
Sebelum berangkat kerja, Vallerie memasak nasi omelet favorit suaminya lagi. Meski kemarin ia sempat mengancam tidak akan memasak sarapan enak lagi, tapi hatinya tidak tega melakukannya. Lagi pula, sikap lembut Elliot sepanjang malam membuat hati Vallerie terngiang-ngiang sejak bangun tidur.
Elliot baru selesai membersihkan diri, hidung tajamnya dalam sekejap mudah tergoda dengan aroma nasi omelet sudah membuat perutnya berbunyi berkali-kali.
Perlahan Elliot melangkah mendekati istrinya masih sibuk memasak dengan rasa bersalah. Seingatnya, istrinya sangat menyesal memasak sarapan untuknya karena sikapnya kemarin sangat keterlaluan. Sedangkan sekarang masih tetap memasak dengan ekspresi wajah manis membuat jantungnya berdebar-debar.
‘Kamu cantik, Vallerie.’
Lagi-lagi Elliot hanya berani memuji kecantikan istrinya di dalam hati. Itulah mulutnya keras seperti beton, hanya mengucapkan beberapa kata indah saja seperti sedang uji nyali.
Elliot sengaja berdeham berkali-kali mengurangi rasa canggung. Spontan Vallerie mematikan kompor karena masakannya sudah matang kemudian berbalik badan menghadap suaminya berwajah lesu.
“Elliot, kamu kenapa?”
“Bukankah kemarin kamu menyesal memasak sarapan enak untukku?” Elliot bertanya balik dengan nada sindiran, sedikit memalingkan mata.
Vallerie tertawa gemas sambil mengelus kepala suaminya pelan. “Kemarin aku hanya bercanda, mustahil aku membiarkanmu kelaparan pagi-pagi begini.”
Bola mata Elliot membulat, terharu mendengar istrinya masih memedulikannya setelah bertengkar dahsyat kemarin. “Tapi kemarin kamu terdengar serius mengatakannya. Seharusnya kamu tidak perlu repot memasak hanya demi pria kasar seperti aku.”
Vallerie tidak memedulikan perkataan sang suami tampan. Memang kemarin Vallerie tidak bisa mengendalikan mulutnya berkata kasar juga karena sudah terbawa emosi. Yang diharapkan adalah melihat senyuman bahagia suaminya lagi setiap kali mencicipi masakan istimewanya. Urusan menyimpan dendam karena suaminya berkata kasar terus, Vallerie sudah melupakan sepenuhnya berkat kasih sayang yang diberikan suaminya sepanjang malam sebagai pengusir mimpi buruk, berhasil membuatnya bermimpi indah.
“Aku tidak pernah menganggapmu kasar, kamu selalu lembut di mataku.”
Alis Elliot terangkat sebelah. Merasa perkataan istrinya baru saja seperti sedang menyindirnya. “Kamu menyindirku?”
Vallerie mengedikkan bahu. “Tidak. Untuk apa menyindir kesayanganku.”
Kruk..
Lagi-lagi perut Elliot tidak bisa memahami situasi. Vallerie tertawa terbahak mendengarnya sambil menyerahkan sepiring nasi omelet dengan porsi jumbo untuk suaminya.
“Kasihan perutmu. Ini nasi omelet spesial favoritmu. Jangan terburu-buru makannya nanti bisa tersedak.”
Elliot tersenyum girang. Dengan tingkah seperti anak kecil kelaparan menempati kursi makan, kemudian menikmati nasi omelet buatan istrinya sangat lezat bagi indra pengecapnya terasa seperti melayang di angkasa.
“Memang nasi omelet buatanmu tidak perlu diragukan. Aku ingin kamu memasak setiap hari untukku.”
“Boleh, tapi ada syarat.”
“Aku tidak boleh membentakmu lagi.”
“Kamu salah.” Vallerie menjulurkan lidah tertawa ledek.
Alis Elliot terangkat sebelah. Baru melonggarkan aturan untuk istrinya, sekarang justru ia yang dipermainkan. “Syarat apa sih? Jangan yang susah deh!”
“Proyek itu tetap harus aku yang pegang.”
“Memang kamu yang pegang. Aku tidak mungkin menyerahkannya pada orang lain.” Elliot menjawabnya santai sambil mengunyah nasi melahap.
Vallerie membelalakan mata. Sikap suaminya sungguh berubah drastis dalam sehari. Padahal sebelumnya ia terkena omelan karena dianggap berbuat seenaknya. “Benarkah? Bukankah kamu tidak setuju?”
Sejenak Elliot meletakkan garpu dan sendok. “Setelah dipikir-pikir, kamu memang pantas menanganinya. Kamu layak bertanggung jawab terhadap proyek besar itu dibandingkan orang lain. Maafkan aku, kemarin aku salah menilaimu. Sekarang aku sangat mengandalkanmu sepenuhnya.”
Bagus! Vallerie semakin bersemangat ingin membalas dendam pada tukang pembuat masalah di kantor yang membuat hidupnya terpuruk di masa lalu.
Dengan lincah Vallerie memberikan beberapa sendok nasi untuk suaminya. “Terima kasih, Elliot. Mungkin besok aku harus menambahkan porsi nasinya lagi untukmu.”
Elliot tersenyum simpul sambil mengembalikan beberapa sendok itu untuk istrinya. “Tidak perlu. Menurutku ini sudah cukup banyak. Aku tidak mau kamu kelelahan pagi-pagi demi memasak sarapan untukku.”
Pipi Vallerie sedikit memerah. Semakin lama sikap suaminya sangat mirip seperti sikap di kehidupan sebelumnya menyayangi berlebihan.
Saatnya kembali ke dunia realita. Elliot kembali bertindak sebagai direktur profesional di ruang kerjanya. Di tengah kesibukan mengurus proposal proyek besar, tiba-tiba sosok asisten pribadi bernama Jordan menerobos masuk ruangan sambil membawa tab.
“Elliot, kamu harus melihat berita ini!”
Elliot langsung mengamuk memukul meja dengan sekuat tenaga membaca sebuah artikel trending mengenai pelanggaran hak cipta yang dilakukan Clarity Star Company Limited. Dijelaskan ada salah satu produk musim panas adalah hasil tiruan dari produk Diva Fashion yang sudah dirilis sejak lama. Apalagi Diva Fashion sudah mengajukan gugatan untuk menuntut Clarity Star.
“Sial! Siapa yang beraninya melakukan plagiat tanpa sepengetahuan aku!”
“Apakah Rian pelakunya? Pegawai yang kamu pecat kemarin?”
Elliot menggeleng bertopang dagu. “Dia bodoh, mustahil melakukan hal kotor ini. Pasti ada mata-mata di perusahaan ingin menghancurkan Clarity Star.”
Elliot tergesa-gesa keluar dari ruangannya hendak ingin mengunjungi Diva Fashion. Seketika menginjak lobby perusahaan, ada beberapa demonstran melakukan aksi unjuk rasa meminta Clarity Star mengganti rugi atas pelanggaran hak cipta. Selain itu, ada beberapa reporter langsung menyerbu Elliot menanyakan atas klarifikasi artikel mengenai plagiarisme.
“Selidiki siapa pelaku yang menyebabkan kekacauan ini! Kita akan mengunjungi Diva Fashion saat situasi normal,” pinta Elliot sambil merapikan jasnya.
Vallerie juga sudah membaca artikel itu sampai mengamuk. Ia tahu pelakunya adalah Sofia, hanya saja sekarang ia tidak ingin bertindak gegabah. Mengumpulkan beberapa bukti untuk menyerang musuhnya selalu menjadi pengacau hidupnya entah di masa sekarang atau masa lalu. Untungnya, ia memiliki satu pegawai sekaligus teman terdekatnya yang dapat membantunya menghadapi medan perang ini.
“Ini dokumen yang kamu butuhkan, Vallerie.” Pegawai itu menyerahkan beberapa map untuk Vallerie.
“Terima kasih, Aria.”
Dugaan Vallerie benar. Apa yang dilakukan Sofia selama ini sebenarnya ingin menghancurkan citra nama baik Clarity Star di mata semua orang. Apalagi jika dilihat beberapa rancangan yang dibuat Sofia sama persis dengan beberapa rancangan yang sudah dipakai perusahaan ternama.
“Sudah kuduga memang dia akan menyebabkan masalah iagi.” Vallerie tersenyum sinis sambil membuka lembaran laporan dibuat Aria satu per satu.
“Kita harus bagaimana ini? Jika kita tidak mencari solusi dan menghentikan produksi, Clarity Star bisa hancur.”
“Apakah kamu juga menyelidiki tim produksi diam-diam?”
“Beberapa pegawai di sana disuap. Maka dari itu, gaun itu tiba-tiba dijual di pasar kecil jarang dikunjungi orang.”
Sebenarnya, Vallerie sedikit penasaran bagaimana bisa Aria menemukan bukti itu dengan cepat padahal ia baru meminta bantuannya kemarin. Apakah Aria juga memantau pergerakan Sofia selama ini?
“Omong-omong, kamu cepat juga dapat informasi ini. Bahkan suamiku pasti tidak mengetahuinya.”
“Sebenarnya aku pernah beberapa kali melihat Sofia berkomunikasi dengan beberapa pedagang penjual baju di pasar. Lalu, mulai saat itu, aku terus memantaunya setiap ada pergerakan mencurigakan.”
Vallerie tersenyum ceria menepuk pundak Aria bersemangat. “Kamu sangat membantuku, Aria. Sepertinya aku harus mentraktir kamu makan.”
“Tidak perlu. Aku justru merasa sungkan makan bersama istri direktur.” Aria menunduk sopan.
“Entah aku istri direktur atau bukan, tapi aku tetap memperlakukan kamu sederajat denganku.”
“Tapi, maaf aku izin bertanya. Apakah mungkin kamu akan menangkap Sofia? Apalagi perkaranya bisa merusak citra nama baik perusahaan.”
Kepala Vallerie sedikit sakit. Entah kenapa masalah ini sama seperti masalah sebelumnya. Lebih parahnya lagi, suaminya sendiri tidak tahu permasalahan ini. Maka dari itu, batas kesabarannya sudah habis ingin membentak Sofia.
“Bahkan aku ingin memecatnya. Karena dia tidak pantas bertahan di sini. Aku tidak ingin Elliot terseret dalam masalah ini juga. Kamu harus jaga misi rahasia kita dari Elliot.”
“Baiklah, urusan rahasia serahkan saja padaku.”
“Kamu bisa kembali bekerja. Biar aku yang panggil Sofia.”
Sekarang giliran Vallerie berhadapan langsung dengan musuhnya. Temperatur AC sengaja diturunkan Vallerie membuat suasana di dalam ruangannya sedikit mencekam, karena memang rasanya ia ingin mencabik Sofia dengan kejam karena membuat dirinya hampir dipecat di masa lalu.
Sofia masih bersikap polos berhadapan dengan Vallerie. Memang ia juga tidak tahu alasan kenapa dipanggil tiba-tiba. “Anda memanggil saya, Bu Vallerie?”
“Saya dengar dari Pak Elliot bahwa selama ini kamu memberikan kontribusi cukup besar untuk perusahaan. Apakah benar?” Vallerie melipat kedua tangan di dada sambil menghentakkan kaki berirama.
“Sebenarnya saya hanya membantu sesuai kemampuan saya. Saya masih harus banyak belajar.”
Vallerie sengaja tidak menyerahkan buktinya dulu pada Sofia karena bisa membuat misinya gagal. Namun, ia sengaja berniat mengancamnya secara halus berdasarkan informasi yang didapatkan dari Aria.
“Saya sedikit bingung mendengar ada kabar buruk dari Diva Fashion. Kata mereka, ada satu gaun musim panas dari kita merupakan hasil plagiat dari gaun mereka yang telah dijual sejak lama.”
Ekspresi wajah Sofia berubah drastis menjadi sedikit tegang. Vallerie semakin percaya diri memang Sofia adalah pelaku sesungguhnya yang melakukan plagiat.
“Apakah kamu yang mengusulkan gaun itu disebarluaskan? Padahal Pak Elliot tidak tahu masalah ini sama sekali.”
“Jangan sembarangan menuduh saya, Bu Vallerie! Saya tidak tahu apa maksud perkataan Anda!”
Vallerie menajamkan tatapannya dengan kejam pada Sofia. Perlahan melangkah mendekati Sofia sambil mencolek bahu Sofia sedikit kasar berkali-kali.
“Bawa buktinya kalau bukan kamu pelakunya. Karena setahu saya, setiap ada rancangan pakaian yang akan diperjualbelikan ke masyarakat, pasti harus disetujui kamu dulu. Lalu, baru melaporkan pada Pak Elliot.”
Sofia tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menelan salivanya berat, kemudian sedikit memalingkan pandangannya. “Saya tidak takut! Lihat saja, pasti Anda yang akan terkena masalah karena sembarangan menuduh saya!”
“Baiklah, kalau begitu selamat bekerja kembali. Saya tidak membutuhkanmu lagi!” Vallerie membentak dengan suaranya sedikit melengking.
Sekarang yang dilakukan Vallerie adalah meminta maaf secara langsung pada pihak Diva Fashion karena perbuatan plagiat yang dilakukan Sofia, kemudian sembarangan menyebarkannya di area pasar kecil sehingga tidak akan ketahuan. Selain itu, kejahatan yang dilakukan Sofia adalah menggelapkan uang yang didapatkannya secara ilegal karena hasil plagiatnya.
Vallerie memerintahkan beberapa orang untuk menghentikan sistem penjualan produk yang dijual ilegal itu. Sedangkan Elliot memerintahkan Jordan mengunjungi beberapa department store untuk memastikan hasil produk plagiat itu tidak terjual di outlet besar.
Cukup lelah berpetualang di luar kantor sampai jam makan siang, Vallerie kembali ke kantor, lalu disambut dingin oleh kakak iparnya seperti ingin membunuhnya.