Remarried My Husband

Remarried My Husband
Episode 18: Kisah Terpuruk



Elliot memasak nasi omelet untuk Vallerie saat tengah malam. Senyuman manis Vallerie semakin tidak terkendalikan seketika menikmati pemandangan suaminya menebarkan pesona ketampanannya sibuk memasak, berpenampilan memakai piyama saja masih sexy di mata Vallerie.


Cukup lama menunggu suaminya selesai memasak sampai perut Vallerie semakin mengamuk. Pipinya semakin memerah, sudah pasti ia sangat malu jika suara erangan dari dalam perutnya terdengar jelas di telinga suaminya.


Aroma nasi omelet sangat harum ditambah senyuman indah ditampilkan Elliot saat menghidangkan masakannya di meja makan, Vallerie sudah merasa sangat kenyang. Namun, tetap saja tangan kanannya menggerakkan sendok menikmati sesendok nasi omelet entah enak atau tidak, ia sudah tidak memedulikan hal itu.


Elliot tertawa kecil mengamati tingkah gemas istrinya saat tengah malam membuatnya kemungkinan besar kesulitan tidur. Sebenarnya ia juga penasaran apakah masakannya selezat itu sampai istrinya makan melahap? Atau karena sudah kelaparan sampai tidak memedulikan rasanya?


“Vallerie, pelan-pelan saja makannya. Aku sangat mencemaskan tenggorokanmu akan terluka.”


“Sebenarnya aku sangat lapar dari tadi. Maaf, aku pasti terkesan berantakan di matamu.” Vallerie menunduk malu, akhirnya mengubah tingkahnya kembali anggun menyantap makanannya pelan.


“Haruskah aku memarahimu lagi karena tadi kamu berbohong! Kalau kamu tidak jujur, mungkin kamu akan sakit karena aku tidak memberimu makan!” Lagi-lagi Elliot bersikap ketus membuat bibir Vallerie memanyun.


“Aku tidak akan mengulanginya lagi! Aku kapok setiap mendengar omelanmu terus! Lama-lama kamu darah tinggi karena aku!” Vallerie membuang muka sambil mengunyah kasar seperti sedang menggigit suaminya.


Elliot tertawa terbahak menggelengkan kepala. Sesungguhnya apa yang dilakukannya tadi bermaksud sandiwara, ingin menguji balasan apa yang akan diberikan sang istri seketika tiba-tiba menerima perlakuan kasar lagi.


“Tadi aku hanya bercanda. Aku tidak akan memarahimu lagi.” Dengan tatapan kasih sayang, Elliot menyingkirkan beberapa helaian rambut panjang istrinya hampir terkena bibir.


“Nasi omelet buatanmu lebih lezat daripada buatanku.” Vallerie mengacungkan jempol kegirangan.


Elliot membelalakan mata disertai pipi merah menandakan jantungnya saat ini berdebar kuat seketika pertama kali mendapatkan pujian persoalan masakannya. Apalagi selama ini tidak ada yang berkomentar mengenai masakannya, maka dari itu, Elliot sebenarnya bingung apakah ia sungguh ahli dalam bidang memasak atau tidak.


“Terima kasih sudah memuji masakanku. Sebenarnya baru pertama kali aku dipuji seperti ini.” Elliot menunduk sambil memainkan garpu di piring Vallerie.


“Benarkah? Padahal masakanmu memang sangat lezat dan rasanya sama seperti dulu.”


“Aku pintar masak sewaktu dulu?” Elliot sedikit ragu, membayangkan selama ini ia jarang memasak, hanya dilakukan saat keperluan mendesak atau mengisi waktu luang. Meski ia sangat ketat menjaga pola makan sehat, ia selalu memasak makanan sehat, bukan makanan instan.


Lagi-lagi Vallerie keceplosan mengungkit masa lalu. Terpaksa ia melanjutkan cerita masa lalunya daripada dibiarkan menggantung.


“Dulu kamu sering masak sarapan untukku dan makan malam saat pulang kerja meski kamu bekerja sampai kelelahan. Aku tidak menyangka resep rahasiamu masih tertanam dalam otak kamu.” Mata Vallerie mulai berkaca-kaca, ciri khas kelezatan masakan suaminya membuatnya sangat merindukan sikap suaminya seperti dulu.


Embusan napas lesu dikeluarkan dari mulutnya. Tiba-tiba hatinya merasa bersalah karena selama ini Elliot tidak pernah melakukan semua hal yang disebutkan tadi sejak menikah. “Mulai besok aku harus melakukan semuanya. Kamu pasti sedih memiliki suami tidak berguna seperti aku.”


“Jangan berkata seperti itu, Elliot! Aku selalu bahagia menikahimu meski kamu tidak pernah mencintaiku. Aku selalu memasak makanan untukmu, tapi kamu selalu suka menikmati masakanku. Melihatmu selalu tersenyum setiap mencicipi masakanku sudah membuatku bahagia.”


“Vallerie ….” Jantung Elliot menggebu-gebu sampai rasanya hampir meledak.


“Kalau kamu suami tidak berguna, mungkin kamu akan menelantarkan aku. Kamu tidak akan menungguku pulang dan tidak akan memasak makan malam untukku. Maka dari itu, jangan menyalahkan dirimu lagi!” Vallerie mempertegas suaminya sambil menghabiskan nasi omelet masih tersisa di piring.


Elliot terdiam merasa rahangnya sangat kaku menggerakkan bibirnya. Tangan kanannya rasanya ingin menyuapi istrinya lagi, tapi seperti biasa harga dirinya selalu lebih kuat kekuatannya daripada hatinya. Elliot berusaha ingin melawan harga dirinya, tapi kalah berpikir cepat.


Hanya sepuluh menit, Vallerie berhasil menghabiskan sepiring nasi omelet buatan suaminya hingga piringnya seperti terlihat baru dicuci mengkilap.


“Akhirnya kenyang juga.”


Sejenak Elliot mengusap kelopak mata istrinya kusut. “Aku cemas kamu akan sakit gara-gara terlalu fokus mengintai Erick.”


“Oh ya, soal Erick—”


“Kamu mandi dulu saja. Nanti kamu masuk angin kalau mandi terlalu malam.”


Terpaksa Vallerie menunda topik utama yang ingin ia perbincangkan mengenai adegan tidak terduga saat di bar.


Hanya berdurasi singkat membersihkan diri karena Vallerie sengaja tidak ingin keramas melihat situasi udara malam lumayan dingin. Sekarang tidak ada sesuatu yang bisa mengganggunya lagi menyampaikan laporan penting untuk Elliot.


Vallerie dan Elliot duduk bersandar lemas di ranjang. Tangan kanan Vallerie spontan menggenggam tangan kiri Elliot sebagai awal mula sebelum Elliot syok mendengar fakta sebenarnya.


“Elliot, sebenarnya di bar tidak hanya Erick minum di sana. Kamu jangan terkejut saat aku memberitahukan nama orang yang ditemui Erick.”


“Memangnya siapa?” Elliot mulai tidak bersabar memajukan kepala.


“Rachel. Dia pacar rahasia Erick selama ini.”


Sebenarnya Vallerie tidak tega memberitahukan kelanjutannya, jika dilihat ekspresi wajah suaminya sedikit pucat dan tangan kanan gemetar.


Tangan kirinya menggenggam tangan kanan Elliot sambil mengelus punggung tangan Elliot perlahan, mencoba untuk menenangkan Elliot masih tidak percaya fakta ini.


“Elliot, aku tahu kamu pasti sangat syok mendengarnya. Tapi aku tidak ingin kamu terus ditipu wanita itu.”


Elliot menggeleng cepat. “Justru aku harus berterima kasih padamu. Berkat kamu, ke depannya aku tidak akan mudah tertipu oleh wanita itu lagi. Meski sebenarnya ….”


Elliot tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Bukan karena ia sempat jatuh cinta pada Rachel, tapi faktor lain yang menyebabkan dirinya tidak berdaya sekarang.


Vallerie menempelkan bibirnya sekilas di pelipis suaminya. “Kamu tidak sanggup membicarakannya, aku tidak akan memaksamu.”


“Sejujurnya, beberapa kali aku ditipu wanita. Setiap ada wanita yang kencan buta denganku, pasti mereka mempermainkan aku. Aku bingung kenapa mereka semua menganggapku sebagai boneka mereka. Apakah menipuku merupakan lelucon bagi mereka? Itulah sebab aku tidak mudah memercayai wanita lagi. Karena mereka, aku jadi tidak bisa mengendalikan sikapku sangat kejam terhadap wanita.”


Vallerie sekarang mengerti alasan suaminya selalu bersikap galak padanya. Lama-lama kasihan juga mendengar sisi terpuruk sang suami membuat hatinya juga sangat perih. Kedua lengannya semakin mempererat pelukan hangat ini. Tanpa disadari Elliot semakin candu ingin bermanja.


“Aku mengerti perasaanmu. Semua perbuatan kasar yang selama ini kamu lakukan padaku, aku pasti memaafkanmu. Aku tetap ingin melindungimu dari siapa pun.” Vallerie mengungkapkannya dengan lembut sambil menahan deraian air mata ingin membasahi kelopak mata.


“Kamu bisa memukuli aku kalau kamu membenciku. Aku pantas menerima hukuman darimu.” Elliot terus menyalahkan dirinya memukuli paha kesal.


Tawa gemas diberikan istrinya membuat Elliot bingung apa yang dipikirkan istrinya sekarang. “Aku tidak tega menyiksamu. Tujuanku dihidupkan kembali untuk melindungi kamu. Bahkan seiring berjalannya waktu, aku sangat menyayangimu, Elliot.”


“Vallerie ….” Mata Elliot sedikit berkaca-kaca mendengar ungkapan manis Vallerie membuat hatinya sangat tersentuh.


Kecupan manis mendarat sekilas di pipi Elliot. “Kamu selalu menganggap pernikahan ini hanya sandiwara atau paksaan, tapi aku selalu menganggap pernikahan ini karena aku murni cinta padamu dan pantas melakukannya. Meski kamu amnesia, tapi aku tidak akan memaksamu mengingat semua kenangan di masa lalu. Tapi, aku tetap memperlakukan kamu seperti sewaktu dulu.”


Kepala Elliot semakin menunduk lesu. Merenungkan apakah perkataan yang selama ini ia ucapkan sungguh tulus dari hatinya? Pernikahan sandiwara? Entah kenapa hatinya ingin menolak perkataan itu. Tapi sampai sekarang Elliot masih bingung apakah hatinya ingin menerima Vallerie hanya karena berdasarkan sepotong ingatan perlahan kembali? Atau karena memang sangat cinta pada Vallerie bukan dari faktor apa pun.


Suasana semakin mellow jika melanjutkan perbincangan mereka lebih lama lagi. Perlahan Vallerie membaringkan tubuh suaminya dan dirinya, kemudian membungkus tubuh mereka menggunakan selimut tebal.


“Aku tidak ingin kamu menangis malam-malam begini. Sebaiknya kita tidur saja.” Vallerie berbisik sambil menepuk-nepuk lengan suaminya berirama.


“Aku masih penasaran apa yang dilakukan Rachel dan Erick di bar tadi.”


“Tapi nanti kamu—”


“Aku harus tahu, Vallerie. Jadinya, aku tidak akan tertipu lagi.” Elliot memajukan kepala mendekati wajah Vallerie.


Vallerie memutar bola matanya dan terpaksa menuruti keinginan suaminya. “Mereka berciuman lalu Rachel membicarakan rencananya berhasil menipu kamu.”


Hatinya semakin terasa ditusuk berkali-kali. Tapi hanya sekilas, sekarang Elliot justru lega mendengar fakta wanita licik itu. Sekarang ia bertekad ingin membalas dendam pada Rachel karena selama ini menipunya.


Senyuman manis terukir pada wajah tampan Elliot. Menampakkan wajah girang, lengan kekarnya mendekap tubuh istri kesayangan. Entah kenapa tubuhnya sangat ingin memberikan kasih sayang begitu besar pada istrinya.


“Terima kasih sudah menceritakan padaku, Vallerie.”


“Jadinya, apa yang akan kamu lakukan ke depannya kalau bertemu mereka?”


“Sekarang aku tidak memikirkan masalah itu dulu. Aku sangat bersyukur memiliki istri penyayang. Vallerie, kamu satu-satunya wanita yang sangat aku percayai.” Tangan kanannya mengelus punggung istrinya pelan.


Bola mata Vallerie terbelalak dan jantungnya berdebar sangat kencang mendengar ungkapan cinta secara halus dari suaminya.


“Bukankah kamu selalu membenciku?” Vallerie sedikit ragu merenungkan beberapa momen mereka terkesan canggung setiap suaminya membentaknya.


Elliot menggeleng. “Aku tidak pernah membencimu. Meski aku terkesan kasar di matamu, tapi aku selalu melindungimu setiap ada orang yang menganggapmu wanita keterlaluan di mata mereka.”


“Kamu berbicara seperti ini, aku semakin kesulitan tidur.” Vallerie semakin sulit mengendalikan senyumannya semakin manis mendengar ucapan suaminya selalu membuat hatinya berbunga.


Elliot menepuk-nepuk punggung Vallerie. “Pokoknya mulai besok setiap ingin pergi ke mana pun, mau memantau pergerakan Erick atau Rachel, kamu harus mengajakku juga. Aku tidak ingin kamu terluka karena kamu melindungiku.”


“Elliot, bisakah kamu berhenti menggombalku?” Vallerie tertawa gemas mencubit pipi suaminya sekilas.


“Tidak bisa. Karena hari ini kamu sangat berjasa, aku ingin memberimu hadiah kecil, tapi terkesan bermakna untuk hatimu.” Elliot tersenyum usil mengedipkan mata sekilas.