
Tubuh Vallerie membeku, setengah pikiran masih tidak memercayai perkataan Elliot persoalan sosok pembunuh sebenarnya yang ingin membunuh mereka adalah orang lain. Padahal dalam ingatan Vallerie sangat jelas sosok pembunuh yang dilihatnya di kehidupan sebelumnya adalah Erick. Posisi tubuh Erick sangat pas untuk melakukan aksi pembunuhan, meski Vallerie tidak melihat jelas ekspresi wajah Erick seperti apa saat membunuh. Hanya terlihat samar-samar.
Sejenak Vallerie melepas pelukan dengan tatapan bingung. Karena mengungkit persoalan kasus tiba-tiba, ia jadi tidak bisa tidur. “Erick bukan pembunuh?”
“Di dalam mimpiku, aku sangat yakin Erick bukan pembunuh. Postur tubuhnya bukan seperti Erick.” Elliot bertopang dagu berusaha mengingat kembali mimpi terlihat agak samar-samar.
“Kamu yakin? Kamu melihat wajahnya dengan jelas?”
Elliot menggeleng lemas. “Tidak. Hanya saja aku merasa mimpi yang kualami barusan seperti sedang memberikan aku clue. Apakah benar Erick bukan pembunuhnya?”
“Tapi, mimpi itu belum tentu menjadi kenyataan, Sayang. Kenapa kamu sangat yakin aku akan terbunuh lagi?”
Helaan napas lesu dikeluarkan dari mulut Elliot. Hatinya semakin gelisah jika terus membayangkan mimpi menyeramkan itu sampai masih berkeringat dingin dan tangannya gemetar. “Justru karena aku merasa itu nyata, jadinya aku sungguh takut kamu kehilanganmu. Kamu tiba-tiba didorong seseorang ke sungai saat kita sedang berkencan.”
Dahi Elliot mengernyit. Baru tersadar entah kenapa istrinya terdengar seperti tidak memercayai perkataannya dari tadi jika dilihat gaya bicara seperti mengelak terus.
“Sayang, kamu tidak percaya perkataanku dari tadi?” Tatapan Elliot menyipit curiga, melipat kedua tangan di dada.
“Aku bukan tidak percaya. Tapi, aku cemas kamu jadi trauma karena terlalu mendalami mimpi. Terutama selama ini aku masih tidak memercayai penggambaran dalam mimpi. Biasanya tidak selalu tepat.”
Ada benarnya juga perkataan istrinya. Akhirnya Elliot sedikit merasa lega, mengangkat kepala perlahan kemudian kembali memeluk tubuh sang istri sedikit erat. “Aku tidak akan berpikir aneh-aneh lagi. Lebih baik aku berfokus pada Erick saja. Aku tidak mau melihat kamu dibunuh lagi.”
“Begini baru kesayanganku. Maka dari itu, kamu harus sering memikirkan aku supaya kamu bermimpi indah.” Vallerie mengecup pipi Elliot selama beberapa detik, membuat senyuman Elliot semakin lebar.
Elliot juga mencium pipi istrinya. “Selama ini padahal aku selalu memikirkan kamu. Setiap membayangkan wajah cantikmu, hariku terasa bahagia. Meski aku kelelahan mengurus pekerjaan.”
Senyuman indah terlihat jelas pada wajah Vallerie. Giliran hati Vallerie terus bermekaran sampai rasanya ingin berguling-guling di ranjang sambil berpelukan bersama suaminya.
“Jangan menggombalku lagi! Gombalnya besok saja. Aku mau melanjutkan mimpi indahku lagi.” Vallerie memalingkan mata sambil meremas selimut.
“Kamu tadi bermimpi apa?” Elliot mengedipkan mata manja, dengan sengaja menempelkan hidung pada hidung mancung Vallerie.
“Kita berkencan di taman. Aku bermain gelembung sampai membuatmu tertawa bahagia.”
“Seperti kita pernah melakukannya sewaktu dulu. Kamu ingin bermain gelembung lagi?”
Vallerie menggeleng. “Sekarang gaya hidup kita berbeda dari sebelumnya. Pasti kamu merasa tidak nyaman jika kita melakukan hal sederhana itu sedangkan kamu berasal dari keluarga kaya.”
“Kita bisa melakukannya. Justru aku ingin bermain gelembung juga bersamamu.”
Vallerie membelalakan mata dan senyuman girang terbit pada sudut bibirnya. “Benarkah? Kamu serius? Biasanya kamu suka pamer ingin mengajakku ke tempat mewah.”
Elliot tersenyum girang merangkul pundak Vallerie. “Kamu ada benarnya. Bergaya hidup mewah belum tentu akan menjamin hidup kita bahagia. Sampai sekarang aku suka melakukan hal sederhana bersamamu seperti dulu.”
“Tapi, kita melakukannya saat semua masalah sudah terselesaikan. Jangan sekarang!”
“Iya, sekarang yang aku fokuskan adalah nyawamu selalu selamat. Lalu, misi kita menjatuhkan Erick berhasil.”
Elliot mulai menyusun rencananya, sengaja supaya hidup Erick menderita sebagai pembalasan karena sudah membuat hidupnya menderita di kehidupan sebelumnya.
Saat berpapasan dengan Erick di dalam lift, Elliot masih bersikap biasa saja dengan gaya angkuh memasuki lift tanpa didampingi istrinya sibuk rapat dengan tim perancang busana. Sedangkan Elliot memang sengaja mengikuti Erick karena ada maksud tersembunyi yang sudah direncanakannya seolah-olah terlihat alami.
“Hari ini kelihatannya kakak sedang bahagia.” Elliot tersenyum paksa, meski sebenarnya ia jijik melihat sang kakak masih bisa tersenyum santai entah karena apa penyebabnya.
Erick tersenyum simpul. “Suasana hatiku kembali membaik.”
“Karena apa? Karena kakak berkencan dengan Rachel sepanjang malam?”
Lebih cenderung sepanjang malam tidur bersama Rachel dan akhirnya kembali berbaikan dengan Rachel setelah mencurahkan isi hati sepanjang malam. Itulah sebab Erick tidak bisa mengendalikan senyuman godaannya, membayangkan lekukan tubuh Rachel sangat sexy di matanya sampai rasanya tidak sabar menunggu nanti malam.
“Kamu sengaja berbasa-basi karena sebenarnya kamu cemburu, ‘kan? Mantan pacarmu lebih mencintaiku,” tukas Erick melipat kedua tangan di dada.
Elliot tertawa terbahak sampai perutnya sakit. Tidak disangka memang Erick selalu berprasangka buruk padanya, padahal belum berbicara terang-terangan.
“Kakak terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai lupa karakterku seperti apa. Aku tidak pernah menganggap Rachel adalah pacarku. Pacarku satu-satunya sejak dulu adalah Vallerie. Satu-satunya wanita paling kusayangi.”
Erick menyahutinya tertawa remeh. “Bagiku, kamu pernah berkencan buta dengannya sama saja seperti kamu berpacaran.”
Elliot tertawa remeh. “Aku merasa kakak sedang cemburu sekarang.”
Ting..
Pintu lift terbuka lebar, Erick terburu-buru keluar dari lift, kemudian disusul Elliot dari belakang kembali bergaya angkuh berjalan di samping Erick.
“Sebenarnya, kenapa kamu mengikutiku dari tadi?!” Erick mulai kehabisan kesabaran merasa tidak nyaman setiap adiknya terus menempelnya.
Elliot memasukkan tangannya ke dalam saku celana. “Aku ingin meminta laporan penjualan bulan lalu, Kak.”
“Untuk apa?” Alis Erick terangkat sebelah.
“Kenapa kakak masih bertanya padaku padahal biasanya aku selalu meminta laporan dari kakak. Tentu saja, aku ingin mengetahui selera pelanggan seperti apa. Apakah mereka suka model pakaian yang sedang tren sekarang.”
“Memang perancang busana sangat merepotkan!”
“Kakak boleh mengeluh, tapi jangan pernah di hadapan Vallerie!” Tatapan Elliot berubah tajam dalam sekejap.
Langkah kaki Erick terhenti sejenak di depan pintu ruangannya. Berbalik badan memasang tatapan kejam pada adiknya. “Kamu masih mau mengikutiku sampai ke dalam?”
“Tidak. Lebih baik aku mendatangi Vallerie sekarang.” Elliot terburu-buru berjalan menuju lift.
Elliot menghentikan langkahnya tidak jauh jaraknya dengan Erick. “Jangan lupa kirim dokumennya ke aku, ya! Aku sangat membutuhkannya sekarang demi mempersiapkan proyek!” Elliot kembali melangkah memasuki lift kebetulan terbuka pintunya.
Erick hanya bisa menggelengkan kepala memasuki ruangannya, kemudian langsung menempati kursi kerja dan fokus pada layar monitor. Mencari beberapa dokumen berisi laporan penjualan beserta komentar-komentar dari pelanggan di forum online.
Erick sangat syok sampai tubuhnya terasa kaku. Dokumen yang dicarinya semuanya menghilang di komputer. Dengan panik, ia mulai melakukan pencarian di seluruh folder dokumen berkaitan laporan penjualan tahun ini, tapi tetap saja dokumen itu menghilang.
Erick semakin panik, sekarang yang ia lakukan adalah melakukan pencarian di bagian penyimpanan cadangan. Biasanya setiap membuat dokumen, pasti disimpan di penyimpanan cadangan. Tapi, dokumen itu juga tidak ditemukan di penyimpanan cadangan. Reaksi Erick semakin menggila mengacak-acak meja kerjanya sampai berantakan dan terdengar jelas di depan ruangan. Sudah pasti, bahkan di dalam laptopnya juga filenya hilang karena penyimpanan cadangan itu saling terhubung antara laptop dan komputer.
Sang asisten memasuki ruangan sangat panik mendengar atasannya tidak biasanya bersikap seperti orang tidak waras. “Ada apa, Erick?”
“Kamu masih ingat dokumen penjualan bulan lalu yang kubuat sampai kerja lembur?”
“Aku masih ingat karena memang bulan itu agak padat jadwalnya. Memangnya kenapa?”
Erick memukul meja. “Semua dokumen berkaitan penjualan bulan lalu tiba-tiba menghilang di komputerku dan laptopku!”
“Apa?”
“Kamu masih simpan dokumen cadangannya yang pernah kukirimkan padamu?”
Sang asisten menunduk ketakutan. “Sebenarnya sih … kamu kirim dokumen belum difinalisasi.”
Darah Erick semakin mendidih. Jari jemarinya terus menggarukkan kepala, dokumen itu sangat penting dan dibutuhkan hari ini, otak Erick semakin buntu terus memikirkan solusi supaya bisa menemukan dokumennya secepatnya.
“Sial! Elliot membutuhkan dokumen itu hari ini! Apa yang harus kulakukan sekarang?!” Erick memukuli meja berkali-kali hingga telapak tangan memerah.
“Apakah aku harus bantu cari dokumen itu?”
“Tidak. Coba cek rekaman CCTV kantor! Aku yakin aku selalu menyimpan dokumen di komputerku. Pasti ada seseorang yang sengaja mencuri dokumenku!”
Sedangkan di ruangan direktur eksekutif, Elliot terus tertawa terbahak sambil memutar kursinya kegirangan. Dalam tebakannya, pasti Erick sedang mengamuk karena dokumen penting itu menghilang. Jordan ikut tertawa sinis karena sejujurnya ia tidak terlalu menyukai Erick setiap Erick berkata kasar pada Elliot beberapa kali. Jordan juga bertekad membantu Elliot membalas dendam pada Erick.
“Aku tidak sabar melihat ekspresi wajahnya seperti apa saat mengetahui dokumen ini menghilang.” Elliot memainkan mouse menggeser layar monitor membuka dokumen penjualan yang dibuat Erick satu per satu.
“Aku tidak menyangka kamu memiliki ide licik begini menindas kakak kandungmu sendiri.” Jordan tersenyum usil mengacungkan jempol.
“Sebenarnya ini baru pemanasan. Nanti akan ada saatnya dia menerima pelajaran besar dariku karena sudah mengacaukan hidupku dan Vallerie di masa lalu.”
Sorot mata Elliot tertuju pada Jordan sambil mengacungkan jempol. “Memang teknik peretasanmu bisa diandalkan sejak dulu. Pertahankanlah keahlianmu itu, mungkin aku akan meminta bantuanmu lagi beberapa kali.”
“Padahal kamu juga ahli dalam peretasan sejak dulu. Kenapa kamu memerintahkan aku daripada bertindak sendiri?”
Elliot menepuk lengan Jordan. “Meski di matamu aku ahli dalam peretasan, tapi bagiku kamu lebih bisa diandalkan. Kalau aku sudah ahli, seharusnya aku menjadi CEO perusahaan teknologi informasi, bukan perancang busana. Aku sengaja mengandalkanmu untuk melatih kemampuanmu lebih baik lagi.”
Semangat dalam diri Jordan semakin membara, tangan kanannya menepuk dada percaya diri. “Semua urusan serahkan saja semuanya padaku. Kamu tinggal beri perintah padaku saja.”
“Erick itu meski licik dan selalu kejam di hadapan kita, tapi sebenarnya dia terkadang tidak bisa berpikir jernih. Mari kita lihat apa yang dilakukannya setelah ini.”