
Masih belum puas merayakan momen ulang tahun sekaligus pernikahan ulang, Elliot sudah siapkan banyak stik kembang api untuk mereka bermain sebelum tidur. Mengayunkan stik kembang api berputar-putar di taman belakang rumah cukup luas, pada akhirnya mereka bisa bermain setelah sekian lama tidak melakukannya.
Cahaya kelap-kelip dipancarkan kembang api menyinari taman sengaja tidak dinyalakan semua lampu taman. Netra gagahnya sangat candu memandangi istrinya bermain sangat girang sudah membuat jantungnya menggebu-gebu, pipinya semakin memerah. Sambil mengayunkan stik kembang api, tangan kanannya menggenggam tangan kiri istrinya.
“Kamu tahu perbedaan antara kamu dan kembang api?” Elliot sengaja melontarkan pertanyaan itu tiba-tiba untuk mengalihkan pikiran istrinya akhirnya terfokus padanya.
“Kembang api itu benda mati, sedangkan aku makhluk hidup.” Vallerie bergurau, tertawa girang menatap suaminya dengan pandangan berbinar.
“Istriku memang sangat pandai sejak dulu, rasanya aku ingin bermain kejar-kejaran denganmu sekarang!”
Pas sekali stik kembang api yang mereka mainkan sudah habis. Vallerie langsung berlarian menjauhi suaminya. “Sayang, ini sudah malam. Kamu sungguh masih ingin bermain?”
“Jawab pertanyaanku dulu lalu aku akan mengizinkan kamu tidur!”
Vallerie memutar bola mata. “Tadi aku sudah jawab.”
“Jawabanmu tadi dapat nilai nol!” Elliot menyunggingkan senyuman usil merentangkan kedua tangan menangkap tubuh ramping istrinya penuh cekatan.
Akhirnya Vallerie tidak bisa kabur ke mana-mana. Sepasang mata saling bertatapan indah dengan jarak berdekatan hingga tidak berkedip.
Vallerie tersenyum malu. “Lalu … jawabannya apa? Sejujurnya belakangan ini otakku buntu.”
“Tumben sekali kamu tidak bisa jawab pertanyaan teka-teki dariku. Biasanya kamu sangat cerdas.”
“Aku tidak peduli mau dapat nilai nol atau tidak. Aku sudah percaya diri dengan jawabanku.” Vallerie mengelak, mengangkat kepala berlagak angkuh.
Sejenak Elliot mengecup pipi Vallerie. “Kembang api memancarkan sinarnya hanya sekitar lima atau sepuluh menit. Kalau kamu selalu memancarkan sinar setiap saat sampai kapan pun.”
Vallerie merespons tertawa sambil menyentuh pipi suaminya dengan kedua telapak tangan. “Terima kasih gombalannya dan juga kamu mengajak bermain kembang api setelah sekian lama kita tidak melakukannya.”
“Nanti saat ada hari spesial lagi, aku pasti akan mengajakmu bermain lagi.”
Giliran Vallerie ingin menggombal suaminya seketika ada ide baru melewati pikirannya. “Bagiku, kamu tidak ada bedanya dengan kembang api. Dua hal mampu menemaniku di tengah kegelapan. Hanya saja, kembang api bisa membahagiakan semua orang di masa terpuruk, sedangkan suamiku satu-satunya orang yang bisa membahagiakan aku di saat aku mengalami masa terpuruk.”
Mendengar gombalan istrinya tidak terduga membuat seluruh tubuhnya kaku, mulutnya terbuka lebar sambil melepas pelukan kemudian kedua tangannya berpindah menyentuh pundak istrinya dengan pandangan penuh cinta. “Aku menyerah kalau sudah dengar gombalanmu. Karena kamu berhasil membuatku semakin jatuh cinta, sekarang aku mengizinkan kamu tidur.”
Bibir Vallerie memanyun sambil menatap tiga kotak stik kembang api kosong. “Tidak terasa kita bermain kembang api kurang dari satu jam sudah habis.”
Elliot mengandalkan lengan kekar menggendong tubuh istrinya menuju kamar mereka. “Lain kali aku akan beli lebih banyak kotak supaya kita bisa bermain lebih lama.”
Sebelum tidur, Vallerie sulit tertidur lelap berbolak balik badan terus sambil meremas selimut tebal, tidak sabar menantikan momen bulan madu ketiga kali dalam hidupnya. Destinasi bulan madu sangat berbeda dari sebelumnya hanya di Pulau Jeju dan berbulan madu tiga hari saja karena situasi keuangan tidak memungkinkan berlibur terlalu lama.
Elliot tertawa kecil mengamati tingkah istrinya sangat menggemaskan di malam hari karena tidak sabar menantikan besok sehingga membuatnya kesulitan tidur juga. Tangan kanannya mengelus pelipis istrinya memancarkan mata bersinar-sinar. “Nanti kamu bisa sakit sebelum berangkat kalau tidak tidur.”
Vallerie tersenyum manja mengelus punggung tangan suaminya pelan. “Habisnya ini pertama kali aku pergi ke negara Eropa. Apalagi kamu adalah orang pertama yang mengajakku dan mengabulkan keinginanku selama ini.”
“Memangnya orang tuamu tidak pernah mengajakmu berlibur? Keluargamu juga kaya di masa sekarang. Setidaknya pernah melakukan perjalanan bisnis ke berbagai negara.”
Vallerie menggeleng polos. “Tidak. Urusan perjalanan bisnis hanya sebatas negara di Asia Timur dan Tenggara, pernah di Australia tapi hanya sekali.”
Semangatnya semakin menggebu-gebu mengajak istrinya pergi berpetualang di negeri Eropa mulai besok. Bibir sexynya berlompat girang menelusuri area wajah istrinya.
Vallerie tertawa geli, mencubit pipi lembut suaminya bertenaga dengan tatapan melotot. “Dasar kamu mulai deh nakal! Kamu bermaksud menyindirku karena aku tidak pernah pergi ke negara Eropa!”
“Aku tidak menyindir, tapi aku bahagia mendengarnya karena aku juga sama seperti kamu tidak pernah berkelana di negara Eropa.” Elliot melanjutkan menghujani ciuman di wajah Vallerie tanpa henti.
Bola mata Vallerie terbelalak, justru lebih cenderung ia yang terkejut pertama kali mendengar keluarga kaya tidak pernah melakukan suatu hal yang biasanya dilakukan keluarga kaya lainnya, rasanya sangat aneh. Perlahan memundurkan kepalanya sambil mengusap kelopak mata suaminya dengan tatapan lesu.
“Kamu tidak bercanda, ‘kan? Mustahil keluargamu jauh lebih kaya dariku tidak pernah ke Eropa. Apalagi perusahaan ayahmu adalah perusahaan busana, pasti sering melakukan perjalanan bisnis ke negara Amerika atau Eropa untuk melakukan observasi juga.”
Alis Elliot terlihat menurun. “Orang tuaku yang pernah pergi, tapi aku dan Erick tidak pernah karena kami harus mengurus perusahaan selama orang tua kami bepergian lumayan lama. Soal berlibur, memang keluargaku tidak pernah mengajak ke negara Eropa.”
Vallerie menunjukkan rasa empati memeluk suaminya erat sambil menepuk-nepuk punggung suaminya berirama. “Tidak masalah kalau kamu tidak pernah pergi. Besok kita akan berpetualang di sana. Maka dari itu, sampai sekarang mataku sulit diajak kerja sama untuk tidur.”
Senyuman usil terukir pada sudut bibir, perlahan Elliot mendongakkan kepala tepat di depan bibir indah istrinya lalu mencium bibir indah istrinya sekilas. “Kalau aku menciummu pasti matamu langsung bisa kerja sama.”
Vallerie menyipit kesal mencubit lengan suaminya sekuat tenaga. “Aku semakin tidak bisa tidur! Kamu harus ganti rugi!”
Elliot mengedipkan mata manja. “Ganti rugi pakai apa? Bukankah kamu sendiri tidak suka aku memamerkan kekayaanku? Apalagi kamu tidak suka aku pakai black card setiap beli sesuatu untukmu.”
“Pikirkan cara sendiri!” Vallerie membuang muka dengan nada angkuh.
“Kalau ganti rugi dengan asupan bibirku mau?” Elliot meraba dagu lancip istrinya dengan tatapan fokus.
Rona merah menghiasi wajah mulusnya, akhirnya Vallerie mengaku kalah daripada berbagai alasan konyol justru dijadikan boomerang. “Jangan usil lagi! Aku mau tidur sekarang!”
Vallerie berbalik badan menghadap meja kecil di sampingnya, tiba-tiba ia merasakan sentuhan tangan suaminya melingkar di pinggang dari belakang sekaligus merasakan bibir lembut suaminya menempel di pelipis. Senyumannya semakin melebar, jantungnya berdebar-debar rasanya tidak sanggup berbalik badan menghadap wajah suaminya sangat manis.
Vallerie dan Elliot bangun subuh untuk mempersiapkan diri mereka terlebih dahulu sebelum berangkat ke bandara. Hanya sarapan susu cokelat dan roti bakar karena Elliot sengaja tidak beli persediaan bahan makanan minggu ini. Bagi mereka sudah cukup kenyang karena sewaktu dulu mereka juga sering sarapan dengan menu itu selain nasi omelet.
Perjalanan menuju Paris menghabiskan waktu cukup lama sehingga sepanjang hari Elliot dan Vallerie hanya bisa bermalasan di dalam pesawat khusus kelas bisnis. Untung Elliot memesan kelas atas supaya istrinya tidak mudah jenuh dan mereka bisa bersenang-senang juga menikmati fasilitas lengkap yang diberikan pihak maskapai.
Beberapa jam kemudian, akhirnya pesawat mendarat di bandara Paris Charles de Gaulle Airport. Bulan madu mereka juga didampingi salah satu teman terdekat Elliot saat duduk di bangku kuliah.
Dari kejauhan terlihat seorang pemuda berusia seperti Elliot melambaikan tangan. Elliot dan Vallerie berjalan cepat mendatangi pemuda itu sudah menunggu di ruang tunggu, sambil mendorong troli berisi dua koper.
Elliot menyapa teman lamanya, berpelukan sekilas menepuk-nepuk punggung lebar satu sama lain melepas rasa kerinduan mereka sudah lama tidak berjumpa. Dikarenakan temannya ini lebih memilih menetap di Paris daripada kota asal.
“Akhirnya kita bertemu juga di Paris.” Pemuda itu menyapa ramah.
“Sesekali aku mengajak istriku berbulan madu di sini. Istriku sangat suka melihat Paris Fashion Week.” Elliot kembali bergandengan tangan dengan Vallerie.
Pemuda itu menatap Vallerie dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan berbinar sekaligus dicampur iri. “Istrimu sangat cantik. Terakhir kali saat aku menghadiri pesta pernikahan kalian, aku sampai sulit percaya pengantin wanita yang berjalan bersamamu di altar pernikahan adalah istrimu. Biasanya kamu selalu cuek pada wanita cantik.”
“Dasar tukang cemburu! Memangnya aku tidak boleh memuji istrimu!” protes pemuda itu berkacak pinggang.
“Kalau kamu memuji, nanti hatinya akan berpindah tempat! Aku tidak mau istriku hidup bersama pria lain!”
Reaksi Vallerie tertawa anggun sambil mendekatkan bibir menuju daun telinga suaminya. “Aku suka kamu posesif begini, tapi bukan berarti membentak temanmu.”
“Aku tidak peduli! Pokoknya harus hanya aku yang memujimu.”
“Bagaimana kalau kita pergi sekarang? Hari sudah sore, aku juga punya urusan di rumah bersama istri dan anakku.”
“Iya, aku juga ingin beristirahat di hotel bersama istriku.” Elliot mengedipkan mata kanan pada Vallerie, mengisyaratkan akan berbuat sesuatu di hotel, entah apa yang merasuki pikirannya.
“Kamu tidak mau menginap di rumahku? Rumahku ada satu kamar kosong.”
Elliot menggeleng. “Tidak perlu, Jason. Aku dan istriku hanya ingin menikmati liburan berdua saja. Aku membutuhkanmu di saat genting saja.”
Perjalanan dari bandara menuju hotel menghabiskan waktu sekitar lebih dari satu jam. Hari sudah gelap seketika tiba di hotel. Hanya berpamitan sekilas dengan Jason, Elliot dan Vallerie langsung melakukan check in kamar hotel yang mereka sudah pesan sejak jauh-jauh hari.
Pandangan Vallerie terkagum memandangi sekeliling interior hotel sangat mewah, dalam benaknya terus menghitung berapa biaya yang akan dihabiskan suaminya selama menginap di hotel ini, untungnya sudah termasuk paket sarapan dan makan malam. Kalau sekarang mereka masih hidup sederhana, mungkin suaminya tidak akan mengajak menginap di hotel dan lebih memilih menginap di rumah Jason.
Baru menginjak kamar yang akan mereka tempati selama seminggu, Vallerie tampak kegirangan memasuki kamar ini, lalu membaringkan tubuhnya di sebuah ranjang king size berguling-guling seolah-olah tidak pernah tidur di ranjang luas.
Melihat tingkah istrinya sangat lucu, Elliot juga langsung membaringkan tubuhnya dan menangkap tubuh istrinya sedang berguling ke arahnya.
Vallerie tersenyum malu seketika mengamati suaminya terus menertawakannya dari tadi, berusaha melepas pelukan untuk melarikan diri tapi sulit melawan. “Jangan menertawakan aku! Aku bersikap begini karena masih tidak terbiasa melihatmu memesan kamar hotel mewah begini.”
“Aku memakai hasil tabunganku selama ini, bukan dari orang tuaku.”
Bola mata Vallerie membulat. “Benarkah? Tapi nanti tabunganmu habis karena hidup boros demi aku!”
“Tenang saja. Tabunganku tidak akan cepat habis meski kita boros selama seminggu. Aku punya tabungan cadangan selama ini, bahkan orang tuaku tidak tahu karena memang aku ingin merahasiakan dari mereka atau Erick.”
“Tapi—”
“Aku suka melihatmu berguling-guling tadi. Aku jadi ingin bermain bersamamu.” Elliot tertawa gemas menggelitik tubuh Vallerie, sehingga membuat Vallerie tertawa puas sampai wajahnya memerah.
“Elliot! Aku tidak mau digelitik! Tapi tubuhku kedinginan karena udara malam dingin! Sekarang kan musim semi.”
Elliot semakin mempererat pelukan hangat membuat senyuman ditampilkan Vallerie semakin melebar. “Hangat tubuhmu, aku selalu suka. Bahkan lebih hangat dari penghangat ruangan.”
Hari pertama di Paris tidak melakukan aktivitas terlalu banyak, karena tubuh mereka kelelahan setelah menempuh perjalanan di pesawat selama berjam-jam.
Vallerie duduk di meja rias mengeringkan rambutnya basah kuyup menggunakan hair dryer. Seketika baru menyalakan mesin hair dryer, langsung diambil alih suaminya lincah, kepalanya spontan menoleh ke belakang disambut kecupan sekilas menempel di bibir merahnya.
“Biar aku saja yang mengeringkan rambutmu.” Elliot mengecup pelipis Vallerie.
“Apakah ada unsur kesengajaan? Kenapa kamu menciumku tiba-tiba padahal niatmu hanya mengeringkan rambutku?” Vallerie menyipitkan mata melipat kedua tangan di dada.
Elliot menampakkan ekspresi wajah polos menggerakkan jari jemarinya menelusuri kepala istrinya. “Bukan aku yang sengaja, tapi bibirku yang sudah tidak tahan ingin menciummu.”
Vallerie tertawa anggun sambil menyentuh punggung tangan kiri suaminya menempel di kepala. “Sebenarnya bibirku juga ingin menciummu. Bisakah kamu percepat mengeringkan rambutku?”
Senyuman usil menghiasi wajah tampan, kali ini bibirnya berpindah tempat di pipi lembut sang istri mendalam. “Baiklah, demi kesayanganku akan aku kabulkan keinginanmu.”
Beberapa menit setelah mengeringkan rambut, tentunya Vallerie tidak ingin melewatkan kesempatan menikmati keindahan langit malam di kota Paris, terutama menikmati udara sangat sejuk di musim semi.
Vallerie berlarian menuju balkon kamar cukup luas dihiasi sebuah sofa dan tanaman hias menghiasi balkon, serta perlengkapan lain seperti gelas kaca dan botol wine untuk melengkapi suasana romansa menikmati pemandangan malam bersama seseorang sangat istimewa dalam hidupnya.
Elliot dan Vallerie menempati sebuah sofa berbusa tebal dilindungi kanopi. Elliot membuka segel botol wine menuangkan untuk istrinya dan dirinya sendiri.
Sepasang gelas saling bersentuhan serentak, Vallerie dan Elliot menyesap segelas wine dengan kadar alkohol paling rendah sambil memandangi langit malam dihiasi bulan purnama dan beberapa bintang berkilauan.
“Vallerie, kamu masih ingat buku diaryku tertulis perasaanku terhadapmu selama dua bulan menjelang hari pernikahan kita?”
Respons Vallerie tersenyum hangat sambil memutar gelas kaca searah jarum jam. “Kamu mau bercerita padaku semuanya sekarang?”
“Melihat senyumanmu sejak kemarin sampai detik ini, aku teringat pertemuan pertama kita saat di hotel. Meski aku bersikap dingin padamu, kamu masih tetap mempertahankan senyumanmu.”
Bibir Vallerie mengerucut mengingat ekspresi wajah suaminya saat itu sangat kaku seperti beton. “Sebenarnya aku masih sebal mengingat momen itu. Kamu sangat menyebalkan!”
Angin malam sepoi-sepoi. Spontan Elliot mendekap tubuh istrinya dengan erat. “Di matamu aku menyebalkan, tapi setelah aku mengusirmu, aku mencarimu ke mana-mana.”
Deg..
Vallerie membelalakan mata, membuka mulutnya lebar dengan rahang kaku. “Bukankah kamu sangat membenciku saat itu?”
Elliot menggeleng. “Aku tidak bisa membencimu. Anehnya hanya kamu satu-satunya wanita yang tidak bisa kubenci. Maka dari itu, aku sempat menyesali perbuatanku dan mencarimu di sekeliling ballroom. Ternyata kamu sungguh menghilang dariku karena aku menyakiti perasaanmu.”
“Lalu, kenapa kamu bermain bersama Rachel di kamar hotel?” Vallerie melanjutkan penyelidikannya lebih dalam lagi supaya tidak berprasangka buruk terhadap suaminya terus.
“Karena Rachel yang menghubungiku duluan. Ada sesuatu penting yang ingin dibicarakan padaku. Terpaksa aku pergi ke kamar hotel daripada dia berbuat aneh tanpa sepengetahuanku.”
Sejenak Elliot menghembuskan napas lemas sambil menuangkan segelas wine. “Kamu masih dendam padaku karena kejadian itu, aku tidak mempermasalahkannya. Selama dua bulan kamu selalu memastikan aku dalam kondisi selamat. Aku sangat bahagia, selain orang tuaku, ada orang lain yang mencemaskanku juga. Bahkan orang tuaku tidak bertindak berlebihan seperti kamu.”
Vallerie memutuskan melupakan perasaan sebal terhadap suaminya atas tindakan kasar saat baru mendarat di dunia ini. Bibirnya mencium bibir suaminya dengan penuh perasaan cinta membuat sang suami ingin memimpin permainan bibir indah sampai puas, sambil meraba punggung hangat yang selalu membuatnya nyaman.
Perlahan Vallerie mengakhiri ciumannya, dengan pandangan berseri-seri menatap wajah menawan suaminya mengelus pipi lembut di hadapannya. “Aku sangat bahagia mendengar kamu memedulikan aku di hari pertemuan pertama kita sekaligus ciuman pertama kita di dunia ini. Aku tidak pernah membencimu, jangan pernah menganggapku selalu membencimu hanya karena masalah itu lagi.”
Elliot mendekatkan bibirnya menuju bibir merah di hadapannya. “Alasan utama aku menciummu duluan saat itu bukan karena ingin melawan Rachel. Tapi hatiku yang mendukungku ingin berciuman denganmu.”