Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 69: Penyusunan Rencana Kejutan



Satu bulan yang lalu…


Tidak lama setelah persidangan Bertrand berakhir, Elliot mulai merencanakan sebuah misi besar akan diberikan untuk istri tercintanya bulan depan. Mengingat momen pernikahan mereka di masa sekarang terkesan hancur dan perih setiap kali mengingatnya, Elliot memutuskan mengadakan pernikahan kedua kali di masa sekarang.


Elliot tidak melakukan sendirian. Maksud mengadakan pernikahan ulang adalah ingin terlihat seperti pesta pernikahan sungguhan, meski suasana berbeda dari sebelumnya. Elliot meminta bantuan orang-orang terdekat ikut membantunya mempersiapkan pernikahan dadakan ini supaya kejutan nanti sangat sempurna di mata istrinya.


Sangat pas melakukan misi rahasianya, Vallerie masih sibuk mempersiapkan proposal untuk acara bulan depan, Elliot langsung mengajak asistennya mengunjungi sebuah toko perhiasan ternama dan elit. Memberikan buku sketsa memperlihatkan sebuah gelang berlian rancangannya untuk hadiah ulang tahun Vallerie.


“Oh, jadi tujuan kamu gambar sketsa gelang itu untuk dipesan khusus,” ucap Jordan dengan nada iri menatap buku itu.


“Aku tidak mau istriku memakai gelang yang sama seperti wanita lain. Meski rancanganku sederhana, Vallerie pasti sangat menyukainya.” Elliot tersenyum mengambang sambil memandangi perhiasan lain dipajang di meja khusus dilapisi kaca.


Sejenak tatapan Elliot beralih pada raut wajah asistennya penuh iri. Tangan kanannya menepuk-nepuk pundak asistennya menampakkan senyuman santai. “Kamu mau beli sesuatu untuk Aria?”


Bola mata Jordan membulat. “Mustahil aku beli perhiasan dari toko ini. Mungkin aku harus relakan makan siangku selama sebulan.”


Elliot merangkul pundak Jordan. “Aku hanya bercanda. Dulu aku pernah berada di posisimu. Mau beli perhiasan untuk Vallerie, tapi situasi keuanganku saat itu kurang stabil. Sampai akhirnya aku gagal memberikan gelang itu di hari ulang pernikahan kami yang ke dua. Sebagai gantinya, aku harus memberikan gelang itu di hari ulang tahunnya bulan depan.”


Dahi Jordan menampakkan sedikit kerutan. Entah atasannya sedang bercanda atau tidak, ia semakin iri mendengar atasannya bisa membahagiakan istri dengan membelikan apa pun, sedangkan dirinya tidak mampu.


“Jordan, tidak selamanya kamu akan bahagia meski kamu adalah orang kaya. Memberikan sebuah hadiah untuk wanita yang kita sayangi tidak harus berupa perhiasan. Kamu bisa memberikan apa pun asalkan setulus hatimu. Pasti hadiah apa pun yang kamu berikan, Aria sangat suka. Sama seperti halnya aku saat dulu, meski pemberianku sederhana, tapi Vallerie selalu menyukai hadiah pemberianku.”


Kepala Jordan semakin terangkat percaya diri. “Apa pun itu?”


“Mungkin kamu bisa belajar ilmu cinta dariku. Tapi diam-diam saja. Vallerie bisa marah kalau aku membocorkan rahasia ilmu cintaku.”


Urusan gelang sudah selesai. Tinggal berdoa semoga gelang itu cepat jadi sesuai ekspektasi. Sekarang Elliot berkumpul bersama Erick dan Rachel di sebuah Kafe dekat kantor. Sebenarnya Elliot belum memberitahukan rencananya pada semua orang, termasuk Jordan hanya mengetahui persoalan pemesanan gelang khusus.


Rachel memasang tatapan elang. “Elliot, sebenarnya apa yang ingin kamu perbincangkan sampai merusak momen makan siang kami?”


“Tumben tidak mengajak istrimu. Kalian bertengkar?” Erick tertawa menyindir.


Elliot memelototi kakaknya langsung menginjak kaki sekuat tenaga, tidak peduli kakaknya kesakitan. “Kakak jangan menuduh aneh-aneh deh! Justru aku sengaja mengajak kalian ke sini karena ada satu hal penting tidak boleh diketahui istriku.”


“Hal penting apa sih sampai main rahasia?” Erick melipat kedua tangan di dada.


“Aku ingin mengadakan pernikahan ulang.”


“WHAT?!” Erick dan Rachel berteriak serentak sampai memancing perhatian beberapa pengunjung duduk di dekat mereka.


Elliot memutar bola mata mencubit tangan Erick dengan tatapan elang. “Jangan norak, Kak!”


“Tapi, kenapa kamu ingin mengadakan pernikahan ulang tiba-tiba? Memangnya kamu masih belum puas menikah?” Rachel mengerutkan dahi.


Embusan napas lesu dikeluarkan dari rongga mulut. Elliot menatap kedua lawan bicaranya dengan tatapan sendu, hatinya terasa tersayat pisau mengingat momen pernikahannya sangat kacau sebelumnya.


“Aku memang tidak puas dan terkesan terburu-buru saat itu. Keinginan Vallerie adalah mengadakan pernikahan sederhana tapi terkesan manis dan bermakna baginya. Pernikahanku sebelumnya terlalu mewah, sebenarnya Vallerie tidak menyukainya. Maka dari itu, sebagai gantinya aku mau memberikan hadiah istimewa ini saat hari ulang tahunnya.”


Reaksi Rachel langsung terngiang-ngiang, membayangkan seandainya saja ia juga mengadakan pernikahan itu, mungkin akan cinta pada calon suaminya berkali-kali lipat. “Vallerie sangat beruntung memiliki suami terbaik seperti kamu, Elliot.”


Erick berdeham sambil memutar kepala tunangannya menghadap langsung pada tatapan matanya seperti ingin membunuh. “Jadinya, kamu tidak mencintaiku?”


“Aku mencintaimu. Asalkan kamu harus merawatku terus supaya bayi kita sehat.” Rachel meraba pundak Erick dengan senyuman centil.


“Tidak perlu menikah lagi seperti adik iparmu?”


“Menurutku agak berlebihan jika dipikir-pikir. Aku tidak mau merepotkanmu.”


Tatapan Erick dan Rachel beralih kembali pada Elliot mulai bosan, jika memasuki topik pembicaraan romansa sepasang calon pengantin baru.


“Baiklah, kami akan membantumu. Apa yang harus kami lakukan?” Erick mendongakkan kepala mulai penasaran.


Urusan berdiskusi dengan Erick dan Rachel sudah selesai. Hanya sebulan, waktu yang dipersiapkan untuk mengadakan pesta pernikahan ala Elliot. Seiring waktu berjalan, apa yang dilakukan Elliot selama ini diam-diam keluar dari kantor, untung saja tidak tertangkap basah oleh istrinya. Kebetulan saat itu memang banyak pekerjaan harus diselesaikan Vallerie, sehingga memudahkan Elliot menyembunyikan rahasia selama sebulan.


Elliot mengunjungi sebuah hotel mewah, berkonsultasi dengan pihak hotel mengenai dekorasi pesta pernikahan impiannya. Elliot memilih hotel berbeda dari sebelumnya, supaya suasana pernikahan terkesan berbeda.


Setelah berdiskusi dengan pihak manajemen hotel, termasuk persoalan kamar hotel akan dijadikan tempat menginap setelah pesta berakhir, Elliot juga mengunjungi butik gaun pengantin milik ibunya Vallerie. Tidak hanya Erick, Rachel, sepasang asisten maupun teman terdekat, orang tua kedua belah pihak juga berpartisipasi memeriahkan acara pernikahan ini meski sebenarnya butuh perjuangan menjelaskan panjang lebar.


Ibunya Vallerie memperlihatkan setelan tuxedo dan gaun pengantin yang pernah dipakai Elliot dan Vallerie masih utuh seperti sebelumnya. “Semua yang kamu butuhkan masih ada dan belum pernah dipakai orang lain selain kalian, ada lagi yang bisa ibu bantu?”


“Sudah cukup, Bu. Terima kasih sudah bersedia membantuku.” Elliot tersenyum manis meraba pakaian pengantin.


“Ibu yakin Vallerie pasti semakin mencintaimu karena kamu sangat menyayanginya sampai membuat kejutan besar ini.”


“Apakah ibu bisa merahasiakan ini darinya? Maaf aku terlalu banyak permintaan.”


“Urusan rahasia, serahkan saja pada ibu.”


Sudah setengah langkah mempersiapkan pernikahan, tidak hanya survei venue, gaun pengantin, masih banyak hal yang masih harus dipersiapkannya. Elliot mulai merasa lelah, akhirnya kembali ke kantor karena tidak mungkin ia pergi sepanjang hari bersama Jordan.


Baru menginjak kaki di lantai direktur sudah disambut istrinya sedang menunggu di depan lift. Reaksi Elliot dan Jordan tersentak, hampir keceplosan berteriak karena tidak disangka dikejutkan tiba-tiba.


“Sayang, kamu habis dari mana saja sih? Aku mencarimu ke mana-mana.” Vallerie memasang tatapan tegas, melipat kedua tangan di dada.


Elliot berusaha bersikap normal demi kejutannya berjalan lancar. “Aku baru selesai makan siang bersama Jordan.”


“Tapi kamu pergi kelamaan. Aku bosan menunggumu.” Vallerie mengayunkan tangan kiri suaminya.


Elliot memeluk tubuh istrinya dengan erat, mengusap kepala lembut sambil mengisyaratkan Jordan meninggalkannya sendirian. “Maaf, Sayang. Aku mengira kamu sibuk berdiskusi dengan tim perancang busana. Aku tidak berani mengganggumu.”


“Belakangan ini kamu pergi terus. Kamu bosan makan siang bersamaku?”


“Aku tidak pernah bosan. Justru aku sangat rindu makan siang bersamamu. Besok kalau kamu tidak sibuk, kita pergi berkencan.”


“Kamu tidak sibuk besok?” Bibir Vallerie sedikit memanyun mengedipkan mata manja.


“Sebenarnya aku ada rapat, tapi tidak terlalu sibuk. Tenang saja, aku akan percepat selesaikan rapat demi kesayanganku, aku lebih mementingkan kamu.” Elliot mengelus kepala Vallerie lambat laun menambah rasa manja Vallerie ingin menempel terus.


Akhirnya gelang yang dipesannya khusus sudah jadi tepat waktu dalam sebulan. Elliot mengambil kotak kecil elegan, isinya adalah sebuah gelang berlian rancangannya spesial, bahkan pandangannya berbinar-binar memandangi wujud hasil kerja kerasnya membuat tidak bisa bersabar melihat reaksi istrinya akan seperti apa.


Seperti biasa Vallerie selalu mencurigai pergerakan suaminya sangat aneh dalam sebulan. Sebentar lagi adalah hari ulang tahunnya. Entah suaminya ingat atau tidak, jika dilihat sikapnya sangat menyebalkan.


Vallerie ingin menanyakan langsung, tapi jawabannya pasti berlawanan. Vallerie hanya bisa menunggu sabar sampai suaminya sungguh menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya. Sebulan adalah waktu yang lumayan lama, batas kesabaran tentu saja sudah melewati batas sampai ingin meledak.


Seketika sedang menyaksikan drama romantis, Vallerie sedikit menggeserkan tubuhnya menjauhi Elliot memasang tatapan serius. “Sayang, sebenarnya ada satu hal aku masih penasaran.”


“Kenapa?” Elliot sedikit gelagapan, cemas rencananya sudah diketahui sejak awal.


“Sikapmu selama sebulan ini sangat aneh seolah-olah kamu tidak memedulikan aku. Kamu kenapa sih?”


“Karena—”


Drrt…drrt…


Suara getaran ponsel Elliot merusak suasana perbincangan mulai mencekam. Sejenak Elliot mengangkat panggilan telepon dari Harry.


Hanya berdurasi singkat, Elliot mengakhiri percakapan telepon, kemudian beralih pada istrinya semakin mengamuk karena tingkahnya saat sedang telepon seperti sedang menyembunyikan sesuatu besar.


“Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?”


“Itu Harry, hanya berbicara berkaitan dengan pekerjaan. Harry sempat berkonsultasi denganku soal—”


“Cukup alasannya! Mulai besok, kamu tidak boleh merahasiakan apa pun dariku lagi!”


Entah kenapa Elliot ingin membocorkan rahasianya, padahal tinggal menunggu waktu beberapa hari. Elliot lebih memilih dibenci istrinya daripada misi rahasianya terbongkar padahal sudah bersusah payah merencanakan sejak lama.


“Aku sungguh tidak bermain rahasia, Sayang.”


“Kalau begitu, apa yang kamu bicarakan dengan Harry?”


Elliot memutar bola mata, sikap istrinya semakin lama semakin posesif membuat dirinya menjadi merasa gemas. “Urusan pria, kamu mau dengar? Tidak cocok para wanita mendengarkan obrolan kami.”


Tetap saja Vallerie masih curiga apa yang dilakukan suaminya selama ini bukan seperti karakter sesungguhnya. Vallerie sangat yakin ada hal penting disembunyikan Elliot sampai tatapan mata Elliot sedikit gugup.


Akhirnya Vallerie menunduk, tapi tatapannya terlihat angkuh melipat kedua tangan di dada. “Baiklah, aku memercayaimu. Mustahil aku tidak memercayai suami kesayanganku.”


Elliot berdiri dari ranjang terburu-buru, sebenarnya bermaksud menghindari istrinya supaya tidak terlihat gugup. “Aku lupa siram tanaman di ruang tamu.”


Vallerie tahu sebenarnya suaminya sedang menghindarinya. Menyunggingkan senyuman usil menarik tangan kanan suaminya hingga terjatuh dalam posisi meringkuk di ranjang.


Mata Elliot tidak bisa berkedip melihat senyuman licik terpampang pada wajah istrinya. Setiap ekspresi wajah istrinya seperti ini, siap-siap dirinya akan terima hukuman membuat salivanya terasa berat ditelan. “Sayang … kenapa kamu menatapku seperti itu?”


“Tadi kamu sudah siram tanaman. Bahkan pagi juga sudah.”


“Oh, kukira aku–”


Vallerie memanyunkan bibir. “Kamu sedang menghindariku?”


Elliot menggeleng. “Tidak. Aku memang lupa.”


“Kalau begitu, jangan cari alasan konyol lagi sebelum aku–”


“Menciumku.” Tangan kanannya mengusap bibir merah istrinya lembut.


Elliot dan Vallerie saling menautkan bibir indah melakukan ciuman manis sudah menjadi rutinitas mereka sebelum kencan di dunia mimpi indah.


Sehari sebelum hari ulang tahun Vallerie, diam-diam Elliot pergi berbelanja banyak kebutuhan makanan di supermarket, ditemani Jordan ikut membantu memilih sayur-sayuran sekaligus membantu membawa barang belanjaan sangat banyak untuk keperluan memasak sarapan istimewa.


Hari ini pekerjaan Vallerie agak padat, sehingga harus bekerja sampai agak larut malam. Elliot sudah menunggu kedatangan istrinya di dalam ruang kerja perancang busana eksekutif sekitar hampir satu jam. Berjalan mondar-mandir menghitung waktu sambil meraba saku jasnya berisi sebuah kotak kecil.


Akhirnya Vallerie menampakkan batang hidung memasuki ruangan ini sambil membawa laptop dan beberapa map dengan penampilan masih elegan. Baru menginjak kaki sudah disambut sosok suaminya merentangkan kedua lengan lebar dengan senyuman manis.


“Sayang, kemarilah!”


Vallerie menaruh semua barang di meja, kemudian berlarian memeluk tubuh suaminya sangat erat, melampiaskan rasa kerinduannya karena mereka tidak bertemu beberapa jam hari ini akibat terlalu fokus pada pekerjaan. “Aku bosan dan lapar selama rapat dari tadi.”


“Kamu mau makan di restoran langganan kita? Kalau aku masak makan malam di rumah nanti kamu bisa kelaparan menungguku selesai memasak.”


Tanpa berbasa-basi Vallerie melepas pelukan mengambil mini bag miliknya kemudian merangkul lengan suaminya manja. “Aku mau makan sekarang, supaya kita bisa bermain lebih lama di rumah.”


Saat perjalanan pulang ke rumah, Elliot sengaja memutar lagu romantis favorit mereka dari restoran sampai rumah. Vallerie sudah bersiap turun, tangan kanannya ditahan membuat kepalanya spontan menoleh menghadap wajah suaminya seperti ingin berciuman.


Lagu romantis itu masih belum selesai diputar. Elliot membelai rambut indah Vallerie dengan tatapan intens mengamati bibir merah yang selalu menggodanya setiap saat. “Jangan turun dulu sampai lagu ini selesai diputar.”


Vallerie tertawa anggun memajukan bibirnya mendekati bibir sexy di hadapannya. “Kamu sengaja? Lagu ini akan berakhir lima menit lagi.”


“Selama lima menit itu, aku ingin mencicipi bibirmu.”


“Tidak ada penolakan dariku.” Vallerie berbisik.


Ciuman mesra yang awalnya terkesan lembut, semakin lama dilakukan semakin panas sampai iringan lagu berakhir. Entah mereka ingin memutar lagu ini berkali-kali atau sekali putaran, yang pasti suasana romansa di dalam mobil tidak bisa terkendalikan akibat kekuatan cinta disalurkan sepasang suami istri sudah terlalu manis sampai candu.


Hari ini suasana hati Vallerie sangat baik. Bahkan sebelum tidur masih memeluk suaminya manja karena pada akhirnya suaminya menunjukkan sikap kepedulian lagi, padahal sebenarnya misi yang dilakukan Elliot sudah berhasil. Tinggal menunggu hasilnya besok.


Vallerie memanyunkan bibir. “Sayang, maaf selama ini aku selalu mencurigaimu.”


“Aku justru harus minta maaf karena aku selalu sibuk sampai jarang makan siang bersamamu.” Elliot mengecup pipi istrinya sekilas.


“Tapi, selama seharian ini kamu terus meraba saku jasmu. Sebenarnya isinya apa sih?”


Elliot memasang wajah polos, menyelimuti tubuh ramping Vallerie menggunakan selimut tebal sambil mendaratkan kecupan manis di kening selama beberapa detik. “Kamu harus beristirahat cukup. Besok akan kupastikan adalah hari sangat istimewa dalam hidupmu.”