
Sebenarnya selain Vallerie dan Bertrand menikmati makan malam di restoran ini, Elliot juga memantau diam-diam. Sengaja memilih tempat duduk terpojok supaya tidak tertangkap aksi pengintaian yang dilakukannya. Elliot sengaja melakukannya tanpa sepengetahuan Vallerie, karena masih belum memercayai perkataan Vallerie saat memikirkan kematian yang mereka alami di masa lalu masih menakutinya sampai sekarang.
Tujuan lain dari pemantauan misi rahasia ini adalah ia sangat penasaran rencana rahasia apa yang akan dilakukan istrinya saat menghadapi musuh terbesar. Apakah sampai harus merayu? Elliot membuang semua pikiran buruk jauh-jauh, tatapannya mulai memantau pergerakan istrinya dari kejauhan sambil menikmati makan malam yang dipesannya.
Sementara Vallerie berpura-pura bersikap anggun seperti biasa, meski sebenarnya ingin muntah berhadapan dengan pembunuh yang menghancurkan kehidupan pernikahannya di masa lalu.
“Terima kasih sudah bersedia menemaniku merayakan ulang tahunku.” Bertrand bersemangat memotong daging panggang.
“Maaf, aku tidak sempat membelikan kado untukmu karena belakangan ini aku sibuk bekerja.” Vallerie berpura-pura bersalah, padahal sebenarnya sangat ogah memberikan hadiah untuk pembunuh.
“Tidak apa-apa. Aku tidak meminta kado darimu. Aku hanya membutuhkan kamu menemaniku saja.”
Dugaan Vallerie benar. Tujuan Bertrand mengajak makan malam hanya berdua karena Bertrand menganggap kencan, meski sebenarnya sudah tahu wanita yang sempat dicintainya itu sekarang sudah menjadi milik pria lain selamanya.
“Kamu hanya mengajakku saja? Tidak mengajak temanmu?” Vallerie sengaja berbasa-basi, meski ia tahu jawabannya seperti apa daripada langsung melemparkan perkataan yang justru akan membahayakan nyawanya.
“Aku ingin kamu mengingat masa lalu kita. Saat aku ulang tahun, hanya kamu dan aku merayakannya.”
Mendengar percakapan itu sekilas, membuat darah Elliot langsung mendidih seolah-olah istrinya pernah berpacaran dengan pria lain di masa lalu. Melihat makanan masih tersisa banyak di piring, rasanya ingin melempar semua lauk di piring ke wajah Bertrand.
Kembali pada posisi Vallerie mulai merasa tidak nyaman jika mengungkit persoalan masa lalu. Bahkan, bisa dikatakan kenangan saat merayakan ulang tahun Bertrand, ia sungguh tidak ingat sama sekali. Apakah Bertrand sungguh mengarangnya atau memang adegan itu sungguh terjadi?
“Begitu rupanya. Sangat disayangkan aku melupakannya karena aku terlalu sibuk bekerja.” Vallerie memasang ekspresi wajah polos menyantap sup dengan anggun.
Raut wajah Bertrand berubah drastis seketika mendengar nada bicara Vallerie terkesan seperti sedang menyinggung hatinya. “Kamu sungguh lupa momen itu?”
“Masa lalu biarkan berlalu saja. Kamu tidak berhak memaksa aku memikirkannya lagi.”
Bertrand semakin kecewa menggenggam sendok erat. “Tapi, saat itu kamu cukup bahagia merayakan ulang tahunku. Kamu yang paling ingat setiap aku ulang tahun.”
“Sejujurnya, aku ingat semua tanggal ulang tahun temanku. Aku selalu memberikan hadiah untuk mereka dan juga kamu.” Vallerie sengaja menekan nada bicaranya, rasanya mulai tidak bisa menahan kesabarannya, apalagi membayangkan suaminya pasti bisa marah besar kalau mendengar percakapan ini secara langsung.
“Yang aku rasakan saat menerima hadiah darimu waktu itu berbeda dari lainnya.”
Vallerie tertawa remeh dan menggelengkan kepala, melipat kedua tangan di dada. “Kamu berbicara seolah-olah masih memiliki perasaan istimewa padaku. Kamu masih belum bisa merelakan aku?”
Sekarang rahang Bertrand terasa perih mendengar perkataan lawan bicaranya seperti sedang menikamnya habis-habisan. “Sejujurnya aku memang masih belum merelakan kamu. Wajar karena memang sewaktu dulu hanya kamu yang menganggapku sebagai manusia.”
“Sekarang aku sudah menikah dan kemungkinan aku akan mengandung anakku sebentar lagi. Seharusnya kamu melupakan aku dan mencari wanita yang jauh lebih sempurna daripada aku. Kenapa kamu sangat menginginkan aku sejak dulu?”
“Karena aku memang sudah mengandalkanmu.”
“Kamu mau aku menyakiti perasaanmu lagi kedua kalinya? Kalau sampai suamiku mendengar percakapan kita langsung, dia tidak akan pernah mengampunimu!” Kali ini tidak ada pengampunan terhadap Bertrand, secara tidak langsung mulai mengeluarkan kartu untuk menyerang Bertrand satu per satu.
Bertrand tidak bisa berkata-kata sampai bibirnya terus gemetar. Akhirnya ia tidak bisa menyanggah perkataan Vallerie. Tubuhnya sangat lemas melanjutkan makan malamnya masih tersisa banyak.
Sekarang Vallerie ingin mengeluarkan kartu lainnya juga menyayat hati Bertrand. Tapi, sebelum itu ia berbasa-basi lagi daripada nanti justru ia akan dicurigai balik.
“Kamu jangan seperti nasib seorang tokoh utama di sebuah buku novel yang pernah kubaca. Tokoh utama pria sangat mencintai cinta pertamanya, tapi justru dia ditolak langsung. Lalu, pada akhirnya pria itu mencari wanita lain yang jauh lebih sempurna dari cinta pertamanya. Setelah bertahun-tahun, akhirnya pria itu jatuh cinta pada wanita lain.”
Kepala Bertrand sedikit terangkat mendengar sebuah kisah agak menarik baginya. “Bukankah itu bagus? Berarti nasib pria itu jauh lebih baik daripada aku.”
“Tidak. Pria itu menjadi sangat berengsek karena dia masih egois memiliki perasaan istimewa pada cinta pertamanya setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Saat pria itu berulang tahun ingin mengundang pacarnya, sayangnya pacarnya itu tidak bisa hadir dan memberikan kado lebih awal. Pria itu tidak menerima dan langsung menghajar wanita itu habis-habisan.” Vallerie melanjutkan karangannya dengan tatapan kejam, sebenarnya ia ingin menghabisi Bertrand setiap membayangkan kejadian yang dialami Carla, tapi ia berusaha menahan amarahnya demi misi rahasia berjalan lancar.
Bertrand mengepalkan kedua tangan memukuli meja. “Kejam sekali pria itu. Dia tidak mengerti perasaan pacarnya sama sekali. Sungguh pria tidak ada pengertian.”
“Tenang saja. Sebelumnya aku memang bercanda denganmu. Aku tidak mungkin tertarik dengan wanita yang sudah menikah.”
“Lalu, kamu sudah menemukan wanita yang cocok sesuai dengan seleramu?”
Sejenak Bertrand mengatupkan bibir, Vallerie semakin penasaran jawaban apa yang akan diberikan Bertrand. “Sebenarnya ada satu wanita yang cocok denganku. Awalnya aku ingin mengundang dia bergabung dengan kita, tapi dia lebih memilih pekerjaan daripada aku.”
Lagi-lagi dugaan Vallerie benar. Bertrand tidak akan pernah mengakui Carla adalah pacarnya. Inilah yang membuat tubuh Vallerie gerah dari tadi. Mungkin ia bisa gila kalau terus melanjutkan percakapan dengan Bertrand dalam durasi lama. Meski sebenarnya ia bermaksud smengulur waktu.
Vallerie tersenyum lebar berpura-pura bahagia, padahal darahnya sudah mendidih dan sebentar lagi rasanya ingin meletus. “Benarkah? Selamat, ya! Aku yakin wanita itu jauh lebih cantik daripada aku.”
“Tidak juga sih. Kamu masih cantik juga meski sudah menjadi pria lain.”
Vallerie tidak mau terlalu lama berbincang dengan Bertrand sebelum ia berhasil memuntahkan seisi perut mengenai wajah Bertrand.
Usai menghabiskan makan malam, Bertrand mengantarkan Vallerie menuju lobby hotel. Kemudian petugas security memberikan kunci mobil, Bertrand sengaja memarkir mobil di lahan parkir valet.
“Aku pulang dulu, ya,” pamit Bertrand berwajah datar.
Vallerie menunduk sopan. “Terima kasih makan malamnya.”
Saat mobil Bertrand sudah tidak terlihat, akhirnya Vallerie kembali bernapas lega memasuki hotel. Tangan kanannya tiba-tiba ditarik seseorang menuntunnya menuju koridor hotel sepi dilalui pengunjung.
Vallerie membelalakan mata terkejut, sungguh tidak terduga suaminya yang menarik tangannya tadi dan bahkan Vallerie tidak tahu alasan suaminya bisa berpikiran ingin menjemputnya padahal sudah dibilang akan pulang naik taksi.
Urusan itu tidak terlalu penting, dipeluk penuh cinta tiba-tiba begini di balik tembok hanya diterangi beberapa lampu membuat jantungnya berdebar-debar. Vallerie bisa merasakan suaminya sedang melampiaskan rasa cemasnya memeluk erat seperti ini. Kedua lengannya perlahan melingkar di punggung lebar suaminya.
“Aku sangat mencemaskanmu, Sayang. Sebenarnya dari tadi aku mendengar percakapan kalian di restoran,” bisik Elliot dengan suara gemetar.
Mulut Vallerie menganga. “Kamu sungguh berbuat sejauh ini?”
“Tentu saja. Kamu kan istriku, mana mungkin aku membiarkanmu sendirian mengatasi Bertrand. Bagaimana kalau seandainya kamu tiba-tiba diperlakukan kasar sama seperti Carla nanti?”
“Kamu masih belum percaya aku adalah wanita mandiri? Aku sudah punya rencana lain supaya Bertrand sungguh melupakan aku sepenuhnya.”
Perlahan Elliot melepas pelukan. Masih dalam tatapan cemas memandangi istrinya masih tersenyum manis padanya. “Aku mendengar cerita yang kamu bicarakan soal novel yang kamu baca. Padahal itu kejadian yang dialami Carla. Benar, ‘kan?”
Vallerie mengangkat kepala angkuh, menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. “Aku tidak mungkin memberitahukan terang-terangan. Terpaksa aku harus mengarang seolah-olah memang dari kisah novel, padahal novel yang aku baca ceritanya tidak menyedihkan begitu.”
“Yang pasti aku sangat lega melihatmu masih baik-baik saja setelah berhadapan dengan dia lumayan lama. Kamu sangat cerdas menyakiti perasaannya tadi.” Elliot mengacungkan dua jempol.
“Kamu pasti iri mendengar aku ingat semua tanggal ulang tahun temanku dan sempat merayakan ulang tahun Bertrand hanya berdua saja.” Dengan senyuman usil, Vallerie menyentuh dagu suaminya.
Elliot memajukan bibir sexynya mendekati bibir Vallerie hanya berbeda tipis jaraknya. “Awalnya aku cemburu, tapi setelah dipikir-pikir selama ini kamu juga merayakan ulang tahunku hanya berdua dan selalu kamu melakukannya setiap tahun. Selain itu ….”
Bibir Elliot mendarat sekilas di bibir Vallerie. Tangan kanannya terus meraba dada Vallerie lambat laun merasakan detak jantung Vallerie sangat kencang. “Aku suka saat kamu mengakui bahwa kamu sudah menikahi pria yang sangat kamu sayangi dan kemungkinan kita akan memiliki anak dalam waktu dekat ini. Aku semakin tidak sabar memiliki anak bersamamu.”
Sedangkan Bertrand baru sampai di apartemen elit langsung disambut sebuah kotak paket berukuran besar, tapi tidak ada nama pengirim dan isi paket itu lumayan ringan. Bertrand membawa masuk kotak itu, kemudian membuka kotak perlahan satu per satu dilapisi lakban sehingga memakan waktu lumayan lama.
Akhirnya kotak misterius berhasil dibuka. Saat membuka kotak itu, sebuah tas kulit sudah terlihat usang dan berceceran saus tomat membuat Bertrand langsung melempar tas itu menjauh darinya.
Selembar catatan kecil diselipkan di dalam kotak, tidak lupa Bertrand membaca isi surat itu dalam hati sampai membuat tubuhnya semakin merinding ketakutan.
“Pria berengsek! Puas melihat hadiah ulang tahunmu? Ini masih pemanasan. Lain waktu, aku akan membunuhmu!”