntut melalui jalur hukum dan diberi hujatan berbagai komentator pelanggan di forum online pelayanan pelanggan Clarity Star.


Dulu Erick hampir tidak pernah memarahi Vallerie. Hanya saja Erick sempat menegur tegas karena beberapa kali Vallerie bertindak lalai dalam mempersiapkan persediaan pakaian yang akan dijual saat pameran besar-besaran di pusat perbelanjaan. Itu saja yang ada di ingatan Elliot.


“Tapi, kenapa Erick ingin membunuh kita? Padahal kita tidak pernah melakukan kesalahan apa pun selama ini.”


Elliot mengamati sekelilingnya penuh waspada sambil menggandeng tangan Vallerie keluar dari ruang pengendalian.


Akhirnya mereka melanjutkan perbincangan mereka di taman kantor sambil menikmati udara segar. “Aku mencurigai Erick ingin membunuhku karena dia tahu identitas asliku. Kamu masih ingat artikel berita yang sempat diluncurkan sewaktu dulu mengenai berita hilangnya aku?”


“Aku masih ingat. Memangnya kenapa?”


“Inisial nama anak hilang itu bukan namaku. Namaku Elliot Sinclair karena diberi nama oleh pemilik panti asuhan. Aku sempat mengalami trauma saat menghilang karena aku sempat hampir ditipu orang dewasa ingin menculikku, lalu menjualku. Aku tidak mengingat keluargaku, saat aku dibawa ke panti asuhan, aku hanya membawa diri saja.”


“Tapi … kenapa di masa ini namamu tetap sama seperti dulu?” Alis Vallerie terangkat sebelah, semakin bingung dengan teori konspirasi efek mereka terlahir kembali menjadi sosok karakter berbeda.


“Soal itu, aku juga tidak tahu. Mungkin memang aku ditakdirkan diberikan nama indah ini supaya kamu tetap mengenaliku dengan mudah.” Elliot menggandeng tangan istrinya menempati bangku taman.


Sontak Elliot baru teringat isi artikel mengenai berita hilangnya putra bungsu pemilik Clarity Star Company Limited. Inilah teka-teki yang sangat ingin dipecahkannya sejak dulu. Di artikel itu, tertulis bahwa putra bungsu itu hilang pada tanggal 20 Februari 2002. Jadi, itulah alasan kenapa Elliot menetapkan 0220 sebagai kode aksesnya berdasarkan nalurinya.


“Aku tahu jawabannya.”


Dahi Vallerie mengernyit bingung. “Jawaban apa?”


“Di masa lalu, aku menghilang di tanggal 20 Februari 2002. Sedangkan di dunia sekarang, pasti aku hampir menghilang di tanggal yang sama.”


“Jadinya, kamu secara spontan memasang kode itu bukan memiliki firasat kita akan menikah di tanggal itu?”


Elliot tertawa kecil sambil mendaratkan kecupan manis di kening istrinya. “Lebih cenderung tanggal 20 Februari adalah tanggal pertemuan pertama kita dan tanggal pernikahan kita. Itulah alasan tanpa keraguan aku memakai kode itu.”


Vallerie tertawa girang mencium pipi suaminya. “Jangan pernah ganti kode akses rumah kita. Aku sudah terlanjur sangat suka.”


Awalnya berdiskusi soal kasus jadi beralih pada kode akses rumah. Vallerie baru sadar isi pikirannya sudah teralihkan berkat mulut manis suaminya. Tiba-tiba ia masih merasa janggal terhadap Erick yang membuat isi pikirannya kembali beralih pada topik utama. “Tapi, bagaimana Erick bisa tahu kamu adalah adik kandungnya? Padahal nama adiknya dan namamu jelas berbeda jauh.”


“Itulah yang masih menjadi misteri. Aku sebenarnya masih sedikit meragukan Erick yang membunuh kita. Maka dari itu, aku sempat menanyakanmu untuk memastikan sekali lagi. Apakah benar pembunuh yang kamu lihat waktu itu adalah Erick?”


Kepala Vallerie terasa sakit tiba-tiba jika mengingat momen detik-detik terakhir saat ia didorong seseorang di sungai. Jelas di depan matanya, Erick menampakkan diri dengan mengulurkan tangan seolah-olah memang ingin mendorongnya sengaja. Mustahil matanya saat itu salah melihat. Apalagi ia sedang tidak minum minuman alkohol waktu itu.


Elliot memasang raut wajah cemas mengamati istrinya bersikap sedikit aneh karena membahas masalah kematian mereka. Lengan kekarnya langsung mendekap tubuh istrinya penuh kasih sayang dan mendaratkan kecupan manis pada pelipis istrinya berdurasi lama. “Maaf, seharusnya aku tidak memaksamu mengingat adegan pahit itu.”


“Justru aku harus mengingatnya kembali. Melihat wajah Erick sekarang saja sudah membuatku ingin muntah!”


Elliot mengelus kepala sang istri. “Bagaimana kalau kita ke ruangan kita sekarang? Kamu harus beristirahat dulu.”


Saat Elliot dan Vallerie berjalan di lobby, terlihat Erick baru mendatangi kantor dengan penampilan menawan terburu-buru ingin menaiki lift. Mereka tidak ingin kehilangan jejak juga langsung berlari mengikuti Erick.


Pintu lift hampir tertutup rapat langsung ditahan Elliot sekuat tenaga. Erick sedikit terkejut langsung disambut dua musuhnya entah dari mana bisa muncul tiba-tiba.


Elliot dan Vallerie memasuki lift tanpa rasa takut. Lalu Elliot menekan tombol lift tujuannya, kemudian sengaja berdiri di antara Vallerie dan Erick.


“Kakak tumben datangnya agak siang hari ini.” Elliot sengaja berbasa-basi, meski ia bermaksud ingin menyindir kakaknya karena pertama kali datang kesiangan.


Erick meregangkan tangannya ke atas. “Tadi pagi aku tidak sengaja bangun kesiangan karena aku lupa memasang alarm.”


“Begitu rupanya. Sepertinya kakak terlihat sangat lelah. Apakah semalam kakak bekerja lembur?” Elliot masih sedikit menunjukkan sikap perhatian pada kakaknya terlihat kusut tidak seperti biasanya.


Erick sengaja tidak ingin berkata langsung bahwa ia sungguh melakukannya bersama Rachel sepanjang malam. Mungkin adiknya akan membunuhnya sekarang jika tahu faktanya. “Aku lembur di rumahku karena ada keperluan mendesak harus diselesaikan secepatnya.”


Tetap saja Elliot tidak percaya perkataan kakaknya. Karena ia tahu karakter kakaknya malas bekerja lembur lebih memilih menghabiskan waktu di bar. Seberapa jauh kebohongan yang disampaikan Erick selama ini? Padahal hal kecil begini tidak akan mencelakakan nyawa, kenapa harus berbohong?