
Satu masalah sudah terselesaikan. Para penjahat sudah dibawa ke kantor polisi. Elliot dan Vallerie memutuskan tidak mau menginap di kamar hotel karena memang sejak awal mereka tidak pesan kamar. Sebelumnya hanya sandiwara seolah-olah menginap di kamar sebelah, padahal yang menginap justru Erick dan Rachel.
Cukup lelah juga berkelahi dengan para penjahat sampai tubuhnya sedikit pegal-pegal. Sebelum tidur, Elliot sibuk melemaskan kedua lengannya dalam posisi tubuh tengkurap di ranjang.
Vallerie tidak ingin memakai cream wajah terlalu lama di meja rias. Dengan lincah mendatangi suaminya tengkurap lemas seolah-olah energinya sungguh habis sepenuhnya, sekarang giliran Vallerie meregangkan lengannya sejenak lalu melakukan aksi pijatan istimewa yang sering dilakukannya setiap kali suaminya pulang kerja.
“Maaf, gara-gara ide konyolku kamu jadi kelelahan begini.”
Elliot menyentuh punggung tangan istrinya sibuk memijat punggungnya. “Justru mereka harus dihajar satu per satu supaya mereka mengakui kesalahan mereka. Selain itu, mengakui ada orang lain di balik aksi pemerkosaan ini.”
“Soal penyelamatan tadi, aku sangat berterima kasih, Sayang. Untung saja kamu selalu bergerak cepat setiap aku hampir celaka.” Vallerie mengecup daun telinga Elliot sekilas.
Perlahan Elliot menarik tangan Vallerie, posisi tubuh Vallerie sekarang terbaring di ranjang. Masih dalam posisi tengkurap, Elliot menampakkan senyuman manis mengelus kepala Vallerie lambat laun sambil mengecup hidung mancung. “Kalau sampai keparat itu menyentuh bokongmu lagi, sudah pasti aku mematahkan tangan mereka supaya tidak bisa melakukannya lagi.”
Perlahan Vallerie memajukan kepala mendekati bibir suaminya. “Aku suka saat kamu berkelahi dengan orang jahat tadi. Kamu sangat keren, meski tadi kepalamu hampir dipukul pria yang ingin melecehkan aku.”
“Karena aku sudah berjasa tadi, sebenarnya tadi aku sempat kena tonjokan di wajahku.” Bibir Elliot memanyun mengelus pipinya sendiri.
Bukan bertindak cepat mengobati suaminya, Vallerie menyipitkan mata melipat kedua tangan di dada. “Tadi kamu tidak terluka sama sekali karena kamu sudah terbawa emosi. Justru kamu yang menghajar mereka sampai babak belur. Kamu juga sempat diselamatkan Erick tadi.”
Elliot menyunggingkan senyuman usil menunjuk pipi kanan dan kiri dengan jari telunjuk. “Pipiku sedikit sakit.”
Dibalas senyuman manis ditampilkan Vallerie. Bibir indahnya mendarat di pipi kanan kiri suaminya berkali-kali. “Kamu sudah puas? Obat ini tidak akan bisa ditemukan di dunia ini.”
Elliot juga mengecup pipi istrinya sangat puas. “Hanya obat darimu terasa manis bagiku. Bahkan energi tubuhku yang sudah habis sekarang terisi penuh.”
Vallerie tertawa girang. “Kalau aku mengajakmu besok kencan, kamu mau?”
Bola mata Elliot terbelalak dan mengangguk cepat. Ia sedikit ragu mereka bisa kencan di saat seperti ini, cemas suasana kencan akan hancur lagi. “Kamu serius? Memangnya kamu mau pergi ke mana?”
“Tiba-tiba aku ingin pergi ke taman bermain. Belakangan ini kita terlalu banyak pikiran apalagi hari ini kamu sangat berjasa menolongku, sebagai hadiahnya aku ingin bermain bersamamu besok.”
“Tapi, kalau seandainya kencan kita batal karena ada yang mengganggu kita?”
Jari telunjuk Vallerie menempel di bibir Elliot tertutup rapat. “Tidak akan. Aku rindu bermain bersamamu.”
Cuaca hari ini terlihat cerah tanpa berawan memang sangat pas dijadikan momen kencan. Penampilan mereka berpakaian casual karena ada beberapa wahana sedikit ekstrim yang akan dimainkan Vallerie nanti.
Baru menginjak taman bermain setelah membeli tiket masuk, pandangan Vallerie berseri-seri memandangi sekeliling tempat ini tidak terlalu ramai dikunjungi pengunjung. Karena Vallerie adalah tipe wanita tidak suka berkerumunan di tempat umum yang terkadang membuat kepalanya pusing.
Selain itu, taman bermain juga dihiasi berbagai ornamen-ornamen bernuansa romantis seperti lampu kelap kelip dan berbagai jenis bunga dipajang di setiap titik beberapa meter.
“Aku sangat merindukan tempat ini!” Vallerie mengayunkan kedua lengan suaminya kegirangan.
“Setiap dua minggu sekali kalau kita tidak sibuk bekerja pasti aku mengajakmu bermain sewaktu dulu. Kamu tiba-tiba mengajakku karena ingin bermain lagi seperti dulu?”
“Sebenarnya aku rindu bermain gelembung, makan permen gulali dan masih banyak lagi.”
Sorot mata Vallerie tiba-tiba terpaku pada sebuah booth menjual bando atau hiasan kepala lain untuk anak kecil. Tanpa aba-aba menarik tangan Elliot menghampiri lapak itu, mengamati semua bando imut, ada yang bermodel menyerupai telinga kelinci atau rusa dengan tatapan girang.
Elliot tertawa imut meraba bando satu per satu. “Kamu mau bando yang mana? Semua bando sangat cocok untukmu, aku bingung ingin memilih yang mana.” Tatapan Elliot tertuju pada gaya rambut istrinya diurai dan agak bergelombang bagian bawah.
“Coba tebak aku suka yang mana!” Vallerie mengangkat kepala bergaya angkuh.
Dipilih bando bermodel tanduk rusa, Elliot tertawa girang memakaikan bando itu pada kepala Vallerie. “Kamu terlihat seperti rusa betina.”
Vallerie juga memakaikan bando rusa pada kepala suaminya sambil mengelus kepala pelan. “Sedangkan kamu seperti rusa milik sinterklas.”
Saling melempar tawa bahagia dan berfoto bersama menggunakan bando mungil ini sebagai kenangan, kemudian mereka berjalan bergandengan tangan menuju lapak lain.
Lapak ini menjual mainan gelembung. Elliot membeli dua kamera mainan gelembung berbentuk beruang. Karena taman bermain terlihat sepi, mereka bermain membuat gelembung dengan cara memotret pakai kamera sepuasnya.
Vallerie sengaja melangkah mendekati suaminya menekan tombol potret berkali-kali sehingga mengeluarkan kumpulan gelembung menyerang suaminya.
“Vallerie, kamu sengaja menyerangku, ya!” Elliot tertawa girang juga membuat kumpulan gelembung untuk menyerang istrinya.
“Sangat disayangkan kalau masih ada sisa sabun dalam kamera ini, jadinya kita harus habiskan.” Vallerie berwajah gemas menatap kamera mainan beruang miliknya.
Tatapan Elliot sebenarnya terpaku pada senyuman manis dipancarkan istrinya sejak memasuki area taman bermain membuat jantungnya berdebar-debar. Terutama sejak pertama kali bertemu istrinya entah di masa lalu maupun sekarang, hal utama yang paling disukainya adalah senyuman manis istrinya sangat langka ditemukan di dunia ini.
‘Seandainya sejak awal aku memperlakukanmu dengan baik, mungkin kamu akan selalu tersenyum seperti sekarang. Meski dihadapi berbagai masalah besar.’
Elliot melepas tawa bahagia bermain bersama istrinya sepuasnya sampai persediaan sabun dalam kamera habis. Wahana selanjutnya yang mereka mainkan agak ekstrim seperti menaiki cangkir berputar dan mini roller coaster. Vallerie selalu takut bermain roller coaster karena jantungnya tidak kuat, tapi berkat dipeluk suaminya, kini ia merasa puas bermain sambil melayangkan kedua tangan ke atas berteriak kegirangan.
Usai bermain beberapa wahana, Elliot ingin bermain wahana yang tidak perlu menghabiskan stamina terlalu banyak. Salah satunya adalah komidi putar, wahana favorit mereka semenjak dulu.
“Kamu mau main komidi putar?” Elliot menunjuk wahana komidi putar tepat di depan mereka.
Vallerie menggeleng cepat sambil menggeser jari telunjuk suaminya menunjuk sebuah wahana bom-bom car. “Aku ingin berbalapan liar seperti biasa. Komidi putar belakangan saja kalau kamu merasa lelah bertanding denganku.”
Setidaknya tidak menghabiskan stamina. Sudah pasti Elliot mengangguk bergaya angkuh. “Siapa takut! Kamu hanya bisa menyetir brutal saat bermain saja, sedangkan di jalan raya tidak berani brutal!”
Cara bermain bom-bom car ala Vallerie tidak pernah berubah sejak dulu. Selalu sengaja menabrak mobil yang dikendarai suaminya secara brutal sampai terpental hampir menabrak tiang pembatas.
Elliot juga tidak ingin kalah. Apalagi sikapnya di dunia sekarang agak kasar, tanpa segan menabrak mobil yang dikendarai istrinya kasar sampai membuat istrinya sulit mengendalikan mobil terus berputar-putar.
“Bukankah lebih cenderung kamu yang bermain curang terus?” Elliot mengedipkan mata genit.
“Ish memang kamu harus diberi pelajaran!”
Saat Vallerie hendak menabrak dengan tingkat brutal, mobil yang dikendarainya tidak bisa bergerak menandakan permainan telah berakhir. Terpaksa mengakhirinya, tapi tidak ingin mengaku kalah lebih awal.
Vallerie sengaja membuang muka terus, sambil mencari wahana lain juga sering dimainkannya. Tangan kanan masih terus bergandengan dengan tangan suaminya terasa hangat. Pada akhirnya kepalanya menoleh menghadap wajah suaminya tersenyum manis, membuatnya sulit membenci suaminya.
“Kamu puas menabrakku tadi? Aku cemas lututmu memar karena keseringan menabrakku atau aku yang menabrakmu terus.” Elliot mengayunkan tangan kanan istrinya santai.
“Kamu … masih memikirkan aku terluka? Padahal tadi hanya permainan saja.” Vallerie tersipu malu menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinga.
Elliot memutar bola mata sambil menyentuh pundak istrinya dengan kedua tangan. “Itulah alasan kenapa aku tidak terlalu suka bermain bom-bom car. Karena aku tidak mau melihatmu cedera meski hanya bermain.”
Akhirnya langkah kaki Vallerie terhenti tepat di depan wahana komidi putar terlihat tidak ada pengunjung yang mengantri. Dengan sigap langsung menarik tangan suaminya menempati kuda warna putih dan cokelat.
Vallerie ingin menaiki kuda putih langsung tubuhnya dibantu angkat oleh suaminya. Kepalanya menunduk malu, tingkah suaminya bisa dikatakan pertama kali dilakukan sepanjang hidupnya di masa lalu maupun sekarang.
“Terima kasih, Sayang.”
“Seperti pangeran kuda putih di negeri dongeng, ‘kan? Kamu menaiki kudaku.” Gombalan manis suaminya menambah tawa Vallerie semakin lepas.
Vallerie melipat kedua tangan di dada. “Kamu mempelajari gombalan itu dari mana sih? Bibirmu semakin lama semakin manis.”
Elliot berwajah polos mengedikkan bahu. “Aku tidak pelajari dari siapa pun. Demi kamu, aku harus menambah level gombalanku.”
Di tengah berlangsungnya bermain komidi putar, Vallerie menampilkan tawa bahagia memegangi telinga patung kuda sambil sekilas menyentuh tangan suaminya sekilas. Menikmati momen romansa terlanjur manis tanpa diganggu siapa pun, karena hanya mereka yang bermain di wahana ini.
Tidak lupa mereka memainkan satu wahana impian mereka. Menikmati pemandangan kota dari gondola saat siang hari hanya berdua di dalam ruangan tertutup. Selain itu, bisa saling bermesraan juga di dalam gondola duduk saling berhadapan.
“Kenapa kamu lebih suka naik gondola saat siang hari daripada malam hari?” Elliot menatap girang melihat pandangan istrinya berbinar-binar menatap kaca.
“Sebenarnya aku lebih suka malam hari karena pemandangan jauh lebih indah. Tapi, alasan aku lebih suka siang hari supaya saat malam hari aku bisa bermain bersamamu di rumah.”
Gelak tawa bahagia dihasilkan sepasang suami istri membuat seisi ruangan kecil ini semakin hangat.
Tangan kanan Vallerie menyentuh pipi Elliot sambil mengelus pelan. “Alasan lainnya adalah gondola tempat paling bagus untuk melupakan semua masalah yang dihadapi kita.”
Sorot mata Elliot tertuju pada pemandangan di luar gondola terlihat bangunan-bangunan tinggi seperti miniatur dan juga pepohonan hijau membuat semua pikiran negatifnya perlahan lenyap dalam pikirannya.
“Kamu benar. Berkat naik gondola bersamamu juga, aku tidak perlu memikirkan masalah apa pun lagi.”
Sejenak tatapan Elliot kembali menatap istrinya. “Setelah kita berhasil menangkap Bertrand, aku ingin lebih sering naik gondola bersamamu. Aku suka di sini kita bisa berkencan sepuasnya tanpa ada yang ganggu. Bukan karena ingin melihat pemandangan kota, tapi aku ingin melihatmu saja.”
Pipi Vallerie tersipu malu. “Sulit menemukan tempat kencan yang cocok untuk melihat wajahmu saja. Akhirnya aku menemukan tempat ini hanya untuk melihat wajahmu selain di rumah, mobil, atau ruang kerjamu di kantor.”
Vallerie dan Elliot memajukan tubuh mereka supaya lebih puas menikmati pemandangan indah saling berhadapan. Sepasang bibir serentak mendaratkan kecupan manis di pipi satu sama lain, kemudian Elliot berpindah tempat duduk, duduk di sebelah istrinya sambil merangkul pundak dan membiarkan kepala istrinya bersandar di pundaknya manja sepanjang perjalanan di gondola.
Cukup lelah bermain beberapa wahana lainnya, sekarang Vallerie dan Elliot duduk bersantai di bangku bawah pohon sambil menikmati es krim cokelat vanila. Vallerie menepuk-nepuk betisnya sejenak. Tanpa disuruh, suaminya langsung melakukan aksi pijatan seperti biasa setiap melihat kakinya kelelahan.
“Pelayananku masih nomor satu, ‘kan?” Elliot mengedipkan mata sambil memijit betis Vallerie lambat laun.
Vallerie menghabiskan satu suapan terakhir es krim miliknya, lalu tangan kanannya mencubit pipi lembut suaminya gemas. “Nomor satu dan selalu bintang dua puluh. Sepertinya aku harus memijitmu saat pulang nanti.”
“Tidak perlu. Aku tidak merasa lelah. Melihatmu hari ini bersenang-senang di taman bermain, aku sangat suka.”
Kepala Vallerie menunduk malu. Tangan kanannya lambat laun berpindah mengelus kepala suaminya. “Sebentar lagi masalah akan terselesaikan. Kita bisa berkencan seperti orang normal.”
“Kamu yakin? Dalam waktu dekat ini kamu akan menyelesaikan semuanya dengan mudah?” Alis Elliot terangkat sebelah.
“Percaya saja padaku. Kalau perlu, aku mau buat surat perjanjian untukmu.”
“Perjanjian?”
Jari kelingking Vallerie terulur kemudian menempelkan dengan jari kelingking suaminya erat selama beberapa detik. “Ini perjanjiannya. Aku sengaja tidak mau buat dalam tertulis karena sangat kekanak-kanakan.”
Elliot tertawa gemas, selain jari kelingking yang menempel, bibir sexynya juga menempel erat dengan bibir indah istrinya berdurasi lumayan lama, melakukan pergerakan bibir dengan lembut sepuasnya sebelum ada pengunjung yang menyaksikan adegan ini.
Cukup puas melakukannya, sepasang bibir melepas tautan bersamaan dan juga kelingking.
“Ini perjanjian spesial buatanku. Dengan begini, kamu dan aku tidak akan pernah mengingkari janji lagi.” Elliot mengusap bibir lembut istrinya dengan senyuman usil.
“Kamu anggap bibir kita adalah stempel perjanjian?” Vallerie menggoda balik dengan sengaja mengalungkan kedua tangan di leher suaminya.
“Stempel istimewa mengingat janji kita tidak akan pernah hilang selamanya.” Kecupan manis mendarat sekilas di hidung Vallerie.
“Omong-omong, aku ingin ke kamar kecil. Kamu tunggu di sini sebentar.” Vallerie sedikit terburu-buru melangkah menuju kamar mandi yang letaknya agak berjauhan dengan tempat duduk yang mereka tempati, sambil melambaikan tangan dari kejauhan.
Cukup lama menunggu istrinya berada di kamar kecil, Elliot sudah tidak sabar menunggu pada akhirnya mendatangi area kamar kecil. Seketika melewati area itu, entah kenapa pintu kamar kecil untuk wanita terbuka lebar. Elliot mulai panik mencari keberadaan istrinya di sekeliling taman bermain sambil membuat panggilan telepon.
Sudah membuat panggilan telepon beberapa kali, tapi panggilan teleponnya tidak terjawab sama sekali. Mereka baru membuat perjanjian istimewa sudah langsung dilanggar. Bukan bermaksud kecewa, tapi entah kenapa Elliot semakin merasa tidak tenang melihat tingkah istrinya mencurigakan detik-detik terakhir sebelum mereka berpisah.