Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 56: Mimpi Maut



Tawa sinis dihasilkan sang penjahat menambah rasa ketakutan Carla. Kaki terus gemetar sampai hampir tersandung, untungnya ia masih bisa mengendalikan rasa takut berpura-pura mengambil beberapa peralatan kosmetik seolah-olah memang ia sungguh berniat ingin merias wajah.


Namun, apakah aksi sandiwara itu berefektif supaya Bertrand tidak curiga? Sekarang Carla harus memikirkan cara agar aksi pelarian berlindung di rumah Whitney tidak tertangkap basah.


“Sedang apa kamu ke sini?” Carla menyambut berbasa-basi sambil memikirkan beberapa strategi untuk menjawab pertanyaan Bertrand nanti,  jika Bertrand sungguh tahu ada yang aneh dengan sikap kekasih bonekanya tiba-tiba.


“Memangnya aku tidak boleh mengunjungi kamu sesekali?” Telapak tangan Bertrand berusaha meraih pundak Carla, tapi langsung dihindari cepat.


“Aku hanya merasa hari ini kamu berkunjung di waktu yang salah.”


“Kenapa? Tidak biasanya kamu bersikap begini!” bentak Bertrand membuat Carla tersentak.


PUK


Tumit kaki Carla pada akhirnya menabrak tembok. Lengan kanan Bertrand meraih tembok menahan tubuhnya, lalu telapak tangan kiri menyentuh dagu lancip Carla.


Dalam hati Carla, semoga saja sandiwaranya sungguh tidak tertangkap basah. Mungkin sekarang juga nyawanya akan melayang jika rencananya terbongkar.


Carla menelan saliva gugup. “Apa … yang kamu lakukan?”


“Aku tidak menyangka kamu adalah teman Vallerie. Bagaimana kalian bisa kenal?”


“Itu bukan urusanmu!” Carla langsung membuang muka.


Bertrand mengepalkan tangan kiri memajukan kepalan tangan mendekati pipi Carla. Tidak ada rasa takut timbul pada Carla, karena sejak awal ia sudah kebal terhadap sikap kasar Bertrand.


“Dari dulu aku selalu merahasiakan hubungan kita dari semua orang karena aku tidak ingin orang tahu!” Bertrand meraba lengan Carla lambat laun.


Kuku jari Carla perlahan menggores tembok, tidak peduli kuku rusak, hanya melakukan ini rasa gugup sedikit menghilang. “Apa karena kamu malu berpacaran denganku? Jadinya, saat bertemu di restoran, kamu menganggapku hanya sebagai teman. Kamu tahu hatiku sangat sakit mendengarnya?”


“Maaf, saat itu ada Vallerie. Sebenarnya dulu aku menyukainya, tapi dia menolakku langsung tanpa sebab.” Lagi-lagi Bertrand gagal menyentuh pundak Carla. Tubuh Carla langsung menghindar lincah melangkah menjauh.


“Hari ini aku lelah. Sebaiknya kamu pulang saja. Aku malas berbincang denganmu!” Carla mengikat rambut dengan gelang karet berwarna hitam bermodel ponytail.


Mendengar nada bicara Carla sedikit ketus, Bertrand menghembuskan napas kasar. Melangkah cepat mendekati Carla, kedua tangannya meremas lengan Carla sedikit erat sehingga Carla merasa kesakitan sebenarnya, tapi berusaha menahannya.


Bertrand menajamkan tatapannya. “Waktu itu kamu tidak bisa merayakan hari ulang tahunku dengan alasan kamu sibuk bekerja hari itu. Lalu, sekarang kamu mengusirku. Sebenarnya apa yang membuat sikapmu berubah drastis?”


Carla menggeleng angkuh. “Tidak. Aku berbicara sesuai kenyataan. Memang hari ini jadwalku lumayan padat, dari tadi tidak ada waktu bersantai. Izinkan aku sendirian di sini!”


“Apakah kamu sungguh menyimpan dendam padaku?”


Dahi Carla mengernyit. “Apa?”


“Belakangan ini kamu terus menghindariku. Apakah karena selama ini aku tidak menganggapmu sebagai pacarku?”


Lagi-lagi Carla membuang muka dengan tatapan dingin. “Tidak. Aku tidak bersikap seperti pengecut!”


“Lalu, apakah kamu adalah pelaku yang memberikan paket misterius di depan rumahku?!” Bertrand menggerakan tubuh Carla berkali-kali hingga batas kesabaran Carla sudah melebihi batas.


“Aku? Tunggu sebentar! Kamu dapat paket misterius? Kejadiannya kapan?” Carla berpura-pura perhatian pada Bertrand, sebenarnya ia juga bingung siapa yang meneror Bertrand diam-diam tanpa sepengetahuannya.


Bertrand melepas cengkeraman pada lengan Carla, berjalan mondar-mandir seperti orang tidak waras membuat Carla ingin mengutuk habis-habisan sebagai pembalasan karena menyiksanya beberapa saat lalu. “Lupakan saja! Kalau sampai kamu adalah pelakunya, siap-siap saja aku tidak akan memaafkanmu dan kita putus!”


Drrt…


Tiba-tiba muncul sebuah notifikasi pesan singkat dari nomor tidak dikenal. Berkat pesan singkat itu, akhirnya Carla kembali bernapas lega sambil membawa alat recorder diperlukan untuk kegiatan meliput berita di lapangan.


Dahi Bertrand menampakkan kerutan. Pesan singkat ini, entah kenapa mirip seperti paket misterius yang didapatkannya sewaktu hari ulang tahun.


“Mati! Kamu tidak pantas dianggap manusia!”


Carla sedikit bingung melihat ekspresi wajah Bertrand terlihat berubah drastis. Sebenarnya penasaran apa penyebab Bertrand menampakkan kelemahannya.


“Ada apa?”


“Aku … harus pulang sekarang.” Bertrand terburu-buru keluar dari apartemen ini.


Di apartemen studio milik Whitney, Carla menceritakan apa yang dialaminya saat Bertrand datang tiba-tiba. Mendengar cerita mencekam itu, Whitney bahkan bergidik ngeri sampai pikirannya sekarang tidak terfokus pada drama yang mereka tonton sekarang.


“Dasar pria berengsek! Kalau aku jadi kamu, sudah pasti aku menghajarnya habis-habisan!” Whitney mengepalkan kedua tangan seolah-olah sedang meninju.


“Tapi, sikap Bertrand sedikit aneh. Katanya dia dapat paket misterius saat hari ulang tahunnya.”


“Memangnya dia dapat paket apa?” Whitney berekspresi polos mengemil keripik kentang.


Carla mengedikkan bahu. “Entahlah. Dia tidak berbicara jelas. Dia hanya bilang ada paket misterius ditinggalkan di depan rumah.”


Tangan kiri Whitney menepuk-nepuk pundak Carla. “Tenang saja. Mungkin dia sedang mendapatkan karma. Karma akibat dia memperlakukan kamu kasar. Bisa jadi pelaku teror adalah mantan pacarnya.”


“Yang pasti aku sangat berterima kasih pada pengirim pesan singkat tadi. Kalau tidak ada yang mengganggu kami, mungkin aku akan disiksa lagi.”


Di kediaman mewah milik Elliot, Vallerie tertawa sinis menatap pesan singkat yang diberikan tadi untuk Bertrand. Strategi sama seperti saat menindas Erick. Vallerie sengaja beli nomor ponsel sementara untuk dijadikan penyamaran pelaku teror.


Cukup puas bermain licik. Vallerie mencabut sebuah chip kecil dari ponselnya, kemudian buang chip itu ke tempat sampah. “Ini baru pemanasan. Aku penasaran apakah kamu sungguh takut karena ancaman ini.”


Sekarang saatnya kembali bermanja dengan suaminya. Karena besok ada tugas penting harus diselesaikan Elliot, sehingga saat sebelum pulang kerja Elliot bekerja sedikit memaksakan diri sampai kepalanya sedikit pusing.


Elliot terbaring merengkuh di samping Vallerie masih duduk bersantai. Perlahan Vallerie memeluknya dengan erat, kemudian mencium puncak kepala Elliot bermaksud menyembuhkan rasa sakit kepala.


“Vallerie ….” Tangan kanan Elliot perlahan mengelus punggung tangan Vallerie.


“Kepalamu masih sakit?” Vallerie mengusap kepala suaminya perlahan.


Elliot menggeleng pelan, menyunggingkan senyuman usil menarik tangan istrinya sehingga sekarang tertangkap dalam dekapannya hangat. “Kalau ada kamu, kepalaku tidak sakit.”


“Aku mengantuk.” Vallerie mengucek mata lembut.


Bibir Elliot menyentuh dahi Vallerie, perlahan berpindah menuju hidung kemudian berakhir di bibir indah berkilauan masih menggodanya dalam durasi agak lama.


“I love you, My Vallerie.”


Dibalas kecupan manis mendarat di bibir Elliot. “I love you, My Elliot.”


Biasanya Vallerie bermimpi indah mengenai kencan bersama suaminya. Kini ia berada di dunia masa lalu. Saat detik-detik terakhir kecelakaan yang menimpa suaminya. Dari kejauhan, terlihat dirinya dan suaminya sedang berjalan santai menuju halte bus.


Tiba-tiba ada sebuah truk kehilangan kendali melaju dengan kecepatan penuh ke arah mereka. Meski ini hanya dunia mimpi, tapi Vallerie sungguh merasa nyata. Berlari cepat berusaha menyelamatkan suaminya sebelum terlambat, ada halangan lainnya yang membuatnya kembali gagal menyelamatkan kedua kali. Ada seorang pria melajukan sepeda hampir menabraknya yang menggagalkan aksi penyelamatan.


Merasa déjà vu. Adegan yang sama terlihat dirinya menangis putus asa memeluk suaminya dalam kondisi tidak terselamatkan. Sedangkan sopir truk tewas juga karena menabrak tiang lampu sampai hancur.


Namun, ada satu hal yang janggal bagi Vallerie. Dari kejauhan terlihat Bertrand menyaksikan adegan kecelakaan itu tertawa seperti iblis. Darah Vallerie meluap, mengandalkan kaki mungilnya berlari mengejar Bertrand, lalu menampar Bertrand berkali-kali sepuasnya.


“Berengsek!! Beraninya kamu membunuh suamiku!” Vallerie menjerit seperti orang tidak waras menonjok Bertrand sampai babak belur.


“Apa kamu punya bukti?” Bertrand menajamkan tatapannya..


“Lihat saja nanti! Akan kubalas perbuatanmu! Kamu harus mengalami penderitaan seperti yang dialami aku dan Elliot! Akan aku bongkar karakter busukmu di hadapan semua orang!” Vallerie berteriak sampai suaranya serak.


Kembali ke sisi dunia nyata. Vallerie terus mengigau sampai keringat dingin membasahi sekujur wajah. Elliot menenangkannya dengan pelukan penuh cinta dari tadi, tapi tetap tidak efektif bagi Vallerie.


Tetesan air mata membasahi kelopak mata Vallerie. Tidak peduli bibir basah, Elliot mengecup kelopak mata Vallerie berdurasi lama, sehingga akhirnya Vallerie kembali tenang langsung terbangun dari dunia mimpi dengan napas terengah-engah.


Vallerie menyeka air mata gemetar. “Elliot … aku takut.”


Lengan kekarnya langsung memeluk tubuh istrinya erat, sengaja mengecup pelipis berkali-kali untuk mengusir mimpi buruk jauh-jauh dari pikiran istrinya.


“Aku masih hidup. Mustahil aku meninggalkan kamu lagi.”


“Tapi, kamu tipe pria suka bertindak tanpa berpikir panjang. Bagaimana kalau kejadian di masa lalu terulang kembali?” Suara tangisan istrinya menghancurkan hati Elliot berkeping-keping.


“Aku melakukan itu wajar. Mana mungkin aku sebagai suamimu membiarkan kamu celaka! Aku ingin kamu berumur panjang, jangan seperti aku.”


Mata Vallerie semakin berkaca-kaca, perkataan diucapkan suaminya justru membuatnya semakin tidak tenang. “Kamu mau aku hidup sendirian lagi?”


Elliot menggeleng dan mencium bibir Vallerie. “Tidak, Sayang. Aku ingin kita hidup bersama terus. Lupakan saja soal mimpi buruk tadi. Aku ingin saat kamu tidur kali ini, kamu harus berkencan denganku di dunia mimpi.”


Senyuman tipis terbit di sudut bibir. Vallerie juga mencium bibir suaminya terasa sangat manis. “Terima kasih sudah menyelamatkan aku dari mimpi buruk.”


“Belakangan ini kamu terlalu fokus merencanakan balas dendam sampai terbawa mimpi, haruskah aku menunda rapat besok? Aku ingin mengajakmu berkencan supaya kamu tidak bermimpi buruk lagi.”


Vallerie menghela napas kasar mencubit pipi suaminya dengan kesal. “Haruskah aku memberimu pelajaran supaya kamu kapok?”


Elliot menampakkan senyuman ceria, meski merasa sakit pipinya dicubit. Tangannya menahan jari istrinya ingin mencubitnya lagi, sekarang giliran bibirnya melakukan atraksi manis di wajah sang istri.


Sedangkan di suatu ruangan dengan penerangan redup, seseorang sedang menulis sebuah artikel berita mengenai hubungan asmara Elliot dan Rachel di masa lalu. Tertulis di artikel ini bahwa Vallerie adalah pihak ketiga sengaja merayu Elliot dan melakukan hubungan satu malam di sebuah hotel setelah perjamuan makan malam.