
Teman rahasia Erick adalah Bertrand. Sosok teman terdekat Vallerie sekaligus pria yang sempat menyatakan cinta pada Vallerie, tapi langsung ditolak.
Bertrand dan Erick mengangkat gelas kaca, bersulang serentak menyesap minuman champagne merk mahal dengan nikmat. Meski sudah ditemani temannya, tapi hati Erick masih gelisah setiap memikirkan Rachel. Napas semakin lesu berkali-kali membuat Bertrand juga gelisah, padahal Erick belum menceritakan apa yang dialami sebenarnya pada Bertrand.
Sejenak sorot mata Erick menatap layar ponselnya, muncul notifikasi pesan singkat terus dikirimkan Rachel. Erick sengaja tidak mau balas pesan singkat maupun panggilan telepon dari kekasihnya, jempol kanannya menekan power off, kemudian kembali menyesap champagne.
“Sebenarnya ada apa denganmu sih? Tidak biasanya kamu murung begini.” Bertrand sudah tidak tahan melihat temannya bertingkah tidak seperti biasa.
Erick menepuk paha kesal. “Aku merasa memang aku ini payah!”
“Kamu mulai mabuk. Jangan berbicara hal aneh di tempat seperti ini!” Bertrand menepuk-nepuk pundak Erick.
“Rachel … aku sungguh tidak sengaja melakukan itu bersamanya.”
“Sebenarnya apa yang kamu bicarakan? Bicara yang jelas!”
Bola mata Bertrand terbelalak. Baru menyadari maksud perkataan Erick sengaja disamarkan sampai mulutnya menganga. “Apa?! Kamu gila?”
Erick semakin menggila menggarukkan kepala kesal. “Itulah aku memang gila! Kenapa aku melakukannya padahal aku sendiri masih belum siap menikahinya!”
Bertrand hanya mendengarkan saja juga ikut terbawa emosi. Tidak disangka Erick yang selalu dikenal pria bijak di mata semua orang, ternyata bisa melakukan perbuatan tidak sepantasnya dilakukan. Tangan kanannya sudah terkepal kuat, kalau Erick mengatakan hal aneh lagi, ia sudah bersiap menghajar Erick sampai puas.
“Jadinya, sekarang kamu menjadi pengecut tidak akan bertanggung jawab padanya? Rachel akan sangat kecewa padamu kalau sampai dia tahu sifat aslimu seperti ini!” Bertrand menunjuk-nunjuk Erick sambil mencolek pundak Erick.
“Sekarang aku harus bagaimana? Aku bingung apa yang harus kulakukan ke depannya.”
“Kalau sampai Rachel hamil, kamu harus menikahinya! Tidak ada kata ditunda atau belum siap!”
Kepala Erick menunduk lemas sambil memutar gelas kaca. “Aku sudah siap menikahinya, tapi apakah Rachel akan menerimaku?”
“Rachel pasti ingin menerimamu kalau kamu sungguh mencintainya tulus!”
“Tapi, orang tuanya pasti tidak akan merestui hubungan kami. Jabatanku hanya sebagai manajer penjualan, sedangkan Rachel adalah seorang direktur penjualan di perusahaan ayahnya. Lalu, hubunganku dengan kedua orang tua Rachel tidak terlalu dekat karena mereka lebih menyukai Elliot daripada aku.”
Tunggu sebentar! Bertrand merasa tidak asing mendengar sebuah nama yang diucapkan Erick baru saja. “Elliot adalah adikmu?”
“Iya, memangnya kenapa?” Erick bertanya balik dengan tatapan pasrah.
Rahang Bertrand sampai terasa kaku ingin menutup rapat. Dunia sungguh sempit, kenapa temannya ini memiliki adik adalah suami dari wanita yang disukainya.
Erick mulai curiga melihat tingkah Bertrand berubah drastis seketika mengungkit sang adik. “Kamu mengenal adikku?”
“Adikmu adalah pria yang menikahi wanita yang sangat kusukai sewaktu dulu. Berarti Vallerie adalah adik iparmu, dunia sungguh sempit.”
Erick menyahutinya semakin pasrah sambil menyesap champagne. “Iya, bahkan aku masih tidak percaya adikku sungguh mencintai Vallerie. Jika dilihat sebenarnya saat pernikahan mereka, pernikahan itu terkesan terpaksa.”
“Mustahil, aku melihat dengan mataku sendiri. Mereka selalu terlihat mesra, bahkan sebenarnya aku sangat iri melihat mereka terus bermesraan. Mungkin sebentar lagi tingkahmu dan Rachel akan seperti mereka.”
“Jadinya, menurutmu gimana kalau suatu hari nanti aku harus berhadapan dengan kedua orang tua Rachel karena ada suatu keadaan memaksakan kami menikah lebih awal.” Erick sengaja mengalihkan topik pembicaraan ke topik semula, daripada kunjungannya ke tempat ini akan sia-sia.
Bertrand menuangkan segelas champagne lagi kemudian menyesap sedikit terburu-buru. “Kamu memang harus hadapi calon mertuamu. Kamu kan pria, sudah pasti kamu harus kebal entah mau dimarahi seperti apa. Calon mertuamu pasti mengerti perasaanmu terhadap Rachel sungguh tulus, pasti mereka merestui hubungan kalian.”
Dahi Erick mengernyit. “Apakah benar begitu?”
“Aku sudah lelah mendengar curhatan kehidupan asmaramu. Kehidupan asmaraku saja berakhir kandas.”
“Itulah alasan kenapa selama ini aku selalu mendesakmu mencari wanita lain!”
“Aku memang sudah melupakan Vallerie, mencari wanita juga tidak semudah yang kamu bayangkan!”
Rachel terus menunggu kedatangan Erick sampai tengah malam. Meski sebenarnya ia sudah sangat mengantuk, entah kenapa ia tidak akan bisa tertidur lelap kalau kekasihnya masih tidak menampakkan batang hidung, apalagi tidak memberikan kabar sejak mereka berangkat kerja. Rachel mulai cemas, apakah hubungan mereka akan berakhir karena kesalahan yang mereka perbuat?
Mendengar suara sang pemilik kediaman sedang memasukkan kode akses, Rachel langsung berlarian menuju pintu utama, menyambut kedatangan Erick terlihat lemas akibat minum champagne terlalu banyak sampai tubuhnya hampir ambruk, ditahan Rachel cepat.
“Kamu dari tadi minum alkohol?”
“Kenapa … kamu di sini, Rachel?” Erick bertanya balik dengan lesu sambil mempererat rangkulan pada lekukan pinggang Rachel.
“Aku sedang menunggumu pulang dari tadi. Kamu habis dari mana saja! Kenapa kamu tidak menjawab panggilan teleponku? Kenapa tidak memberikan kabar?” Rachel melepas jas mahal yang dikenakan Erick.
Erick terus memijit kepalanya sambil berjalan perlahan memasuki kamar, diikuti Rachel dari belakang dengan tatapan cemas.
Erick menduduki tepi ranjang bersama dengan Rachel, tapi raut wajah Erick penuh kekesalan membuat Rachel semakin penasaran. “Kamu kenapa sih dari tadi?”
“Apa?” Dahi Rachel mengernyit, bingung nada bicara Erick terdengar aneh.
“Aku sudah menodai tubuhmu, seharusnya kamu tidak perlu mendatangiku lagi! Pria payah seperti aku, kamu tidak boleh memilihku sebagai suamimu!”
Hati Rachel seperti terkena sambaran petir dahsyat sampai tubuhnya kaku. Namun, ia tetap menggelengkan kepala sambil memeluk tubuh Erick erat. “Tidak peduli! Pokoknya kamu harus bertanggung jawab apa yang telah kamu lakukan padaku! Bukankah sejak awal kamu sangat mencintaiku melebihi orang tuamu dan adikmu?”
“Iya, tapi—”
“Aku tidak ingin mendengar keluhanmu lagi! Malam ini, kita tidur bersama lagi! Suasana hatiku sedang baik hari ini.”
Sedangkan di rumah mewah milik Elliot, suasana terlihat manis jika dilihat sepasang suami istri ini terus bermanja merayakan momen kemenangan mereka hari ini masih berlanjut karena belum puas merayakannya saat tadi siang.
Bola mata Vallerie semakin sulit terbuka, jika dilihat jarum panjang jam dinding sudah menampakkan sekarang tengah malam. Sehingga terpaksa mereka harus melanjutkan perbincangan mesra mereka besok pagi.
“Padahal aku masih ingin berbincang denganmu. Mataku ini memang tidak bisa diajak kerja sama,” Vallerie memanyunkan bibir meremas selimut tebal.
“Justru aku yang salah karena sudah membiarkanmu tidur terlalu malam. Sebaiknya kamu tidur saja, aku tidak mau kamu jatuh sakit karena aku.” Perlahan Elliot membaringkan tubuh Vallerie lalu mengecup keningnya selama beberapa detik.
“Omong-omong, kamu ingin menjahili Erick kapan? Aku semakin tidak sabar melihat reaksinya seperti apa.” Vallerie tertawa usil mengamati langit-langit kamar sekilas.
“Sepertinya besok saat aku tidak sibuk. Pokoknya dia harus menerima pembalasanku!”
Cup..
Kecupan manis mendarat pada pipi Elliot sekilas, sekejap pipi Elliot merah merona.
“Sekarang giliran kamu yang maju. Aku sangat mengandalkan ide konyolmu itu.”
“Tidak sepenuhnya konyol kalau kamu melihatnya langsung.” Elliot mengedipkan mata usil.
Akhirnya Elliot dan Vallerie memasuki dunia mimpi masing-masing. Karena hari ini Vallerie diberi cinta ekstra berkali-kali lipat, sekarang ia sedang berkencan di suatu tempat bersama suaminya. Kencan di dalam mimpi terlihat manis, tidak ada siapa pun di tempat itu kecuali mereka. Vallerie meniup gelembung menyerupai hati, Elliot semakin tertawa lepas kemudian melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Vallerie dari belakang.
Namun, entah kenapa Vallerie merasa ada suara teriakan suaminya sedang memanggil namanya dari tadi. Padahal jelas-jelas di dalam mimpi, suaminya sedang menggendongnya dengan ekspresi wajah girang.
Terpaksa Vallerie keluar dari mimpi indah. Benar dugaannya suara teriakan itu bersumber dari Elliot di dunia nyata sedang bermimpi buruk. Keringat dingin terus bercucuran di sekujur wajah tampan Elliot, dengan sigap Vallerie langsung menggoyangkan tubuh Elliot untuk menyadarkan dari mimpi buruk itu.
“Sayang, sadarlah! Aku ada di sini!”
“Vallerie … jangan tinggalkan aku lagi.” Tetesan air mata membasahi pipi Elliot.
Masih belum cukup untuk membangunkan Elliot. Vallerie mengecup dahi Elliot selama beberapa detik menyalurkan kehangatan cinta dari lubuk hatinya langsung, sehingga berhasil membuat Elliot kembali tersenyum manis dalam sekejap.
Perlahan Elliot membuka kedua matanya, melihat istri tercintanya memasang raut wajah cemas, Elliot langsung memeluk tubuh istrinya sedikit gemetar karena masih terbawa suasana mimpi buruk.
“Terima kasih sudah membangunkan aku, Vallerie.”
Vallerie menyeka keringat dingin terus mengalir di leher Elliot. “Kamu bermimpi apa sampai keringat dingin begini?”
“Kamu … meninggal lagi di hadapanku.”
Vallerie bergeming. Benar dugaannya soal suaminya mengalami mimpi buruk mengenai kematian lagi. “Aku tidak akan meninggalkanmu lagi.”
Tetesan air mata terus membasahi pipi lembut. Keringat dingin semakin mengalir deras di seluruh wajah tampan ini membuat Vallerie spontan melepas pelukan. “Aku ambilkan handuk untukmu dulu.”
Tubuh Vallerie dipeluk erat. Dirinya tidak bisa berbuat apa pun selain menepuk-nepuk punggung lebar suaminya berirama.
“Aku takut ….” desis Elliot dengan suara parau.
“Aku akan menenangkan kamu. Kamu boleh meminta apa pun, akan aku kabulkan.”
“Tetaplah bersamaku.” Elliot mengecup daun telinga istrinya mendalam.
Vallerie tersenyum tipis, tangan kanannya berpindah mengelus kepala Elliot. “Kamu mau hirup udara segar di balkon?”
Elliot melepas pelukan, memasang pandangan berbinar menatap kecantikan wajah istrinya. “Tidak perlu. Berkat kamu menenangkan aku dari tadi, aku sudah tidak takut.”
“Kamu tidak perlu takut lagi. Kita akan berbalas dendam pada Erick, dia tidak akan bisa mencelakakan nyawa kita lagi.”
Elliot terus menggeleng bingung. “Tapi … di dalam mimpiku, Erick bukan pembunuh. Orang lain yang membunuh kita.”